Ariel menjalankan kakinya pelan dengan wajah lelah. Sebentar dia menghela nafas setelah sampai di gerbang utama rumah yang beberapa hari ini ia tinggali bersama dengan sang suami bernama Leo. Suami yang baik hati, ramah, mudah tersenyum, tatapan matanya lembut, cara bicaranya sopan dan juga hangat. Ah, tapi bohong bohong bohong! Itu kan cuma Ariel yang berandai-andai saja. Tapi ya sudahlah, begitu juga lebih baik kok. Dari pada menikah dengan pria tampan pada ujungnya menyakiti. Eh, menyakiti? Lalu bagaimana dengan Leo? Tampan tidak, tapi juga menyakiti setiap hari. Kenapa kok masih betah saja sih?! Padahal perjanjian tidak ditepati oleh Ayah terkutuknya itu.
" Sudahlah ya, anggap saja sewa rumah dengan bayaran kesabaran. " Ujar Marile, lalu tak lama gerbang terbuka begitu satpam menyadari adanya Ariel disana.
" Malam, Non Ariel? " Sapa satpam itu.
" Malam juga, Bapak. "
Ariel melanjutkan langkahnya setelah sebentar menghela nafas. Ah, bahkan dia juga sudah mulai menguap padahal belum juga mengurus bayi besarnya yang sebentar lagi pasti akan membuat ulah.
" Selamat malam? " Sapa Ariel saat melewati meja makan dan Leo sudah berada disana.
" Mandi! "
" Iya, ini mau naik ke atas, aku akan mandi dulu baru turun ke bawah untuk makan malam. " Jawab Ariel terus menjalankan kakinya, dia juga sudah berkali-kali menguap.
" Aku mau mandi! "
Ariel sontak menghentikan langkah kakinya. Ingin sekali rasanya mulut memaki kasar, padahal sudah tahu dia baru pulang kerja, dia juga lapar dan butuh mandi karena berkeringat parah.
" Hoi, tuyul jumbo! Aku ini juga mau mandi, aku ini lelah, tolong kasihanilah istrimu yang malang ini ya? Please....... "
Ariel mengalihkan pandangannya karena mengingat bagaimana ucapan Ariel di rekaman suara tadi. Hah! benar-benar tidak sanggup menahannya hingga ia cepat memalingkan wajah lalu mengibaskan tangan meminta Ariel untuk segera pergi mengerjakan apa yang ingin dia lakukan.
" Tuan malu ya? " Win bersuara karena tidak tahan juga melihat betapa lucunya Leo saat itu.
" Matamu sebelah mana yang melihat aku sedang malu? " Leo segera memperbaiki ekspresi nya, dia juga membenahi posisi duduknya untuk mengatur dirinya sendiri.
Win, pria tiga puluh empat tahun itu hanya bisa menahan senyumnya karena semakin jelas sekali kalau Tuannya sedang malu hingga merona merah pipinya.
" Jangan terus-terusan mengejek dengan senyum sialan mu itu! Bawa aku masuk ke kamar! Aku ingin mandi juga. "
" Apa maksudnya mandi bersama? " Goda Win.
" Win, aku ingin merobek mulut mu! "
" Oh, aku takut sekali, Tuan. "
" Aku malah merasa kalau kau sedang menggunjing di balik ucapan pasrah mu. "
" Hanya perasaan Tuan saja kok. "
Win mendorong kursi roda Leo hingga ke kamar, lalu meninggalkan Leo di sana.
Sebentar Leo menoleh ke arah kanan kiri mencari keberadaan Ariel, tapi karena ada suara gemercik air di dalam kamar mandi dia baru ingat kalau gadis itu tengah mandi. Dia memilih untuk menunggu di samping tempat tidur, lalu sebentar meraih ponsel Lora yang tergelatak saja di atas tempat tidur. Tidak ada yang spesial, hanya pesan-pesan biasa saja, juga seperti kebanyakan gadis pada umumnya yang sangat menyukai berphoto Selvie.
" Hayo, apa yang sedang kau lakukan dengan ponselku? " Tanya Ariel yang entah sejak kapan sudah keluar dari kamar mandi. Segera Leo menghempaskan ponsel milik Ariel ke tempat asalnya.
" Aku hanya sedang melihat, benda jelek itu apakah benar ponsel? Sudah kuno, jelek, untuk lempar kepala anjing saja tidak bisa. Ah, tanganku jadi gatal. " Ujar Leo, lalu berjalan meninggalkan Ariel yang terperangah kesal.
