Cahaya matahari nampak malu-malu untuk menerbitkan sinarnya di pagi hari yang cerah ini. Suara kicauan burung-burung terdengar seiring terbangnya dari ranting ke ranting.
Sinar matahari yang menebus celah papan yang mengeropos itu mengenai kelopak mata Raina yang masih tertidur di atas kasurnya. Dahi Raina mengkerut saat ia merasakan silau membuat tidurnya terganggu.
"Hah!!!" teriak Raina yang tiba-tiba bangkit dan duduk dari kasurnya.
Kedua matanya membulat dengan nafas yang terengah-engah serta detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. Kejadian semalam masih membekas di benak Raina.
Raina memegang kepalanya dan mengusapnya dengan perlahan. Raina menoleh menatap ke sekeliling kamarnya yang begitu sangat sunyi
"Aaaaaw!!!" ringis Raina saat ia menggerakkan kakinya yang berniat untuk melangakahkan kakinya turun dari ranjang.
Rasanya ada yang berdenyut di telapak kakinya dan terasa sakit seakan di tusuk-tusuk berulangkali. Raina yang masih meringis itu menarik kakinya lalu menoleh menatap telapak kakinya yang penuh dengan duri bahkan telapak kakinya terdapat bercak darah yang telah mengering.
Yah, Raina kini sadar jika saat ia berlari mungkin ia menginjak duri dan tidak menyadarinya karena rasa takutnya lebih tinggi dari rasa sakit. Raina merabah permukaan betisnya yang terlihat terluka karena goresan rating pohon saat ia berlari meninggalkan hutan.
Raina mengangkat kedua tangannya dan mendapati telapak tangannya yang terlihat terluka dan membiru bahkan ada bercak darah di sana. Raina tak menyangka jika saat ia berlari ternyata ia mendapati banyak luka di tubuhnya.
Raina menghela nafas berat hingga kedua matanya menoleh menatap ke arah pintu kamar setelah mendengar suara kesibukan dapur, sepertinya Saoda sedang memasak di sana.
Raina melipat bibirnya berusaha untuk tidak meringis saat ia mencoba untuk menurunkan kedua kakinya dari ranjang.
"Aaaaaw!!!"
Raina meringis, ia menggenggam sprei kasurnya dengan erat saat ia mencoba untuk berdiri. Saat kedua kakinya rapat ke papan seketika juga Raina bisa merasakan sakit pada telapak kakinya yang berdenyut tanpa henti.
Raina mengigit bibir dengan nafasnya yang tertahan menahan rasa sakit. Kedua kaki Raina bergetar disaat Raina berusaha untuk berdiri dengan tegak hingga....
Bruak
Tubuh Raina terhempas ke papan saat ia tak lagi mampu untuk berdiri. Raina meringis kesakitan sambil menyentuh kakinya yang terlihat jelas duri-duri yang bersarang itu.
"Rainaaa!!!" teriak Saoda membuat Raina mendongak menatap Saoda yang kini sudah berdiri di depannya.
Saoda berlari mendekati Raina dan membantunya berdiri dan duduk di pinggir kasur membuat tubuh Raina bergetar karena takut. Ia menatap wajah Saoda yang terlihat khawatir melihatnya.
"Kau kenapa?" tanya Saoda.
Raina masih terdiam. Ia menatap wajah Saoda dengan serius. Sekilas kisah semalam dimana Saoda yang melayang ke udara dan berubah menjadi sosok Parakang terbayang di pikiran Raina.
Apakah kejadian semalam adalah mimpi atau itu adalah kenyataan?
"Kau kenapa, Raina?" tanya Saoda yang agak meninggikan nada suaranya membuat Raina tersentak kaget.
"I-i-iya?" tanya Raina yang terbata-bata
"Kau kenapa sampai bisa terjatuh seperti ini?"
"Ka-ka-kaki aku sakit," jawabnya.
"Ada apa dengan kakimu?"
Raina tak menjawab membuat Saoda menenggam pergelangan kaki Saoda dan menatapnya beberapa saat lalu ia mendongak menatap wajah Raina yang terlihat masih ketakutan.
"Ada apa dengan kakimu? Mengapa kakimu penuh dengan duri?"
Raina tak menjawab, ia hanya terdiam seperti orang bisu. Memangnya apa yang harus ia katakan, tidak mungkin Raina menjawab jujur dan mengatakan jika duri ini ia dapatkan saat ia mengejar Saoda yang sudah berbentuk seperti Parakang.
"Raina!" panggil Saoda membuat Raina tersentak kaget.
"Iya?"
"Kenapa kau diam? Apa yang kau pikirkan?"
Raina menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Oh, lihat! Telapak tanganmu juga terluka dan berdarah?"
Raina menunduk, ia tersenyum tipis saat Saoda menunjukkan telapak tangannya yang terluka dan berdarah itu.
...************...
Raina hanya bisa terdiam menatap Saoda yang kini memeras kain kecil yang telah ia rendam ke baskom kecil berisi air hangat yang telah ia siapkan.
Saoda mengusapnya pada telapak kaki Raina membuat Raina meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa! Ini memang sakit. Memangnya apa yang kau perbuat hingga bisa mendapat duri sebanyak ini?"
"Maaf, Indo. Kemarin....em kemarin Raina pergi ke hutan u-u-untuk mencari kayu bakar lalu setelah itu ada dua ekor anjing yang mengejar lalu aku lari dan tidak melihat ada duri dan aku menginjaknya," jelas Raina dengan nada pelan.
Jawaban yang mungkin saja bisa diterima oleh Saoda yang kini terlihat mengangguk tanda mengerti.
Saoda kemudian merendam kain kecil itu baskom dan meraih jarum yang selalu ia gunakan untuk menjahit.
"Mau apa, Indo?" tanya Raina yang sedikit takut.
"Duri pada kakimu harus dikeluarkan kalau tidak maka kakimu itu tidak akan sembuh sampai kapanpun."
Raina kini mengangguk membiarkan Saoda mengeluarkan duri itu dari telapak kakinya dengan pasrah walau sesekali ia meringis menahan rasa sakit pada telapak kakinya.
Raina kini terdiam menatap Saoda yang begitu sangat perhatian kepadanya. Raina tak tahu, apakah ia harus marah, sayang atau benci kepada Saoda yang selama ini telah menjadi musuh warga desa.
Harus apa sekarang? Kini secara tidak langsung ia sudah menjadi pihak Saoda yang merupakan sosok mahluk jadi-jadian yang orang namakan Parakang.
Jika orang lain tahu maka bisa saja semua warga desa akan datang dan menyerang ia dan juga Saoda lalu harus apa sekarang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments