Acara makan malam tengah berlangsung, mereka makan dengan hikmat dan penuh syukur. Menu makan malam mereka malam ini ikan nila sambal, sayur kangkung, tempe goreng, dan beberapa irisan timun sebagai pelengkap.
Setelah makan malam seperti biasa mereka akan berkumpul di ruang keluarga sederhana mereka, dengan kursi kayu, dan meja kayu yang di buat bapak mereka sendiri.
Kini mereka tengah menonton acara dangdutan di TV lama mereka, yang berukuran kecil. Dengan beberapa potong singkong rebus, teh hangat, dan kopi.
Cuaca di luar nampak sedang gerimis, membasahi dedauanan dan ranting di desanya.
Terdengar suara Adzan isya berkumandang, memnaggil utuk segera di tunaikan. Jarak rumah mereka dengan masjid tidak terlalu jauh, jadi ketika memasuki waktu sholat, suara orang adzan di masjid sangat lantang terdengar.
Bapak segera bangkit dari duduk nya, dan berjalan menuju bilik dapur untuk berwhudu, langkah nya terhenti, ia membalikkan tubuhnya." Arini mati kan dulu tv nya, kita sholat berjemaah dulu." Bapak melanjutkan langkahnya ke bilik dapur dengan di iringi istrinya.
"Iya pak." Arini segera mematikan TV, dan segera menyusul ke belakang di iringi Nisa di belakangnya.
Mereka menunggu antrian, karena kamar mandi mereka tidak lah terlalu besar, hanya muat untuk 1 orang saja. Sehingga mereka berwhudu harus bergantian.
Bapak sudah selesai berwhudu, sekarang giliran ibu mereka. Ibu segera masuk ke dalam kamar mandi setelah bapak keluar. Arini dan Nisa masih setia menunggu di depan kamar mandi.
"Nak Bapak tunggu di luar, cepat menyusul." Setelah mengatakan itu bapak pergi ke kamar untuk mengambil kain, peci, dan sajada.
Kini bapak sedang menunggu di ruang keluarga, sebelum mengambil tempat, membentang sajadah. Bapak menggeser kursi dan meja terlebih dahulu. Agar ruangan nya muat untuk di lakukan sholat berjama'ah.
Setelah selesai menyiapkan tempat, datanglah isterinya, Arini, dan Nisa yang sudah lengkap dengan mukena dan sajadah di tangannya. Kini mereka sudah siap untuk sholat berjama'ah.
Bapak memulai sholat dengan bertakbir, Allah huakbar dan mengangkat tangannya sejajar dengan telinganya.
Kini mereka tengah khusuk menunaikan sholat isya berjama'ah. Bapak melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an dengan suara lantang dan merdu. Mereka hampir selesai karena mereka kini sedang tahiyat akhir salam, di dahului menoleh ke arah kanan dan di lanjutkan ke arah kiri.
Setelah sholat dan mencium tangan kedua orang tua mereka, mereka belum beranjak dari tempat mereka, kerana akan di lanjutkan dengan do'a. Yang di pimpin oleh bapak mereka sendiri.
Bapak sudah memulai do'a dengan sungguh -sungguh, banyak do'a yang Bapak panjatkan, terutama untuk keselamatan keluarga mereka, keberkahan, kesehatan, serta kebaikan yang lainnya. Tidak lupa bapak mengucpkan syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada keluarganya.
Setelah selesai sholat ibu dan bapak kembali ke kamar untuk mengantung ulang alat-alat sholat di tempat semula, sedangkan Arini dan Nisa ke kamar nya masing-masing.
Ibu dan bapak kembali ke ruang keluarga dan menata ulang ke posisi semula kursi dan meja. Lalu tak lupa bapak menghidupkan kembali TV yang tadi sempat di matikan.
Tak lama Arini muncul dari kamar nya, Arini berjalan menuju ruang tengah yang di jadikan ruang keluarga. Meskipun terletak di dekat dapur namun pintu kamar Arini dapat terlihat dengan jelas dari arah ruang keluarga. Karena antara ruang keluarga dan dapur tidak memliliki sekat, hanya di batasi kamar saja.
Arini ikut bergabung dengan kedua orangtuanya, ia menyeret kursi duduk di samping ibunya.
Ibu melihat ke arah pintu kamar anak nya Nisa yang bersebelahan dengan kamar kakanya Arini. Namun yang di tunggu tak kunjung terlihat, pintu kamar Nisa masih tertutup rapat." Adik mu sudah tidur?." Tanya ibu kepada Arini.
Arini yang sedang menyeruput air teh yang sudah agak dingin pun menoleh ke kamar adiknya." Arini nggak tau bu, mungkin saja sudah belajar. Apa Arini cek saja bu?. "
Arini hendak bangkit mengecek adik nya, apakah tertidur atau sudah belajar, biasanya adiknya belum belajar di waktu sekarang. Karena masih berkumpul bersama ibu dan bapak di ruang keluarga sederhana mereka.
Ibu segera memengang tangan anak nya yang hendak melangkah, Ibu menggeleng." Tidak usah nak, biarkan saja mungkin Adik mu memang sedang belajar."
Arini pun mengangguk dan kembali ke tempat duduk nya." Baik bu." Jawab Arini.
*
*
*
Sedangkan di dalam kamar Anisa sedang asik dengan handpon jadulnya, hanya ada kamera, pesan, facebook dan internet biasa, tidak ada whattsap, instagram, ataupun yang lainnya.
Jika ada perlu dengan sesuatu yang berhubungan dengan whattsap, atau yang lainnya, baru ia akan meminjam handpon milik kakaknya Arini.
Anisa membeli handpon hasil menabung selama satu tahun, ia menyisihkan uang jajan yang ibunya berikan. Setelah di rasa cukup barulah ia membeli handpon dengan di temani kakaknya Arini.
Ia sedang menjelaja situs facebook, melihat story pertemanannya.
Hingga terbesit di otak nya ingin mencari akun milik wali kelasnya yang membuat temannya tegila-gila." Ah, aku lupa siapa nama akun bapak Andika." Sebenarnya dirinya pun belum melihat langsung akun milik wali kelasnya itu, ia hanya mendengar angin yang berlalu di telinga nya saja.
Di sekolahnya banyak anak-anak kelas satu seperti nya yang membicarakan wali kelasnya, hingga akun pria itu.
Banyak yang terpesona dengan pesona nya, padahal wali kelasnya sudah berumur 22 tahun sedangkan muted seperti mereka kebanyakan baru menginjak umur 12 tahunan. Sungguh terlalu masih muda untuk membahas tentang laki laki ataupun percintaan.
Nisa terus berfikir mengingat-ngingat kembali nama akun wali kelasnya itu. Sampai ia pun ingat dan langsung mengetiknya di layar pencarian.
Pencarian pun berhasil, dan menemukan akun yang mempunyai profil wajah laki-laki itu bersama seorang wanita cantik.
"Wah cantik sekali pacar pak Andika, salah saingan ni si Tina." Setelah melihat-lihat isi akun wali kelas nya, Nisa beranjak belajar, mengingat hari mulai malam.
*
*
*
Arini melihat angkah jarum Jam di dinding, ia teringat ia belum belajar." Pak, bu, Arini ke kamar dulu, mau belajar." Pamit Arini.
Bapak dan ibu kompak melihat Arini." Ya nak silakan, jangan terlalu malam tidurnya." Kata ibu. Bapak manggut-manggut membenarkan karena Bapak masih mengunya singkong rebus.
Setelah berpamitan Arini segera beranjak ke kamar untuk segera belajar.
Arini menyiapkan terlebih dahulu buku mata pelajaran untuk besok, ia melihat-lihat mata pelajaran yang tertera. Terdengar suaranya melantunkan nyanyian lagu yang sering ia dengar di handpon nya, menemani ia memasukkan buku ke dalam tas nya.
Setelah selesai menyiapkan buku untuk besok, ia segera duduk di kursi dan meletakkan buku yang ia pilih ke atas meja, untuk bahan ia belajar.
Arini belajar dengan serius, hingga tanpa terasa hari sudah menunjukkan pukul 21:15.
Arini sudah merasa mengantuk, ia segera menutup buku dan beranjak ke dapur untuk menyikat gigi dan mencuci muka.
Menyikat gigi, mencuci muka serta mencuci kaki merupakan rutinitas Arini menjelang tidur. Jika ia lupa maka ia tidak menemukan tidur yang nyenyak, ia akan terbangun dan langsung ke kamar mandi melakukan rutinitasnya yang terlupakan. Begitulah Arini.
Lain hal nya dengan Nisa, terkadang ia lupa namun karena sangat mengantuk ia tetap melanjutkan saja tidur nya.
Setelah selesai dengan rutinitasnya di kamar mandi ia segera kembali ke kamar, mengambil handuk dan mengelap wajah nya yang basah dengan air. Sebelum ke kamar Arini senora mengambil whudu, agar tidur dengan hati yang damai.
Arini segera beranjak ke tempat tidur, dan langsung merebahkan badannya di kasur.
*
*
*
Lain hal nya dengan Nisa, Nisa sudah tertidur setengah jam yang lulu. Setelah selesai dengan rutinitasnya Nisa segera berlayar ke alam tidur. Bahkan buku yang ia pelajari tadi masih berserakan di atas meja.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments