Bab 2. Hujan Sore

"Tok. Tok. Tok. Tok. Pintu kamar diketuk. "Nisa. Nisa." Terdengar panggilan dari luar.

"Iya Kak." Jawab Anisa dan bangkit membuka pintu. Tampak Kakak berdiri dengan hijab hitam dan rok hitam berbaju kurung panjang. Tangannya memegang buku-buku.

"Ada Kartika sama Susanti." Kata Kakak Anisa, lalu melangkah menuju kamarnya.

"Kakak mau kemana." Tanya Anisa sambil menutup pintu kamarnya.

"Kerja kelompok di rumah Rahma." Jawab Arini tanpa menoleh, terdengar suara pintu kamar terbuka. Anisa melangkah ke ruang tamu. Saat di luar dia melihat dua temannya duduk santai menunggu, Susanti dan Kartika.

"Heeyy, maaf. Sudah lama sampai." Ujar Anisa dan duduk pada kursi di hadapan kedua temannya. Anisa merasa gembira dua teman berkunjung, senyumannya yang ceria menampilkan deretan gigi putihnya. Begitu juga dua temannya tampak tersenyum ceria. Mereka berbincang-bincang seru, saling menggoda.

"Adik, kontak sepeda motor dimana?, Kakak lupa." Suara Arini terdengar dari ruang tengah, beberapa saat kemudian dia muncul dari balik pintu sambil bertanya. Dia mencari-cari sesuatu, melihat kesana kemari.

"Tadi dipakek Ayah, mungkin di atas lemari dapur." Jawab Anisa, seketika Arini berbalik dan menuju dapur. Dia baru ingat kebiasaan ayah mereka kalau sudah memakai sepeda motor.

"Nis, ayo kita main ke rumah Jesika. Dia bilang ada buah untuk di rujak." Kata Susanti.

"Ayooo, Goooooo." Jawab Anisa dengan spontan dan kegirangan. Merujak adalah hobinya yang tiada duanya. Ketiganya langsung tertawa bersama-sama.

Kartika, Susanti dan Jesica merupakan teman lama Anisa sejak sekolah dasar. Tapi bedah angkatan, sehingga usia mereka berbeda. Kartika, Susanti, dan Jesica berumur 16-an tahun, dan mereka sekarang duduk di kelas 10 Sekolah Menengah Atas. Sedangkan Anisa baru berusia 13 tahun. Mereka berteman awalnya karena belajar mengaji di pada satu guru. Meski berbeda usia, teman-teman Anisa menganggapnya seusia, dan meminta Anisa memanggil mereka dengan panggilan nama saja. Entah apa alasan mereka, hanya mereka yang tahu.

"Kamu memang rajanya Nis, kalau soal merujak." Jawab Susanti seraya mengguncang-guncang bahu Nisa.

"Anisaaa gitu lohhhh. Bukan rajanya, tapi yang paling nomor satu." Ujar Anisa, seraya mengacungkan jarinya. Kemudian ketiganya tertawa-tawa bersama. Kartika menyarankan rujaknya harus pedas, dan Susanti bilang kacangnya harus banyak. Dan banyak lagi celoteh tentang rujaknya.

"Ya sudah, ayo berangkat sekarang, jangan tunggu lama-lama." Ajak Anisa.

"Go." Ujar Susanti, dia bangkit dan memasang ransel di bahunya.

"Tancap." Kata Kartika. Ketiganya bangkit dan bersiap ke rumah Jesika.

"Buah apa rencana Jesika?." Tanya Anisa sambil mengunci pintu. Anak kunci dia letakkan di bawah lap kaki.

"Kedondong dan buah raman muda." Kata Susanti. Buah raman adalah buah rujak pavorit mereka. Mendengar nama buah raman air liur mereka bergejolak, tak sabar ingin segerah melahapnya.

Di tengah jalan mereka terus bersenda gurau, dan bercerita tentang banyak hal. Begitulah mereka, bila sudah bertemu pasti ada-ada saja yang mereka bicarakan, seakan tak pernah habis cerita. Berpapasan dengan dua teman yang mau mandi ke sungai. Jalanan ramai, banyak warga pulang kerja. Tidak lama mereka pun sampai di depan pintu gerbang rumah Jesika.

*****

"Permisi Pak," Anisa menyapa rama pada satpam penjaga rumah Jesika, umurnya sekitar empat puluh limaan tahun, bernama Pak Galang. Sudah lama bekerja di rumah Jesika. Jesika anak orang kaya, rumanya dua lantai dan berpagar tinggi. Tapi Jesika anak yang baik, dia tidak pilih-pilih teman. Begitu juga orang tua dan saudara-saudara Jesika. Semua rama dan baik, beta berada di rumah Jesika. Ayah Jesika seorang saudagar, sudah naik haji. Haji Fadlan dan ibu Jesika bernama Haja Ribaya.

