"Aaaa!!!" jerit Raina ketakutan setelah ia merasakan seseorang menyentuh bahunya.
Raina menoleh menatap sosok Saoda yang kini berdiri di hadapannya dengan lilin buatan yang sedang ia pegang kelengnya. Separuh wajahnya terlihat setelah terpapar cahaya lilin. Kedua mata Saoda terlihat melotot ke arahnya, sepertinya bukan hanya Raina yang terkejut tapi Saoda juga.
Dada Raina kembang kempis begitu kuat sementara jantungnya nyaris melompat keluar dari rongganya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Saoda dengan raut wajahnya yang terlihat kesal.
Bagaimana tidak kesal jika suara teriakan Raina sangat nyaring bahkan burung-burung hantu berterbangan menjauhi rumah setelah mendengar suara teriakan dari Raina.
"Maaf, Indo. Aku terkejut," jawabnya sambil mengelus dada yang begitu berdebar.
Apakah jantungnya masih aman? Hah, bahkan Raina merasa jika jantungnya telah rusak setelah dikagetkan oleh sosok Saoda yang menyentuhnya secara tiba-tiba.
Saoda menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Raina dengan tatapan penuh curiganya. Ia melirik menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan pemadangan di luar rumah yang begitu gelap dengan wajah datarnya.
"Mau kemana kau?" tanya Saoda akhirnya.
"A-a-aku ingin a-aku ingin-"
"Katakan!"
"Tadi aku terbangun dari tidur dan tidak ada Indo di kamar," jawabnya.
Saoda masih terdiam. Tatapannya tajam menatap Raina yang kini terlihat takut dan sesekali terlihat menelan salivanya.
"A-aku pikir Indo pergi."
"Kemana?"
"A-a-aku juga tidak tahu, Indo."
"Kembalilah!"
"Apa?"
"Kembali ke tempat tidur!"
Raina mengangguk cepat. Ia menoleh menatap pintu sejenak dan kembali menatap Saoda yang terlihat masih menatapnya. Tatapan tajam yang selama ini tak pernah dirasakan oleh Raina membuatnya gemetar.
Raina mendorong pintu sejenak membuat pintu itu rapat disusul Raina yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Saoda sendiri dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Raina menghentikan langkahnya setelah ia telah tiba di depan pintu kamar. Ia menatap Saoda sejenak yang terlihat berdiri menatap ke arah pintu membelakanginya. Raina menelan salivanya. Apakah Saoda merasa curiga dengannya? Semoga saja tidak, Raina harap seperti itu.
"Masuklah! Apa lagi yang kau tunggu?"
Raina tersentak kaget bersamaan dengan kedua matanya yang melotot. Bagaimana bisa ia tahu?
Dengan buru-buru Raina berlari masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Raina menyelimuti kepalanya dengan sarung dan memejamkan kedua matanya sangat rapat. Kali ini ia memaksakan matanya untuk tidur dengan cepat.
...****...
Raina terbangun dari tidurnya disaat cahaya matahari yang berhasil mengenai kelopak matanya setelah menembus celah papan yang telah mengeropos dimakan usia.
Raina membalikkan badannya dan merabah permukaan kasur yang kini kembali kosong. Raina membuka kedua matanya dengan perlahan hingga sosok Saoda sudah tak terlihat lagi.
Raina bangkit dari kasur dan mengusap kedua matanya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kamar. Suara kicauan burung-burung terdengar di luar sana membawa Raina tanpa sadar membuka jendela. Senyumnya terukir saat ia menatap burung-burung kecil yang bertengger di salah satu ranting pohon yang ada di tepi hutan.
Pemandangan indah yang selalu ia lihat di setiap pagi serta udara malam yang begitu sangat segar hingga terasa pada rongga paru-parunya.
"Raina!"
Raina menoleh menatap Saoda yang kini dengan cepat menoleh menatap Saoda yang kini melangkah keluar dari dapur sembari membawa dua piring nasi goreng.
"Ayo makan!"
Raina tersenyum. Ia melangkah mendekati Saoda dan duduk di sampingnya yang kini tersenyum menatap ke arah wanita yang terlihat sibuk meletakkan piring ke papan. Untuk beberapa detik senyum Raina hilang dari bibirnya.
Bagaimana bisa ia berpikir jika wanita tua yang ada di hadapannya ini adalah seorang Parakang. Wanita baik hati dan penuh dengan kasih sayang, bagaimana bisa dia seorang Parakang?
Rasanya Raina menyesal setelah menaruh curiga pada sosok Neneknya yang selama ini telah menggantikan sosok Ibu dan Ayahnya yang telah lama meninggal.
"Ada apa?" tanya Saoda membuat pikiran Raina membuyar.
Ia tersenyum lalu menggeleng.
"Apa nasinya terasa asin?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Hanya bahagia."
Saoda tersenyum setelah mendengar hal tersebut terlebih lagi disaat Raina mendekat dan memeluknya begitu erat. Saoda mengelus rambut Raina dengan jejari tangan kanannya yang bergerak lambat dan penuh perasaan. Kedua tatapannya menatap ke arah pintu luar rumah lalu ia tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments