Benda Keramat Para Perempuan.

Mulut Nisa komat kamit seperti sedang membaca mantra, Nisa menggerutu jengkel dengan Ayu.

"Nggak usah ngedumel, nanti tambah jelek tu muka." Kata Ayu yang akan melanjutkan mengerjakan tugas.

Nisa melengos sewot.

Nisa melanjutkan mengerjakan tugas juga setelah tau kapan jam latihan di mulai.

Waktu terus berjalan.

Suasana kelas nampak tenang terkendali, Karena anak-anak sedang fokus mengerjakan tugas pemberian guru matapelajaran yang mengajar.

Mereka semua sudah hampir selesai ketika Ibu guru kembali ke dalam kelas setelah pergi izin ke kantor untuk ke kamar kecil sebentar.

"Anak-anak kalau sudah ada yang selesai, kumpul kan ke atas meja saya." Seru ibu guru.

Nampak ada beberapa anak-anak yang selesai dan maju ke depan untuk mengumpulkan buku tugas mereka yang sudah di kerjakan.

Nisa dan teman-temannya kembali berkonsentrasi menyelesaikan tugas mereka.

Nisa tinggal satu soal lagi yang belum di isi. Ayu mendongak melihat tugas punya Nisa." Nis, kamu tinggal berapa lagi yang belum?." Tanya Ayu.

Nisa melihat Ayu sekilas." Tinggal satu lagi, kamu sudah?." Cicit Nisa balik bertanya.

"Belum, ini tinggal beberapa lagi. Boleh nyontek nggak?." Tanya Ayu lagi dengan menampilkan deretan gigi sedikit putih nya.

Nisa membiarkan Ayu melihat tugasnya, lebih tepatnya mencontek miliknya."Lihat saja kalau mau, tapi kalau jawabannya salah jangan salahkan Aku!." Ancam Nisa.

"Iya bawel,,,." Ayu mulai melancarkan aksinya, mencontek milik Nisa, ia segera menyalin tugas Nisa. Yang telah di isi oleh Ayu sendiri hanya sebagian, sebagiannya lagi mencontek milik Nisa.

*

*

*

"Kak Aku pergi dulu, nanti sebelum sore Aku pulang." Pamit Nisa pada kakaknya Arini. Ia akan pergi kerumah teman lamanya, yang sudah lama tidak di kunjunginya.

Nisa berjalan dengan santai menuju rumah Kartika yang tidak terlalu jauh dari rumah nya, Nisa akan ke rumah Kartika dan Susanti terlebih dahulu baru ke rumah Jesica.

"Kartika,,,."Teriak Nisa di depan rumah Kartika yang tertutup rapat.

Tidak ada sahutan dari dalam, hingga Nisa kembali berteriak memanggil nama Kartika." Kartika." Panggil nya lagi, tak lama muncul wajah Kartika di balik pintu.

"Masuk dulu Nis, Aku baru habis mandi. Gerah." Cicit Kartika, tanggan nya bergerak membukakan pintu lebar agar Nisa bisa masuk.

"Tumben amat kamu mandi Jam segini?." Nisa melangkah masuk dan duduk di kursi tamu yang ada di rumah Tika.

Kartika menutup sedikit pintu agar tidak begitu terlihat dari luar." Maklum lah Nis, periode bulanan. Aku sisiran sama dandan sebentar ya, Kamu mau di sini atau ikut ke kamar." Kartika bertanya seperti itu karena Nisa sudah duduk dengan mantap di kursi.

"Ikut Kamu saja deh, nggak enak di sini sendirian. Tapi jangan lama-lama dandanya." Nisa mengingatkan Kartika, karena waktu ia keluar hanya sebentar. Sebelum sore ia harus segera pulang dan membantu kakaknya beres-beres rumah.

Mereka berjalan beriringan memasuki kamar Kartika yang berada di tidak jauh dari ruang tamu di rumah Kartika. Setelah sebelumnya mengunci pintu depan terlebih dahulu, karena Nisa juga ikut ke kamar.

Rumah Kartika tidak lah bergitu Mega, namun di bandingkan dengan Nisa rumah kartika lebih besar dan perabotannya jauh lebih lengkap.

Karena kedua orangtua Kartika berkerja sebagai guru di sekolah dasar tempat Nisa dulu sekolah. Tidak seperti kedua orangtua Nisa yang hanya berkerja sebagai petani. Namun itu semua tidak membuat Kartika sombong ataupun terlihat angku, mereka tetap berteman dengan baik.

"Nis, Aku Kira kamu nggak jadi." Ujar Kartika di sela menyisir rambut nya yang panjang.

"Jadilah, masak melewatkan kesempatan emas." Tutur Nisa yang kini duduk di tepi ranjang Kartika sambil memperhatikan gerak tangan Tika yang sedang menyisir.

" Iya lah, Kamu semenjak udah jadi gede sekarang sudah jarang keluar rumah kayak nya." Cicit Kartika yang sedang menguncit rambutnya menjadi satu.

"Nggak juga, tadinya Aku memang pengen nya keluar. Tapi ketika sampek rumah Aku ngantuk, jadinya ya tidur." Jelas Nisa alasan mengapa dirinya akhir-akhir ini jarang keluar rumah.

"Alasan saja kamu Nis, udah Ayo kita ke rumah nya Santi." Ajak Kartika yang kini sudah selesai berdandan, hanya memakai bedak dan sedikit liblos di bibir mungil nya.

"Ya ampun kamu Tika, pakai liblos segala." Cerca Nisa yang kini berjalan berdampingan bersama Tika hendak keluar menuju rumah Santi.

"Nggak apa-apa lah Nis, biar tambah cantik." Jawab Tika enteng.

"Sekali-sekali kamu juga harus pakai benda keramat itu, biar makin cantik." Hasut Tika.

Nisa mengerutkan kedua alisnya." Masak si, nggak keliatan kayak mak-mak gitu."

" Ya enggak lah Nis, asalkan dalam batas wajar, lihat Aku jadi tambah cantik kan?. Lagian Kamu ini Nis ada-ada saja. Lagi pula besok-besok kamu juga pasti jadi mak-mak." Cerca Tika gemas.

Kini mereka sudah sampai di depan rumah Santi.

"Santi,,,." Teriak mereka tampak kompak.

Sudah berapa kali mereka berteriak, namun sang empuh rumah belum juga menunjukkan batang hidung nya.

Kini mereka sudah lelah, karena terus berdiri serta berteriak kencang memanggil nama Santi, sampai-sampai Ibu-ibu yang kebetulan lewat pun melihat ke arah mereka saking hebohnya mereka berteriak.

"Gimana ini Nis, apa kita tinggal saja Santi?." Tanya Tika.

Nisa Tampak sedang berfikir." Ya sudah deh, kita berangkat saja. Siapa tau Santi sudah duluan." Jawab Nisa.

Mereka pun berjalan meninggalkan rumah Santi, menuju rumah Jesica sang juragan rujak.

*

*

*

"Wah, enak kayak nya." Kata Nisa dengan tidak sabaran, sampai-sampai ia harus beberapa kali menelan ludah nya.

"Sabar Nis, ini baru di kupas." Cicit Jesica yang sedang duduk di terasnya sambil mengupas kulit kedondong.

Nisa dan Tika baru saja datang dan langsung duduk bergabung mengambil pisau kecil yang tergeletak untuk membantu mengupas kulit kedondong yang berukuran besar-besar.

Saat mereka sibuk mengupas kulit kedondong datang Santi yang baru saja keluar dari dalam rumah Jesica.

Beberapa menit yang lalu Santi meminta izin pada jesica untuk ke kamar mandi rumah Jesica terlebih dahulu karena kebelet buang air kecil.

Melihat ada Nisa dan Tika, Santi segera kembali bergabung dan duduk di sebelah Nisa.

" Kalian kapan dateng?, udah lama." Ujar Santi.

" Nggak juga, baru nyampek malahan. Kamu kok nggak bilang kalau udah pergi duluan!." Ujar Tika jengkel, karena dirinya dan Tika habis teriak-teriak memanggil namanya ketika di depan rumah Santi.

Santi cengar cengir Sabil mencuci kedondong ke dalam air yang sudah di siapkan di dalam baskom."Sorry,,habisnya kalian lama. Makanya Aku duluan." Elak Santi.

Nisa mendengus sebel." Lain kali bilang, biar kita nggak buang-buang tenaga." Jelas Nisa, dan Tika pun manggut-manggut membenarkan, karena habis teriak-teriak membuat suara nya hampir parau.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!