Marile tersenyum penuh kemenangan setelah mendapatkan aset milik neneknya, tinggal uang dan villa yang disita bank baru akan di urus, dan dua hari kemudian dia bisa mendapatkan semuanya. Nanti baru hitung berapa aset kekayaan yang di tinggalkan nenek dan kakeknya, setelah itu baru dirincikan apakah cukup untuk membayar separuhnya dulu, baru sisanya akan dia pikirkan nanti, yang paling penting adalah Ibunya harus segera keluar dari penjara.
Marile membuang nafas panjangnya, lalu tersenyum kembai setelah menyimpan semuanya di tas yang ia pakai. Masih ada waktu, jadi dia masih bisa menemui pengacara nenek dan kakeknya untuk mencari tempat yang aman agar bisa menyimpan dokumen-dokumen penting itu agar juga tidak diketahui oleh Ayah dan Ibu tirinya. Tiga puluh menit bertemu dengan pengacara, sekarang waktunya Marile pergi ke kantor.
Marile mengeryit menatap tingginya gedung perusahaan RC karena wajahnya harus menerjang matahari demi melihatnya. Tinggi, megah, dan mewah. Itu adalah kesan yang dapat dilihat saat pertama kali melihat gedung perusahaan RC. Dengan langkah agak malu-malu Marile masuk ke dalam, menemui resepsionis, menyebutkan nama dan maksud kedatangannya ke RC. Rupanya mereka sudah tahu, jadi tida sulit dan Marile segera di antar ke pihak HRD demi mendapatkan jelasnya pekerjaan apa yang akan dia kerjakan mula dari hari ini. Ah, tapi sepertinya agak aneh karena HRD itu justru menghubungi seseorang dan meminta untuk mengikuti seorang pria yang baru saja datang kesana.
" Nona Marile, silahkan ikuti saya. " Ucapnya, laku tersenyum dengan begitu sopan. Aduh duh! Hampir saja jantungnya copot karena senyum dari pria itu.
" Ah, iya! "
Marile bangkit dari posisinya dan dengan segera di mengikuti langkah kaki pria yang membawanya masuk ke dalam lift, lalu keluar dan sepertinya kalau Marile tidak salah lihat mereka sudah berada di lantai teratas dari gedung RC.
Pria itu mengetuk pintu sebelum membukanya, lalu mempersilahkan Marile masuk sembari menahan pintu agar Marile bisa langsung masuk dengan leluasa.
" Silahkan masuk, Nona Marile. "
" terimakasih. " Ucap Marile.
Marile ternganga kagum melihat mewahnya ruangan dimana ia menginjakkan kaki sekarang.
" Se selamat pagi, Tuan. Nama saya Marile, saya pegawai baru yang diminta untuk datang kemari menemui Tuan. " Ucap Marile saat menyadari ada punggung pria yang menghadap ke jendela kaca. Tinggi, tegap, dan bidang, seperti itulah bentuk tubuh pria itu.
Duh! Dari belakang saja sudah membuatku deg-deg kan!
Pria itu berbalik, tampan! Dia sangat tampan! Tapi masalahnya pria itu tidak asing untuk Marile.
Ternyata dia Presdir RC ya?
Marile menelan salivanya beberapa kali, dunia ini sempat atau bagaimana sih?! Batinnya menggerutu.
" Selamat pagi, jadi kau yang namanya Marile? "
Marile menarik nafas pelan menghembuskan juga pelan agar tak terlalu terlihat nyata.
" I iya, tidak disangka kalau orang yang sudah memberikan saya semangat dan nasehat hebat waktu itu adalah anda. " Ujar Marile. Iya, dia adalah pria yang ditemuinya beberapa saat setelah Marile menggerebek Bram dan Sephora sedang ewita.
Flash Back
Marile menangis sesegukan di taman umum di dekat jalan utama. Tak banyak orang yang datang, jadi dia putuskan untuk menangis disana sendirian demi melupakan kesedihannya.
" Dasar bekicot tidak tahu malu! Di depan ku bersikap begitu lembut, tapi berani-beraninya berselingkuh dengan kakak tiri yang mirip seperti penyihir berjanggut panjang! Kalian enak-enakan ewita, aku malah merayakan ulang tahun ku sendirian! Huhu...... "
" Balas saja, kau bisa melakukan hubungan semacam itu dengan pria lain yang lebih tampan dan lebih memiliki uang kan? Misalnya aku. "
Marile tercekat, dengan wajah yang masih ada ingus dan air mata bercampur menjadi satu mengalahkan asinnya air laut, dia menoleh menatap seorang pria tampan, ah! Tidak tidak! Sangat amat pokonya paling tampan yang pernah Marile lihat secara langsung.
" Balas apaan?! Kenapa juga aku harus ewita dengan laki-laki lain hanya untuk balas dendam? Lagi pula kenapa juga kau menyarankan hal yang tidak-tidak begitu? Jangan-jangan kau menguping ya?! "
Pria itu tersenyum, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Gila sih, semua sedikit saja tampannya kebangetan melebihi indahnya negara Switzerland.
" Aku tidak bermaksud menguping, aku sebenarnya sudah disini cukup lama, aku ada di balik pohon itu sedang duduk sampai ketiduran, dengan kata lain kau sudah membangunkan ku. "
Marile menatap heran. Kalau dari penampilannya jelas pria itu adalah orang kaya. Tidak mungkin dia duduk seperti gembel dibawah pohon kan? Ah, tapi kalau tidak salah orang kaya juga kadang memilki hobi yang aneh kan?
" Kau sedang diselingkuhi kan? Lalu kenapa kau menangis disini sendirian? Kau seharusnya bersyukur karena pria itu sudah menunjukkan betapa tidak patas nya dia untukmu, dan wanita yang menjadi selingkuhannya, dia hanyalah wanita selingan ya pada akhirnya tidak akan memiliki arti. "
Marile sebenarnya cukup merasa senang dengan kalimat itu, tapi kalau mengingat perlakuan Ayah dan Ibu tirinya, dia tidak yakin kalau Sephora hanya akan menjadi barang tidak bernilai nantinya.
" Kau tahu tidak? Aku tinggal bersama Ibu tiri dan kakak tiri, aku juga tinggal dengan Ayah kandungku. Tapi aku tidak pernah merasa bahagia. " Tanpa sadar Marile mulai bercerita padahal pria itu adalah pria asing, bahkan namanya saja tidak tahu sama sekali.
" Kau punya kekuatan untuk melawan mereka, tapi kau tidak menggunakannya. "
Marile menatap pria itu dengan tatapan bingung.
" Bagaimana caraku melawan? "
" Pikirkan saja, urusan itu hanya kau yang tahu. Tapi aku ingin berpesan padamu, di dunia ini banyak sekali macam-macam orang jahat. Adanya yang dengan jelas memperlihatkannya, ada juga yang tersenyum manis dan lembut tapi menyimpan belati tajam untuk dia tancapkan kan ke dada mu. Setiap orang mempunyai kelemahan, jika kau ingin selamat dari orang-orang semacam itu, maka kau perlu membuat dirimu berani, cari kelemahan musuh mu, barulah secara alami kau akan tahu bagaimana cara mencekik musuh mu perlahan tapi dia tidak bisa melawan. "
Marile terdiam mengingat-ingat apa kelemahan Ayah, Ibu tiri dan Sephora. Iya, uang, dan juga ada aset milik nenek dan kakeknya yang mereka tahan, untunglah saat menandatangani surat itu mereka di tekan dengan peraturan yang mereka tanda tangani oleh pengacaranya nenek dan kakeknya.
" Ah, Aku tahu! " Ucap Marile semangat.
" Berjuanglah, yang bisa menyelamatkan dirimu ya hanya dirimu sendiri, jangan takut, tatap saja kedua bola matanya dan ingat betapa bencinya kau padanya. Nanti kau akan lihat betapa dia tertekan hanya dengan tatapan mu itu.
Marile tersenyum lalu mengangguk paham.
Flashback Of.
" Bagaimana kabarmu? " Tanya pria itu.
" A aku baik. "
Pria itu berjalan mendekat, lalu berdiri tepat dihadapan Marile yang kini menunduk tak berani menatap pria yang yang ternyata adalah Presdir RC.
" Sepertinya kau terlihat semangat sekali ya? "
Eh, tunggu! Parfum pria ini kenapa agak mirip wangi yang ada di tubuh si busuk Leo itu ya?
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
kuaci
itu kayaknya leo ya thor
2024-08-30
0
Rara Kusumadewi
Leo itu ...yg di rumah itu nyamar
2023-10-20
1
Mama Pesek
sebenarnya udah feeling dari awal pernikahan itu sih, pasti ada sesuatu. dan ternyata benar.
2023-08-11
0