Si Ganteng.

Kini keluarga sederhana itu sedang makan malam bersama, dengan di temani ikan patin, sayur kangkung, dan sambel terasi, meski begitu mereka tetal bersyukur, dan mengucapkan alhamdulilah. Apapun yang ada, mereka akan dengan lahap menyantapnya.

Bagi mereka, masih bisa makan saja sudah syukur, karena mereka sadar di luar sana ada orang-orang yang menahan laparan karena tidak ada makanan, karena banyak orang yang kesusahan mencari makan. Terkadang ada pula yang mencari makan dengan jalan yang salah, karena putus asa dengan jalan hidupnya yang sulit dan berat untuk di jalani.

Padahal setiap kesusahan pasti ada kemudahan, dan setiap rezeki sudah ada takarannya masing-masing. Hanya saja terkadang keadaan yang mendesak memaksa untuk mengambil jalan pintas.

"Bu akhir pekan nanti Nisa ikut ya keladang." Ucap Nisa dengan mulut masih mengunyah.

"Hati-hati nak, kalau sedang makan jangan bicara. Nanti tersedak." Tegur Ayah mengingatkan.

"Iya nak kalau mau bicara habiskan dulu yang di makan, tidak baik bicara sambil makan. kalau mau ikut berangkat saja akhir pekan nanti, tapi tetap di dampingi kakakmu ya, sekarang ayo habiskan Nasinya." Kata Ibu.

"Iya Ibu, ayah." Jawab Nisa.

Arini tidak ikut menimpali, dia hanya menjadi penonton dan terus makan saja dengan lahapnya.

Nisa dan kakak nya memang kerab ikut ke ladang jika akhir pekan, setelah bersih-bersih rumah mereka baru menyusul ke ladang. Mereka menghabiskan waktu membantu kedua orang tuanya, tidak seperti kebanyan anak jaman sekarang jika akhir pekan di habiskan dengan nongkrong-nongkrong tidak jelas.

*

*

*

Setelah makan malam bersama mereka berkumpul di ruang keluaraga sederhana mereka. Mereka selalu berkumpul terlebih dahulu di ruang keluarga sebelum masuk ke kamar mereka masing -masing. Mereka bercerita tentang apa saja yang mereka jalani hari ini.

"Nak, bagaimana sekolah kalian hari ini." Tanya bapak. Tidak lama ibu pun datang dari dapur, dengan segelas kopi hitam dan beberapa cemilan lainnya, seperti keripik singkong dan ubi rebus.

Arini yang lebih dulu menjawab, karena Nisa masih asyik makan keripik singkong pedas yang di bawah ibu tadi.

"Alhamdulilah, baik pak seperti biasa." Arini melihat adik nya Nisa yang sedari tadi menganggu indra pendengarannya.

"Pelan-pelan sedikit dek kalau makan, berisik tau." Tegur Arini.

Arini sedikit terganggu karena Nisa tak henti-hentinya mengunya keripik renyah itu yang menimbulkan suara.

Krubb,,

Krubb,,,

Krub,,,

"Iya kak, habis nya enak. Kakak jangan minta ya. Kakak makan ubi rebus saja." Kata Nisa mengintruksi.

"Pelit amat kamu dek, sini bagi." Arini merebut wadah keripik singkong yang di pegang Nisa.

"Uuuu,,, tadi kata nya berisik. Sekarang mau juga."

"Kalau kamu bagaimana Nisa." Tanya Bapak menghentikan pertikaian kedua kakak beradik itu.

"Alhamdulilah baik pak, Nisa sudah punya banyak teman di sekolah. Mereka semua baik." Jawab Nisa dengan keripik singkong di tangan nya. Nisa menyorot tajam kakaknya yang sempat merebut keripik miliknya.

Arini juga cukup kesal dengan adiknya yang super pelit, alhasil ia hanya dapat makan ubi rebus.

Ibu hanya geleng-geleng dengan tingkah dua anak gadisnya.

"Alhamdulilah kalau begitu." Kata Bapak lalu ia mengambil gelas kopi dan menyeruput nya sedikit, karena masih terlalu panas." Bapak harap kalian bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi nanti nya, dan sukses kelak. Do'akan saja supaya Ibu dan Bapak sehat selalu, supaya bisa mengantarkan kalian pada kesuksesan."

"Bapak menaruh harapan kepada kalian berdua, belajar lah dengan giat dan sekolah dengan sungguh-sungguh." Pesan Bapak, dan Ibu manggut-manggut membenarkan ucapan suaminya.

"Insya Allah pak, semoga kami bisa mewujudkan semua itu. Do'akan kami ya pak, bu. "Jawab Arini melihat kedua orang tuanya satu persatu.

