Wali Kelas.

Bel tanda masuk pun berbunyi, seluru siswa berbondong-bondong memasuki kelas masing-masing.

Nisa sekarang sedang duduk di dalam kelasnya bersama teman-teman barunya. Mereka sudah saling kenal karena sudah berkenalan tadi, hanya ada beberapa saja yang belum di ajak Nisa berkenalan.

Karena guru belum masuk ke kelas, Nisa dan beberapa teman barunya berkumpu di salah satu meja.

"He, kalian tau nggak rumor tentang wali kelas kita" Tanya salah satu teman Nisa.

"Emang apa'an?." Tanya teman Nisa yang lain."

"Kata nya wali kelas kita nanti cowok lo." Kata Teman Nisa yang bernama Tristianah.

"Terus,,,, apa hebat nya coba.?" Jawab Nisa.

"Ini nih, kalau kalau ketinggalan berita,,." Jawab Tristianah.

"Emang apa'an." Tanya teman Nisa yang bernama Dia.

"Wali kelas kita itu gantenggggg tingkat tinggi tau, ganteng bangetttt,,, ." Kata Tristianah sambil membayangkan wajah tampan bak sang pangeran dari dongeng.

"Woy biasa ajah kali, nggak usah sampai ngences segala." Kata Nisa.

Hhhhuuuuuuuu,,,,,

Suara teriakan teman-teman Anisa yang ikut ngerumpi.

"Iya maaf, saolnya ganteng banget, jadi airnya ikut keluar, habis udah nggak sabar pengen ketemu." Kata Tristianah sambil terkekeh.

"Udah ganteng, jomblo lagi. Uuu bahagia nya kalau bisa jadi istri si ganteng?. luar biasaaaa. " Sambung Tristianah dengan senyum mengembang menghiasi wajah tirus nya.

"Ah kebanyakan ngayal lu,,,." Jawab Dia sewot.

"Banyakin belajar iya, biar lanjut keperguruan tinggi. Agar bisa sukses nantinya, . Ini malah menghayal yang nggak-nggak, pengen jadi istri pula. Emang dia mau sama lu." Sambung Dia.

"Benar itu. "Jawab teman-temannya yang ikut ngerumpi.

"Eh, nggak salah dong ngehalu, siapa tau jadi kenyataan. Dia pasti mau la sama Aku, Aku kan cantik." Jawab Tristianah tidak mau kalah.

"Terserah lu deh. "Jawab Dia pasrah.

Nisa dan teman-teman yang lain hanya dapat geleng-geleng kepala.

Pembicaraan mereka terhenti saat mereka mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.

Teman-teman Nisa pun kembali ke tempat mereka masing-masing.

laki-laki yang mereka sebut tadi, kini berada di depan mereka. Laki-laki itu memiliki postur tubuh yang tinggi, dengan kulit berwarna sawo matang,hidung mancung, dan di sertai lesung pipit di sebaleh kiri pipinya yang menambah kadar ketampanannya.

Tristianah tercengang menyaksikan pemandangan yang berada di depan matanya.

Ia membenarkan kata gosip yang beredar, bahwa benar wali kelasnya memiliki wajah yang sangat tampan. Sunggu Indah ciptaan-Nya.

Pandangan pertamannya pada laki-laki itu sudah memikat hati Tristianah.

Tristianah sampai tidak berkedip olehnya, Sehingga suara bisikan teman sebangku nya tidak mampu ia dengar dengan jelas.

Tristianah baru tersadar ketika mendapat cubitan di pinggang dari teman sebangkunya.

"Aw, sakit tau, ngapain cubit-cubit." Kata Tristianah jengkel.

"Hhheee,,, Aku baik lo, kok kamu marah?, Aku kan sudah sadarin kamu dari mimpi buruk." Nila tersenyum jail kepada Tristianah. Jangan kebanyakan menghayal, nggak baik." Tambah Nila sok bijak.

"Enak ajah bilang mimpi buruk, ini itu mimpi indah. Dan lagi pula menghayal yang itu nggak apa-apa asal yang baik-baik. Siapa tau jadi kenyataan, kamu iri ya sama aku makanya kamu bilang gitu."

"Idii, kepedean banget lu."

"Kalau kamu nggak iri, nggak usah ganggu. Oke!!."

