Raina meletakkan hasil cuciannya ke dalam bakul setelah membilasnya di aliran sungai yang lumayan deras, maklumlah semalam hujan deras sehingga air sungai lumayan jernih.
"Kasihan sekali, yah si Edi. Anak dan Istrinya meninggal secara mengenaskan."
"Iya, ini semua karena ulah Parakang."
"Siapalah Parakang itu? Kok, bisa ada mahluk yang tega seperti itu. Sudah banyak yang jadi korbannya."
Raina menoleh setelah mendengar ujaran Ibu-ibu yang sedang sibuk mencuci. Bukan hanya ada Raina di sungai ini tapi ada banyak Ibu-ibu yang mencuci pakaiannya di sungai. Di sungai inilah biasanya orang-orang mencuci pakaian, mandi dan mengambil air untuk memasak dan kebutuhan lainnya.
"Bu, apa itu Parakang?" tanya Raina, mungkin saja ia bisa mendapatkan informasi dari Ibu-ibu tukang gosip ini.
"Parakang itu mahluk jadi-jadian," jawab salah satu dari mereka.
Raina meletakkan bakul ke pinggir di atas batu lalu mendekati beberapa Ibu-ibu yang sepertinya bisa memberikan informasi. Tukang gosip adalah kunci jawaban bagi Raina. Tanyakan saja pada mereka toh semua jawaban ada pada mereka.
"Mahluk jadi-jadian seperti apa itu, Bu?"
"Mahluk seperti yang memakan Ibu dan Bapak kamu dulu."
"Tapi saat itu saya belum bisa mengingat, Bu. Bagaimana kira-kira bentuknya, Bu, Parakang itu?"
Seketika para Ibu-ibu terdiam seakan tak punya jawaban untuk ia berikan kepada Raina yang kini sedang terdiam menanti jawaban dari para penggosip di Desa ini.
"Kami belum pernah lihat."
Raina menghela nafas saat jawaban itu terdengar. Percuma ia bertanya, tetap saja tak ada jawaban yang ia dapatkan. Bagaimana bisa Ibu-ibu ini bisa mengatakan jika sosok Parakang itu ada tapi tidak pernah melihatnya secara langsung.
"Kira-kira siapa yang tahu bentuk Parakang itu, yah?" tanya Raina membuat para Ibu-Ibu itu saling bertatapan satu sama lain.
"Coba kamu pergi temui pak Tuo, mungkin dia tahu soalnya dia itu pemburu Parakang."
"Boh, sudah berhenti dia jadi pemburu Parakang," tegur salah satu Ibu yang hanya menggunakan sarung menutupi separuh tubuh gemuknya.
"Oh sudah berhenti, kah?"
"Iya, sekarang dia sudah jadi imam masjid."
Raina bangkit dari atas batu yang sejak tadi ia duduki. Ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan sungai setelah berpamitan oleh para Ibu-ibu yang masih heboh dengan gosipnya hari ini.
Suara jengkrik terdengar bergantian bersahutan di malam ini yang begitu sangat sunyi dan damai. Sepertinya malam ini tidak akan turun hujan, itu bisa Raina tebak dari banyaknya kerlap-kerlip bintang yang menyala di langit malam.
"Tutup pintu rapat-rapat!"
Raina menoleh menatap Saoda yang kini duduk di atas papan membelakanginya, Saoda sedang cuci piring dan peralatan makan lainnnya setelah makan malam. Raina menutup pintu dengan rapat lalu melangkah mendekati Saoda.
"Kenapa tidak pergi tidur?"
"Tunggu, Indo."
"Tidak usah ditunggu! Tidurlah lebih dulu!"
"Kenapa?"
"Karena Indo sedang cuci piring."
"Kalau begitu Raina bantu saja."
"Tidak perlu!"
Raina menghela nafas panjang. Percuma dirinya memaksakan dirinya untuk menawarkan dirinya. Ujung-ujungnya Saoda juga tidak akan membiarkannya.
"Indo!" panggil Raina membuat Saoda menoleh.
"Waktu subuh kenapa Indo bisa ada di luar rumah?"
Saoda terkejut setelah mendengarnya namun dengan cepat ia tersenyum berusaha untuk tetap tenang.
"Kau tahu tentang orang-orang yang bisa jalan sendiri saat sedang tidur?"
Raina mengangguk. Raina pernah mendengar tentang gangguan tidur itu yang membuat seseorang bisa berjalan tanpa sadar.
"Indo, tidak sadar berjalan keluar dari rumah lalu ketika Indo bangun, Indo sudah ada di luar rumah," jelasnya membuat Raina mengangguk.
"Indo!"
"Em? Ah, pergi lah tidur! Jangan sering bertanya!"
Raina menarik nafas lalu segera bangkit dan melangkah menuju masuk ke dalam kamarnya. Di rumah ini hanya terdapat dua ruangan kamar. Kamar Raina dan Saoda berdekatan jadi Raina tak pernah merasa takut walaupun harus tidur di dalam kamar sendirian sementara di luar rumah merupakan hutan dan kebun.
Raina membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Ia terdiam sejenak menatap langit-langit kelambu yang melindunginya dari gigitan nyamuk besar yang datang dari kebun dan hutan.
Kini pikiran Raina tertuju pada satu topik yakni Parakang. Satu hal yang belum bisa membuat Raina lepas dari nama mahluk itu. Siapa dia dan bagaimana bentuk dia?
"Memikirkan Parakang?"
Raina terkejut bukan main saat suara Saoda mengangetkannya dan ia sedang berdiri di pintu masuk sambil mengangat kain gorden dengan warna yang sudah luntur dimakan usia.
"Tidak," jawab Raina.
Raina terkejut saat tahu jika ia sedang memikirkan mahluk itu. Apa ia dan Saoda punya kontak batin hingga Saoda tahu apa yang ada di pikirannya, yah mungkin saja.
"Tidurlah!"
Saoda melangkah pergi membuat Raina memiringkan tubuhnya lalu berusaha untuk tidur walau pikirannya masih memikirkan mahluk itu.
Malam yang larut itu begitu sangat sunyi diiringi suara gonggongan anjing yang saling bersautan. Suara burung hantu yang hinggap di atas atap rumah juga ikut terdengar menatap burung kalelawar yang berterbangan mencari makanan di kebun. Suaranya yang beradu mulut itu tak menggangu tidur Raina yang telah lelap. Bagi Raina itu sebuah nyayian pengantar sebelum tidur.
*Tok
Tok
Tok*
"Rainaaaa!!!"
Ketukan pintu kembali terdengar membuat kedua mata Raina terbuka. Siapa lagi yang memukul pintu di luar sana?
"Raina!!!"
Suara teriakan dan ketukan pintu itu kembali terdengar membuat Raina memutuskan bangkit dari kasurnya. Raina menyalakan lilin yang terbuat dari kaleng besi berisi minyak tanah lalu melangakahkan kakinya dengan pelan menuju pintu.
"Siapa?"
"Indo!"
Raina membuka pintu dan lagi dan lagi ia mendapati Saoda dengan tubuh mengigil tanpa mengunakan pakaian sendang berdiri di hadapannya.
Saoda melangkah melewati Raina yang terdiam kebingungan.
"Jalan tidur lagi, Indo?" tanya Raina yang melangkah mendekati Saoda yang sedang mencari beberapa pakaian di lemari kayu.
"Iya," jawabnya.
Suaranya terdengar begitu dingin membuat Raina merasa takut. Seakan mengulang waktu Saoda membaringkan tubuhnya membelakangi Raina dan kembali bicara, "Jangan beritahu orang-orang kalau Indo pulang subuh!"
Raina mengangguk perlahan. Lagi dan lagi Raina tak ingin banyak bertanya pada Saoda tentang hal ini walaupun sebenarnya ia ingin bertanya banyak.
Raina melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Jantung Raina berdetak sangat cepat, rasanya ia merasa takut dalam kondisi seperti ini. Yang lebih membuat Raina takut adalah disaat Saoda melewatinya. Raina bisa mencium bau darah yang begitu amis pada tubuh tak berpakaian Saoda.
Apa mungkin orang yang mengalami gangguan tidur akan berbau amis seperti itu. Apa yang menyebabkan hingga tubuh Saoda berbau dan mengapa ia tak memakai pakaian sedikit pun.
Raina menarik nafas panjang. Ini harus ia cari tahu, tapi bagaimana caranya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Sarita
kan si nenek keluar sendiri .ko tiap pulang ketuk pintu ,yg ngunci pintu siapa Thor?
2024-09-10
0
ani nurhaeni
bkn nene aslii kalii kalii yaa
2022-11-24
3