Susana kelas hari itu berjalan dengan tenang, semua sedang menyalin sebuah catatan yang tertulis di papan tulis kelas.
Guru mata pelajaran Jam terakhir baru saja memberikan catatan kepada anak-anak untuk mereka pelajari lagi di rumah.
Angkah jarum Jam menunjukkan angka dua siang. Tak lama bel pulang pun di bunyikan, para siswa memasukkan buku dan pena mereka ke dalam tas, menyandangnya di bahu, dan berjalan keluar gerbang sekolah. Ada yang ke parkiran motor, dan ada pula yang berjalan kaki.
Nisa belum juga selesai menyalin catatannya, tinggal sedikit lagi baru selesai.
Tristianah yang juga baru selesai mencatat segera memasukkan buku nya ke dalam tas, sedangkan Dia, Ayu dan yang lain sudah lebih dulu ke luar kelas, Ayu terpaksa ke pintu gerbang lebih dulu karena sudah ada yang menjemputnya, sedangkan Dia walaupun rumahnya dekat ia harus pulang cepat, karena ibunya mengajak ia pergi ke rumah saudara ibu nya pukul tiga sore dan harus segera siap -siap.
"Belum selesai Nis." Tina pindah duduk, dari kursi nya ke samping Nisa. Ia meletakkan tangannya di atas meja dan melihat seberapa banyak lagi Nisa menulis.
Nisa menoleh sebentat melihat Tina alu kembali menyalin catatan, agar cepat selesai." Iya Tina, sebentar lagi ini juga selesai." Nisa buru-buru menulis mempercepat gerakannya, ia takut nanti kakak nya terlalu lama menunggu di luar.
Tulisan Nisa pun jadi berantakan, saking buru-burunya. Tina yang melihat tulisan Nisa yang sudah seperti cacing kepanasan pun akhirnya menyela.
"Ee Nis, slow saja nulisnya. Kayak di kejar hantu saja."
" Aku buru-buru Tin, takut kakak ku terlalu lama menunggu."
"Suru kakak kamu duluan saja Nis, nanti kamu saya anter pulang. nganter kamu nggak bakalan sampai bikin kantong ku kering."
Mereka berdua tertawa renyah, dan tak lama akhirnya Nisa selesai juga menyalin catatan yang akan ia pelajari lagi nantinya di rumah.
Nisa memasukkan buku dan pena nya ke dalam tas, dan mengajak Tina untuk segera pulang.
Saat melewati ruang guru, Tina yang sedang bercerita riah dengan Nisa di kagetkan dengan sosok lelaki yang baru saja keluar dari ruang guru.
" Kalian belum pulang?." Tanya lelaki itu.
Tina hanya terdiam membisu, melihat itu akhirnya Nisa membuka suara membalas sapahan dari wali kelasnya itu." Iya pak, tadi saya masih ada kerjaan yang belum beres, sekarang kita baru mau pulang."
"Oh iya, silakan. Hati-hati saja kalian di jalan, saya permisi." Setelah mengatakan itu Andika pergi meninggalkan mereka menuju parkiran khusus para guru yang berada tidak jauh dari ruang kantor.
Pak Andika memakai jaket kulit, kaus tangan serta helm nya, pak Andika selalu mengutamakan keselamatan serta menjaga penampilannya agar tetap modis.
Pak Andika menghidupkan mesin motornya, setelah mesin motor sudah agak panas, barulah Pak Andika melajukan sepeda motor nya.
Tak lupa pak Andika menghidupkan klakson motornya, tanda menyapa pak satpam yang sedang berjaga di iringi senyum dan anggukan kecil.
Nisa hanya geleng-geleng melihat Tina yang masih memperhatikan pak Andika yang sudah berlalu keluar pagar sekolah.
"Begini amat ya kalau orang lagi jatuh cinta, orang sudah pergi, masih saja senyum-senyum. Kayak orang kesambet saja." Omelan Nisa tidak di gubris oleh Tina, ia sibuk dengan fikirannya sendiri. Ocehan Nisa hanya sia-sia seperti angin berlalu yang lewat di telinganya.
Nisa mengibaskan ke kiri ke kanan tangan nya di depan mata Tina yang masih memandang pujaan hatinya yang sudah menghilang dari pandangannya." Tina kamu masih waraskan?."
Kali ini indra pendengaran Tina mendadak
kembali normal." Apa'an si kamu Nis, kamu mau bilang kalau Aku udah nggak waras!."
"Ya enggak, kamu juga sih dari tadi senyum -senyum sendiri, sudah kayak orang gila tau nggak. Ya sudah ayo jalan," Nisa mempercepat langkahnya karena ia melihat kakaknya yang sedang duduk di atas motor depan gerbang." nanti kakak ku terlalu lama menunggu." Ajak Nisa berjalan lebih dulu dan di susul Tina.
"Enak saja, Aku disamain orang gila. Kamu nggak pernah jatuh cinta ya Nis." Kini mereka berjalan beriringan di teras sekolah menuju halaman depan.
"Enggak, emang kenapa?. Ngapain juga jatuh cinta, buang-buang waktu saja."
"Ye ela kamu Nis, emang kamu mau jadi jomblo seumur hidup?."
"Ya enggak juga."
"Makanya cari sono pacar, biar nggak kesepian. Biar ada yang kasih semangat pas lagi bete."
"Nggak ah, ngapain pacaran?. Dapat dosa iya."
*
*
*
Kini mereka tiba di gerbang sekolah, Nisa sudah berada dalam boncengan kakanya Arini dan Tina sendiri menaiki sepeda motorboat. Setelah tadi Tina sempat mengambil motornya yang berada di parkiran sekolah.
Mereka melajukan motor dengan kecepatan sedang, dengan Tina yang berada di belakang motor mereka.
jalan setapak yang mereka lewati masih berukuran kecil, karena jalan yang mereka lewati menuju sekolah belum begitu ramai kendaraan yang belalu lalang. Kota yang mereka tempati kota yang cukup kecil dan belum begitu maju, penduduknya pun belum begitu banyak. Hanya terdiri dari warga lokal saja.
"Dek, tadi kenapa lama keluarnya?." Arini bertanya sambil menyetir, sesekali ia membelok stang motor demi menghindari jalan aspal yang belobang.
"Oh, tadi Nisa belum selesai menyalin catatan di papan tulis, Nisa selesaiin dulu catatan, kalau pinjam punya teman yang sudah selesai kasihan nanti tidak bisa belajar di rumah."
Arini manggut-manggut." Iya nggak apa-apa, kakak kira ngapain saja, sampai telat keluar padahal yang lain sudah pada pulang."
"Terus itu, siapa namaya," Kakak Nisa menunjukkan Tina yang berada di belakang mereka melalui spion motor." Tadinya teman kamu itu belum selesai juga ya."
"Nggak kak, nama nya Tristianah. Dia sengaja nungguin Aku, katanya biar Aku nggak sendirian, Dia sudah selesai duluan. Aku nya saja yang lelet."
Tina mengklakson kakak Nisa, yang menyebabkan obrolan mereka terhenti sejenak.
Tristianah mensejajarkan motor mereka, untuk pamit berbelok ke kanan di mana ada jalan kecil yang hanya muat untuk sepeda motor saja, rumah Tina masuk jalan kecil itu.
"Kak, Aku duluan ya." Pamitnya pada Arini kakak Nisa." Da da Nis, sampai ketemu besok." Setelah berpamitan Tina memperlambat laju sepeda motornya, membiarkan motor kakak Nisa mendahuluinya, setelah sepeda motor milik Nisa dan kakak nya sedikit menjauh barulah Tina membelok stang motor ke jalan kecil itu.
"Oke, da da,,." Nisa melambaikan tangan, sebagai salam perpisahan.
Tinggallah Nisa dan kakak nya, yang sesekali berpapasan dengan warga yang mengendarai sepeda motor, ada pula yang berjalan kaki hendak ke warung.
Jalan yang mereka tempuh tidak terlalu ramai kendaraan yang berlalu lalang, hanya ada beberapa saja. Karena tempat mereka tinggal belum begitu maju, suasananya pun masih asri karena banyak pepohonan yang tumbuh.
"Kak, orang jatuh cinta itu emang biasa ya senyum-senyum sendiri." Nisa bertanya kepada kakak nya Arini mengenai Tina yang kerab senyum-senyum tidak sendiri, tidak jelas.
"Ya tidak juga, tapi terkadang orang yang sedang di mabuk cinta terllihat sedikit tidak waras. Cinta memang begitu, aneh, memang nya siapa yang lagi jatuh cinta?. Kamu ya." Silidik kakak Nisa.
Nisa tersentak kaget." Nggak lah kak, bikin pusing saja kalau jatuh cinta. Teman Aku yang lagi kayak ke sambet kalau ketemu gebetan nya, Aku jadi pusing lihat nya."
Kakak Nisa terkekeh, "Kamu ini dek, yang jatuh cinta siapa, yang repot siapa?.Biar kan saja yang penting masih dalam batas wajar."
Tak lama mereka pun sampai di halamam rumah.
*
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ayu ulandari
aamiin ya robbalalamin,,
makasih kakak.
2023-01-01
0
anggita
ok thor, trus berkarya smoga novelnya sukses. 👌
2023-01-01
0