Doa Kamu Di Tolak.

"Ee gays, setelah ini makul nya Pak Andika kan?." Tanya Tina antusias, dengan tangan memegang keripik pisang yang di beli nya saat masih di kantin.

"Iya, memang kenapa?." Tanya Nisa.

Tina hanya senyum-senyum saja menanggapi pertanyaan Nisa."Di tanya malah senyum-senyum nggak jelas." Nisa sewot.

"Nggak apa-apa Nisa, senyum kan ibadah." Jawabnya santai, padahal di dalam hati nya sedang berbunga-bunga akan berjumpa dengan sang pujaan hati.

Sedangkan Ayu dan Dia hanya menjadi pendengar setia dengan cemilan keripik pisang di mulutnya, tidak ikut menimpali ucapan mereka berdua.

Nisa mencebikkan bibirnya." Oh iya, kapan dimulai kegiatan extrakurikuler?." Tanya Nisa kemudian.

Dia,Ayu dan Tina sejenak berhenti mengunya. Nampak sedang berfikir keras." Kapan ya?, Nggak tau Nis, nanti kita tanya saja sama teman-teman yang lain." Kata Ayu penuh saran.

Nisa dan teman-teman manggut-manggut membenarkan. Nanti mereka akan bertanya kepada teman sekelas mereka yang juga mengikuti extrakurikuler seperti mereka.

Nisa dan teman-teman mengibaskan tangan, membersikan tangan karena keripik pisang yang mereka makan sudah ludes.

Nisa dan teman-teman menyeruput minuman masing-masing, menyembuhkan dahaga mereka setelah makan keripik pisang dua bungkus ukuran sedang.

Nisa bangkit dari duduk." Ayo gays, kita masuk, lanjut ngerumpi di dalam kelas." Kata Nisa di selingi kekehan kecil.

"Ayo."Jawab mereka serempak, namun Dia membuang sampah keripik ke dalam bak sampah terlebih dahulu, barulah ia menyusul Nisa dan yang lain ke dalam kelas.

Kini mereka sudah sampai di bangku mereka masing-masing, Tina dan Dia menghadap ke belakang di mana Nisa dan Ayu berada.

Nampak anak-anak yang lain juga membentuk geng mereka masing-masing, dan ada pula yang membaca buku seorang diri. Karena memang suka membaca.

Suasana kelas nampak riuh di isi siswa siswi dari kelas yang lain. Dari Suara kekehan bahkan rumpian mak-mak rempong yang selalu updetpun ikut meriahkan kelas. Karena masih jam istirahat, maka tak jarang banyak penghuni kelas lain yang berkeliaran di dalam kelas mereka. Dan ada pula yang masih sekedar nongkrong di kantin menunggu jam belajar di mulai kembali.

Begitupun dengan teman sekelas mereka terkadang bertandang ke kelas siswa yang lainnya, Mencari teman baru dan tentunya mencoba suasana baru.

Nisa dan teman-teman gengnya nampak sedang terkekeh dengan keras mendengar cerita dari Tina yang bagi mereka terkesan mengelitik perut.

*

*

*

Jam pulangpun di bunyikan, banyak siswa siswi yang berjalan keluar dari kelas masing-masing hendak pulang kerumah.

Begitu juga dengan Nisa dan teman-temannya, mereka berjalan beriringan menuju teras depan.

Nampak Nisa, Dia dan Tina melambaikan tangan ke arah Ayu yang akan pulang lebih dulu.

Ayu sudah lebih dulu berjalan ke luar gerbang, karena sudah ada orangtuanya yang menunggu menjemputnya.

Kini tinggallah Nisa, Dia, dan Tina.

Tina dan Dia menemani Nisa menunggu kakaknya yang belum datang menjemput, mereka tengah duduk di kursi panjang yang berada di teras dekat gerbang sekolah.

Nampak pak satpam sedang mengintruksi siswa siswi yang melajukan motornya keluar gerbang agar pelan-pelan.

"Gimana Tina tadi?, seneng nggak. Ketemu calon suamimu." Nisa dan Dia tersenyum manis ke arah Tina, mereka ingin melihat bagaimana respons Tina.

"Seneng banget dong, jantung ku rasanya mau lompat." Jawab Tina dengan semangat.

Nisa dan Dia kompak terkekeh kecil." Segitunya orang jatuh cinta, kayak habis menang lotre."

"Iya dong, apalagi pas lihat senyumannya, eeemmm,,, bikin meleleh." Jelas Tina dengan gaya centilnya.

Nisa dan Dia kembali terbahak-bahak." Ngehalu terus." Sambung Dia yang seketika merubah wajah Tina yang semula senang menjadi kesal.

"Nggak apa-apalah ngehalu, siapa tau suatu saat nanti do'aku terkabulkan." Jawab Tina berlagak santai.

Dia mencabikkan bibir.

"Iya deh, kita ikut mendo'akan supaya kamu nggak jadian sama Pak Andika." Kekeh Nisa kemudian, sedangkan Dia menutup mulutnya dengan tanggan nya.

Tina tercengang sontak melihat ke arah Nisa, ia tidak terima dengan ucapan Nisa." Yang benar saja Nis, itu namanya mendoa'kan yang terburuk buat seorang teman. Seharusnya isinya yang mendukung ini malah menjatuhkan bom di muka ku. Do'a Kamu di tolak." Jelas Tina dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Iya-iya bercanda Tina, jagan marah. Nanti cepat tua."

Tina mendengus sebal, selalu begitu. Terdzolimi.

Nisa melihat ke arah gerbang dan belum juga memperlihatkan wajah kakaknya Arini, Nisa pun berinisiatif menyuru teman-temannya pulang saja lebih dulu.

"Kalian berdua pulang saja duluan, biar Aku saja yang tunggu kakak Arini. Nanti kalian di marah sama Ibu kalian karena terlambat pulang." Usir Nisa halus, karena ia merasa tidak enak hati dengan Tina dan Dia. Jika harus telat pulang karenanya.

"Nggak apa-apa Nis, rumah Aku juga nggak terlalu jauh. Aku tunggu saja sampai kakak kamu jemput." Jawab Dia.

"Iya Nis, atau Kamu Aku anter saja pulang. Nanti titip saja pesan buat kak Arini sama pak satpam kalau Kamu pulang sama Aku." Tina berniat mengantar Nisa pulang, karena dia memang membawa motor sendiri. Dan juga ia ingin tau di mana rumah Nisa berada.

Rencananya kapan-kapan ia ingin main ke rumah Nisa, bersilaturahmi dengan keluarga Nisa.

Nisa tersenyum kecil." Nggak usah, kalian pulang saja duluan. Kakak ku sebentar lagi pasti datang." Tolak Nisa halus.

"Bener nggak apa-apa?." Tanya Tina dan Dia kompak.

"Iya beneran, Aku nggak apa-apa kok."

"Kamu beneran Nis, nggak mau Aku anter?." Tanya Tina memastikan.

"Iya, sudah sana pada pulang."

Keduanyapun manggut-manggut" Ya sudah Kita duluan ya Nis." Jawab Tina dan Dia.

Mereka pun di jawab dengan anggukan oleh Nisa, mereka pun bangkit dari duduk dan berlalu meninggalkan Nisa.

Kini tinggallah Nisa seorang diri duduk di bangku menunggu kedatangan kakaknya.

"Ee Dia, Kamu pulang barengan Aku saja, rumah Kita sama kan arahnya?." Kata Tina.

Dia nampak berfikir dengan mata melihat ke atas langit." Iya, boleh deh. Hitung-hitung hemat energi." Kata Dia kemudian.

Mereka berdua berjalan ke arah parkiran menuju motor Tina yang terparkir dengan rapi, hanya tersisa beberapa motor saja yang terparkir bersama motor Tina.

Karena banyak siswa siswi yang sudah lebih dulu pulang ke rumah masing-masing.

Tina menyalakan mesin motornya dan Dia naik keboncengan Tina. Ketika di depan gerbang melewati Nisa, Dia dan Tina melambaikan tangan ke udara sebagai salam perpisahan." Kita balik ya Nis, baik-baik Kamu." Oceh mereka ketika melewati pintu gerbang.

Nisa harus sedikit berteriak membalas ucapan mereka." Iya, kalian hati-hati di jalan." Balas Nisa.

*

*

*''''''''''''

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!