Pandangan kedua mata Raina menatap kosong saat berjalan menuju rumah, pikirannya masih memikirkan tentang apa yang Puang Tuo katakan kepadanya. Tapi apa mungkin Saoda adalah Parakang. Selama di pasar ia mendengar orang-orang membicarakan tentang Parakang dan kematian Ibu dari Bapak kepala desa.
Raina meletakkan keranjang belanjaan ke atas tangga dan membuka kendi berisi air. Ia meraih gayung dan menyirami kakinya yang tidak terlalu kotor seperti kemarin. Yah hari ini tak hujan jadi jalanan tidak terlalu berlumpur walaupun sisa hujan kemarin masih ada.
Raina terdiam sejenak membuat jantungnya berdetak sangat cepat entah karena apa tapi yang jelasnya perasaan menjadi aneh di detik ini juga.
Suara gerakan pohon bambu yang tertiup angin terdengar bergesekan membuat Raina terdiam dengan wajah pucat dan takut. Jantung Raina berdetak sangat cepat saat ia bisa merasakan sesuatu terasa mendekatinya dari belakang.
"Hah!"
Kedua mata Raina terbelalak saat seseorang menyentuh bahunya. Tangan itu terasa dingin seperti es membuat nafas Raina sesak. Raina melirik pelan membuatnya bisa merasakan sosok hitam di belakangnya.
"Aaaa!!!" jerit Raina.
Raina melompat berusaha untuk berlari namun tubuhnya malah terhempas ke tangga. Ia terjatuh dan membuat keranjang belanjaannya berhamburan ke bawah tangga kayu.
"Aaaaaa!!!" jerit Raina yang berusaha untuk menjauhi tangan berhawa dingin itu.
"Rainaaaaa!!!" teriak Saoda yang kini mengguncang kedua bahu Raina yang kini masih menjerit ketakutan.
"Jangan sentuh!!!"
"Raina! Sadar!!! Ini Indo!!!" teriaknya membuat Raina terdiam.
Ia membuka kedua matanya dan menatap pucat pada Saoda yang kini menatapnya bingung.
Raina menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok bayangan hitam itu yang telah berhasil membuatnya hampir serangan jantung.
"Kenapa?"
Raina menghela nafas lalu menggeleng. Ketakutannya membawanya pada pikiran buruknya.
"Kenapa, Nak?" tanya Saoda.
Raina menarik nafas lalu menggeleng. Ia meraih beberapa belanjaan yang tergeletak di atas tanah dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Raina tersenyum, namun ia tak menatap kedua mata Saoda dan ia melangkahkan kakinya ke atas anakan tangga meninggalkan Saoda yang kini terdiam menatap kepergian Raina.
...****************...
Raina duduk memeluk lututnya menatap Saoda yang kini sedang sibuk memasak di dapur. Apa dia benar seorang Parakang atau itu hal yang salah mengenai pendapatnya. Bagaimana bisa Saoda adalah seorang Parakang.
Raina menggeleng pelan berusaha untuk menyingkirkan pikiran buruknya. Tak mungkin Neneknya adalah seorang Parakang yang telah meresahkan warga selama ini.
Saoda adalah orang baik.
"Indo!"
Saoda menoleh, ia menatap Raina sejenak lalu kembali sibuk mengaduk sayurnya yang sudah mendidih.
"Indo!"
"Kenapa?"
"Malam ini aku tidur bersama Indo saja, yah, Indo?"
"Kenapa dengan kamarmu?"
Raina tertunduk sejenak dengan wajah sedihnya. Ia mengusap lengannya yang terasa merinding entah karena apa.
"Aku takut, Indo."
"Takut dengan siapa?"
"Parakang," jawabnya membuat gerakan tangan Saoda yang sedang mengaduk sayur itu terhenti.
"Parakang?" tanya Saoda yang kini menoleh menatap Raina yang perlahan mengangguk.
Saoda tertawa seakan mendengar ujaran Raina seakan sebuah gurauan.
"Kau percaya Parakang?"
"Tidak tahu, Indo."
"Jangan percaya pada sesuatu hal yang belum ada buktinya."
"Tapi tadi Indo dari pak kepala desa meninggal. Kata Puang Ambo dia meninggal karena dimakan Parakang."
Saoda kini terdiam membuat Raina bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Saoda menoleh menatap kepergian Raina membuat Saoda kembali fokus pada sayurnya. Tak berselang lama suara langkah terdengar membuat Saoda kembali menoleh menatap Raina yang kini melangkah keluar dari kamar sambil membawa sarung yang sering ia gunakan untuk tidur.
"Kita tidur sama-sama, yah, Indo."
Tanpa menunggu jawaban dari Saoda kini Raina melangkah masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya pada kasur yang telah di alas dengan handuk.
Tatapan Raina menatap pada dinding kamar tua yang telah dimakan usia. Raina memejamkan kedua matanya merasakan sensasi sunyi dan damai di malam ini.
Suara gonggongan anjing terdengar bersahutan diiringi suara nyanyian jangkrik yang selalu menjadi sahabat malam bagi Raina.
Suara langkah kaki terdengar mendekat, Raina bisa mendengarnya dengan jelas. Kedua mata Raina tertutup tapi indra pendengarannya masih berfungsi, ia tak seratus persen sedang tertidur.
Detak jantung Raina berdetak sangat cepat saat sebuah hawa panas terasa mendekatinya, entah apa itu. Raina tak bisa melihatnya karena ia masih menutup kedua matanya.
Suara papan yang berbunyi karena ditekan terdengar membuat tubuh Raina gemetar.
Siapa itu? Sebuah pertanyaan yang berhasil muncul saat ia merasa ketakutan.
Kedua mata Raina terbuka membuatnya terbelalak kaget menatap wajah hitam yang berada tepat di hadapan wajahnya.
"Hah!!!" kaget Raina yang dengan cepat menjauhkan wajahnya dari wajah yang kini menatapnya heran ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Saoda yang kini keherangan.
Raina menghela nafas lega. Wajah itu ternyata adalah wajah Saoda. Raina menggeleng pelan diiringi dengan nafas lega, bukan hantu yang ada di depannya tapi dia adalah Saoda.
"Kau takut?"
Raina mengangguk pelan.
"Kenapa kau takut?"
"Aku kira tadi hantu."
Saoda tersenyum sejenak lalu berujar, "Tidak ada hantu."
Raina tidak menjawab, ia menatap Saoda yang kini membaringkan tubuhnya di samping Raina yang kini terdiam. Kali ini Raina benar-benar akan mencoba mencaritahu bagaimana Saoda bisa keluar malam dan pulang di waktu subuh dalam keadaaan tanpa menggunakan pakaian serta bau darah sekujur tubuhnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Saoda yang kini membalikkan badannya menatap Raina yang langsung terkejut setelah mendengar pertanyaan dari Saoda.
"Tidak ada," jawabnya gugup.
"Tidurlah!"
Raina mengangguk lalu dengan cepat memejamkan kedua matanya dan tak berselang lama suara papan ranjang terdengar membuat Raina membuka kedua matanya menatap tubuh Saoda yang kini sedang membelakanginya.
Raina menelan salivanya, kali ini ia tak boleh tidur. Ia harus bisa mencaritahu jawaban atas apa yang selalu membebani pikirannya selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments