Marile membuang tatapannya ke arah lain, tapi kedua tangannya bergerak membuka kancing kemeja yang digunakan oleh Leo. Di dalam hati gadis itu hanya bisa membatin dengan segala umpatan buruk kepada si pria yang terus menatapnya dengan seringai menyeramkan, tatapan dingin seperti terus mengatakan, Lakukan, atau kau akan mati!. Benar-benar sangat tidak tahu malu! Bagaimana bisa dia begitu menyeramkan sampai Marile tidak bisa menolak dan mengikuti saja ucapan pria itu.
Tidak tahu bagaimana bentuk tubuh pria itu, yang pasti Marile bisa sedikit merasakan hangat dan lembut ketika beberapa jemarinya tidak sengaja menyentuhnya. Kenapa tubuh pria itu tidak terasa seperti ada bekas luka bakar? Rasanya terlalu mulus, apakah yang terbakar hanya wajah dan kedua lengannya saja?
" Celana. "
Marile yang masih enggan untuk menatap ke arah Leo hanya bisa mengeryit bertanya di dalam hati,
apa maksudmu celana? Kau mau celanaku atau mau aku mengambilkan celana ganti untukmu? Tolong bicaralah yang lengkap!
" Maksudnya celana, celana apa? "
" Buka celana ku! "
Hah? Buka celana? Celana?!!! Sudah gila ya! Marile membuang nafas sebalnya, sebenarnya memang bukan salahnya juga kalau meminta Marile membuka celananya, biar bagaimanapun Marile adalah istrinya, tapi oh tapi, membuka celana bisa jadi nanti tidak sengaja menyentuh cucung Leo, atau fatalnya bisa lihat juga kan? Aduh! Mau menolak takut, tidak di tolak rasanya ngeri-ngeri sedap.
" Anu, aku buka celana panjangnya saja ya? Bagian dalamnya boleh minta tolong Win saja tidak? "
Leo kembali menyeringai.
" Tidak bisa, kau adalah orang yang paling wajib mengurusku. Oh iya, sebentar lagi aku ingin buang air besar, tolong mandikan aku, sekalian bersihkan pantatku. "
Marile menganga tak percaya dengan ucapan pria kurang ajar yang baru sehari menjadi suaminya itu. Buka baju, celana, mandikan, bersihkan kotoran dan pantatnya juga?! Oh, sekarang dia tahu kenapa yah hantarannya sampai dua miliar, ternyata itu adalah bayaran untuknya agar bisa mengurus Leo sampai akhir hayatnya. Bukankah ini kejam? Dia bahkan tidak di bagi barang seperak, tapi kenapa dia amat menderita seperti ini?
" Sampai kapan kau akan terbengong-bengong seperti ini? Aku mau mandi! "
Marile menggigit bibir bawahnya menahan kesal agar tak asal bicara. Jujur saja, Marile sering menemukan pengemis dengan keterbatasan fisik, atau sedang terluka, dia pasti akan merasa iba dan seolah hatinya siap membantu dengan tulus. Tapi, kenapa melihat dan menghadapi suaminya sendiri yang jelas lumpuh dan banyak memiliki bekas luka bakar dia malah ingin terus saja marah?
" Cepat buka celanaku! "
Marile membuang nafas sebalnya, masa bodoh saja mau melihat cucung pria itu atau tidak juga tidak perduli. Marile meraih pengait celana yang digunakan Leo, melepaskan perlahan hingga ke bawah. Ah! Tapi saat melihat kain segitiga berwana abu-abu yang digunakan Leo, jantung Marile seperti sedang disko, dia juga merasa amat gugup terbukti sudah dua kali menelan salivanya sendiri.
" Kenapa? Apa kau sedang menebak sebesar apa ukurannya? "
Oh! Setan gundul laknat! Bukan itu! Sungguh bukan itu! Dia ini masih perawan tong tong jadi minat cucung pria bukanlah hal yang biasa baginya. Aduh, kalau cucung bocil dia jelas pernah melihat dan itu lucu, tapi kalau cucung pria itu bagaimana dia bisa tahan sih?! Membayangkannya saja dia sudah ingin pingsan.
Siapapun culik aku!
" Tenang saja, masalah ukuran jangan diragukan. Tapi, aku tidak yakin apakah dia bisa bereaksi kepadamu atau tidak. Selain dia pemilih, dia juga tidak suka perempuan yang terlalu kurus dan bertubuh rata sepertimu. "
Hah! Sekarang Marile benar-benar paham kenapa dia tidak memiliki belas kasihan, atau rasa iba kepada pria itu, ternyata mulut pria itu terlalu beracun, juga terlalu tidak pakai filter saat menghina.
" Iya, iya! Ini aku lepas! Lagian aku juga tidak sembarang menerima cucung pria kok. "
Dasar kepedean! Biarpun aku memang melihat punyamu, aku juga tidak akan tergoda!
Marile menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Dia menatap Leo sebentar sembari memasang wajah sebal.
Eh? Kok badannya mulus sekali ya?
Marile menggeleng membuang pemikiran itu, lalu meraih kain penutup segitiga yang melindungi atau menutupi milik Leo. Sialan! Segara Marile membuang pandangan karena cucung itu benar-benar ada tepat di hadapannya tadi.
Jumbo ya? Ngeri sekali!
Leo terus tersenyum miring, mengenai apa yang tengah ia pikirkan tentu hanya dia yang tahu.
" Dorong aku sampai ke kamar mandi. "
Tak mau banyak bicara, membantah karena hanya akan membuat pria itu semakin seenaknya menghina, segera dia mendorong kursi roda Leo hingga ke dalam kamar mandi.
" Keluar! aku rugi banyak kalau tubuhku terlalu lama dilihat olehmu! "
Lagi, Marile hanya bisa menganga terheran-heran dengan sikap Leo yang amat sangat aneh itu. Padahal dia sendiri yang mengatakan agar dia melepas pakaian, memandikan, bahkan dia juga bilang harus membersihkan kotorannya. Sekarang? Dia merasa rugi kalau tubuhnya dilihat oleh Marile terlalu lama?!
" Orang ini, otaknya pasti ikut terbakar habis dulu. " Marile menggeleng heran.
Cukup lama dia menunggu Leo keluar dari kamar mandi, meksipun menjengkelkan tapi Marile merasa kasihan juga kalau nanti Leo kepleset, jatuh, kepalanya terbentur lantai dan mati.
Beberapa saat kemudian, Leo keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terbungkus jubah mandi.
Heh! Mandi atau tidak ya begitu begitu saja bentuknya! Sudah hampir satu jam padahal mandinya.
" Pakaianku! "
Baik yang mulai raja!
Marile bangkit dan meyerahkan pakaian milik Leo.
" Apa kau tidak tahu kalau harus membantuku memakaikannya? "
Sudah, tahan saja Marile. Orang yang sedang menderita sakit fisik memang cenderung akan emosional jadi biarkan saja lah, sabar perbanyak biarpun tekanan darah sudah melonjak naik.
" Baik, suamiku. " Marile memaksakan senyumnya dengan mata tajam seperti ingin menikam Leo. Tapi pria itu malah tersenyum tipis entah apa maksudnya.
Setelah memakai kan Leo baju, Marile tadinya ingin langsung membawa Leo ke meja makan untuk sarapan. Tapi karena ponsel Marile bergetar menandakan adanya pesan masuk, sebentar Marile melihat isi pesan itu. Matanya berbinar bahagia, dia bahkan tidak kuasa menahan bibirnya yang kini tersenyum lebar.
" Apa kau akan memelototi ponselmu sampai bola matamu menggelinding baru akan pergi ke meja makan? "
Ah, Marile sampai lupa dengan Leo karena kabar bahagia datang pagi-pagi sekali.
" Apa pria tampan mu menghubungi dan mengatakan rindu padamu? "
Menghubungi? Jelas-jelas tadi membaca pesan. Dasar tukang tuduh! batin Marile.
" Bukan, hanya kabar bahwa aku diterima kerja. Jadi aku akan bekerja mulai besok. "
" Bagus, kau memang harus bekerja agar aku bisa makan dengan gizi yang baik. "
Selain aku sial harus mengurusi mu, rupanya aku benar-benar harus memberikanmu makan juga? Lalu apa gunanya uangmu yang menumpuk itu?!
Leo tersenyum miring.
Mari bermain-main, istriku.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
aryuu
bener kaduruk sigana merile... jadi sing sabar aja yah 🤭
2025-03-19
0
aryuu
ngakak 🤣🤭🤣🤭🤣🤭
2025-03-19
0
kuaci
leo itu lg nguji su marile
2024-08-30
0