3. Raina

Tok

Tok

Tok

Pintu diketuk dengan pelan membuat seorang gadis dengan mata terpejam di atas kasur biru itu terbangun dari tidurnya. Ia duduk di pinggir kasur lalu terdiam sejenak memikirkan siapa yang mengetuk di hari yang masih subuh ini.

"Rainaaaaa!!!" suara teriakan serak itu terdengar bersamaan dengan ketukan pintu rumah.

Raina bangkit dari pinggir kasur dan melangakahkan kakinya mendekati pintu yang telah keropos kayunya.

"Rainaaa!!!"

Suara teriakan yang sedang memanggil namanya itu kembali terdengar membuat Raina segera memutar paku yang telah dijadikan sebagai alat penahan pintu agar tidak terbuka.

Raina terbelalak kaget menatap tubuh tanpa sehelai kain benang itu sedang berdiri dihadapannya. Wanita tua berambut beruban itu terlihat memeluk tubuhnya sendiri dengan tubuh mengigil pucat.

"Indo!!!" teriaknya kaget.

Wanita tua bernama Saoda itu melangkah masuk ke dalam rumah melewati cucunya yang kini terlihat kebingungan. Raina menutup pintu lalu mendekati Saoda yang melangkah masuk ke dalam kamar.

"Indo dari mana?"

Saoda tak bicara. Ia diam seperti orang bisu sementara tangannya sibuk mencari baju di dalam lemari.

"Indo dari mana?"

Saoda menoleh dengan baju yang sudah ada di tangannya. Ia menatap Raina yang terlihat masih menatapnya dengan serius.

"Indo juga tidak tahu, Nak."

Saoda memakai bajunya dan melangkah mendekati kasur dengan ranjang tua yang terbuat dari kayu jati. Ia duduk dan membaringkan tubuhnya ke kasur membelakangi Raina.

"Jangan beritahu orang kalau Indo pulang subuh!"

Sunyi, setelah ia bicara mendadak Raina tak bicara lagi. Raina takut kepada Saoda jika ia banyak bertanya. Sudah sering Saoda melakukan hal ini dan tak ada jawaban yang berbeda hampir setiap harinya jika Raina bertanya.

...****************...

Raina berjalan menulusuri jalanan yang basah, banyak kubangan air dimana-mana setelah semalaman diguyur oleh derasnya hujan. Raina menghentikan langkahnya, ia meletakkan keranjang belanjaan di sampingnya lalu meraih sendal jepit yang tertusuk duri hingga menembus sendal jepitnya. Maklumlah, di desa ini banyak rumput berduri.

Raina kembali memasang sendalnya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pasar yang agak jauh dari tempat tinggalnya yang dihimpit oleh hutan dan kebun milik warga desa.

Langkah Raina menjadi pelan menatap kain putih yang berada di depan rumah Edi, pria yang menikah tiga tahun yang lalu. Siapa yang meninggal?

Raina melangakahkan kakinya dengan perlahan sementara kedua pasang matanya merabah keseluruh warga yang sedang duduk dan saling berbisik bahkan ada yang terlihat menggeliat ketakutan saat sedang bicara. Raina tak mengerti dengan mereka semua.

Raina menoleh menatap beberapa ibu-ibu yang sedang saling berbisik membuat Raina mendekat. Rasa penasarannya tak mampu ia tahan untuk tidak bertanya.

"Bu, siapa yang meninggal?" tanya Raina membuat tiga ibu-ibu itu menoleh menatap Raina.

"Itu istri sama anaknya Edi yang meninggal tadi malam."

"Hah? Kenapa bisa?" kagetnya.

"Iya, katanya dimakan sama Parakang."

...****************...

Saoda menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang pisau untuk memotong bawang merah yang telah nyaris membusuk. Saoda terdiam dengan wajah pucatnya menatap pepohonan di luar jendela dapur.

Saoda menarik nafas panjang dan kembali menunduk menatap bawang yang kembali ia potong dengan perlahan.

...****************...

"Dimakan Parakang?" tanya Raina.

"Iya, tadi malam kejadiannya."

Ibu-ibu itu melangakahkan kakinya pergi meninggalkan Raina yang kini terdiam. Siapa sebenarnya mahluk bernama Parakang itu? Mengapa namanya selalu menjadi alasan atas kematian seseorang di desa ini.

Raina melanjutkan langkahnya melewati beberapa orang juga sedang saling berbisik menyebut nama mahluk bernama Parakang itu. Ini bukan pertama kalinya Raina mendengar nama itu, tapi ini sudah ratusan kalinya.

Siapa Parakang itu dan bagaimana bentuknya? Mengapa ia selalu menakuti dan menggangu para warga tanpa memandang bulu. Hari ini istri dan bayi dari Edi yang direnggut, dua hari yang lalu Nenek dari sahabatnya, Erni yang meninggal setelah bertahun-tahun sakit, namun Erni mengatakan jika kematian Neneknya bukan karena sakitnya tapi karena ulah Parakang.

Sejujurnya Raina tak percaya dengan keberadaan mahluk bernama Parakang itu lagipula, Raina tak pernah melihatnya langsung di depan mata. Mendengar gosip tentang perbuatan Parakang memang telah menjadi keseharian dan kebiasaan Indra pendengarannya, tapi melihatnya belum pernah.

Raina membuka kendi berisi air dan menyirami betis dan kakinya yang terkena percikan lumpur yang mengotori kulitnya. Raina melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga yang terbuat dari kayu berwarna hitam menuju masuk ke dalam rumah kayu.

Sepanjang perjalanan nama Parakang itu terus menjadi momok perbicangan warga desa, mulai dari pasar sampai ke lorong Desa. Rasanya tak bosan mereka membahas hal yang sama, yakni Parakang.

"Indo!" panggil Raina.

Raina tersenyum mendapati Saoda yang sedang mencuci beras. Saoda adalah Nenek dari Raina yang telah membesarkan Raina dari kecil sampai umur Raina telah berusia 17 tahun. Kata Indo adalah nama panggilan Ibu dalam bahasa daerah dan Raina memanggil Soida dengan panggilan Ibu agar Raina tetap bisa merasakan keberadaaan ibunya yang telah meningal.

Kata Saoda, Ibu dari Raina meninggal karena perbuatan Parakang yang telah memakan roh halus ibunya saat melahirkan adik dari Raina. Sedangkan Ayahnya juga telah meninggal saat ia berusaha untuk mengejar Parakang. Amarahnya membawanya menuju pada kematian dan hingga kini menyisahkan Saoda dan Raina saja yang tinggal di rumah sederhana ini.

Raina duduk di bangku kecil sembari menatap Saoda yang sedang meletakkan panci berwarna hitam ke atas kompor yang terbuat dari tanah liat dan kayu sebagai alat pembakar.

"Indo!"

Saoda menoleh lalu tersenyum menatap Raina. Saoda kembali menoleh sambil tangannya yang sibuk mengatur kayu agar mudah untuk terbakar.

"Tadi aku lewat di lorong desa."

Sunyi, Saoda masih sibuk dengan kayu bakarnya.

"Istri dan anak dari Daeng Edi meninggal."

Gerakan tangan Saoda terhenti beberapa detik dengan kedua matanya yang terbelalak kaget. Tak berselang lama ia kembali mendorong kayu bakar itu yang telah dibakar oleh api.

"Kenapa bisa?"

"Katanya dimakan Parakang."

Saoda berbalik badan, ia melangkah mendekati keranjang belanjaan Raina dan mengeluarkan beberapa belanjaan di sana tanpa pernah menatap Raina.

"Indo, apa itu Parakang?" tanya Raina hati-hati.

Saoda melirik menatap Raina yang masih menatapnya dengan serius.

"Jangan pernah bertanya seperti itu! Tidak ada dibilang Parakang di dunia ini."

"Tapi kenapa banyak orang bilang kalau istri dan anaknya Daeng Edi meninggal karena-"

"Parakang?" potong Saoda membuat Raina mengangguk lalu Saoda tertawa.

"Kenapa, Indo?"

"Kematian seseorang hanya Tuhan yang tahu."

"Tapi kenapa nama Parakang bisa ada kalau tidak pernah terjadi?"

Saoda duduk di atas papan sambil memeluk kedua lututnya menanti air berasnya itu mendidih. Ia menatap Raina yang masih ingin mendengar jawaban darinya.

"Dulu ada tapi sekarang tidak ada."

"Kenapa bisa?"

"Indo juga tidak tahu, tidak perlu sering menyebut nama itu. Tidak baik! Karena mungkin saja dia bisa datang."

Raina melotot takut. Apa itu berarti mahluk Parakang itu tahu jika dirinya sedang disebut?

Tak berselang lama Saoda tertawa membuat Raina terkejut. Suara tawa Saoda mengapa tiba-tiba membuatnya menjadi takut seperti ini.

"Kenapa ketawa?"

"Kau percaya?"

Raina mengangguk.

"Jangan terlalu percaya. Parakang itu sudah punah."

Raina terdiam setelah mendengar ujaran Saoda. Ia mendongak menatap kepergian Saoda. Apa ini berarti sosok Parakang itu ada?

Dimana dia?

Dan bagaimana kehidupannya?

Ini akan Raina cari tahu.

Terpopuler

Comments

Sarita

Sarita

parakang alias kuyang .bisa jadi itu

2024-09-10

0

ani nurhaeni

ani nurhaeni

sereem

2022-11-24

0

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

sepertinya ini parakang nya..

2022-10-02

1

lihat semua
Episodes
1 1. Datangnya Parakang
2 2. Datangnya Parakang part 2
3 3. Raina
4 4. Terulang Kembali
5 5. Mencaritahu
6 6. Rencana
7 7. Lalai
8 8. Bukan Parakang?
9 9. Curiga
10 10. Kembali Mencaritahu
11 11. Kemana Perginya Dia?
12 12. Dia Parakang
13 13. Kembali
14 14. Buka Pintu!
15 15. Luka
16 16. Kematian Puang Bakri
17 17. Pertanyaan
18 18. Ayam Hitam
19 19. Mengikuti
20 20. Desa Sebelah
21 21. Erni
22 22. Pulang
23 23. Keputusan
24 24. Bantu
25 25. Dia Datang
26 26. Tolong!!!
27 27. Erni Atau Saoda
28 28. Membujuk
29 29. Kedatangan Puang Edi
30 30. Keluar!
31 31. Perdebatan
32 32. Pertanyaan.
33 33. Masuk!!!
34 34. Menemukan
35 35. Lari!!!
36 36. Mencoba Menyelamatkan
37 37. Rintangan
38 38. Tengah Hutan
39 39. Teriakan
40 40. Sadar
41 41. Tali
42 42. Sapu Lidi
43 43. Pukulan
44 44. Bakar Raina?
45 45. Pergi!!!
46 46. Kisah Lalu
47 47. Anak Laki-laki Yang Menyebalkan
48 48. Makan Malam
49 49. Rembulan Malam
50 50. Parakang Kisah Nyata
51 51. Pulang
52 52. Apakah Parakang Itu Ada?
53 53. Kelahiran
54 54. Keong Tumis
55 55. Makan bersama.
56 56. Kematian Bayi Ria
57 57. Fitnah
58 58. Lemparan
59 59. Perkelahian
60 60. Lemparan Batu
61 61. Bakar
62 62. Pedih
63 63. Balas Dendam
64 64. Bunga Kamboja
65 65. Pulang Ke Rumah
66 66. Kehidupan Baru
67 67. Sarung
68 68. Tidur Di Dalam kesunyian
69 69. Mencuci Pakaian
70 70. Saoda Yang Melakukannya?
71 71. Saoda Yang Melakukannya
72 72. Saoda Yang Berubah
73 73. Nama Kerbau
74 74. Pulang
75 75. Kembali Bermimpi
76 76. Melihat Pelaku
77 77. Pinsan
78 78. Sebuah Rasa
79 79. Gadis yang Tuo suka
80 80. Pernikahan
81 81. Hari Yang Baik
82 82. Nyaris Ketahuan
83 83. Susana Yang Begitu Indah
84 84. Kasih Sayang
85 86. Bahri
86 87. Kotor
87 88. Kemana Saoda?
88 89. Kembali
89 90. Bingung
90 91. Tergiang Kejadian
91 92. Mimpi Yang Menyatu
92 93. Menenangkan Diri
93 94. Pernikahan Bahri
94 95. Tawaran
95 96. Tuo Ternyata....
96 97. Kabar Mengenai Parakang
97 98. Bagaimana Jika Aku adalah Parakang?
98 99. Penjelasan Tuo
99 100. Mual
100 101. Mangga Muda
101 102. Malam Jumat
102 103. Jalan Menuju Rumah Puang Banga.
103 104. Kejaran Anjing
104 105. Hutan Belantara
105 106. Jalan Dan Puang Banga
106 107. Membatalkan
107 108. Pulang
108 109. Alasan Saoda
109 Pengumuman
Episodes

Updated 109 Episodes

1
1. Datangnya Parakang
2
2. Datangnya Parakang part 2
3
3. Raina
4
4. Terulang Kembali
5
5. Mencaritahu
6
6. Rencana
7
7. Lalai
8
8. Bukan Parakang?
9
9. Curiga
10
10. Kembali Mencaritahu
11
11. Kemana Perginya Dia?
12
12. Dia Parakang
13
13. Kembali
14
14. Buka Pintu!
15
15. Luka
16
16. Kematian Puang Bakri
17
17. Pertanyaan
18
18. Ayam Hitam
19
19. Mengikuti
20
20. Desa Sebelah
21
21. Erni
22
22. Pulang
23
23. Keputusan
24
24. Bantu
25
25. Dia Datang
26
26. Tolong!!!
27
27. Erni Atau Saoda
28
28. Membujuk
29
29. Kedatangan Puang Edi
30
30. Keluar!
31
31. Perdebatan
32
32. Pertanyaan.
33
33. Masuk!!!
34
34. Menemukan
35
35. Lari!!!
36
36. Mencoba Menyelamatkan
37
37. Rintangan
38
38. Tengah Hutan
39
39. Teriakan
40
40. Sadar
41
41. Tali
42
42. Sapu Lidi
43
43. Pukulan
44
44. Bakar Raina?
45
45. Pergi!!!
46
46. Kisah Lalu
47
47. Anak Laki-laki Yang Menyebalkan
48
48. Makan Malam
49
49. Rembulan Malam
50
50. Parakang Kisah Nyata
51
51. Pulang
52
52. Apakah Parakang Itu Ada?
53
53. Kelahiran
54
54. Keong Tumis
55
55. Makan bersama.
56
56. Kematian Bayi Ria
57
57. Fitnah
58
58. Lemparan
59
59. Perkelahian
60
60. Lemparan Batu
61
61. Bakar
62
62. Pedih
63
63. Balas Dendam
64
64. Bunga Kamboja
65
65. Pulang Ke Rumah
66
66. Kehidupan Baru
67
67. Sarung
68
68. Tidur Di Dalam kesunyian
69
69. Mencuci Pakaian
70
70. Saoda Yang Melakukannya?
71
71. Saoda Yang Melakukannya
72
72. Saoda Yang Berubah
73
73. Nama Kerbau
74
74. Pulang
75
75. Kembali Bermimpi
76
76. Melihat Pelaku
77
77. Pinsan
78
78. Sebuah Rasa
79
79. Gadis yang Tuo suka
80
80. Pernikahan
81
81. Hari Yang Baik
82
82. Nyaris Ketahuan
83
83. Susana Yang Begitu Indah
84
84. Kasih Sayang
85
86. Bahri
86
87. Kotor
87
88. Kemana Saoda?
88
89. Kembali
89
90. Bingung
90
91. Tergiang Kejadian
91
92. Mimpi Yang Menyatu
92
93. Menenangkan Diri
93
94. Pernikahan Bahri
94
95. Tawaran
95
96. Tuo Ternyata....
96
97. Kabar Mengenai Parakang
97
98. Bagaimana Jika Aku adalah Parakang?
98
99. Penjelasan Tuo
99
100. Mual
100
101. Mangga Muda
101
102. Malam Jumat
102
103. Jalan Menuju Rumah Puang Banga.
103
104. Kejaran Anjing
104
105. Hutan Belantara
105
106. Jalan Dan Puang Banga
106
107. Membatalkan
107
108. Pulang
108
109. Alasan Saoda
109
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!