Cukup lama Ibu Tiri membujuk Tuan Diro agar menyetujui usulannya dengan menggantikan Marile sebagai mempelai wanita bagi pria cacat yang awalnya akan dinikahkan dengan Sephora. Awalnya memang sempat Tuan Diro menolak karena kakek dari pria cacat itu menginginkan anak sulung, sementara anak bungsunya akan dijodohkan dengan keponakan pria cacat itu. Kalau begini dengan siapa keponakan pria cacat itu dijodohkan? Apalagi Sephora terus merajuk dan meminta agar dinikahkan dengan Bram. Sebenarnya tidak masalah juga karena keluarga Bram adalah orang berada, tapi Tuan Diri masih mempertahankan perjanjian nikah bagi dua anaknya yang sudah disetujui bersama kakek dari si pria cacat itu. Setelah satu jam berdiskusi dan saling tegang otot, Tuan Diro akhirnya mengalah dan menyetujui usulan istrinya itu.
" Panggil Marile, kita bicara sekarang saja. "
" Kau tahu bagaimana mengancam dia kan? " Tanya Ibu tiri memastikan.
" Tahu, dia tidak akan mungkin bisa menolak, jadi cepat panggil dia. Kita tidak punya banyak waktu karena tiga hari lagi pernikahan harus segar dilangsungkan. " Tuan Diro menghela nafas, lalu segara bangkit dan bersiap.
Marile terdiam menatap Tuan Diro dan Ibu tirinya yang duduk bersebelahan. Sejenak Marile membuang nafas bersiap karena pasti sepasang mahkluk langka itu akan memberikan kepusingan tersendiri untuknya. Kalau tidak memberikan masalah, lalu untuk apa lagi sepasang makhluk langka itu memintanya untuk duduk diruang keluarga seperti seorang terdakwa yang akan di interogasi?
Tuan Diro juga sebentar menatap Marile yang sangat berbeda seperti sebelumnya. Entah apa yang membuatnya berubah hampir seratus delapan puluh derajat, tatapan matanya yang terlihat berani, seperti sedang menghitung dendam yang akan siap untuk di balas kan, apalagi saat dia melihat senyum tipis penuh kebencian, rasanya jiwa seorang Ayah tersakiti secara tidak langsung.
" Kau harus bersiap, tiga hari lagi kau akan menikah. "
Gila! Kalimat paling gila yang pernah Marile dengar adalah kalimat yang keluar dari mulut laknat Ibu tirinya barusan. Apakah menikah bagi wanita itu adalah sebuah permainan anak-anak? Apakah dia adalah badan tanpa nyawa yang bisa di atur sesukanya? Marile memejamkan mata sebentar sembari membuang nafas, perlahan dia menaikkan tatapan matanya menatap sepasang mata tajam melebihi tajamnya silet, mata milik Ibu tirinya yang sangat dia ingat jelas bahkan di dalam kegelapan sekalipun.
" Bagaimana kalau nikahkan saja Sephora? Kasihan anak itu, belum menikah tapi sudah bekas orang banyak. "
Ibu tiri melotot marah, sudah biasa tentunya tatapan seperti itu bagi Marile, tapi Marile yang sekarang sama sekali tidak merasa takut. Mungkinkah bisa dibilang dia sudah kebal? Tidak tahu juga, tapi setelah bertemu pria asing kemarin, Marile terus mengingat kata-kata yang keluar dari pria itu, hingga keberanian yang tumbuh dihatinya semakin menggunung tak terkalahkan lagi oleh secuil ketakutan seperti sekarang ini.
" Jangan asal bicara! Sephora hanya melakukan itu dengan Bram! " Bentak Ibu tiri yang tidak terima anaknya di bicarakan dengan kalimat yang buruk. Aneh ya? Padahal dia sangat suka menghina dan mengatai Marile, tapi sudahlah! Orang seperti itu tidak akan sekalipun paham akan ucapannya sendiri, dan tidak akan Sudi dengan bagaimana besarnya kesalahan yang ia lakukan.
" Iya, iya Sephora yang maha suci itu selalu benar, dan aku yang selalu salah deh. Sudah senang belum? "
" Marile, dari mana sikap buruk mu ini berasal? " Tanya Tuan Diro dengan tatapan tajam.