"Terserah kamu deh, repot amat ngenyadarin orang kaya kamu. cepat tua Aku lama-lama."

"Siapa yang suruh, salah sendiri ganggu orang."

"Aw." Teriak Tristianah dan Nila serempak.

Nisa baru saja menarik ujung jilbab mereka dari arah belakang. karena Bangku Nisa berada tepat di belakang mereka berdua.

"Woy, perhatikan guru di depan. Jangan asik ngrumpi, nanti di catat sama malaikat baru tau rasa." Bisik Nisa dengan suara pelan agar tidak terdengar sampai ke depan."

"Apa'an si kamu Nisa, main tarik-tarik ajah, lihat ni jilbab ku jadi nggak rapi. Awas ya kalau kadar kecantikan ku berkurang. Aku lempar kamu ke pemotongan ayam biar tangannya nggak bisa jail lagi."

"Coba saja kalau bisa." Kata Nisa mengejek dengan di sertai menaik turun kan alisnya. " Makanya jangan asik sendiri kalau lagi ada guru yang bicara di depan. Dosa tau. "

Karena mendapat teguran sok bijak dari Nisa, akhirnya mereka kembali memperhatikan guru di depan yang sedang bicara di depan, guru yang akan menjadi wali kelas mereka nantinya.

*

*

*

Hari ini mereka belum belajar, karena masih mencatat jadwal pelajaran, memilih perangkat kelas, dan tentunya jadwal piket kelas.

Besok mereka baru belajar normal.

Bel pulang pun di bunyikan, anak-anak mulai keluar dari kelas. Di antara mereka ada yang membawa sepeda motor sendiri, berjalan kaki, dan ada pula yang di jemput oleh keluarga mereka sendiri.

Seperti Nisa sepulang sekolah Nisa di jemput kakak nya Arini. Mereka kini tengah dalam perjalanan pulang menuju rumah menggunakan sepeda motor.

"Bagaimana tadi di sekolah dek, sudah punya teman baru belum?. " Tanya Arini di tengah perjalanan mereka.

"Sudah dong kak, Aku kan baik hati dan tidak sombong." Nisa dengan bangga memuji diri nya sendiri.

"Iya apa?.

"Iya dong kak."

"Bagus deh, kalau kenyataannya benar begitu."

Banyak hal lagi yang mereka bicarakan, hingga tidak teresa kini mereka sudah sampai di depan rumah.

Keadaan pintu rumah masih terkunci. Kakak Nisa, Arini mengambil kunci rumah yang berada di dalam tas dan segera membukanya. Setelah melepas sepatu, Nisa beranjak pergi ke kamar meninggalkan kakak nya yang masih melepas sepatu di teras. Ibu dan Ayah mereka kini masih berada di ladang, Mananam padi serta sayur mayur untuk nantinya di jual di pasar.

*

*

*

Ibu dan Ayah Nisa kini sedang menanam singkong di dekat pondok kecil mereka. Setelah menanam singkong rencananya mereka akan menanam tanaman talas juga.

Mereka sendiri tidak menyewa tanah orang lain, melainkan menanam tanaman di tanah mereka sendiri yang sudah lama mereka miliki. Maka dari itu hasil dari tanaman yang mereka peroleh akan sepenuhnya menjadi milik mereka.

Biasanya tanaman yang mereka tanam tubuh dengar subur, sehingga menghasilkan hasil yang lumayan banyak.

Uang yang mereka peroleh akan mereka gunakan sebagian untuk keperluan anak-anaknya sekolah, sebagiannya lagi untuk keperluan dapur.

Untuk beras sendiri mereka tidak membeli lagi, karena mereka menanam padi sendiri di ladang.

Mereka terlihat sangat letih, nampak air keringat bercucuran di permukaan kulit mereka. Sebab mereka sudah lama berada di bawah teriknya sinar matahari.

Walaupun pekerjaan mereka sangat melelahkan, mereka tetap selalu semangat dalam bekerja.

"Pak, cuaca hari ini sangat panas ya. Apa mungkin akan turun hujan." Kata ibu

"Iya bu, mungkin saja. Lihat saja sebagian awan sudah menghitam." Jawab Bapak. "Ayo bu, kita harus cepat tukutnya nanti hujan beneran." Bapak mempercepat gerakannya, Karena sebagian awan putih tertutup awan hitam.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!