Setelah berbincang-bincang hangat membicarakan banyak hal. Akhirnya Bapak menyuru mereka kembali ke kamar masing-masing karena hari sudah menunjukkan pukul 21:00, Arini dan adik nya akan sekolah besok.

*

*

*

lain dengan Tristianah, sepanjang malam ia terus memikirkan wali kelas nya yang berwajah rupawan.

Hingga pukul 22:00, dia belum juga mengantuk, Tristianah mengutak atik handpon nya guna mencari sosmed laki -laki itu.

Sayang sekali hingga batrai handpon nya hampir habis namun belum juga menemukan apa yang ia cari.

"Aduuhh, mana si akun si ganteng, susah amat nyari nya, sudah kayak kutu saja susah nyari nya. Masak harus nanya langsung, kan malu-maluin. Apa kata duniaaa, bisa terkenal mendadak Aku."

Tristianah terus mengetik nama laki -laki itu di halaman pencariannya dengan berbagai gaya nama tren anak jaman sekaran. Andika, Andhika, @ndhikaa, Andhikae. Sudah banyak gaya tulisan namun belum juga menemukan wajah si ganteng di propil pengguna yang ia buka.

"Menyebalkan sekali, mengapa juga si ganteng tadi pagi tidak sekalian sebut akun IG atau nomor ponsel nya sekalian, kalau begini kan jadi repot Aku nya. Nanya malu nggak nanya galau melulu." Tristianah terus saja ngedumel Kebodohan wali kelas laki-lakinya itu, padahal diri nya lah yang bodoh tidak bertanya di saat ada kesempatan yang mendukung.

"Gimana ya biar dapat Nomor ponsel si ganteng tapi nggak sampai buat Aku malu???." Tristianah terus berfikir keras,untuk mencari alasan yang pas untuk meminta nomor ponsel laki -laki yang mendapat julukan si ganteng dari nya.

Hingga larut malam Tristianah belum juga mendapat ide, karena di serang rasa kantuk akhirnya ia memilih merebahkan tubuhnya.

Tristianah baru tersadar bahwa besok ia harus berangkat sekolah.

Karena takut kesiangan ia langsung tidur. Dan melupakan ambisinya sejenak.

*

*

*

Pagi hari nya, seperti biasa Arini dan Nisa akan berangkat sekolah berdua.

Senyum cerah menghiasi wajah mereka, terdengar suara nyanyian mereka menemani perjalanan menuju sekolah.

Mereka nampak sangat segar dan bahagia.

Namun beda hal nya dengan yang terjadi dengan Tristianah, saat bangun ia harus di kagetkan dengan suara alarm yang memekik telinganya. Semalam ia sempat menyetel alarm agar tidak kesiangan. Namun kenyataannya ia tetap bangun kesiangan karena ia tidak mendengar alarm berbunyi karena masih sangat mengantuk.

Alhasil ia harus mandi dengan terburu-buru. Saking terburu-buru ia melewatkan sarapan dan memili membawa bekal untuk di makan saat tiba di sekolah.

setelah menyiapkan bekal, ia segera berpamitan dengan kedua orang tuanya yang belum berangkat bekerja.

Kedua orang tua Tristianah bekerja sebagai karyawan swasta biasa di kota nya berada.

"Ma, Aku langsung berangkat ya." Ucap nya pamit menyalami kedua orang tuanya bergantian.

"Tidak sarapan dulu?." Tanya mama Tristianah.

"Aku udah bawah bekal ma, nanti makan di sekolah saja. Tina buru-buru, takut telat."

Papa tristianah melihat jam yang menempel di kulit tangan nya." Tumben kesiangan, biasanya nggak." Papa Tristianah ikut menimpali, karena tidak biasanya Tristianah bangun kesiangan.

"Iya pa, gara-gara cari akun si gan-." Buru-buru Tristianah membekam mulutnya yang hampir keceplosan, alasan ia bangun kesiangan.

"Si gan apa?." Tanya mama Ayu memastikan.

"Tidak ma, tidak ada. Aku berangkat ma,pa." Setelah menyalami lagi kedua orang tua nya Tristianah langsung mengambil langkah seribu, demi menghindari pertanyaan yang mungkin akan membuat nya malu setengah mati.

"Huuu untung saja, mulut ini masih ada rem nya. Kalau tidakkk,, habis sudah riwayat ku." Tristianah mempercepat laju kendaraan roda dua yang ia kendarai, karena arah jarum jam di tangannya menunjukan hampir masuk.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

lewat ng👍 like dkungan saja..

2023-01-01

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!