Sebentar Marile tersenyum, dia sungguh kehabisan kata-kata. Padahal dia ingat dengan jelas bagaimana Sephora begitu kasar, bahkan memukul di hadapan Ayahnya juga pernah beberapa kali dia lakukan. Kenapa begitu dia tidak sopan justru terlihat seperti baru saja menampar seorang presiden dan wajib dihakimi? Ingin tertawa dengan kebodohan Ayahnya, tapi dia tidak Sudi mengeluarkan tenaga untuk itu. Sudahlah, biarkan saja dia mau bicara apa, sekarang kembali ke masalah pernikahan.
" Aku mau kembali ke kamar, masalah pernikahan bagaimana kalau Ibu tiri saja yang menikahinya? Sephora kan tidak mau, aku juga tidak mau. "
" Marile, jika kau ingin Ibumu bebas dari penjara, maka terima saja pernikahan ini. "
Marile yang tadinya sudah berdiri akan meninggalkan ruang tamu terpaksa berhenti dan mendengar kalimat itu. Dengan tatapan menyelidik juga tajam, Marile menatap mata Tuan Diro mencari kebenaran dari ucapannya tadi.
" Aku akan membebaskan Ibumu, dua hari setelah pernikahan mu selsai. "
Marile mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal menahan kebencian yang semakin dalam untuk Ayah kandung serta Ibu tirinya. Kenapa tidak dari dulu saja Ibunya dibebaskan kalau mereka punya cara untuk membebaskannya? Kenapa harus menunggu dua belas tahun membiarkan Ibunya mendekam di balik jeruji besi yang dingin. Marile tergiur dengan tawaran itu meski tak mengurangi kemarahannya, dia diam dan pergi begitu saja meninggalkan ruang keluarga.
" Dia tidak bicara, bagaimana ini? " Tanya Ibu tiri yang panik. Sebenarnya sayang juga kalau pernikahan itu dibatalkan, karena seserahan dari pria cacat itu sangat banyak. Uang senilai dua miliar, emas batangan dua kilogram, berlian sebagai cincin pernikahan, bahkan juga menjanjikan kerja sama bisnis dengan ikatan keluarga. Memang benar-benar sangat disayangkan karena pria muda dan kaya itu malah cacat, bahkan katanya juga tidak pernah lepas dari kursi rodanya.
" Dia setuju, itulah kenapa dia tidak mengatakan apapun. Kita siapkan saja apa yang perlu kita siapkan mulai dari sekarang. " Ucap Tuan Diro dengan wajah datarnya.
Ibu tiri tersenyum begitu puas, benar-benar berjalan sesuai dengan yang dia harapkan. Dia akan segera mendapatkan hantaran yang begitu banyak, lalu putri kandungnya Sephora juga akan menikahi Bram yang juga dari keluarga kaya raya, pastilah saat menikah nanti hantaran yang akan diberikan keluarga Bram akan tidak kalah dari hantaran dari pria cacat itu kan? Membayangkan itu benar-benar dia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum bahagia.
Brak!
Marile menghempaskan tumpukan buku miliknya ke lantai dengan tatapan marah, nafasnya menderu dengan dadanya yang naik turun kuat karena menahan kesal juga membuatnya lelah.
" Padahal punya cara untuk membebaskan Ibuku, kenapa mereka membiarkan Ibuku dipenjara? Brengsek! Jadi kalian menahannya untuk mendesak ku? "
Bugh!
Marile memukul tembok dengan mata memerah, bahkan dia menitihkan air mata kemarahan juga kekecewaan yang baru kali ini dia rasakan seumur hidupnya. Sekarang harus menikah, tidak tahu siapa yang akan dinikahi, mungkinkah seorang bandot tua? Heh! Benar-benar hanya bajingan yang akan melakukan ini.
" Kalian semua, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia lebih lama lagi. Aku pastikan kalian membayar semua perbuatan kalian dengan sakit berkali-kali lipat dari yang aku dan Ibuku rasakan. "
Marile bangkit dari posisinya, dia menatap dirinya melalui pantulan cermin yang menghadap padanya. Jika itu adalah pria tampan yang banyak istri, maka Marile hanya perlu melakukan apa yang bisa ia lakukan. Ayahnya adalah pria yang tampan, tapi dia bajingan. Begitu juga dengan Bram, jadi akan lebih baik menjaga hati dari pria tampan yang menjijikan baginya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
Neng Alifa
gpp pake kursi roda dan jelek yg pnting kaya.bisa balas dendam wkwkw
2025-01-10
0
kuaci
semangat marile
2024-08-30
0
Pisces97
maka berhati² sama pria tampan tidak banyak pria tampan itu setia ckckck 😂
2022-11-26
2