"Iya, Jesika ada." Jawab Pak Galang dia sudah tahu kalau melihat ketiga sahabat Jesika. "Masuk-masuk." Lanjutnya, seraya membuka pintu pagar. Terdengar derikan pintu pagar di tarik. Saat pintu terbuka tampak Jesika sudah menunggu di teras rumah sambil berjalan mondar-mandir.

******

Pak Galang memperhatikan beberapa saat ketiga remaja itu menuju teras rumah. Tampak bunga-bunga mekar di sisi teras. Ada yang di dalam pot, di tanam di halaman dan sekitar kolam kecil. Bagitulah, halaman rumah Jesika begitu Indah dan rapi.

"Kalian telat.. " Ujar Jesika agak merajuk, dia tidak lagi mondar-mandir seperti tadi.

"Maaf Jes, kita sudah buru-buru." Ujar Susanti, dia duduk di teras diikuti Anisa dan Kertika.

"Buah rujaknya sudah habis oleh kakak-kakak Aku." Kata Jesika.

"Yaaa." Anisa, Kartika dan Susanti berkata serentak yang dibaluti rasa kecewa berat. Padahal lidah ketiganya sudah basah oleh air liur.

"Jadi gimana Jes, jangan bilang ya kalau nggak jadi,,," Kartika menimpali.

"Iya Jes, lihat nih, dedek nya meronta-ronta." Kata Susanti. "Takut acara ngerujak nya nggak jadi, iya kan Dek?." Susanti melanjutkan seraya mengelus perut nya agar mereka percaya. Dia berakting seolah-olah ibu hamil yang sedang mengidam.

"Gak jadi.... " Kata Anisa sedih.

"Iya deh, kita pulang yuk." Kartika mengajak pulang dengan seakan dia diusir saking kecewanya. Sementara Jesika menahan tawa melihat kekecewaan ketiga sahabatnya.

"Tapi, habisnya bohong." Ujar Jesika diiringi tawanya yang terbahak-bahak. Anisa, Kartika dan Susanti saling pandang dan sadar kalau dikerjai oleh Jesika. Sontak ketiganya ikut tertawa.

"Ayo, kedapur saja." Ajak Jesika, mereka beranjak ke dapur. Di ruang tengah tampak ayah dan ibu Jesika duduk santai menonton televisi. Ketiganya tersenyum dan kedua orang tua Jesika tersenyum rama.

"Jangan terlalu pedas merujaknya." Ujar ibu Jesika.

"Iya Tante." Sahut ketiganya. Di dapur seorang wanita umur tiga puluhan tahun sedang mengupas buah-buahan muda. Buah nanas, kedondong, raman dan jambu. Dia ART di rumah Jesika, namanya Mirna biasa dipanggil kak Mirna oleh Jesika dan temannya.

"Ada satu buah yang belum ada?." Kata Jesika.

"Apa." Ketiganya menyahut.

"Mangga." Jawab Jesika.

"Ini sudah banyak buahnya, adik-adik." Ujar kak Mirna.

"Kakak, bikin rujaknyan, kami ambil mangga di belakang rumah." Kata Jesika, mereka kemudian pergi ke belakang dimana terdapat dua batang pohon mangga berbua. Saat tiba mereka memandangi pohon dan berpikir bagaimana mengambil buahnya.

"Gala di mana, Jes." Tanya Susanti.

"Jauh di gudang." Jawab Jesika.

"Ambil Jes, inikan rumahmu." Kata Kartika.

"Iya dehhh." Kata Jesika malas, dia harus melangkah ke gudang di samping garasi mobil. Kenapa tak bawa dari tadi.

"Bukkk. Buukkk. Buukkk. " Tiga buah jatuh, Jesika menghentikan langkahnya dan menoleh ke atas pohon mangga. Jesika, Susanti dan Kartika menjadi keheranan dan mulut keduanya ternganga. Anisa tampak lincah memanjat dan mengambil buah mangga. Kembali buah-buah jatuh dan ketiganya masih mematung tidak percaya. Sudah lebih sepuluh bijih buah jatuh ke tanah.

"Bagaimana, cukup." Tanya Anisa dari atas pohon, dia tampak duduk santai pada sebuah dahan. Melihat itu, ketiganya tambah ternganga. Tidak menyangkah Anisa pandai memanjat.

