Marile terdiam tak mampu berkata-kata, tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan kebenciannya terhadap dua orang yang duduk menatapnya dengan mimik sok baik di ujung sana. Sedikit melirik kepada pria yang duduk disampingnya sebagai mempelai pria. Dia tak bicara apapun, tatapannya nampak dingin dengan maksud yang tak bisa terbaca. Pria itu rupanya lumpuh terbukti dia hanya duduk di kursi roda, wajahnya juga di penuhi luka bakar yang lumayan parah.
Jujur, sebenarnya Marile memang takut dengan pria yang ada disampingnya dan sudah menjadi suaminya beberapa saat lalu. Tapi apakah Ayahnya beserta Ibu tirinya sengaja memilihkan calon menantu seperti ini untuk menghinanya? Marile kembali menatap Tuan Diro dan istrinya yang kini mulai sibuk menerima ucapan selamat, tidak tahu apakah semua tamu kini sedang menggunjing fisik pria yang sudah menjadi suaminya atau tidak. Tapi sepertinya cepat atau lambat berita pernikahannya ini akan segera tersebar luas.
Leonardo, atau biasa orang akan memanggilnya Mr. L. Pria yang katanya hanya duduk di kursi roda, jarang keluar dari rumah, bahkan bekerja juga selalu dari rumah. Tidak tahu akan jadi seperti apa pernikahan dengan orang asing seperti Leonardo, tapi setidaknya Marile bisa sedikit tenang karena sebentar lagi Ibunya akan bebas dari penjara.
" Win? " Panggil Leonardo, atau panggil saja dia dengan Leo seperti panggilan rumahannya.
Seorang pria yang selalu berada di dekat Leo memajukan beberapa langkahnya begitu Leo memanggil namanya. Sedikit menunduk dia mendekatkan telinga agar bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Leo.
" Segeralah minta orang itu untuk menyudahi pesta, kepalaku sakit terlalu banyak mendengar suara manusia. "
Ucapan Leo barusan rupanya juga di dengar oleh Marile. Sontak Marile menatapnya seolah keheranan. Pusing, sakit mendengar suara manusia? Apakah biasanya dia tinggal dengan hewan? Marile membuang pandangan karena tidak ingin pria itu mengetahui jika dia menatapnya sedari tadi.
Mimpi apa aku sampai harus menikahi pria ini?
Setelah Win mengatakan apa yang diperintahkan oleh Leo, tak lama pesta berakhir, dan dia harus segara pulang ke rumahnya sendiri.
" Nyonya silahkan ikuti kami. " Ucap Win yang tidak tahu siapa itu, tapi yang Marile lihat, Win adalah pria yang selalu berdiri di dekat Leo, Kemanapun juga dialah yang mendorong kursi roda Leo, dan melakukan apapun yang diminta oleh Leo.
Marile mengikuti saja kemana Win mendorong kursi roda Leo hingga sampai akhirnya mereka sampai di sebuah mobil mewah dan Win membantu Leo untuk duduk disana, kemudian Win mempersilahkan Marile untuk duduk di samping Leo. Tak banyak berkata, Marile langsung saja masuk dan duduk di samping pria bernama Leo itu.
Tak ada suara apapun selain hembusan nafas berempat dengan sopir. Marile sebenarnya juga sudah beberapa kali melirik untuk melihat bagaimana ekspresi pria yang duduk disebelahnya. Benar-benar tak bergerak hingga Marile keheranan sendiri. Apakah dia sama sekali tidak pegal dengan satu posisi saja?
Marile menghela nafas, dia kebingungan karena merasa aneh dengan suasana yang terlalu hening ini. Terus dia melakukannya karena berharap rasa bosannya akan menghilang.
" Berhentilah terus menghela nafas, itu sangat mengganggu telingaku. "
Marile yang baru saja akan menarik nafas kini terhenti dan membuang nafasnya pelan sebisanya agar tak mengeluarkan suara. Hah? Menghela nafas juga bisa mengganggu pendengaran ya?
Hampir satu jam mereka berada di dalam mobil menyusuri jalanan menuju sebuah rumah yang terlihat besar, kokoh, dan mewah. Memang bukan seperti rumah dengan banyak lampu-lampu bak hotel bintang lima, rumah itu terlihat mewah dan gagah karena desain klasik yang indah. Sebentar Marile menatap rumah itu sebelum masuk kedalam mengikuti langkah kaki Win, sungguh dia merasa takjub dengan rumah yang ditinggali Leo selama ini.
" Nyonya, anda dan Tuan akan tinggal di kamar yang sama, saya harap sebagai seorang istri anda bersedia membantu beliau melakukan aktivitas harian, anda juga tahu bagaimana keadaan Tuan kan? Jadi saya yakin anda tidak keberatan. "
Hah? Kepalamu! Aku menikah juga karena terpaksa, kau pikir aku datang kesini dengan suka rela agar menjadi babysiter Tuan mu ini?
" Duduklah! " Ucap Leo menunjuk pinggiran tempat tidur agar Marile duduk disana. Tak menjawab, tapi Marile segera mengikuti perintah Leo dan duduk disana tanpa bicara apapun.
" Bagaimana? "
Marile menaikkan pandangan, sebentar menatap Leo mencari maksud dari pertanyaan nya itu, tapi karena takut dengan wajah Leo yang menyeramkan, dia kembali menunduk dengan segera.
" Heh! Kau takut sekarang? Apa kau menyesal? Ingin lari? "
Mariel mengepalkan kedua tangannya, lari? Bukankah kalau dia lari Ibunya bisa saja tidak akan dibebaskan? Dan lagi, kemana dia akan lari? Dia mesti memastikan Ibunya bebas terlebih dulu baru bisa lari. Pria yang duduk di hadapannya memang menyeramkan, tapi akan lebih menyeramkan lagi jika harus melihat Ibunya terkurung di penjara seumur hidup.
" Kenapa aku harus lari? " Tanya Marile sok berani.
Pria itu tersenyum miring, sepertinya dia tahu benar jika Marile tengah berbohong dan berpura-pura. Tapi mau bagaimana lagi? Nasib ibunya ada ditangannya saat ini.
" Kau menyesal bukan? Kau pasti ingin lari kepada pria yang tampan bukan? Maka pergilah sana, pria tampan itu pasti menunggumu. "
Marile mengeryit mengingat wajah Bram. Iya, pria tampan idola gadis kampus itu nyatanya juga seorang pria brengsek. Sedangkan Ayahnya, sedari dulu, bahkan selama dipenjara Ibunya hanya menceritakan bagaimana ketampanan Ayahnya, kebaikan, juga senyuman manisnya yang membuat Ibu Marile terpikat hingga menjadi bodoh sampai sekarang ini.
Perlahan Marile menaikkan tatapan matanya menatap sepasang bola mata yang memancarkan kesan dingin seolah si pemilik bukan orang yang mudah untuk di dekati. Marile mencengkram kain gaun pernikahan yang masih melekat ditubuhnya, matanya semakin yakin menatap pria yang wajahnya sangat hancur itu.
Pria yang tampan adalah pria bajingan, jadi lebih baik seperti ini saja, toh tidak akan mungkin ada wanita yang mau dengannya kan?
" Aku mau tetap disini. " Ucap Marile dengan sorot mata yang menunjukkan betapa yakinnya dia dengan ucapannya barusan.
Pria itu semakin menajamkan matanya, dia mengarahkan kedua tangannya dan mengaitkan jemarinya tepat di dadanya.
" Pergilah selagi aku mengizinkannya. "
Marile menghela nafas panjangnya, padahal sudah dibilang tidak mau, tapi pria itu sedari tadi berbicara seolah sengaja ingin membuat Marile tertekan dan lari. Heh! Dia pikir cukup menakuti Marile dengan tatapan tajam dan wajah penuh luka bakar? Tentu saja tidak!
" Kau masih tidak ingin pergi? Apa kau mau melihat tubuh penuh luka setiap hari? Akan ku beritahu padamu, bekas luka ini kadang-kadang akan mudah tergores dan berdarah, jadi kau tahu betapa menjijikan nya itu kan? "
Sudah cukup, Marile tidak tahan Lagi dengan pria bernama Leo yang terus mengusirnya dengan kata-kata menakuti.
" Aku peringatkan padamu ya, Leonardo! Aku ini istrimu, baru saja beberapa jam kau nikahi, sekarang kau suruh minggat! Sudah ah! Aku tidak ingin bertengkar, aku mau mandi, dan lebih baik jangan mengusirku dengan menakutiku lagi! "
Di depan pintu, Win tersenyum tipis sembari membatin, anda lolos ujian pertama, Nyonya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
kuaci
yeay lolos ujian
2024-08-30
0
oncom
bener wkwk
2024-07-02
0
Marhaban ya Nur17
kaya e cacat n mejijikan tuh boongan deh 😁 aslinya mh cakep ini mh lagian ekting doank biasa e gtu
2023-05-17
1