Raina menoleh menatap ke segala arah menatap jalanan yang belum pernah Raina lewati seumur hidupnya.
Raina kembali menatap Saoda yang masih melangkah melewati jalanan kecil yang di hampit oleh pohon-pohon besar. Sesekali Raina terjatuh saat tanpa disengaja kakinya tersandung oleh batang pohon yang menghalangi langkahnya.
Raina memeluk tubuhnya yang begitu kedinginan ditambah suara hewan-hewan seperti anjing, burung hantu dan beberapa hewan lainnya yang bersahutan bergantian membuat Raina takut.
Raina menghentikan langkahnya menatap Saoda yang terlihat melintasi sungai yang airnya mengalir begitu jernih dan tenang. Seketika Raina kembali terheran pasalnya sungai ini adalah sungai yang membatasi desa tempat tinggal Raina dan desa sebelah yang konon katanya desa ini adalah desa yang memiliki banyak ilmu hitam.
Raina tak mengerti mengapa Saoda pergi ke tempat itu dan apa tujuan yang membawanya ke sana dengan kantong hitam dan satu ekor ayam berbulu hitam.
Raina menoleh ke kiri dan kanan sebelum ia menginjakkan kakinya satu persatu melewati beberapa batu lapang untuk melewati sungai yang masih tenang ini. Apa sungai ini memiliki buaya? Bahkan Raina hanya memikirkan semoga ia tak ketinggalan jejak Saoda yang sudah agak jauh.
Bruak
Raina terjatuh ke rerumputan basah setelah ia memutuskan untuk melompat ke pinggir sungai. Ia bangkit dan mengusap dadanya sejenak yang terasa sesak dan basah.
Ia mendongak menatap Saoda yang sudah tak terlihat lagi membuat Raina berlari berusaha untuk mencari sosok Saoda. Entah kemana dia pergi.
Raina berlari kecil ke belakang pohon yang tidak tidak terlalu besar saat ia melihat dari kejauhan sosok Saoda yang kini terlihat berdiri di depan sebuah rumah kayu tua.
Saoda menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah yang terlihat memantau situasi sekitar rumah membuat Raina dengan cepat menyembuyikan tubuhnya di balik pohon berusaha untuk bersembunyi.
Tak berselang lama Raina kembali mengintip menatap Saoda yang terlihat melangkah mendekati rumah dan mengetuknya sambil sesekali kepalanya menoleh ke kiri dan kanan menatap ke sekitarnya seakan takut ada orang yang akan melihat.
"Mau apa Indo ke situ?" bisik Raina pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama pintu rumah tua itu terbuka memperlihatkan sosok pria tua berpakaian serba hitam yang sedang membuka pintu. Mereka terlihat sedang berbicara namun, tak bisa Raina dengar karena jaraknya yang terlalu jauh dari Raina.
Pria tua itu melangkah masuk ke dalam rumah membuat Saoda menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya hingga ia memutuskan untuk masuk ke dalam dan berakhir pada pintu yang kini tertutup dengan rapat.
Raina mengernyit heran. Entah ada hubungan apa Saoda pada pria tua itu dan untuk apa ayam serta mengangapa Saoda datang di jam tengah malam begini. Yah, itu semua yang kini sedang memenuhi pikiran Raina.
Raina duduk sejenak sembari pikirannya yang berusaha untuk menerka-nerka apa yang terjadi di dalam sana.
Raina menggeleng pelan, ini tak boleh dibiarkan. Raina harus tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana dan apa tujuan Saoda datang ke rumah ini lalu menemui pria tua itu.
Raina menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk memastikan tak ada orang di tempat ini yang melihatnya. Setelah merasa aman Raina kemudian melangkahkan kakinya dengan pelan mendekati rumah tua itu dan menyandarkan tubuhnya tepat di samping jendela yang tertutup rapat.
Raina mengintip di celah kecil yang ada di jendela yang telah rapuh di makan oleh panas dan hujan. Dari sini Raina bisa melihat sosok Saoda yang duduk di depan sesaji dan sebuah wadah berisi bara api yang menyala-nyala.
Apa dia seorang dukun? Yah, ini yang muncul setelah Raina melihat sesaji itu ditambah saat ia melihat pria tua berbaju hitam itu menaburkan kemenyan yang menyengat baunya, itu bisa Raina cium bahkan disaat ia berada di luar rumah.
"Berapa orang yang sudah kau jadikan mangsa untuk membalaskan dendam kau yang sudah lama ini pada musuh kau?" tanya pria itu membuat Raina mengernyit heran. Musuh apa yang pria tua itu katakan.
Raina berpikir sejenak, bahkan ia tak tahu jika Saoda punya musuh. Keluar rumah saja ia jarang lalu bagaimana bisa ia punya musuh.
"Ampun Puang. Aku sudah membunuh sepuluh orang."
Raina menutup mulutnya dengan kedua matanya yang membulat kaget. Sepuluh orang? Sebanyak itu?
"Sebutkan salah satunya!"
"Istri dan anak dari Puang Edi, Indo dari kepala desa, Bayang dan Puang Bakri," sebutnya.
Raina begitu tak menyangka setelah mendengarnya, jadi benar kematian orang-orang yang Raina kenal itu semuanya adalah ulah dari Saoda, Neneknya sendiri yang telah membesarkannya selama ini.
Yang lebih membuat Raina kaget sekaligus sedih adalah kematian Nenek Bayang yang merupakan Nenek dari Erni yang merupakan sahabatnya sendiri yang mengakibatkan Erni kini tinggal sendiri dan hidup sendiri. Raina tak meyangka jika kesedihan Erni semua berasal dari Saoda.
Sebenarnya apa alasan Saoda melakukan hal ini semua? Apa salah mereka?
"Aku mengucapkan banyak terima kasih karena telah memberikan saya ilmu hitam untuk menjadi Parakang, Puang Sampe."
Pria bernama Puang Sampe itu tersenyum sinis lalu mengangguk pelan.
"Kau sudah tahu kan apa akibatnya jika kau sudah menjelma dan mengikuti ilmu Parakang ini?"
"Iya, Puang," jawabnya sambil mengangguk dan kemudian ia tertunduk seakan tak berani untuk menatap kedua mata Puang Sampe.
"Sekali kau menjadi Parakang maka tetap menjadi Parakang. Kau bisa saja lepas dan berhenti menjadi Parakang, tapi itu tidak mudah."
"Kau ingat! Jika kau mati dan musuh-musuh kau yang telah kau tuliskan namanya di atas kertas belum mati semua maka salah satu keturunan kau harus melakukannya dan melanjutkan tugas kau yang telah tertunda."
Saoda mengangguk.
"Apa kau sudah punya pengganti dan menyiapkan orang yang berasal dari keturunan kau untuk menggantikan kau nantinya?"
Saoda mengangguk walau ia terlihat ragu membuat Raina mengernyit bingung.
"Siapa calon pengganti kau itu?"
"Dia adalah cucu aku, Puang. Namanya Raina," jawab Saoda.
Bagai disambar petir setelah Raina mendegarnya. Apa yang Saoda katakan? Apa ini nyata atau Raina yang salah dengar? Bagaimana mungkin dengan teganya Saoda menjadikannya calon Parakang, jika nantinya Saoda tiada sementara musuh-musuh Saoda belum tiada.
"Apa cucu kau tahu semuanya?"
"Tidak, Puang. Cucu aku belum tahu ini semua bahkan dia juga tidak tahu kalau aku adalah sosok jadi-jadian bernama Parakang itu."
"Tapi aku yakin, Puang kalau aku bisa membalaskan dendam aku kepada semua musuhku sampai aku mati nantinya."
"Sisa berapa musuh kau itu?"
"Sisa satu, Puang."
"Siapa orangnya?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments