Malam hening kini menyelimuti sosok Raina yang kini sedang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terasa dingin. Di luar sana terdengar sahutan anjing yang menggonggong bergantian.
Pintu kamar Raina terbuka membuat Raina tersentak kaget mendapati sosok Saoda yang berdiri di pintu masuk sambil memegang pinggiran pintu. Raina hanya mampu terdiam menatap takut pada Saoda yang kini masih menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kau tidak tidur?"
"Aku baru akan tidur."
Saoda mengangguk lalu kembali menutup pintu membuat Raina mengernyit heran. Ada apa dengan Saoda.
Semenit kemudian cahaya dari celah papan yang membatasi antara kamarnya dan kamar Saoda lenyap, itu berarti Saoda telah mematikan lilinnya di dalam kamar dan akan segera tidur.
Raina bangkit dari ranjangnya dengan penuh hati-hati, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara langkahnya sedikitpun.
Raina duduk di sudut ruangan kamar dan mengintip menatap ke arah celah kamar yang begitu sangat gelap. Raina menggeliat ngeri saat ia bisa merasakan bulu kuduknya merinding. Entah mengapa ia merasa takut saat ini.
Raina menelan salivanya sambil meremas jari-jari tangannya yang terasa dingin seakan ingin membeku. Raina takut, tapi mengapa ia takut sementara tidak terjadi apa-apa pada Saoda.
Raina duduk terpatung. Sepertinya ia harus menunggu sampai jam dua belas malam dan memastikan Saoda tidur dengan lelap. Sejujurnya Raina takut kalau Saoda kembali berubah menjadi sosok Parakang.
Entah siapa lagi mangsa selanjutnya yang akan menjadi korban keganasan Parakang ini. Dan sampai kapan Saoda akan menyerang warga desa.
Bruak
Suara keras terdengar setelah berjam-jam Raina duduk di sebelah kamar membuat Raina tersentak kaget dari tidurnya yang tak disengaja itu. Ia mendekatkan matanya ke celah kecil itu mendapati Saoda yang kini sedang terlihat memasukkan beberapa kain ke dalam kantung.
Dahi Raina mengkerut heran, mau kemana dia memasukkan kain ke dalam kantong di jam yang sudah tengah malam ini.
Raina bisa melihat setiap apa yang dilakukan oleh Saoda di tengah kegelapan malam. Tak berselang lama Saoda melangkah keluar membuat Raina bisa merasakan jika Saoda melangkah mendekati kamarnya.
Dengan gelagapan Raina segera berlari kecil menaiki tempat tidurnya dan berpura-pura tidur di atas sana.
Suara pintu terdengar terbuka membuat tubuh Raina yang berpura-pura tidur itu jadi gemetar ketakutan. Raina takut jika Saoda tahu bahwa Raina sedang berpura-pura hingga tak berselang lama pintu kembali ditutup dengan rapat bersamaan dengan terbukanya kedua mata Raina.
Mau kemana Saoda?
Dengan langkah pelan Raina bangkit dari ranjang dan melangkah keluar dari kamarnya. Raina menahan pintu kamar yang nyaris ia dorong setelah berhasil menatap Saoda yang sedang membuka pintu dan menutup pintu rumah.
Raina terdiam sejenak. Dari dalam kamarnya ia bisa mendengar suara langkah kaki yang menuruni anakan tangga dengan cepat disusul suara ayam yang seakan berteriak dan suara itu bergerak menjauh dari rumah.
Raina dengan langkah pelan mendekati jendela dan mengintip menatap Saoda yang kini sudah melangkah jauh.
"Mau kemana Indo?" bisik Raina.
Raina mengigit bibirnya dengan perasaan gunda. Mau kemana Saoda?
Tak butuh banyak pikir Raina berlari masuk ke dalam kamar dan meraih selendang hitam untuk menutupi kepalanya lalu berlari keluar dari rumah.
Langkah Raina tertahan saat ia ingin melangkahkan kakinya untuk menuruni anakan tangga. Tubuhnya gemetar saat ia bisa melihat pemandangan mengerikan dari hutan dan kebun yang terlihat samar-samar. Raina mendongak menatap bulan yang terlihat bulat sempurna membuatnya berhasil menelan salivanya. Yah, Raina baru ingat jika malam ini adalah malam jum'at kliwon.
Auuuuuuuu
Raina tersentak kaget setelah ia mendengar suara anjing yang bersahutan di dalam hutan ditambah dengan suara burung hantu yang berada di atap rumah.
Raina menarik nafas dan berusaha untuk mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengikuti langkah Saoda yang sudah tak terlihat lagi. Dengan langkah cepat bahkan sesekali ia berlari untuk mencari sosok Saoda yang belum terlihat dari pandangannya.
Telapak kaki Raina terlihat melintasi jalan bebatuan yang terasa basah, entah mengapa tanah ini terasa basah jika sudah tengah malam. Raina memelankan langkahnya dan berlari bersembunyi di balik pohon besar setelah ia berhasil melihat sosok Saoda yang masih melangkah di sana.
Raina mengintip menatap Saoda yang kini menatap ke arah pohon yang ia jadikan sebagai tempat persembunyiannya. Tubuh Raina bergetar ketakutan dan dengan cepat menyadarkan tubuhnya ke batang pohon.
Raina bisa mendengar suara langkah yang mendekat ke arah pohon membuat Raina memejamkan kedua matanya dengan erat.
Kedua mata Raina terbelalak ketika ia bisa merasakan sesuatu yang menyentuh kakinya dan bergerak membuat Raina mengigit bibirnya ketakutan. Raina menunduk dan membuka matanya dengan pelan membuat tangannya dengan cepat membungkam mulutnya dengan keras setelah melihat seekor ular sebesar betis yang kini menyentuh kaki Raina.
Raina mengerakkan kepalanya ke arah kanan membuatnya terkejut menatap sosok Saoda yang kini ada di sampingnya. Seketika nafas Raina tertahan karena takut jika Saoda melihatnya di sini.
Raina memejamkan kedua matanya dengan erat. Tubuhnya gemetar menahan takut pada Saoda dan ular yang masih bergerak dan melilit betisnya dengan erat. Seluruh tubuhnya menjadi dingin nyaris membeku.
Suara langkah terdengar menjauhinya membuat Raina membuka kedua matanya menatap Saoda yang sudah tak berada di sampingya.
Raina masih menahan nafasnya, Saoda belum terlalu jauh dari pohon besar sementara ular itu sudah melilit betis dan kepalanya bergerak naik ke pinggangnya.
Raina masih menahan nafas menunggu beberapa waktu agar memastikan Saoda benar-benar sudah jauh darinya. Raina membuka mata menatap Saoda yang sudah cukup jauh darinya.
"Hah!!!"
Raina menarik nafas dengan cepat membuatnya bisa merasakan paru-parunya kembali terisi oleh udara. Raina mengenggam erat kepala ular itu dan menariknya dengan cepat.
Raina mengigit bibirnya dan melepaskan lilitan ular yang benar-benar kuat. Tangisannya pecah ketika lilitan ular itu tak mau melepasnya namun, Raina tak menyerah. Raina dengan kuat menarik tubuh ular yang terasa basah dan melemparnya jauh-jauh darinya.
Bruak
Tubuh Raina terhempas ke tanah setelah dirinya melompat keluar dari balik pohon dan berusaha untuk jauh dari seekor ular yang berhasil membuatnya ketakutan.
Raina meringis, ia duduk dan menyentuh dadanya yang begitu sangat sakit setelah terhempas ke tanah. Nafas Raina sesak, ia hampir mati setelah beberapa menit menahan nafas.
Raina menyentuh kepalanya yang terasa pusing berkunang-kunang membuatnya kembali terkejut setelah dua ekor kalilawar melintas tepat di atas kepalanya.
Raina mendongak dan dengan cepat memeluk kepalanya lalu ia bangkit dari belari untuk mengikuti kepergian Saoda.
Tatapan Raina terus memantau kepergian Saoda yang terus melangkah tanpa henti sambil memeluk katong hitam dan sekor ayam hitam yang berada di tangannya.
Mau kemana Saoda pergi? Dan...
Raina menoleh menatap ke segala arah menatap jalanan yang belum pernah Raina lewati seumur hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Andin Yafa
Kapok kowe inaa
2022-12-25
0