Tok
Tok
Tok
Pintu diketuk dengan pelan membuat seorang gadis dengan mata terpejam di atas kasur biru itu terbangun dari tidurnya. Ia duduk di pinggir kasur lalu terdiam sejenak memikirkan siapa yang mengetuk di hari yang masih subuh ini.
"Rainaaaaa!!!" suara teriakan serak itu terdengar bersamaan dengan ketukan pintu rumah.
Raina bangkit dari pinggir kasur dan melangakahkan kakinya mendekati pintu yang telah keropos kayunya.
"Rainaaa!!!"
Suara teriakan yang sedang memanggil namanya itu kembali terdengar membuat Raina segera memutar paku yang telah dijadikan sebagai alat penahan pintu agar tidak terbuka.
Raina terbelalak kaget menatap tubuh tanpa sehelai kain benang itu sedang berdiri dihadapannya. Wanita tua berambut beruban itu terlihat memeluk tubuhnya sendiri dengan tubuh mengigil pucat.
"Indo!!!" teriaknya kaget.
Wanita tua bernama Saoda itu melangkah masuk ke dalam rumah melewati cucunya yang kini terlihat kebingungan. Raina menutup pintu lalu mendekati Saoda yang melangkah masuk ke dalam kamar.
"Indo dari mana?"
Saoda tak bicara. Ia diam seperti orang bisu sementara tangannya sibuk mencari baju di dalam lemari.
"Indo dari mana?"
Saoda menoleh dengan baju yang sudah ada di tangannya. Ia menatap Raina yang terlihat masih menatapnya dengan serius.
"Indo juga tidak tahu, Nak."
Saoda memakai bajunya dan melangkah mendekati kasur dengan ranjang tua yang terbuat dari kayu jati. Ia duduk dan membaringkan tubuhnya ke kasur membelakangi Raina.
"Jangan beritahu orang kalau Indo pulang subuh!"
Sunyi, setelah ia bicara mendadak Raina tak bicara lagi. Raina takut kepada Saoda jika ia banyak bertanya. Sudah sering Saoda melakukan hal ini dan tak ada jawaban yang berbeda hampir setiap harinya jika Raina bertanya.
...****************...
Raina berjalan menulusuri jalanan yang basah, banyak kubangan air dimana-mana setelah semalaman diguyur oleh derasnya hujan. Raina menghentikan langkahnya, ia meletakkan keranjang belanjaan di sampingnya lalu meraih sendal jepit yang tertusuk duri hingga menembus sendal jepitnya. Maklumlah, di desa ini banyak rumput berduri.
Raina kembali memasang sendalnya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pasar yang agak jauh dari tempat tinggalnya yang dihimpit oleh hutan dan kebun milik warga desa.
Langkah Raina menjadi pelan menatap kain putih yang berada di depan rumah Edi, pria yang menikah tiga tahun yang lalu. Siapa yang meninggal?
Raina melangakahkan kakinya dengan perlahan sementara kedua pasang matanya merabah keseluruh warga yang sedang duduk dan saling berbisik bahkan ada yang terlihat menggeliat ketakutan saat sedang bicara. Raina tak mengerti dengan mereka semua.
Raina menoleh menatap beberapa ibu-ibu yang sedang saling berbisik membuat Raina mendekat. Rasa penasarannya tak mampu ia tahan untuk tidak bertanya.
"Bu, siapa yang meninggal?" tanya Raina membuat tiga ibu-ibu itu menoleh menatap Raina.
"Itu istri sama anaknya Edi yang meninggal tadi malam."
"Hah? Kenapa bisa?" kagetnya.
"Iya, katanya dimakan sama Parakang."
...****************...
Saoda menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang pisau untuk memotong bawang merah yang telah nyaris membusuk. Saoda terdiam dengan wajah pucatnya menatap pepohonan di luar jendela dapur.
Saoda menarik nafas panjang dan kembali menunduk menatap bawang yang kembali ia potong dengan perlahan.
...****************...
"Dimakan Parakang?" tanya Raina.
"Iya, tadi malam kejadiannya."
Ibu-ibu itu melangakahkan kakinya pergi meninggalkan Raina yang kini terdiam. Siapa sebenarnya mahluk bernama Parakang itu? Mengapa namanya selalu menjadi alasan atas kematian seseorang di desa ini.
Raina melanjutkan langkahnya melewati beberapa orang juga sedang saling berbisik menyebut nama mahluk bernama Parakang itu. Ini bukan pertama kalinya Raina mendengar nama itu, tapi ini sudah ratusan kalinya.
Siapa Parakang itu dan bagaimana bentuknya? Mengapa ia selalu menakuti dan menggangu para warga tanpa memandang bulu. Hari ini istri dan bayi dari Edi yang direnggut, dua hari yang lalu Nenek dari sahabatnya, Erni yang meninggal setelah bertahun-tahun sakit, namun Erni mengatakan jika kematian Neneknya bukan karena sakitnya tapi karena ulah Parakang.
Sejujurnya Raina tak percaya dengan keberadaan mahluk bernama Parakang itu lagipula, Raina tak pernah melihatnya langsung di depan mata. Mendengar gosip tentang perbuatan Parakang memang telah menjadi keseharian dan kebiasaan Indra pendengarannya, tapi melihatnya belum pernah.
Raina membuka kendi berisi air dan menyirami betis dan kakinya yang terkena percikan lumpur yang mengotori kulitnya. Raina melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga yang terbuat dari kayu berwarna hitam menuju masuk ke dalam rumah kayu.
Sepanjang perjalanan nama Parakang itu terus menjadi momok perbicangan warga desa, mulai dari pasar sampai ke lorong Desa. Rasanya tak bosan mereka membahas hal yang sama, yakni Parakang.
"Indo!" panggil Raina.
Raina tersenyum mendapati Saoda yang sedang mencuci beras. Saoda adalah Nenek dari Raina yang telah membesarkan Raina dari kecil sampai umur Raina telah berusia 17 tahun. Kata Indo adalah nama panggilan Ibu dalam bahasa daerah dan Raina memanggil Soida dengan panggilan Ibu agar Raina tetap bisa merasakan keberadaaan ibunya yang telah meningal.
Kata Saoda, Ibu dari Raina meninggal karena perbuatan Parakang yang telah memakan roh halus ibunya saat melahirkan adik dari Raina. Sedangkan Ayahnya juga telah meninggal saat ia berusaha untuk mengejar Parakang. Amarahnya membawanya menuju pada kematian dan hingga kini menyisahkan Saoda dan Raina saja yang tinggal di rumah sederhana ini.
Raina duduk di bangku kecil sembari menatap Saoda yang sedang meletakkan panci berwarna hitam ke atas kompor yang terbuat dari tanah liat dan kayu sebagai alat pembakar.
"Indo!"
Saoda menoleh lalu tersenyum menatap Raina. Saoda kembali menoleh sambil tangannya yang sibuk mengatur kayu agar mudah untuk terbakar.
"Tadi aku lewat di lorong desa."
Sunyi, Saoda masih sibuk dengan kayu bakarnya.
"Istri dan anak dari Daeng Edi meninggal."
Gerakan tangan Saoda terhenti beberapa detik dengan kedua matanya yang terbelalak kaget. Tak berselang lama ia kembali mendorong kayu bakar itu yang telah dibakar oleh api.
"Kenapa bisa?"
"Katanya dimakan Parakang."
Saoda berbalik badan, ia melangkah mendekati keranjang belanjaan Raina dan mengeluarkan beberapa belanjaan di sana tanpa pernah menatap Raina.
"Indo, apa itu Parakang?" tanya Raina hati-hati.
Saoda melirik menatap Raina yang masih menatapnya dengan serius.
"Jangan pernah bertanya seperti itu! Tidak ada dibilang Parakang di dunia ini."
"Tapi kenapa banyak orang bilang kalau istri dan anaknya Daeng Edi meninggal karena-"
"Parakang?" potong Saoda membuat Raina mengangguk lalu Saoda tertawa.
"Kenapa, Indo?"
"Kematian seseorang hanya Tuhan yang tahu."
"Tapi kenapa nama Parakang bisa ada kalau tidak pernah terjadi?"
Saoda duduk di atas papan sambil memeluk kedua lututnya menanti air berasnya itu mendidih. Ia menatap Raina yang masih ingin mendengar jawaban darinya.
"Dulu ada tapi sekarang tidak ada."
"Kenapa bisa?"
"Indo juga tidak tahu, tidak perlu sering menyebut nama itu. Tidak baik! Karena mungkin saja dia bisa datang."
Raina melotot takut. Apa itu berarti mahluk Parakang itu tahu jika dirinya sedang disebut?
Tak berselang lama Saoda tertawa membuat Raina terkejut. Suara tawa Saoda mengapa tiba-tiba membuatnya menjadi takut seperti ini.
"Kenapa ketawa?"
"Kau percaya?"
Raina mengangguk.
"Jangan terlalu percaya. Parakang itu sudah punah."
Raina terdiam setelah mendengar ujaran Saoda. Ia mendongak menatap kepergian Saoda. Apa ini berarti sosok Parakang itu ada?
Dimana dia?
Dan bagaimana kehidupannya?
Ini akan Raina cari tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Sarita
parakang alias kuyang .bisa jadi itu
2024-09-10
0
ani nurhaeni
sereem
2022-11-24
0
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
sepertinya ini parakang nya..
2022-10-02
1