Aliran sungai yang jernih begitu segar saat setiap alirannya mengenai kulit tangan Raina yang sedang sibuk mencuci pakaian di tempat seperti biasanya namun, kali ini berbeda. Ada Erni yang kini juga sedang sibuk mencuci pakaian di hadapannya tepat pada batu lapang yang ada di depan Raina.
Erni adalah satu-satunya sahabat Raina yang bertahan sampai sekarang karena kebanyakan sahabat lainnya merantau ke kota dan bekerja di sana. Raina sempat berpikir untuk ikut merantau tapi ia memikirkan tentang kehidupan Saoda jika tanpa dirinya. Raina tak mungkin meninggalkan Saoda sendiri diumurnya yang sudah tua renta.
"Raina!"
"Em?" sahut Raina tanpa menoleh menatap seseorang yang telah memanggilnya. Tatapannya masih fokus pada pakaian yang masih berbusa itu.
"Kau tau, hari ini sepertinya hari yang bagus."
"Kenapa begitu?"
"Iya, karena hari ini tidak ada orang meninggal."
Gerakan tangan Raina yang menenggelamkan pakaian itu ke dalam air sungai terhenti. Kedua matanya dengan cepat menatap Erni yang terlihat sedang sibuk dengan beberapa tumpukan cuciannya.
"Tumben sekali, yah malam tadi Parakangnya tidak mencari mangsa padahal satu minggu berturut-turut ini banyak kabar orang yang meninggal karena Parakang."
"Apa mungkin Parakangnya sakit, yah?"
Erni tertawa kecil sementara Raina terlihat diam dengan wajah pasang datar. Kini pikiran Raina tertuju pada Saoda. Apa hubungan Parakang dan Saoda itu ada?
Saoda tak pulang subuh dan tak ada pula kabar kematian salah satu penduduk desa, sedangkan setiap Saoda pulang subuh pasti ada saja kabar kematian salah satu penduduk yang terdengar.
Apa ini ada hubungannya?
"Raina!" teriak Erni bersamaan dengan beberapa percikan air yang mengenai wajah Raina.
Raina mengusap wajahnya dengan cepat lalu menatap Erni yang terlihat kebingungan.
"Kenapa?" tanya Raina.
"Kau yang kenapa? Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau tidak mendengarnya."
"Lalu kenapa kau menyiram aku?"
"Supaya kau sadar," jawab Erni lalu tertawa kecil sementara Raina kini menggeleng sambil tersenyum.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?"
Pertanyaan itu membuat Raina seketika kembali terdiam. Mengenai pertanyaan itu, apakah ia perlu memberitahu Erni tentang sikap aneh Saoda. Entah mengapa Raina tak bisa menyimpannya dan mengatasinya sendiri. Ia butuh teman berbagi pendapat, Raina takut jika harus menghadapinya sendiri.
"Raina!" teriak Erni lagi.
Raina menoleh menatap Erni yang kini mengedikkan dagunya seakan berusaha menanyakan tentang apa yang terjadi kepadanya.
Tidak, Raina menggeleng cepat. Ia tak mungkin memberitahu Erni. Ia tak mau jika Erni salah beranggapan dan malah memberitahu semua ini kepada para warga desa. Yah, tentu saja semua warga desa akan ikut curiga dan malah akan menyerang Saoda dan juga dirinya.
Raina sangat paham bagaimana sosok Parakang yang sudah lama menjadi incaran warga desa.
"Tidak ada," jawab Raina lalu dengan cepat ia bangkit dari batu lapang membuat Erni mendongak.
"Mau kemana kau?"
"A-a-aku sepertinya harus pulang cepat."
Raina melankah pergi sambil membawa baskom berisi cucian bersihnya meninggalkan Erni yang kini bangkit sambil menatap Raina dengan wajah bingungnya.
"Raina!" panggil Erni.
Raina menghentikan langkahnya, ia menoleh beberapa saat menatap Erni yang kini terdiam menatapnya dengan raut wajah serius. Raina menghela nafas panjang dan kembali berpaling dan melangakahkan kakinya pergi.
Selama perjalanan tatapan Raina terlihat kosong. Ia menatap tak tentu arah pada jalanan sementara kakinya masih terus melangkah dengan pelan.
Raina sangat tak percaya jika nantinya Saoda adalah seorang Parakang yang selama ini telah meresahkan warga desa.
"Hei anak gadis!" teriak seseorang membuat Raina menghentikan langkahnya.
Ia menoleh menatap Puang Tuo yang berlari menghampirinya dengan sapu di tangannya. Saat ini Raina baru sadar jika dirinya telah ada di depan masjid
"Kau anak yang kemarin kan?" Tunjuk Puang Tuo ke arah Raina yang kini terkejut.
Raina baru sadar jika pria tua paruh baya yang ada di hadapannya teryata adalah pria yang ia tanyakan tentang sosok Parakang kemarin.
Raina menelan salivanya karena gugup, bibirnya pun jadi gemetar karena takut. Puang Tuo adalah mantan pemburu Parakang, Raina tak mau jika ia sampai ia merasa curiga dan bahkan bisa saja pria ini beranggapan jika Raina adalah seorang Parakang.
"Kenapa kemarin kau yang-"
"Bukan! Bukan aku! Kita tidak pernah bertemu, Puang," potong Raina cepat sambil menggeleng.
Raina melankah mundur berusaha untuk menjauhi Puang Tuo lalu ketika jarak ia dan Puang Tuo sudah agak jauh dengan cepat ia berlari meninggalkan Puang Tuo yang kini terdiam.
"Ingat, Nak! Tak baik menyimpan masalah sendirian. Hari ini kau menjauhiku tapi suatu hari nanti kau akan datang kepadaku!!!" teriaknya membuat Raina beberapa kali menoleh menatap Puang Tuo yang masih berdiri menatap ke arahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments