Marile sebentar melirik mencuri pandang ke arah Presdir RC yang dikenal dengan Presdir Nard. Ah, entah kebetulan atau apa, tapi kenapa Marile malah jadi teringat dengan Leo? Nard? Kalau digabungkan akan menjadi Leonard kan? Ah, pasti cuma kebetulan saja, mana mungkin si Leo yang galak seperti raja serigala bisa disamakan dengan Presdir Nard yang sangat tampan dan cara bicaranya seperti pria yang ramah dan bersahabat.
Ah, semakin dilihat lebih sering memang semakin tampan sih. Eh, tapi ngomong-ngomong ini kenapa dia masih harus diminta untuk menunggu? Batin Marile heran. Bagaimana tidak heran, sudah tiga puluh menit, mungkin juga lebih dia duduk dengan patuh sesuai dengan yang diperintahkan Presdir Nard. Tidak tahu akan sepanjang apa pembicaraan mereka karena harus menunggu seperti ini.
Beberapa saat kemudian. Nard bangkit dari duduknya setelah menjauhkan laptop dan beberapa lembar Yang sepertinya sudah dia tanda tangani beberapa saat lalu. Dengan senyum menawan dia berjalan mendekati Marile yang duduk di ujung ruangan dengan tatapan gugup. Bukan karena senyum indah menawan yang semakin membuat pria itu semakin tampan, hanya saja pesonanya yang luar biasa malah membuat Marile jadi gugup dan takut.
" Maaf membuatmu menunggu lama. " Pria itu duduk berseberangan, berhadapan dengan Marile. Dia menaikkan satu kakinya untuk berjegang, duduknya juga terlihat amat keren seperti seorang model yang tengah berpose keren. Aduh, sayangnya dia sudah menikahi si brengsek yang luar biasa menyebalkan bernama Leo. Hah! Benar-benar terpesona hingga lupa kalau beberapa waktu lalu sudah disakiti oleh pria tampan. Oh, benar sekali! Pria tampan semacam Presdir Nard itu pasti punya banyak sekali wanita di hidupnya. Jadi akan lebih baik kalau menikahi si brengsek Leo yang cacat dan mukanya jelek, toh kemungkinan untuk dia selingkuh sangat tipis kan?
" Tidak apa-apa, Presdir Nard. " Kini Marile sudah lebih tenang dan santai karena sudah mulai terbuka pemikirannya.
" Senang bertemu denganmu lagi. " Ujarnya setelah lagi-lagi memamerkan senyum indahnya yang lagi-lagi ia munculkan dengan percaya diri.
" Ah, saya juga senang sekali. "
Tidak ya! Aku bohong loh!
" Kita mulai ke tugasmu saja ya? "
" Iya. "
Dari tadi aku juga maunya begitu!
" Pertama, pekerjaan mu adalah menjadi asisten ku. Menyiapkan segalanya yang aku butuhkan dalam urusan kerja, saat aku harus dinas keluar kota, bahkan keluar negeri juga kau harus ikut. Satu lagi, tidak boleh membantah semua perintah yang aku ucapkan. "
Marile menelan salivanya sendiri, ini sebenarnya aneh tidak sih? Pertama, bukanya ini seharusnya adalah tugas HRD? Kedua, sejak kapan seorang Presdir begitu repot-repot dengan urusan semacam ini? Apakah dia terlalu selektif? Apakah Presdirnya yang kurang kerjaan?
" Semua perintah Presdir, maksudnya yang bagaimana? "
" Apapun, misalnya saat kau memintamu mengambil bajuku, menyiapkan sesuatu yang aku butuhkan, ya semacam itulah contoh kecilnya. "
Hanya begitu saja? Gampang itumah!
'' Kalau begitu, oke! Saya setuju. "
" Bagus. Ngomong-ngomong, kau masih sendiri atau bagaimana? "
Marile sebentar berpikir, perlu tidak ya mengakui si mulut tajam itu sebagai suaminya? Huh! Mau bohong tapi kasihan juga, sudah tidak bisa berjalan, mukanya hancur kena kebakaran, sekarang istrinya tidak mau mengakui pula.
" Saya sudah menikah, Presdir. Dua hari yang lalu. "
Sungguh tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Presdir Nard, karena tak sengaja Marile melihat senyum tipis yang tertutup oleh kenari yang sebagian menutupi wajahnya. Apakah dia sedang mengira Marile berbohong? Apakah dia sedang memikirkan hal yang aneh? Hah! Bagaimana kalau dia adalah pria yang memilki keinginan lebih dengan seorang wanita bersuami?
Benar-benar harus dijauhi orang seperti ini. Aku harus berhati-hati, sepertinya pria ini bukan orang yang baik.
" Baiklah, gaji pertama mu akan di mulai dari dua digit, tapi kalau kinerjamu bagus, tentu digit di gaji mu juga akan bagus. "
Dua digit? Hah! Lupakan saja dia pernah memikirkan untuk menjauhi pria yang tak lain adalah Presdir Nard. Biarkan saja dia mesum sesuka hatinya, yang paling penting dia hanya boleh menjaga diri baik-baik agar tidak disentuh olehnya. Yah, itu sih kalau dia tertarik dengan wanita yang sudah memilki suami.
" Siap! Jadi mulai kapan saya harus bekerja? " Tanya Marile dengan wajah berbinar semangat. Iya, tentu saja dia semangat. Membayangkan dua digit membuat otaknya tengah melambung bahagia dipenuhi dengan rupiah yang berhamburan memenuhi dirinya.
Presdir Nard tersenyum, membenahi duduknya untuk lebih tegas lagi menatap Marile.
" Tanda tangani dulu kontrak kerjanya, baru aku beri tahu kapan kau bisa mulai kerja. "
Presdir Nard menyodorkan sebuah map yang sebenarnya sedari tadi sudah ada disana, hanya saja Marile tidak tahu jika itu berisi tentang kontrak kerjanya.
" Bacalah terlebih dahulu sebelum menandatangani nya. "
" Baik. " Dengan seksama Marile membaca satu persatu persyaratan yang disebutkan disana. Tidak ada yang aneh, hanya menyiapkan keperluan untuk dinas, membantu menggunakan dasi, dan juga jas. Menyiapkan pakaian ganti yang sudah tersedia di ruangan Presdir, memesankan makan, serta minuman. Mengikuti kemana Presdir Nard pergi, on time selama dua puluh empat jam dan siap setiap kali dihubungi untuk segera datang. Tidak boleh membantah, dilarang keras merokok saat di dekat Presdir Nard.
Ah, mudah sekali sih! Yang agak berat cuma on time saja. Tapi dua digit dari mana aku akan mencari gaji sebesar ini? Ah, yang penting kan bisa memberi makan bayi besar ku yang sadis bicara itu?
Setelah membaca keseluruhan, Marile meraih sebuah pena yang ada di sana, lalu dengan penuh keyakinan dia menandatangani surat kontrak itu. Heh! Entah bodoh atau apa, padahal masih ada satu lembar lagi yang belum dia baca. Tapi tidak apa-apa lah, kebodohan Marile diharapkan akan berlangsung lama, jadi semua akan berjalan lebih menyenangkan untuk keduanya.
" Selamat bekerja sama, Marile. " Presdir Nard menyodorkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Marile dan tentulah Marile menerima jabatan tangan itu dengan senyum cerah mengalahkan mentari di siang bolong.
" Semoga saya bisa bekerja dengan baik, Presdir Nard. " Marile saking bahagianya hingga menggerakkan tangannya ke atas dan kebawah dengan semangat. Dia jelas bisa melihat senyum di wajah Presdir Nard, tapi yang ia sangka itu adalah senyum untuk saling menghargai. Tapi sungguh dia tidak tahu bahwa tatapan Presdir Nard memiliki arti sendiri.
" Jadi, mulai kapan saya bekerja, Presdir Nard? "
" Hari ini. " Jawabnya seraya bangkit dari duduknya dan kembali ke meja kerjanya.
" Oh, jadi ruangan saya dimana? "
" Kau berjaga disini dulu, besok baru akan disiapkan meja untukmu di pojok ruangan. "
" Hah? Jadi saya satu ruangan dengan Presdir? "
" Iya, apa kau keberatan? "
" Tidak, tidak kok. "
Presdir Nard tersenyum miring seraya menatap laptopnya.
Bersambung
Boleh kasih komen kalau ada typo ya kesayangan....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
kuaci
itu si leo
2024-08-30
0
Faradita
aku merasa dia itu suami nya deh
2023-01-06
1
🦋stary🌼🌸🌼
pasti kaya gt.. dah lah ga heran lagi...
2023-01-03
0