Ariel menghela nafasnya karena lelah menunggu Leo untuk sarapan. Ini sudah pukul tujuh, tapi pria itu malah sibuk entah apa yang dia lakukan di ruang kerjanya sepagi ini. Kesal karena Leo tak kunjung datang, akhirnya Ariel menyendok nasi untuk dirinya sendiri, dan juga sayur berikut lauknya. Tidak seperti sarapan orang kaya yang biasanya hanya akan memakan sandwich, atau roti bakar dengan sosis dan telur, karena Ariel tidak terbiasa dengan makanan seperti, dan lagi itu juga dirasa tidak mampu membuat perutnya kenyang.
Aduh, endulita sekali sarapan dengan ikan bakar, dan sayur capcai tanpa gangguan dari suami terlaknat, eh! Maksudnya suami teranunya lah pokoknya.
" Win, ikan di meja makan sudah kau siram dengan racun tikus kan? Sekarang berikan kepada tikus yang sering muncul di dekat kandang anjingku ! "
Brep!
" Uhuk! Uhuk! " Ariel terbatuk-batuk setelah menyemburkan makanan yang ia rasa nikmat sekali itu. Ariel melotot menoleh ke arah Leo yang menatapnya datar setelah mengatakan kata-kata mengerikan itu.
" Kau, jika aku mati di usia muda, demi Tuhan! Aku akan menghantui mu! Aku akan tidur di sampingmu dengan wajah pucat, aku akan mencekik mu saat tengah malam, aku akan mengatakan tembak aku dengan sangat mengerikan! " Kesal Ariel. Dia segera menjauhkan piring makanannya, bangkit dan berjalan cepat ke kamar mandi terdekat yang ada disana, lalu memuntahkan semua makanya dengan cara memancing dengan jari telunjuknya.
" Anda iseng sekali, Tuan. " Ujar Win keheranan.
" Salahkan saja dia yang terlalu bodoh, hanya kata-kata seperti itu saja dia sudah panik. "
Sepuluh menit kemudian, Ariel kembali dengan wajah lemas setelah berhasil mengeluarkan semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Lega? Tidak lah tidak! Karena begitu dia sampai ke meja makan, yang dia lihat adalah Leo dengan santainya menggerakkan sendok beserta garpu untuk megambil daging dari ikan bakar lalu dia suapkan ke mulutnya.
" Kau, kau makan ikan bakar?! " Tanya Ariel dengan tatapan kesal.
" Matamu tidak buta, kenapa harus bertanya? " Jawab Leo dengan santainya seolah dia tidak melakukan apapun yang bersalah.
" Kenapa tadi bilang ikan bakar ini diberi racun tikus?! "
Leo menaikkan satu alisnya dengan tatapan malas.
" Kapan aku bilang kalau ikan bakar di meja ini diberi racun tikus? "
" Tadi! Tadi kau mengatakannya! "
" Oh, coba kau ingat-ingat lagi. "
Ariel sebenarnya sudah sangat kesal, tapi coba dia sabar sedikit dan mengingat apakah benar atau tidak.
" Ah! Benar! Kau bilang begitu! "
Leo menghela nafas. Dia meletakkan sendok dan garpu nya, mengaitkan jemarinya lalu menatap Ariel.
" Hei, aku bilang ikan di meja. Jangan cepat mengambil kesimpulan, lain kali cermati dulu setiap kata, agar kau tidak salah paham dan melakukan hal bodoh. "
Ariel ingin membentak lagi, tapi sat dia melihat dua ikan segar di ujung meja makan, dia menahan kekesalannya sebentar.
" Tadi tidak ada ikan disana! "
" Sok tahu! " Ucap Leo seraya kembali mengambil sendok dan garpu yang tadi sempat ia letakan.
" Iya! Aku ingat! "
" Otakmu saja belum tentu ada, dari mana mau bisa ingat? " Jawab Leo santai.
" Kau, kau, kau " Ariel menatap amat marah tapi sebisa mungkin dia tahan agar tak berkata kasar.
" Apa? " Leo menatap seolah menanti ucapan yang pasti akan bertujuan untuk mengutuknya.
Demi Tuhan aku ingin menggigit mu! Bisa-bisanya mengatakan bawa aku tidak punya otak? Kau pikir kau ada? Kalaupun ada, otakmu pasti tidak bisa dibandingkan dengan cucung mu saat dia sedang tidur kan?
Kekesalan Ariel teralihkan dengan bunyi ponsel yang terdengar. Segera dia meraih ponselnya, lalu membaca pesan yang masuk. Sontak Ariel terlihat sedih, dia bahkan tak lagi terlihat ingin marah. Segera setelah membaca pesan itu dia berlari masuk ke dalam kamar.
" Pesan apa yang dia terima, Win? " Tanya Leo.
Segera win mengeluarkan ponselnya, lalu melihat pesan masuk ke Ariel yang terhubung kepada dirinya. Iya, sejak hari pertama Ariel masuk ke rumah itu sebagai istri dari Leo, semua akses terawasi dengan baik yang berarti ponsel Ariel sudah di sadap.
" Ikuti dia, undur semua sampai urusannya selesai hari ini. "
" Baik. "
Di dalam kamar Ariel kini tengah mengambil tasnya, lalu berlari keluar untuk menemui Ibunya yang sedang sakit di dalam penjara, dan sedang dirawat di sana.
" Mau kemana kau? " Tanya Leo.
" Aku ingin pergi ke penjara, Ibu ku sakit. "
" Ikut saja denganku, aku lewat sana. "
Ariel terdiam sebentar, lalu mengangguk setuju dengan cepat setelahnya.
" Non Ariel, ini bekal untuk anda. Tadi anda tidak sempat makan kan? " Win menyodorkan kotak makanan kepada Ariel.
" Tidak usah, aku tidak ingin makan. " Ujar Ariel yang sudah kadung panik.
" Bawa, kau akan membutuhkan itu. " Ucap Leo seperti tak terbantahkan. Segera Ariel menerima kotak makanan itu, lalu mengikuti Win yang sudah mulai mendorong kursi roda Leo untuk masuk ke dalam mobil. Ariel sama sekali tak mengatakan apapun, tangannya yang gemetar seperti sudah menjelaskan betapa takutnya dia saat ini. Leo, dia yang menyadari hal itu dengan segera menurunkan tangannya dan sengaja ia gesek kulit mereka seolah tidak sengaja. Ariel yang ketakutan langsung saja meraih tangan Leo dan menggenggamnya kuat-kuat.
" Jangan salah paham ya? Aku pinjam tanganmu! "
" Aku akan mencuci bersih nanti, pinjam saja sesukamu sekarang. " Ujar Leo, dan segera dia mengalihkan pandangan menatap ke arah jendela. Ah, dia malu-malu meong sampai merona. Win, dia hanya bisa tersenyum tipis. Meksipun dia tidak melihat secara langsung bagaimana wajah Leo karena dia duduk di depan, tapi dia yakin benar Leo tengah malu karena ucapannya tadi seperti mempersilakan tanpa mengurangi gengsinya untuk menutupi kebenaran dari kata hatinya.
Entah itu kebetulan atau apa, Presdir Nard mengirim pesan untuk datang siang karena keberangkatan ke luar kota akan di undur, jadi Presdir Nard memberikan waktu untuk istirahat sebelum jam keberangkatan.
Sesampainya di tempat dimana Ibunya di kurung selama ini. Leo juga ikut dengan berbagai alasan. Mulai ingin berkenalan dengan Ibu mertuanya, juga ingin melihat-lihat seperti apa yang namanya penjara itu. Aneh sih, tapi dari pada membuang waktu untuk berdebat, maka Ariel mengiyakan saja dan kini mereka berdua saja menemui Ibunya Ariel.
" Ibu? " Ariel berjalan menemui Ibunya. Sementara Leo menunggu karena petugas mengatakan untuk datang satu persatu.
" Ariel? " Ibunya Ariel yang bernama Maria itu perlahan bangkit dan memeluk putrinya.
" Maaf karena belum bisa mengeluarkan Ibu dari sini, tunggu sebentar lagi ya? "
Ibu Maria mengusap kepala Ariel dengan lembut.
" Tidak apa-apa, Ariel. Ibu hanya anemia, sebentar juga akan sembuh. "
" Ibu, aku datang dengan Leo, pria yang aku ceritakan kemarin, dia adalah pria yang menikah dengan ku. "
Ibu Maria terdiam sebentar.
" Minta dia untuk masuk, Ariel."
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
kuaci
sengaja bngt ya leo ngerjain ariel
2024-08-31
0
*k🎧ki€*
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-10-14
0
Sarini Sadjam
paling ulah ibu tirinya ibu nya aril masuk penjara
2022-10-11
0