Dia menghisap anaknya!!!
Tubuh Baya terlihat masih gemetar, ia masih terlihat ketakutan.
Parakang itu terlihat menghisap pusat bayi yang masih basah hingga bayi mungil itu terlihat gemetar seperti disetrum. kedua kaki dan tangannya gemetar hingga suara tangisan bayi itu lenyap secara perlahan.
Kedua mata Baya melebar karena tak menyangka jika bayinya telah tiada. Bibirnya bergetar ingin bicara tapi tidak bisa. Takut! Rasa takut mencengkram pikirannya.
"Kau makan anakku Parakang!!!" jerit Caya dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Aaaaaaa!!!" teriaknya lagi berusaha untuk mendekati bayinya yang sudah tak bernyawa.
Kepala Parakang itu menoleh menatapnya membuat Caya tersentak kaget. Parakang itu kembali melompat kegirangan menatapnya hingga mata merah bisa Caya lihat dari beberapa helai rambut yang bergerak memperlihatkan wajah Parakang dengan mulut penuh darah.
Engka panasa maridi!!!
(Ada Nangka masak!!!)
Caya memundurkan tubuhnya ke belakang setelah mendengar suara itu. Parakang selalu melihat santapannya dengan sosok buah dan kali ini Parakang itu melihat Caya seperti sebuah buah.
"Bukan!!! Jangan saya!!!"
Parakang itu mendekat dengan jalan merangkak membuat papan itu berbunyi pelan dan menakutkan.
Nafas Caya sesak sembari berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sosok Parakang yang terlihat kelaparan. Darah segar dari jalan lahirnya terlihat memenuhi papan saat Caya memundurkan tubuhnya ke belakang.
Caya menggeleng, ia memohon agar Parakang itu tidak mendekatinya.
"Ja-ja-jangan! Tolong jangan Parakaaaaaaaaaang!!!"
Parakang itu melompat mendekati Caya membuat Caya dengan cepat memejamkan kedua matanya.
"Oh Daeeeeeeeenggg!!!" jeritnya.
Baya yang sedang menimba air di sumur itu menoleh setelah mendengar suara teriakan Caya. Dengan cepat ia meraih bawang dari atas lemari dan berlari menaiki tangga belakang rumah.
"Ada ap- Oh Puang!!!!" teriak Baya.
Bawang yang ada ditangannya itu berjatuhan ke papan setelah melihat sosok parakang yang sedang menghisap jalan lahir Caya yang kini sedang gemetar dengan kedua matanya yang terbuka lebar. Mulutnya terlihat menganga dan meringis kesakitan tidak jelas dengan bola matanya yang naik ke atas nyaris seperti orang kejang.
Baya memundurkan langkahnya hingga punggungnya terbentur ke dinding rumah dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Parakaaaaaang!!!" teriaknya.
Mendengar teriakan itu membuat Parakang itu berlari menembus dinding rumah yang jadi berlubang.
Edi menoleh menatap ke arah rumah setelah mendengar suara teriakan dukun beranak istrinya. Dengan cepat ia meraih obor yang ada sampingnya dan berlari menuju rumah.
Edi membuka pintu dan membuatnya terbelalak menatap bayi dan istrinya yang sudah tergeletak tak bernyawa. Edi menoleh menatap Baya yang sedang menangis di pojok rumah sambil memeluk lututnya.
Edi berlari menghampiri bayinya yang seluruh tubuhnya membiru. Tangan gemetarnya meraih bayi laki-lakinya yang terasa dingin dengan mulutnya terlihat menganga.
"Ke-ke-kenapa anakku, Mak?"
"Kenapa anakku?!!" teriaknya membuat Baya semakin menangis seperti orang bodoh.
Tubuh Baya terlihat masih gemetar, ia masih terlihat ketakutan setelah menjadi saksi kematian Caya yang telah disantap roh halusnya oleh Parakang.
Edi menoleh menatap istrinya. Pandangannya turun menatap jalan lahir istrinya yang koyak memperlihatkan usus yang berhamburan keluar di atas papan.
"Cayaaaaaa!!!" teriak Edi yang berlari mendekati istrinya.
Bau amis tercium menyengat pada indra penciumannya yang begitu menusuk hatinya. Ini semua tak pernah ia harapkan akan terjadi pada istrinya.
"Kenapa istriku, Mak?!!" teriaknya.
Baya masih menangis membuat Edi geram dan menghampiri Baya dan mengguncang kedua bahunya dengan keras. Ia memaksakan tubuh dukun beranak istrinya itu agar mau bicara.
Edi bisa merasakan tubuh Baya dingin dan menggigil bahkan sampai menembus ke baju yang ia gunakan.
"Katakaaaaan!!!" teriaknya.
Baya meringis saat suara teriakan itu seakan menembus gendang telinganya bertubi-tubi. Tubuhnya masih diguncang oleh Edi yang meminta jawaban.
"Cepat katakan, Mak!!!"
"Istri dan Anakmu dimakan Parakang!!!"
Guncangan tangan Edi terhenti setelah mendengar suara teriakan Baya dengan mata memerah karena telah menangis tepat di hadapan wajahnya.
"Parakang yang sudah makan Anakmu!!! Parakang!!!"
Edi melepaskan pegangannya dari bahu Baya. Nama itu, nama itu kembali terdengar di telinganya. Parakang kembali datang dan kali ini ia yang merasakannya.
Edi menoleh menatap bayi dan istrinya secara bergantian. Meninggal dengan cara mengenaskan dan perbuatan itu dilakukan oleh mahluk jadi-jadian bernama Parakang.
Dada Edi kembang kempis menahan amarah yang siap meledak di detik ini juga. Persetan dengan mahluk pembawa keresahan keseluruh desa.
Edi mengenggam rambutnya dengan kuat dan menariknya dengan keras. Kini tubuhnya terasa panas menggigil tak menentu.
"Oh Parakang!!! Kau makan anak dan istriku!!!"
"Kau makan manusia yang tidak berdosa!!!"
"Kau hancurkan kehidupanku, Parakang!!!"
Edi memukul papan dengan keras membuat Baya meringis saat rumah terasa terguncang karena amukan dari Edi. Edi mendongak menatap lubang dimana Parakang itu telah berhasil lolos dan pergi begitu saja.
"Oh parakang!!!"
Edi mengangkat jari-jari tangannya dan menggenggamnya dengan kuat seakan sosok Parakang itu ada pada genggamannya membuat tubuhnya gemetar hebat.
"Pegang janjiku ini, tidak akanku lepaskan kau mahluk jadi-jadian setelah kau lakukan ini kepada keluargaku!!!"
"Tidak akan!!!"
"Akan aku tangkap kau dan aku bunuh dengan tangan aku sendiri!!!"
"Aaaaaaaa Parakaaaaaang!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Sarita
udah tau ada parakang istri habis melahirkan di tinggal sendiri .parah
2024-09-10
0
ani nurhaeni
mahlukk jadi jadiian kaahhh
😲😲😲
2022-11-24
3
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
keren kak! aku lanjut baca ah
2022-10-02
1