Raina menelan salivanya, kali ini ia tak boleh tidur. Ia harus bisa mencaritahu jawaban atas apa yang selalu membebani pikirannya selama ini.
Tubuh Saoda terlihat bergerak membuat Raina dengan cepat menutup kedua matanya agar tak ketahuan oleh Saoda jika ia belum tidur.
Tak berselang lama suara gerakan papan ranjang terdengar membuat Raina mulai membuka sebelah matanya secara perlahan dan mendapati Saoda yang kini telah kembali membelakanginya.
Suasana gelap gulita tak dapat menghalangi pandangan Raina untuk bisa melihat sosok Saoda yang tubuhnya telah terbalut dengan kain sarung yang selalu ia gunakan untuk tidur.
Suasana gelap gulita di malam yang sunyi ini telah menjadi kebiasaan bagi Raina. Di desa ini tak ada aliran listrik karena belum terjangkau oleh pemerintah dan belum ada bantuan untuk pengaliran arus listrik.
Raina memejamkan kedua matanya berusaha untuk berpura-pura tidur. Sejujurnya ia mengantuk tapi ia tak boleh melewatkan kesempatan ini untuk mencaritahu sebuah kebenaran. Raina harus membuktikan jika Saoda bukanlah sosok Parakang yang beberapa hari ini selalu muncul di pikirannya. Ia harus membuktikan jika dugaannya selama ini adalah salah.
Kedua mata Raina telah terpejam tapi pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Suara gonggongan anjing bisa ia dengar dengan jelas. Beberapa suara binatang lainnya terdengar saling bersahutan di luar sana membuat Raina sadar betapa menyeramkan tempat tinggalnya selama ini.
Hembusan nafas yang berhasil lolos dari indra pernafasannya membawanya pada sebuah kenyamanan hingga rasa ngantuk tak lagi bisa Raina tahan.
Kedua mata Raina terbuka secara tiba-tiba bersamaan dengan detakan jantungnya yang berdetak sangat cepat. Nafas Raina entah mengapa tiba-tiba saja menjadi meningkat. Raina merabah permukaan kasur yang ada di sebelahnya dimana Saoda tidur di sana namun, tak ada sosok Saoda di sana.
Kemana dia?
Raina dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya dan pandangannya langsung menatap ke segala arah berusaha untuk mencari sosok Saoda.
Raina mendecapkan bibirnya karena merasa kesal pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya lalai dan malah ikut tertindur.
Sekarang lihat! Saoda sudah tidak ada di tempat tidurnya. Entah dimana perginya sekarang.
Raina menyalakan korek api dan menyalakan pada sumbu lilin buatan pada kaleng berisi minyak tanah. Setelah lilin itu menyala Raina menoleh menatap ke arah luar kamar yang begitu sangat gelap gulita.
Raina melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan hati-hati dan begitu sangat pelan mengakibatkan suara papan berbunyi perlahan membuat detak jantung Raina berdetak sangat cepat.
Raina menelan salivanya dengan paksa setelah ia merasa sangat takut untuk melangkahkan kakinya. Tatapannya kini menatap ke seluruh ruangan yang sunyi dan sepi, tak ada sosok Saoda di sini.
"Hah!"
Raina terkejut setelah ia mendengar suara burung hantu yang hinggap di atap rumah membuat kayu di atap rumah itu ikut berbunyi. Raina menghela nafas lega dengan kedua bibirnya yang terbuka berusaha untuk mencari pasokan udara.
Ia mengangkat tangan kirinya untuk membantu memegang kaleng besi berisi minyak tanah saat ia bisa merasakan tangan kanannya gemetar karena ketakutan.
Hawa dingin dari luar yang bertiup melewati celah rumah berhasil membuat bulu kuduk Raina merinding tak karuan. Kedua lututnya terasa ngilu untuk memaksakan dirinya berdiri. Berdiri saja ia harus susah payah, bagaimana bisa ia harus berjalan.
Suara papan yang Raina injak berbunyi pelan menghasilkan suara mengerikan disaat kesunyian malam yang begitu sangat Raina takuti. Raina juga tidak mengerti pada dirinya, mengapa ia bisa menjadi penakut seperti ini padahal sebelumnya rasa takut bukanlah salah satu dari sifatnya.
Berita dan isu Parakang itu membuatnya menjadi seperti ini dan perilaku aneh Saoda membawanya pada rasa penasaran dan menenggelamkan-nya pada rasa ketakutan.
Raina menelan salivanya saat ia sudah ada di depan pintu keluar. Mungkin saja Saoda sudah pergi dan ini semua karena dirinya yang dengan bodohnya malah tertidur.
Raina memegang paku dengan jari dingin gemetarnya yang siap untuk membuka pintu. Bayangan hutan dan kebun yang gelap gulita telah terbayang di pikiran Raina jika nanti ia telah berhasil membuka pintu.
Ia mengerakkan paku itu dengan perlahan dan membuang jauh-jauh pikiran buruknya pada hal mengerikan itu. Pintu terbuka dengan perlahan membuat sekujur tubuh Raina merinding.
"Raina!"
"Aaaa!!!" jerit Raina ketakutan setelah ia seseorang menyentuh bahunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments