" Udang! "
Marile yang baru akan menyuap makanannya terpaksa harus menundanya kala mulut Leo menyebut kata udang! Ah, tidak tahu lagi maksudnya apa coba? Udang? Udang apakah dia mau udang, atau dia mau bermain-main dengan udang goreng yang ada di hadapannya?
Marile bangkit dari duduknya, dia megambil udang lalu meletakkan beberapa di piring Leo, setelah itu baru dia kembali duduk ke kursinya untuk melanjutkan sarapan yang bahkan mulai saja belum tadi.
" Aku muak bau udang, bukan minta udang! "
Jabang bayik! Marile ingin sekali rasanya melempar sendok kepada Leo si manusia bermulut manis, manis sekali seperti madu tapi madu beracun dari racun ular kobra. Setelah membuang nafas kasarnya, Marile bangkit dan mengambil udang yang tadi ia taruh di piring Leo.
" Sayur! "
Karena melihat sayuran di piring Leo saat sedang menyingkirkan udang dari sana, maka Marile berpikir bahwa Leo juga tidak menginginkannya jadi menyingkirkan sayuran itu juga. Selsai, Marile kembali duduk untuk mulai sarapannya. Sayang, sayang sekali mulut sialan Leo lagi-lagi terbuka dan suara menyebalkan keluar dari sana.
" Siapa yang memintamu menyingkirkan sayurnya? Aku meminta sayurnya ditambah! "
Aduh! Kalau begini lama-lama apakah tidak lebih baik kalau dia tewas saja?! Jadi kapak dia bisa sarapan ini? Kapan juga bisa berangkat bekerja kalau waktunya habis untuk melayani pria menyebalkan itu?
Marile kembali bangkit lalu meletakkan banyak-banyak sayuran di piring Leo. Tahu akan protes lagi saat dahi Leo mengeryit, dengan segera Marile menyendok nasi beserta sayur, menekan wajah Leo agar menerima suapan darinya.
" Makan tinggal makan banyak sekali maunya! Kalau mual dengan udang kenapa minta udang?! Lagi, hanya mengatakan udang! Sayur! Sudah diberi tahu berkali-kali kalau aku bukan Roy Kimochi, tapi tetap saja tidak paham! Yang mau sarapan itu juga bukan hanya kau saja, kau kan bilang sendiri kalau aku harus memberimu makanan harus pula yang sehat. Jadi jangan banyak bermain kosa kata karena babu mu ini, maksudku istrimu ini harus mencari uang! " Kesal Marile sembari menyuapakan nasi kepada Leo. Masa bodoh dengan mata tajam dan ia mengeryit seperti tidak suka dengan perlakuan Marile, tapi anehnya dia juga menelan saja makanan yang dimaksudkan kedalam mulutnya oleh Marile.
Win, pria yang kini berdiri di ujung ruangan hanya bisa menahan tawa dengan senyum tipis yang terbit dari bibirnya. Tidak diangka kalau ada juga yang berani memperlakukan Tuannya yang begitu dihormati dengan cara seperti ini. Sebenarnya kalau dilihat-lihat lagi Marile memang memiliki keistimewaan sendiri hingga tanpa sadar dia seringkali memikat lawan jenis dengan cara yang alami.
" Kenyang? Masih mau lagi tidak? "
Leo mengambil kain lap yang tentu saja itu bersih, dia menyeka bibirnya dengan tatapan sebal.
" Lain kali kau tidak boleh mengomel seperti itu padaku! " Leo melemparkan kain lap bekas mulutnya kepada Marile yang dengan gelagapan menerimanya.
" Itu hadiahku darimu. " Ucap Leo kalau memberikan kode kepada Win untuk membawanya pergi.
Dengan tatapan jijik, dan cara memegang yang jijik juga, Marile mengangkat kain lap itu dan mencari letak istimewanya hingga kain kotor bekas mulutnya tadi pantas disebut hadiah.
" Dilihat dengan dengkul mungkin baru bisa dibilang hadiah, dasar sableng! Kalau mau memberiku hadiah tentu ya cukup saja jangan bermain kosa kata, bicara saja yang benar dan lengkap. Segala ingin memberi hadiah, tapi yang diberikan hadiah malah jadi jengkel. Huh! Ambil saja tuh hadiah aneh mu! Mamam tuh kain lap sampai kenyang! " Gerutu Marile seraya membuang kain lap itu menjauh darinya.
Win, lagi-lagi tersenyum tipis saat dia berjalan bersama dengan Leo meninggalkan meja makan.
Cuma anda saja wanita yang menolak kain lap bekas bibir Tuan Leo, Nona Marile.
" Kau lihat dia Win? Dia menyebalkan dan suka mengomel. "
Win tersenyum, lalu mengangguk setuju.
" Nona Marile memang suka mengomel, tapi aku tidak lihat Tuan merasa sebal, jadi aku tidak yakin apakah Nona Marile menyebalkan atau tidak. "
" Win, apa yang aku katakan berarti? "
" Berarti benar, Tuan. " Ujar Win mengalah.
" Jadi jangan mengelak ucapan ku. "
" Mudah-mudahan kalau tidak khilaf. "
" Kau tidak boleh ada waktu untuk khilaf! "
" Ah, semoga saja. "
" Jangan ambigu! Iya atau tidak sudah jelas maknanya. Aku tidak suka yang tidak jelas. "
" Ah, baiklah kalau begitu. "
" Tetap saja ambigu nada bicaranya. "
Terserah Tuan saja deh.
Setelah selesai sarapan, Marile segera kembali kemar untuk mengambil tasnya dulu sebelum berangkat untuk bekerja. Leo, tidak tahu kemana pria itu pergi, yang jelas karena tidak ada di kamar jadi ya nanti meninggalkan kesan kepada satpam saja bahwa dia sudah berangkat untuk bekerja.
Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk menuju perusahaan RC, dan sekarang Marile sudah sampai disana.
" Selamat pagi? " Sapa Marile kepada penjaga pintu ruangan Presdir karena dia akan. kerja satu ruangan dengan Presdir, jadi dia tentu akan masuk kesana.
" Selamat pagi juga, Asisten Marile, silahkan masuk. " Ucapnya setelah membukakan pintu untuk Marile.
Sebentar Marile mematung senang melihat sebuah meja lengkap dengan kursi, ada juga sebuah laptop disana. Iya! Itu pasti tempatnya untuk bekerja kan? Tidak masalah deh di ujung ruangan seperti kuman, toh intinya dia berada di ruangan Presdir yang sangat luar biasa bagusnya.
Segera Marile meletakkan tas yang ia pakai ke meja kerjanya, mulai membereskan tempat yang ia lihat masih agak berantakan. Mengelak meja, kaca, juga beberapa benda yang ada disana. Hampir dua puluh menit, hingga akhirnya Presdir Nard datang.
" Selamat pagi, Presdir Nard? " Sapa Marile seraya membungkuk hormat.
" Selamat pagi juga, jangan terlalu sopan, aku tidak terlalu biasa. "
Marile membulatkan matanya karena dia terkejut. Bukan karena ucapan Presdir Nard, tapi tangan Presdir Nard sempat memegang kepalanya dan sebentar mengacak rambutnya. Oh my God! Apakah dia terbiasa sembarangan main sentuh seperti sekarang ini? benar-benar berbahaya sekali ya rupanya orang tampan. Sudah pasti kan kalau bukan hanya Marile saja yang pernah diperlakukan begini?
" Marile, untuk jadwalku tolong kau minta dari Arumi, dan sekalian minta Arumi mengajarimu terlebih dulu. Jam makan siang baru kau kembali, kita makan siang di sini saja. "
" Iya. "
Makan siang? Orang ini terlalu ramah atau bagaimana sih? Apa dia itu tidak bisa berpikir kalau perlakuannya yang seperti ini akan membuat orang lain salah paham? Duh Gusti! Presdir Nard pasti adalah pria Casanova seperti yang ada di drama, novel romansa, dan juga komik romansa kan? Gila! Cucungnya kira-kira sudah makan berapa banyak donat ya? Hah! Gila! Gila! kenapa aku mala memikirkan hal menjijikkan seperti ini sih?!
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
Neng Alifa
banyak makan timun biar gk darting /Facepalm/
2025-01-11
0
kuaci
ya ampun marile pikiranmu kmn2
2024-08-30
0
Mama Pesek
aduuuuhhhh....!sakit perutku, ngakak dari tadi 🤣🤣🤣
2023-08-11
0