6. Rencana

Pandangan kedua mata Raina menatap kosong saat berjalan menuju rumah, pikirannya masih memikirkan tentang apa yang Puang Tuo katakan kepadanya. Tapi apa mungkin Saoda adalah Parakang. Selama di pasar ia mendengar orang-orang membicarakan tentang Parakang dan kematian Ibu dari Bapak kepala desa.

Raina meletakkan keranjang belanjaan ke atas tangga dan membuka kendi berisi air. Ia meraih gayung dan menyirami kakinya yang tidak terlalu kotor seperti kemarin. Yah hari ini tak hujan jadi jalanan tidak terlalu berlumpur walaupun sisa hujan kemarin masih ada.

Raina terdiam sejenak membuat jantungnya berdetak sangat cepat entah karena apa tapi yang jelasnya perasaan menjadi aneh di detik ini juga.

Suara gerakan pohon bambu yang tertiup angin terdengar bergesekan membuat Raina terdiam dengan wajah pucat dan takut. Jantung Raina berdetak sangat cepat saat ia bisa merasakan sesuatu terasa mendekatinya dari belakang.

"Hah!"

Kedua mata Raina terbelalak saat seseorang menyentuh bahunya. Tangan itu terasa dingin seperti es membuat nafas Raina sesak. Raina melirik pelan membuatnya bisa merasakan sosok hitam di belakangnya.

"Aaaa!!!" jerit Raina.

Raina melompat berusaha untuk berlari namun tubuhnya malah terhempas ke tangga. Ia terjatuh dan membuat keranjang belanjaannya berhamburan ke bawah tangga kayu.

"Aaaaaa!!!" jerit Raina yang berusaha untuk menjauhi tangan berhawa dingin itu.

"Rainaaaaa!!!" teriak Saoda yang kini mengguncang kedua bahu Raina yang kini masih menjerit ketakutan.

"Jangan sentuh!!!"

"Raina! Sadar!!! Ini Indo!!!" teriaknya membuat Raina terdiam.

Ia membuka kedua matanya dan menatap pucat pada Saoda yang kini menatapnya bingung.

Raina menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok bayangan hitam itu yang telah berhasil membuatnya hampir serangan jantung.

"Kenapa?"

Raina menghela nafas lalu menggeleng. Ketakutannya membawanya pada pikiran buruknya.

"Kenapa, Nak?" tanya Saoda.

Raina menarik nafas lalu menggeleng. Ia meraih beberapa belanjaan yang tergeletak di atas tanah dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Raina tersenyum, namun ia tak menatap kedua mata Saoda dan ia melangkahkan kakinya ke atas anakan tangga meninggalkan Saoda yang kini terdiam menatap kepergian Raina.

...****************...

Raina duduk memeluk lututnya menatap Saoda yang kini sedang sibuk memasak di dapur. Apa dia benar seorang Parakang atau itu hal yang salah mengenai pendapatnya. Bagaimana bisa Saoda adalah seorang Parakang.

Raina menggeleng pelan berusaha untuk menyingkirkan pikiran buruknya. Tak mungkin Neneknya adalah seorang Parakang yang telah meresahkan warga selama ini.

Saoda adalah orang baik.

"Indo!"

Saoda menoleh, ia menatap Raina sejenak lalu kembali sibuk mengaduk sayurnya yang sudah mendidih.

"Indo!"

"Kenapa?"

"Malam ini aku tidur bersama Indo saja, yah, Indo?"

"Kenapa dengan kamarmu?"

Raina tertunduk sejenak dengan wajah sedihnya. Ia mengusap lengannya yang terasa merinding entah karena apa.

"Aku takut, Indo."

"Takut dengan siapa?"

"Parakang," jawabnya membuat gerakan tangan Saoda yang sedang mengaduk sayur itu terhenti.

"Parakang?" tanya Saoda yang kini menoleh menatap Raina yang perlahan mengangguk.

Saoda tertawa seakan mendengar ujaran Raina seakan sebuah gurauan.

"Kau percaya Parakang?"

"Tidak tahu, Indo."

"Jangan percaya pada sesuatu hal yang belum ada buktinya."

"Tapi tadi Indo dari pak kepala desa meninggal. Kata Puang Ambo dia meninggal karena dimakan Parakang."

Saoda kini terdiam membuat Raina bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Saoda menoleh menatap kepergian Raina membuat Saoda kembali fokus pada sayurnya. Tak berselang lama suara langkah terdengar membuat Saoda kembali menoleh menatap Raina yang kini melangkah keluar dari kamar sambil membawa sarung yang sering ia gunakan untuk tidur.

"Kita tidur sama-sama, yah, Indo."

Tanpa menunggu jawaban dari Saoda kini Raina melangkah masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya pada kasur yang telah di alas dengan handuk.

Tatapan Raina menatap pada dinding kamar tua yang telah dimakan usia. Raina memejamkan kedua matanya merasakan sensasi sunyi dan damai di malam ini.

Suara gonggongan anjing terdengar bersahutan diiringi suara nyanyian jangkrik yang selalu menjadi sahabat malam bagi Raina.

Suara langkah kaki terdengar mendekat, Raina bisa mendengarnya dengan jelas. Kedua mata Raina tertutup tapi indra pendengarannya masih berfungsi, ia tak seratus persen sedang tertidur.

Detak jantung Raina berdetak sangat cepat saat sebuah hawa panas terasa mendekatinya, entah apa itu. Raina tak bisa melihatnya karena ia masih menutup kedua matanya.

Suara papan yang berbunyi karena ditekan terdengar membuat tubuh Raina gemetar.

Siapa itu? Sebuah pertanyaan yang berhasil muncul saat ia merasa ketakutan.

Kedua mata Raina terbuka membuatnya terbelalak kaget menatap wajah hitam yang berada tepat di hadapan wajahnya.

"Hah!!!" kaget Raina yang dengan cepat menjauhkan wajahnya dari wajah yang kini menatapnya heran ke arahnya.

"Ada apa?" tanya Saoda yang kini keherangan.

Raina menghela nafas lega. Wajah itu ternyata adalah wajah Saoda. Raina menggeleng pelan diiringi dengan nafas lega, bukan hantu yang ada di depannya tapi dia adalah Saoda.

"Kau takut?"

Raina mengangguk pelan.

"Kenapa kau takut?"

"Aku kira tadi hantu."

Saoda tersenyum sejenak lalu berujar, "Tidak ada hantu."

Raina tidak menjawab, ia menatap Saoda yang kini membaringkan tubuhnya di samping Raina yang kini terdiam. Kali ini Raina benar-benar akan mencoba mencaritahu bagaimana Saoda bisa keluar malam dan pulang di waktu subuh dalam keadaaan tanpa menggunakan pakaian serta bau darah sekujur tubuhnya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Saoda yang kini membalikkan badannya menatap Raina yang langsung terkejut setelah mendengar pertanyaan dari Saoda.

"Tidak ada," jawabnya gugup.

"Tidurlah!"

Raina mengangguk lalu dengan cepat memejamkan kedua matanya dan tak berselang lama suara papan ranjang terdengar membuat Raina membuka kedua matanya menatap tubuh Saoda yang kini sedang membelakanginya.

Raina menelan salivanya, kali ini ia tak boleh tidur. Ia harus bisa mencaritahu jawaban atas apa yang selalu membebani pikirannya selama ini.

Episodes
1 1. Datangnya Parakang
2 2. Datangnya Parakang part 2
3 3. Raina
4 4. Terulang Kembali
5 5. Mencaritahu
6 6. Rencana
7 7. Lalai
8 8. Bukan Parakang?
9 9. Curiga
10 10. Kembali Mencaritahu
11 11. Kemana Perginya Dia?
12 12. Dia Parakang
13 13. Kembali
14 14. Buka Pintu!
15 15. Luka
16 16. Kematian Puang Bakri
17 17. Pertanyaan
18 18. Ayam Hitam
19 19. Mengikuti
20 20. Desa Sebelah
21 21. Erni
22 22. Pulang
23 23. Keputusan
24 24. Bantu
25 25. Dia Datang
26 26. Tolong!!!
27 27. Erni Atau Saoda
28 28. Membujuk
29 29. Kedatangan Puang Edi
30 30. Keluar!
31 31. Perdebatan
32 32. Pertanyaan.
33 33. Masuk!!!
34 34. Menemukan
35 35. Lari!!!
36 36. Mencoba Menyelamatkan
37 37. Rintangan
38 38. Tengah Hutan
39 39. Teriakan
40 40. Sadar
41 41. Tali
42 42. Sapu Lidi
43 43. Pukulan
44 44. Bakar Raina?
45 45. Pergi!!!
46 46. Kisah Lalu
47 47. Anak Laki-laki Yang Menyebalkan
48 48. Makan Malam
49 49. Rembulan Malam
50 50. Parakang Kisah Nyata
51 51. Pulang
52 52. Apakah Parakang Itu Ada?
53 53. Kelahiran
54 54. Keong Tumis
55 55. Makan bersama.
56 56. Kematian Bayi Ria
57 57. Fitnah
58 58. Lemparan
59 59. Perkelahian
60 60. Lemparan Batu
61 61. Bakar
62 62. Pedih
63 63. Balas Dendam
64 64. Bunga Kamboja
65 65. Pulang Ke Rumah
66 66. Kehidupan Baru
67 67. Sarung
68 68. Tidur Di Dalam kesunyian
69 69. Mencuci Pakaian
70 70. Saoda Yang Melakukannya?
71 71. Saoda Yang Melakukannya
72 72. Saoda Yang Berubah
73 73. Nama Kerbau
74 74. Pulang
75 75. Kembali Bermimpi
76 76. Melihat Pelaku
77 77. Pinsan
78 78. Sebuah Rasa
79 79. Gadis yang Tuo suka
80 80. Pernikahan
81 81. Hari Yang Baik
82 82. Nyaris Ketahuan
83 83. Susana Yang Begitu Indah
84 84. Kasih Sayang
85 86. Bahri
86 87. Kotor
87 88. Kemana Saoda?
88 89. Kembali
89 90. Bingung
90 91. Tergiang Kejadian
91 92. Mimpi Yang Menyatu
92 93. Menenangkan Diri
93 94. Pernikahan Bahri
94 95. Tawaran
95 96. Tuo Ternyata....
96 97. Kabar Mengenai Parakang
97 98. Bagaimana Jika Aku adalah Parakang?
98 99. Penjelasan Tuo
99 100. Mual
100 101. Mangga Muda
101 102. Malam Jumat
102 103. Jalan Menuju Rumah Puang Banga.
103 104. Kejaran Anjing
104 105. Hutan Belantara
105 106. Jalan Dan Puang Banga
106 107. Membatalkan
107 108. Pulang
108 109. Alasan Saoda
109 Pengumuman
Episodes

Updated 109 Episodes

1
1. Datangnya Parakang
2
2. Datangnya Parakang part 2
3
3. Raina
4
4. Terulang Kembali
5
5. Mencaritahu
6
6. Rencana
7
7. Lalai
8
8. Bukan Parakang?
9
9. Curiga
10
10. Kembali Mencaritahu
11
11. Kemana Perginya Dia?
12
12. Dia Parakang
13
13. Kembali
14
14. Buka Pintu!
15
15. Luka
16
16. Kematian Puang Bakri
17
17. Pertanyaan
18
18. Ayam Hitam
19
19. Mengikuti
20
20. Desa Sebelah
21
21. Erni
22
22. Pulang
23
23. Keputusan
24
24. Bantu
25
25. Dia Datang
26
26. Tolong!!!
27
27. Erni Atau Saoda
28
28. Membujuk
29
29. Kedatangan Puang Edi
30
30. Keluar!
31
31. Perdebatan
32
32. Pertanyaan.
33
33. Masuk!!!
34
34. Menemukan
35
35. Lari!!!
36
36. Mencoba Menyelamatkan
37
37. Rintangan
38
38. Tengah Hutan
39
39. Teriakan
40
40. Sadar
41
41. Tali
42
42. Sapu Lidi
43
43. Pukulan
44
44. Bakar Raina?
45
45. Pergi!!!
46
46. Kisah Lalu
47
47. Anak Laki-laki Yang Menyebalkan
48
48. Makan Malam
49
49. Rembulan Malam
50
50. Parakang Kisah Nyata
51
51. Pulang
52
52. Apakah Parakang Itu Ada?
53
53. Kelahiran
54
54. Keong Tumis
55
55. Makan bersama.
56
56. Kematian Bayi Ria
57
57. Fitnah
58
58. Lemparan
59
59. Perkelahian
60
60. Lemparan Batu
61
61. Bakar
62
62. Pedih
63
63. Balas Dendam
64
64. Bunga Kamboja
65
65. Pulang Ke Rumah
66
66. Kehidupan Baru
67
67. Sarung
68
68. Tidur Di Dalam kesunyian
69
69. Mencuci Pakaian
70
70. Saoda Yang Melakukannya?
71
71. Saoda Yang Melakukannya
72
72. Saoda Yang Berubah
73
73. Nama Kerbau
74
74. Pulang
75
75. Kembali Bermimpi
76
76. Melihat Pelaku
77
77. Pinsan
78
78. Sebuah Rasa
79
79. Gadis yang Tuo suka
80
80. Pernikahan
81
81. Hari Yang Baik
82
82. Nyaris Ketahuan
83
83. Susana Yang Begitu Indah
84
84. Kasih Sayang
85
86. Bahri
86
87. Kotor
87
88. Kemana Saoda?
88
89. Kembali
89
90. Bingung
90
91. Tergiang Kejadian
91
92. Mimpi Yang Menyatu
92
93. Menenangkan Diri
93
94. Pernikahan Bahri
94
95. Tawaran
95
96. Tuo Ternyata....
96
97. Kabar Mengenai Parakang
97
98. Bagaimana Jika Aku adalah Parakang?
98
99. Penjelasan Tuo
99
100. Mual
100
101. Mangga Muda
101
102. Malam Jumat
102
103. Jalan Menuju Rumah Puang Banga.
103
104. Kejaran Anjing
104
105. Hutan Belantara
105
106. Jalan Dan Puang Banga
106
107. Membatalkan
107
108. Pulang
108
109. Alasan Saoda
109
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!