" Kenapa saat menghina mulutmu lancar sekali? Tapi kalau kalau sedang menyuruh selalu hanya satu kata, aku benar-benar ingin mengutuk jadinya. "
" Oh, silahkan saja. "
Ariel terperanjak kaget, dia berbalik melihat ke arah Leo yang dia pikir sudah masuk ke dalam kamar mandi.
" Eh, maksudku mengutuk mu supaya mencintaiku begitu. Kita kan suami istri, jadi wajar saja kalau seorang istri mengharapkan suaminya berbicara dengan manis, lalu saling jatuh cinta kan? " Ariel tersenyum kikuk, sadar sih pasti Leo tahu benar jika dia berbohong, tapi masa iya mengakuinya?!
Leo tersenyum miring.
" Oh, jadi kau mengatakan aku mencintaimu, begitu? "
Najis!
" Iya dong, kita itu suami istri. Sudah seharusnya kita saling mencintai. " Ariel kembali tersenyum.
" Oh, suami istri ya? Kalau begitu seharusnya kita juga ewita kan? "
Ariel kehilangan senyum pura-pura di wajahnya. Astaga! Dari mana Leo bisa tahu istilah ewita yang hanya di ketahui apa artinya oleh teman-teman nongkrongnya saja? Ah! Bukan itu masalah besarnya! Kenapa juga si mulut beracun itu mengajaknya ewita?
" Jadi, mandikan aku, baru setelah itu kita bisa ewita. "
Ariel menelan salivanya yang begitu susah untuk dia lakukan. Kenapa kalau kata ewita yang keluar dari mulut Leo sangat tidak pantas ya? Apakah tidak bisa pakai saja kata yang lain misalnya ewidwood? atau ewitut?
" Ewita saja dengan jari mu! Aku tidak tahu apa itu ewita! " Ariel segera berbalik, dengan cepat dia menuju meja riasnya untuk menyisir rambut karena dia sudah memakai baju ganti saat di kamar mandi tadi.
Leo tersenyum miring.
" Tidak tahu? Mau aku beri tahu? "
Ariel mengigit bibir bawahnya menahan kesal, padahal dia sudah tidak ingin membicarakan tentang ewita ewita an! Ah! Jadi ingat saat menggerebek Bram dan Sephora waktu itu kan? Untuk pertama kali dia melihat cucung pria secara langsung, dia juga minat tubuh polos keduanya dengan sangat jelas. Aduh Mak Jang! Benar-benar menyesal sekali karena harus melihat itu semua.
" Tidak perlu, nanti kalau aku mau kau kan tidak bisa melakukannya. " Kesal Ariel.
" Oh, kalau aku bisa melakukannya bagaimana? "
kalau dilihat dengan keadaanmu, yang ada aku pasti akan di suruh-suruh oleh mu begini begitu, Cih! Tidak mau!
" Jangan takut, aku tidak kehilangan kemampuan untuk melakukan e wi ta kok. "
Hah? Benar-benar merinding sekali mendengar ucapan Leo saat menekan kata ewita tadi. Apalagi tatapannya yang seperti binatang buas sedang mengincar mangsa, rasa-rasanya Ariel ingin kabur dari sana secepatnya.
Untung saja kau tidak bisa berjalan, jadi aku tidak perlu berlari. Heh! Sok sok an mau meng ewita aku, jalan saja tidak mampu.
" Jangan memaki di dalam hati, nanti suatu saat kau akan tahu rasanya, percaya atau tidak, aku bisa membuatmu menangis meminta tolong untuk berhenti di atas tempat tidur. "
Ariel tak ingin menjawab karena memang dia enggan dan kesal.
aiya, iya! Berhenti karena lelah membuat cucung mu tegak!
" Sampai kapan kau akan disana? Kau tidak lihat bajuku belum di buka? "
Ariel bangkit dengan wajah sebalnya.
" Seperti ini kau masih mengancam dengan ewita? Buka baju saja kau selalu menyuruhku! "
Leo menatap dengan senyum tipis yang tak bisa Ariel lihat.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
kuaci
duh Ariel entar lu dah di ewita babang leo ketagihan loh
2024-08-31
0
Ade Nur Azizah
banyak kesalahan nama, kenapa namnya jadi Ariel.... banyak bnget lagi
2024-05-12
1
Dede Exis
nah loh
2023-03-31
0