Marile meletakkan tas nya di lemari yang ada disana. Ini adalah hari pertama dia bekerja, meksipun tidak melakukan apapun, nyatanya dia tetap saja merasa lelah. Sebentar Marile menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur karena tidak sanggup lagi walau hanya berjalan ke kamar mandi. Bukan lelahnya yang membuat tidak sanggup, tapi malasnya yang mengunci dirinya agar tak berdaya melakukan apapun.
Setelah cukup lama Marile mulai kembali bangkit. Ah, dia sampai melupakan si pemilik rumah yaitu Leo, bisa-bisanya dia sesantai ini? Ngomong-ngomong kemana orang itu? Padahal ini sudah pukul sembilan malam, kemarin kan dia kembali ke kamar pukul setengah delapan. Kalau tidak salah lihat juga, dia sempat melihat Win keluar rumah dengan tas besar, mau kemana? Lalu dimana bayi besarnya? Tumben sekali Win pergi sendiri, ah! Apa Win akan minggat?! Oh, lantas saja dia membawa tas besar. Marile mengangguk-angguk sok paham dan sok iya saja dengan pemikirannya yang belum tentu juga benar.
Suara pintu terbuka, dan Marile sukses kembali dari angan-angannya yang sedari tadi sempat melalang buana sebentar menebak-nebak barang kali dia memiliki insting yang kuat, kalau nanti dipecat kan bisa mencoba menjadi detektif. Eh, baru saja punya niat ingin jadi detektif, malah sekarang Win ada di hadapannya sembari mendorong bayi besarnya yang seperti biasa, wajahnya yang dingin, sorot mata seperti ingin menghancurkan bumi dan seisinya itu belum berubah.
" Kau baru pulang? " Tanya Leo, jangan lagi tanya bagaimana ekspresi nya, pokonya sudah jelas sepertu kemarin saja lah.
" Tidak sih, mungkin sudah dua puluh menit yang lalu. "
" Ganti! "
" Apanya? Alasannya? Atau kau mau gati baju? Apa mau ganti wajah? Oh, apa ma ganti istri? "
" Ganti sprei nya. "
" Hah?! " Marile menatap bingung, tapi juga kesal.
" Kotor, dan berantakan. Aku bukan gembel yang bisa tidur disana. "
Marile menghela nafas, dia tidak ingin bertengkar, bukan karena mulutnya pegal, tapi dia takut akan cepat mati karena darah tinggi, jadi cukup saja bernyanyi di dalam hati dan tidak usah terlalu dimasukkan ke hati.
" Oh, laksanakan, yang mulai raja agung Leo! " Marile bangkit dari posisinya dan sudah akan bersiap melepas seprei, tapi lagi-lagi Leo mengeluarkan satu kata yang membuatnya tidak bisa tahan lagi untuk tidak mengumpat kesal.
" Mandi! "
Mandi? Matamu sini yang aku mandikan!
Marile menjauhkan tangannya dari sprei, berjalan mendekati Leo, lalu mulai melepas kemejanya Leo.
" Mandi dan bersihkan dulu tubuhmu sebelum mengganti sprei, percuma sprei nya diganti kalau yang mengganti kotor, karena pasti sprei itu akan kotor juga. "
Puji dewa sejagad raya! Astaga naga! Apakah harus menunggu Marile salah melakukan perintah baru bisa berbicara panjang lebar seperti barusan?! Hah? Ayo katakan, Tuhan!
Mandi? Ganti? Lepaskan! Otak siapa yang begitu jenius sehingga bisa menempatkan satu kata itu dengan kegiatan yang sesuai dengan keinginan Leo?!
Marile segera menjauh dari Leo, masa bodoh saja dengan kancing yang sudah terbuka beberapa. Dia tak mau banyak bicara, segera dia berjalan untuk menuju kamar mandi, tapi lagi-lagi ucapan Leo membuatnya harus menunda kegiatannya itu.
" Sepatu! "
Oh, mau aku tabok pakai sepatu mukamu hah?!
Marile menyimpan dulu kekesalannya, lalu sebentar dia melihat sekeliling, dan benar saja sepatu miliknya berantakan. Marile berbalik sebentar untuk memungut sepasang sepatu miliknya untuk dia letakan ditempatnya.
" Aku bilang, lepas sepatuku! "
Astaga! Memang terkutuk si Leo kurang ajar itu. Kapan woi kau bilang lepas sepatuku? Hah?! kapan?! Jelas-jelas tadi hanya mengatakan satu kata saja yaitu, sepatu! Benar-benar sakit kepala kalau melayani si Leo itu.
Sepertinya besok aku harus kursus ilmu kebatinan deh.
Segera setelah melepaskan sepatunya Leo, Marile segera bangkit untuk mandi, ah! Masa bodoh saja dengan Leo yang terus memanggilnya entah apa yang ingin dia perintahkan lagi.
Benar-benar nikmat sekali mandi dengan begitu lama, tentu dia sengaja karena tidak ingin bertemu dengan Leo lebih cepat, karena sudah pasti manusia bermulut jahanam itu akan terus memerintah dengan kata tidak lengkap.
" Kau mandi atau semedi? "
Heh! Benar-benar tidak pernah kehabisan energi mulut si Leo itu. Marile memaksakan senyumnya, menatap sebentar tapi segera dia beranjak menuju meja rias untuk mengeringkan rambut. Untungnya dia sudah memakai baju ganti di dalam sana tadi, jadi bisa segera mengerjakan apa yang diperintahkan bayi besarnya.
Mengganti sprei, lalu membereskan apa yang ia lihat berantakan. Sebentar Marile melihat ke arah Leo yang sedang berusaha melepaskan kemejanya, tidak tahu bagaimana orang itu bisa tumbuh besar, membuka kemeja saja tidak bisa, batin Marile menggerutu. Segera Marile berjalan mendekat, mengambil alih apa yang sedang Leo kerjakan. Masa bodoh saja lah, melihat tubuhnya yang menggiurkan, cucung nya yang besar adalah hal yang bukan hanya sekali dia lihat. Entah parfum yang digunakan Leo itu pasaran atau bagaimana, rasanya seharian ini parfum itu seperti selalu ada dimana dia berada.
" Mandikan aku! "
" Jangan, nanti kalau kau rugi bagaimana? "
" Kau sedang meledek? "
" Tidak juga sih, aku hanya merasa berdosa saja kalau menatap tubuhmu yang sangat sempurna luar biasa tidak tertandingi bahkan atlet binaragawan juga tidak bisa dibandingkan dengan tubuhmu. "
Leo tersenyum miring, jelas sekali kalau Marile menahan kesal, tapi sepertinya memang menyenangkan bermain-main dengan Marile.
" Hari ini aku ingin dimandikan. " Ujar Leo memancing lagi.
" Mandi ya mandi saja! Ayo aku mandikan! Pokoknya jangan salahkan aku kalau ada bagian yang tidak seharunya tersentuh jadi terluka. "
Leo tersenyum miring.
" Kau pikir kau bisa menyakitiku? Kalau begitu lakukan saja, tapi kau akan tahu kalau konsekuensi dari melukai ku sama saja seperti membunuh seorang presiden. "
Matamu yang mana begitu percaya diri menyamakan mu dengan orang sepenting presiden?
" Baiklah, maafkan aku yang mulia raja Leo, sekarang kita pergi mandi dulu! "
" Tidak usah, aku takut kau terlalu tergoda saat melihat punyaku berdiri nanti. "
Hah?! Kenapa sih orang bisa memiliki kepercayaan diri berlebihan, kalau ibarat air di dalam bak, sepertinya air itu sudah luber kesana kesini membuat becek disekitarnya.
" Maaf saja ya raja Leo yang terhormat, aku meksipun sangat gila karena ditinggal selingkuh oleh matan pacarku, sampai detik ini aku belum membayangkan akan ewita, apalagi ewita denganmu yang sangat judes ini. "
Leo sebenarnya ingin tertawa, tapi lagi-lagi dia tahan. Biar bagaimanapun dia juga tidak mungkin tertawa lepas di depan Marile.
" Itulah kenapa lebih baik berhati-hati dengan wanita yang tidak jujur sepertimu. Sekarang bilang tidak, tapi saat melihat secara langsung akan menggila dan melahap dengan ganas. "
Gila! Tunjukkan saja kalau itu mu bisa bangun! Kaki saja tidak bisa bergerak, masih saja menggoda wanita dengan cara aneh seperti ini!
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
kuaci
hiburan baru bt leo
2024-08-30
0
Aya Vivemyangel
Ngakak woyy 😂😂😂😂😂
2023-02-13
0
🦋stary🌼🌸🌼
haduh gimn ya klo yang namanya ewita dipake tp arti nya yang iya iya...
2023-01-05
0