Marile mondar mandir mencari pakaian yang bisa ia gunakan untuknya. Memang benar-benar keterlaluan! Masa iya selembar saja tidak disediakan baju? Apakah harus semalaman menggunakan jubah mandi? Duh! Mana pakaian dalamnya kotor lagi, mau dipakai lebih lama lagi pasti gatal kan?
Sudah lelah! Ternyata semua baju disana hanya ada milik Leo, tidak ada satupun yang bisa dia pakai. Ah! Tapi sudahlah, pakai saja yang ada. Marile kembali membuka lemari, lalu mengambil sebuah kaos polos yang jelas kebesaran karena itu milik Leo. Biarlah seperti itu, meskipun tidak pakai kain segitiga penutup bagian bawah, tidak kehilangan karena kaos milik Leo itu sampai ke paha panjangnya. Ditambah lagi pria itu kan cacat, tidak mungkin juga dia bisa melakukan hal kurang ajar padanya, batin Marile.
Marile duduk dipinggiran tempat tidur, tidak tahu kemana perginya Leo karena saat keluar dari kamar mandi tadi Leo memang sudah tidak ada di kamar. Yah, mungkin dia berkumpul bersama binatang-binatang peliharaannya, kan dia sendiri yang mengatakan sakit kepala mendengar suara orang jadi jangan salahkan pemikiran seperti yang Marile pikirkan.
Tok Tok
Suara pintu diketuk, Marile segera bangkit dari duduknya, berjalan mendekati pintu dan melihat siapa yang datang tentunya.
" Kamu, Win maksudnya. Ada apa? " Tanya Marile.
Win tersenyum sopan, lalu meyerahkan satu paper bag berukuran lumayan besar kepada Marile.
" Ini pakaian anda, Nyonya. "
Marile merengut sebal, kenapa tidak dari tadi sih?! Gerutunya di dalam hati. Setelah menerima paper bag itu segera Marile masuk, dan tentu saja dia sudah mengucapkan terimakasih kepada Win, eh! tapi dia lupa menanyakan kemana Leo pergi. Ah sudahlah, sekarang mending dia pakai kain segitiga penutup bagian bawahnya saja.
" Gila! Pas sekali! " Ucap Marile setelah memakai kain penutup bagian bawahnya. Sengaja dia tidak mengganti kaos yang ia kenakan. Selain nyaman, dia juga sayang kalau harus memakai baju tidur yang sepertinya sangat mahal harganya. Soalnya saat Marile menyentuh tadi, bahan baju tidur itu sangat lembut, bahkan Marile sampai bergumam di dalam hati apakah bahan baju tidur itu terbuat dari tepung kering?
Sudah cukup lama Marile mondar mandir ke kanan dan ke kiri, dia juga lumayan lama berdiri di dekat jendela memandangi langit malam. Malam semakin larut, mata Marile juga sudah tidak bisa ditahan untuk terbuka lebih lama lagi. Masa bodoh saja kalau nanti Leo manusia dingin dengan tatapan tajam itu marah karena tidur di ranjangnya, karena dia tentu tidak mau tidur di sofa seperti drama pernikahan korban perjodohan yang sering ia tonton.
" Ah! Enak sekali, empuk! " Marile berguling kesana kemari hingga kaos yang ia gunakan tergulung ke atas dan memperlihatkan kain segitiga penutup bawahnya terlihat jelas.
" Tutup matamu! " Ucap Leo kepada si penjaga rumah yang bertugas mengawasi CCTV.
" Baik! " Segera pria itu berbalik dan menutup matanya. Ah, tapi dia sudah lihat tadi!
" Besok kamera pengawas yang menyorot tempat tidurku biarkan aku saja yang menghendlenya. " Ucap Leo dengan wajah datarnya.
" Baik! " Ucap pria itu lagi.
Tak lama datanglah Win, lalu segera Win membawa Leo kembali menuju kamarnya.
" Win, gadis itu gila ya? " Tanya Leo seperti biasa tak memiliki ekspresi, tapi kalau sedang menakuti seseorang, atau sedang marah, jangan tanya bagaimana seramnya dia.
Win tersenyum yang jelas Leo tidak mampu melihatnya.
" Dia sedikit gila, tapi dia orang yang baik, Tuan. "
Leo menghela nafas, padahal sudah di buat ketakutan, melihat wajahnya yang mengerikan juga sudah, tapi kenapa dia malah berguling-guling bahagia seperti tadi? Sialan! Kalau mengingat itu kenapa dia kesal ya? Tadinya sih saat Marile ganti baju dia sudah meminta penjaga yang bekerja di sana untuk berbalik badan, tapi saat dia baru kembali menghadap ke layar, Marile malah berguling-guling sampai bajunya tergulung ke atas dan bagian bawahnya jadi harus dilihat orang lain.
" Menurut mu apakah dia bisa bertahan? "
" Mungkin dia akan mengomel, tapi dia akan bertahan sampai akhir. "
Leo tersenyum miring.
" Kita lihat saja nanti, masih terlalu dini kalau meyakini kemampuannya. "
Win mengangguk setuju.
Tak lama setelah itu, Leo dan Win sudah sampai ke kamar. Tak lagi meminta Win untuk mendorongnya masuk, Leo menggunakan tangannya sendiri untuk menggerakkan kursi rodanya. Sebentar dia terdiam melihat bagaimana Marile tidur dengan sangat pulas. Bibirnya terbuka, bahkan sampai mendengkur meksipun tidak sekuat dengkuran laki-laki.
" Pemainan akan segera dimulai, kau hanya boleh menunjukkan seberapa berharganya dirimu, barulah kau akan tahu bagaimana rasanya di hargai olehku. "
Pagi harinya.
Marile tersentak kaget begitu membuka mata dan yang ia lihat adalah Leo dengan bekas luka bakar yang memenuhi wajahnya. Kaget? Ya iyalah makanya tadi dia tersentak, kalau di drama bangun tidur biasanya akan tersenyum indah memandangi wajah tampan pasangannya, tapi dia? Hah! Tidak kejang saat membuka mata saja sudah syukur dan bisa dibilang beruntung.
Tidak tahu kapan pria itu kembali, padahal biasanya Marile akan sangat mudah terbangun ketika mendengar suara di dekatnya. Oh, mungkin karena dia terlalu lelah sehingga tidak menyadari kedatangan Leo.
Tak mau mengganggu tidur Leo, Marile dengan hati-hati bangkit dari posisinya untuk menuju kamar mandi.
" Eh, kau sudah bangun? " Tanya Marile seraya berjalan mendekat.
" Butuh sesuatu tidak? Atau mau aku bantu untuk ke kamar mandi? " Tanya Marile. Sebenarnya dia agak heran juga sih, soalnya sekarang ini Leo sudah duduk di kursi rodanya. Apakah Win datang saat di mandi tadi? Oh, mungkin sih begitu!
Leo dengan tatapan mengincarnya tersenyum miring.
" Iya, aku ingin mandi. "
Marile menekan salivanya sendiri. Mandi? Ini mandi yang bagaimana maksudnya?
" Em, aku dorong kursi mu ke kamar mandi ya? "
" Bukan di dorong, tapi mandikan aku! "
" Apa?! " Marile menggigit bibir bawahnya dengan Rina merah menghiasi pipinya. Apakah ini ujian? Padahal usianya masih sangat muda, tapi kenapa serasa punya banyak bayi sih?
" Kau jijik? "
Marile membuang nafas, dan kini dia mulai memasang wajah sebal. Lagi-lagi asal menuduh saja! Apakah dia tidak tahu kalau seorang gadis polos masih perawan harus memandikan pria itu adalah ujian terberat di sepanjang masa?
" Siapa yang jijik?! Masa kau tidak paham juga sih? Aku ini melihat cucung laki-laki secara langsung saja belum pernah, sekarang aku harus memandikan mu? Kau mau membunuhku perlahan-lahan ya? "
" Mulai dari hari ini kau memang harus melakukannya. Mencuci kaki ku, mengelap tubuhku, memuaskan keinginanku, termasuk memandikan ku, juga bekerja untuk memberiku makan yang sehat. "
Marile menganga heran.
Aku ini istri atau janda satu anak sih? Aku ini menikah bukan untuk merawat, lalu harus bekerja demi kebutuhanmu! Tuhan, boleh robek mulut orang ini kah?
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
Wiwik Wardoyo
bagus thooorrr 👍
2023-01-05
0
wil wil
keren 👍👍👍
2022-10-25
0
Wetee
ngapa aku jadinya ngakak sih sama ceritanyaa, sangat menghibur sekali
2022-10-15
0