Ditempat yang sama kini Erni terdiam menatap aneh pada sikap Raina yang sangat sensitif jika membahas tentang mahluk bernama Parakang itu. Kejadian ini bukan hanya terjadi sekali tapi sudah terjadi beberapa kali.
Raina selalu pergi disaat ia atau orang lain yang membahas tentang sosok Parakang.
"Raina!!!" teriak Erni yang berlari mengejar Raina.
"Raina, kau mengapa pergi?"
"Aku ingin pulang," jawabnya tanpa menoleh menatap Erni yang sudah berjalan di sampingnya.
"Tapi kita belum membeli apa-apa di pasar."
"Aku tidak ingin membeli apa-apa, aku hanya ingin pulang sekarang juga."
Langkah Erni terhenti, tatapannya menatap kepergian Raina yang kini terus berjalan tanpa henti atau bahkan menoleh menatapnya juga tidak. Ada masalah apa dia?
Raina menghela nafas. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan jika Erni tak mengikutinya lagi. Langkahnya kini menjadi perlahan sambil sesekali menghela nafas panjang.
"Hai anak muda!"
Seseorang berteriak membuat langkah Raina mendadak terhenti. Ia menoleh menatap Puang Tuo yang kini menghampirinya.
Raina menelan salivanya. Ada apa dengan Puang Tuo yang memangilnya? Apa mungkin ia merasa curiga dengan kematian Puang Bakri?
"A-a-ada apa?" tanya Raina yang benar-benar gugup.
Raina melangkah mundur dengan perlahan, ia merasa takut berhadapan dengan pria tua yang sedang memegang sapu seperti biasa Puang Tuo selalu menyapu halaman masjid setiap pagi hari.
"Aku ingin bicara denganmu," ujarnya membuat kedua mata Raina terbelalak.
"Apa?" tanya Raina.
Puang Tuo tersenyum. Ia menoleh menatap ke arah masjid lalu kembali menatap Raina.
"Boleh kita ngobrol di dalam."
"A-a-aku tidak bisa," jawab Raina lalu ia melangkah pergi meninggalkan Puang Tuo yang kini menghela nafas.
"Aku tahu apa yang kamu sembunyikan anak muda."
Langkah Raina terhenti. Ia langsung menoleh menatap Puang Tuo terlihat begitu sangat serius.
"Apa yang Puang katakan?"
"Aku tahu apa yang sedang kau sembunyikan sekarang."
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa."
"Kau berbohong anak muda."
"Aku tidak berbohong."
Puang Tuo tersenyum sejenak. Senyum yang terlihat begitu sangat tipis membuat Raina ketakutan. Dari senyumnya, Raina bisa melihat jika Puang Tuo secara tidak langsung sedang menertawainya.
"Aku tahu apa yang sedang kau sembunyikan dan ini yang selalu membebani pikiranmu. Jangan menyembuyikan apapun dari aku, anak muda. Aku tahu semuanya."
"A-a-apa yang Puang tahu?"
"Tentang Parakang."
Kedua mata Raina membulat karena terkejut. Bagaimana bisa Puang Tahu tentang Parakang itu. Apakah Puang Tuo merasa curiga kepadanya setelah ia sempat bertanya tentang Parakang kepada Puang Tuo.
"Apakah Puang Tuo merasa jika aku adalah seorang Parakang?" tanya Raina membuat Puang Tuo tersenyum.
"Aku tidak bilang seperti itu, tapi yakinlah aku bisa mencium aroma Parakang dari tubuhmu itu."
Raina kini terdiam, ia tak tahu harus berkata apa.
"Kau harus bertindak lebih cepat untuk mengatasi Parakang ini jika tidak maka kau akan menjadi sasarannya."
"Aku bisa membantumu untuk keluar dari masalah ini."
Raina menghela nafas lalu mendecapkan bibirnya.
"Sepertinya Puang sudah salah mengira," jawab Raina.
Puang Tuo tersenyum. Ia melangkah mendekati Raina beberapa langkah yang kini masih terdiam.
"Aku tidak pernah salah dalam menebak apalagi jika mengenai sosok mahluk jadi-jadian yang bernama Parakang itu. Aku tahu semuanya, jadi tidak perlu berbohong."
"Aku sudah 50 tahun menjadi pemburu Parakang. Aku tahu semuanya. Aku tahu dari segi bau, ciri-ciri dan bahkan keberadaan Parakang."
"Katakan semuanya dan Inn sya Allah aku akan membantumu."
Raina tak tahu harus berkata danbberbuat apa kali ini.
"Katakan!"
Raina mendongak menatap Puang Tuo yang kembali bicara. Apa perlu ia memberitahu semuanya kepada Puang Tuo, tapi Raina takut hal buruk akan terjadi kepada Saoda jika ia memberitahu semuanya.
Raina sangat tahu bagaimana pandangan buruk dan rasa bencinya warga desa kepada mahluk bernama Parakang itu.
"Aku akan membantumu maka kau akan-"
"Raina!" potong Erni yang kini berlari menghampiri Raina.
"Apa yang kau lakukan disini? Dan apa yang kau-"
Erni menoleh menatap Puang Tuo yang kini terlihat tersenyum.
"Kau bicara dengan Puang Tuo?" bisik Erni.
"Tidak," jawab Raina lalu dengan cepat ia menarik pergelangan tangan Erni dan membawanya pergi.
"Ingat, Nak! Suatu hari nanti kau akan mencari aku dan meminta bantuan dariku!!!" teriak Puang Tuo membuat Erni menoleh menatap Puang Tuo dengan wajah bingungnya.
"Apa yang Puang Tuo katakan?"
Raina tak menjawab.
"Mengapa dia berkata seperti itu? Memangnya siapa yang mau meminta bantuan darinya?" tanya Erni lagi yang tak mendapat respon dari Raina.
Raina hanya bisa terdiam namun, pikirannya kini masih memikirkan semua perkataan Puang Tuo kepadanya. Harus apa Raina sekarang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Andin Yafa
Biarianlah biar raina is deadt ngyel beud dblingin
2022-12-25
0
Pecinta Horor
Raina nunggu dl d mangsa...
2022-09-18
0