Marile menelan salivanya sendiri karena merasa heran, sekaligus bingung. Presdir Nard, pria yang katanya tidak suka tersenyum, banyak bicara dan tidak sembarangan orang bisa dekat rupanya tidak seperti yang dia lihat. Pria tampan bertubuh indah yang sepertinya kalau dicicipi indehoi rasanya malah seperti pelayan yang tengah memanjakan tuannya.
" Kau suka udang? " Tanya pResdir Nard. Entah mabuk apa orang itu karena sedari pertama kali mereka bertemu tak sekalipun Presdir Nard terlihat dingin seperti yang tiga ****** korek itu gosip kan. Tahu apa yang sedang dilakukan Presdir Nard sekarang? Dia sedang mengambilkan makanan untuk Marile, makan di meja yang sama dengannya, bahkan Marile sempat gugup karena seperti seorang istri yang sedang dilayani oleh suaminya. Ah, maksudnya suami yang sedang dilayani oleh istrinya saat makan.
" Marile? "
" Em?! " Marile menatap Presdir Nard karena terkejut saat dia tersadar dari lamunannya.
" Kau suka makan udang tidak? " Tanyanya dengan senyum indah, Ah..... bagaimana ini? Marile benar-benar merinding melihat senyum indah itu, apa tidak bisa ya jangan murah senyum seperti itu? Atau lebih baik kalau apa yang dikatakan tiga pentol korek itu benar adanya saja.
" Udang? I iya. "
Presdir Nard meletakkan beberapa ekor udang di piring Marile, lalu mengajaknya untuk segera makan siang. Tak ada obrolkan apapun, mereka khusuk makan siang karena Marile pikir akan lebih baik kalau tenang saja seperti ini.
" Marile, besok kita kan ada dinas keluar kota, tolong siapkan semua kebutuhanku ya? Kau datang ke apartemenku, siapkan pakaian dan barang-barang yang aku butuhkan. " Ucap Presdir Nard setelah makan siang mereka selesai.
" Baik, Presdir Nard. " Jawab Marile patuh. Segera setelah itu Marile membereskan bekas makan mereka, membuang bungkusnya keluar karena tempat sampah untuk barang semacam itu ada di luar, setelah itu dia kembali dengan membereskan sisanya, lalu mengelap meja makan dia rasa bersih.
Presdir Nard, pria itu menyembunyikan senyum tipisnya yang penuh dengan maksud.
Hari sudah sore, dan ini adalah waktunya untuk Marile pulang ke rumah. Rumah? Iya rumah suaminya yang sangat baik hati, berbudi luhur, bermulut manis, tatapannya sangat hangat, cara bicara yang sangat elegan, uh! Seandainya saja benar begitu, Marile siap saja deh kalau harus sungkem pagi siang malam. Tapi sebelum pulang kerumah, Marile harus datang ke apartemen Presdir Nard dulu untuk menyiapkan keperluan pria itu. Marile membuang nafasnya terlebih dulu sebelum mengambil ponselnya karena Presdir Nard mengirim alamat apartemen ke ponselnya.
" Oh, ternyata sangat dekat dengan kantor ya? " Gumam Marile setelah memasang GPS untuk mencari keberadaan apartemen milik Presdir Nard. Tidak perlu naik angkutan umum, apalagi naik taksi, cuma berjalan sebentar saja sudah pasti akan segera sampai, jadi Marile tak membutuhkan ongkos dan bisa sedikit lebih ngirit lagi.
Sepuluh menit kemudian, sampailah Marile di sebuah gedung tinggi, dan di sanalah apartemen milik Presdir Nard. Sempat ternganga kagum melihat elitnya bangunan apartemen itu, tapi karena malu juga berlama-lama mengagumi keindahan gedung yang tidak ada gunanya juga untuknya. Segera Marile masuk ke dalam, setelah melalui beberapa prosedur, akhirnya Marile di izinkan masuk kedalam, dan entah mengapa juga semenjak resepsionis apartemen mendapatkan telepon, Marile sudah diberikan izin keluar masuk ke apartemen dua puluh jam tanpa batasan apapun.
" Kok aku deg-degan ya? Padahal mau masuk ke apartemen mewah, tapi kenapa seperti ingin masuk ke sarang macan? " Gumam Marile seraya menelan tombol lift untuk menuju ke lantai tiga puluh enam. Ini sungguhan dia tidak bisa berhenti berdebar, apakah karena ini kali pertama dia masuk ke bangunan apartemen mewah? Mungkin saja lah ya, jadi Marile sudah tidak ingin lagi banyak berpikir berlebihan.
Setelah sampai di apartemen milik Presdir Nard, segera Marile menekan kode akses seperti yang sudah diperintahkan pria itu, lancar! Semuanya sangat lancar hingga Marile merasa bingung sendiri. Sebentar Marile menatap kagum begitu masuk ke dalam apartemen yang super super mewah.
" Ini sepi sekali ya? Apa aku langsung masuk saja ke kamar Presdir Nard untuk mengemas pakaian? " Gumam Marile, karena masih saja tak ada suara, segera dia berjalan mencari kamar Presdir Nard, setelah menemukan sebuah kamar yang jelas itu adalah milik Presdir Nard, segera Marile masuk ke dalam, membuka lemari dan mengeluarkan beberapa set pakaian untuknya.
Deg!
Marile menelan salivanya saat membuka laci khusus untuk pakaian dalam. Hah? Ini sungguhan harus memegang celananya Presdir Nard ya? Hah! Padahal cuma celana penutup dalam saja tapi jantungnya sudah gemuruh seperti kena gempa.
Aduh! Kenapa memegang kain penutup dalam milik Presdir Nard berasa seperti memegang cucungnya sih! Sialan! Tanganku gemetaran!
Sudah selesai dengan pakaian, keperluan lagi yang sudah ada di daftar juga sudah di kumpulkan, dan sekarang tinggal mengambil koper untuk menempatkan keperluan Presdir Nard disana. Marile menghela nafas sebal karena ternyata Koper itu tak terjangkau oleh tangannya, meski kakinya juga sudah berjinjit setinggi mungkin.
Grep!
Satu tangan yang basah memegang perut Marile, tubuh tinggi besar menempel ke punggungnya, satu tangan pria itu naik ke atas untuk mengambil koper.
Glek!
Marile menelan salivanya sendiri, karena bisa melihat siapa pria yang menempel di punggungnya sembari memegang perutnya itu lewat pantulan cermin yang tak jauh darinya.
" Kau seharunya memanggilku kalau tidak bisa megambil kopernya. " Suara khas pria yang seksi begitu jelas terdengar di telinga Marile, tangannya yang dingin karena basah membuat tubuhnya merinding Meksi yang tersentuh hanyalah bagian perut karena saat dia mengangkat tangannya dengan berjinjit, bajunya jadi ikut naik hingga perutnya sedikit terbuka, dan bagian itulah yang dipegang oleh Presdir Nard hingga sekarang ini.
Marile lagi menelan salivanya, sebisa mungkin dia tersenyum sopan seraya menjauhkan tubuhnya dari tubuh Presdir Nard yang hanya menggunakan jubah mandi saja. Tidak tahu apakah ini kebiasaan orang kaya atau bukan, tapi aneh bagi Marile saat melihat orang yang keluar dari kamar mandi, padahal sudah menggunakan jubah mandi yang seharunya juga sudah menyeka air yang tertinggal dengan handuk, seharunya sudah tidak se-basah ini kan?
" Sudah selesai? " Tanya Presdir Nard dengan santai seolah Marile sudah terbiasa untuk melihat tubuhnya.
Marile mengangguk cepat, aneh! Kenapa dia merasa tidak asing dengan tubuh Presdir Nard? Ini apakah karena dia sudah beberapa kali melihat tubuh Leo? Hah! Tidak disangka kalau yang dia pikirkan malah Leo si manusia busuk menyebalkan itu.
" Lanjutkan saja pekerjaan mu. " Ujar Presdir Nard seraya berjalan mendekat ke hadapan Marile, tentu karena dia merasa terkejut, segera dia terus memundurkan langkahnya, begitu juga dengan Presdir Nard yang semakin melajukan langkah, hingga Marile terus mundur dan tubuhnya stuck karena lemari di belakang punggungnya.
" Marile, aku ingin mengambil baju ganti, apa kau bisa minggir dari lemari? "
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
kuaci
leo ma nard itu 1 org yg sm
2024-08-31
0
Marhaban ya Nur17
gw se yakine Leo tuh lagi pura" 😝 gtu , soale novel yg kaya ini gw pernah maca deh 🙊 mon maap y thor
2023-05-18
1
🦋stary🌼🌸🌼
Leo - nard satu orng yang sama dan si nard lebih ramah dan suka tersenyum ke marile .. dan si nard ini cuma ngetes marile sesetia apa si marlie klo di hadapkan dg pria tampan...
2023-01-05
0