"Cuu. Cuu. Cukuppp." Kata Jesika. Anisa turun dengan cepat, sepertinya dia seorang ahli panjat. Ketiganya meminta Anisa hati-hati dan pelan-pelan. Namun Anisa hanya dua kali bergantung sudah di bawa. Kartika dibantu Susanti mengumpulkan buah mangga kedalam bakul yang mereka bawa tadi. Anisa tampak menepuk kedua tanganya membersihkan dari debu. Mereka pulang dan membantu mengupas buah mangga muda. Rujak sudah dibuatkan kak Mirna. Akhirnya mereka pun pesta rujak. Selama merujak mereka tidak pernah diam. Susanti kembali melanjutkan ektingnya tadi, pura-pura ngidam dan hamil.

*****

"Bohong pasti." Jawab Anisa.

"Kalian pada nggak percaya?." Kata Susanti serius.

"Santiii, lo,, ," Teriak mereka bertiga serempak, tak percaya dengan apa yang teman mereka ucapkan. Tapi mereka akhirnya masuk juga dalam akting dan pembicaraan konyol yang dibuat-buat.

Santi melihat ke arah mereka, dengan wajah sedih dan kecewa, padahal di dalam hati ia sedang tertawa terbahak-bahak. Karena Susanti tau temannya akan mengikuti alur, maka ia melanjutkan dramanya, dengan pura-pura ngidam.

"Iya, dan kalian semua harus bertanggung jawab kalau anak Aku nantinya ileran." Susanti memandang ke arah mereka bertiga dengan memasang wajah sedih.

"Lo hamil Sus, kamu kan belum nikah Sus." Tanya Kartika, mata Kartika tidak lepas dari arah perut Susanti, ia membayangkan Susanti hamil. Susanti remaja yang tinggal bersama ibunya dan sudah ditinggal pergi ayahnya sepuluh tahun lalu ternyata pandai bermain sandiwara dan akting.

Tampak hawa di sekeliling mereka menjadi panas, tak lama mereka bertiga memeluk Susanti dengan tujuan memberikan Susanti kekuatan dan ketegaran, dengan di iringi isak tangis, mereka terus memeluk Susanti.

"Gay's,,,." Susanti menundukan pandangan kebawah seraya mengumpulkan keberaniannya." Aku mintak maaf, sebenarnya-". Susanti mengantung ucapannya. Sambil berkata dan mendengarkan mereka terus mengunya rujak.

"Ada apa Sus?. " Tanya Jesika, sambil makan rujak kepedasan.

"Se, sebenarnya Aku.." Ucapnya terbata.

"Apa Sus?. Apa laki-laki itu tidak mau bertanggung Jawab." Tanya Jesica lagi.

"Pasti buaya darat itu." Ujar Anisa.

"Itulah jangan pacaran, kan yang susah kamu sendiri." Susanti menasihati.

Susanti tetap memandang ke bawah,

sedangkan teman-temannya sudah sangat penasaran apa yang akan Susanti katakan. Susanti mengagkat kepalanya dan ia memberanikan diri untuk mengatakannnya.

"Gay's sebenarnya Aku hamil anak kembar empat, saat USG kemarin." Kata Susanti.

"Apa!!." Jawab mereka serempak seakan tidak percaya.

"Kamu ini, banyak sekali kembarnya. Seperti kucing saja." Kata kartika spontan. Mendengar itu, semuanya tergelitik geli dan tertawa terbahak-bahak. Membuat buah yang ada di mulut mereka menyembur keluar. Begitulah mereka terus berceloteh selama berkumpul. Orang tua Jesika dan kakak-kakak Jesika hanya menggeleng-geleng kepala. Anisa, Kartika dan Susanti pulang saat jam menunjuk pukul lima sore. Seharusnya Anisa pulang pukul 16:30 dan dia lupa. Karena terlalu asik bermain dengan teman-temannya dan karena hujan.

*****

"Anisaaaa, kenapa pulang terlalu sore. Anak perempuan macam apa kamu ini. Lihat itu, jemuran basah semua. Seharusnya kamu angkat dulu baru pergi. Mandi belum, masak belum, piring banyak kotor, kamu dari mana dengan siapa pergi." Anisa kena semprot ibunya.

"Tadi mau pulang, tiba-tiiii.... " Kata-kata Anisa terputus dan ibunya kembali mengomel yang bikin pusing.

"Sudah, bikin minum ayahmu, rumah di bersihkan. Kakakmu kemana juga belum pulang. Punya dua anak gadis sama saja. Alasan saja kamu ini, sudah tahu sore hari. Mau jadi apa kamu ini. Perempuan harus tahu diri. Sudah dibilang jangan pulang terlalu sore." Kata ibu Anisa tanpa putus. Di luar terdengar suara sepeda motor tanda Arini pulang.

"Ariniiiiii." Teriak Ibu dari dapur, Arini tampak bergegas masuk. Setelah itu kembali omelan yang panjang terjabarkan dari A sampai Z.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

susanti... hamil, ngidam🥱

2023-01-01

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!