"Habisi tiga manusia bodoh itu!"
Setelah papa Clarissa mengucapkan itu, makhluk itu segera menyerang tiga pemuda yang menatap nyalang pada Clarissa dan papa Clarissa. "Aaaaa!" pekik Satrio saat tubuhnya di seret hingga beberapa meter. Bukan hanya terkejut, tubuh Satrio seperti sakit semua setelah serangan yang tiba-tiba.
"Satrio! Berdoa terus, Sat!" pekik Dimas memerintah. Satrio menurut dan melafalkan kalimat-kalimat Allah dengan mata terpejam karena merasakan badannya remuk.
"Aaaa!" Giliran suara Riko yang terpekik karena badannya di hempaskan ke tembok oleh sosok di depannya dengan satu kali kibasan. "Riko!" pekik Dimas memanggil nama temannya.
"Apa tujuan kalian melakukan ini semua! Apa salah kami!" teriak Dimas pada dua manusia tak punya hati yang sedang berdiri dengan angkuh dan sombongnya. "Hahahaha. Kamu sudah mengganggu ketenangan hidup saya. Kalian sudah terlalu banyak ikut campur dengan masalah pribadi kami. Jadi, kalian pantas untuk mati!"
Setelah papa Clarissa mengucapkan itu, giliran Dimas yang tubuhnya di hempaskan ke lantai ke sana dan ke mari. Namun Dimas selalu menggumamkan doa agar Allah memberikan petunjuk kepadanya. Tubuhnya sudha remuk redam karena terbentur benda-benda yang ada di dalam ruangan tersebut.
GUBRAK!
HAHAHAHAHA!
Sosok itu menghempaskan tubuh Dimas hingga membentur peti berisi mayat ibunya Clarissa. Dimas menatap sekeliling dan melihat Satrio duduk bersandar tidak jauh darinya. Seketika pikiran Dimas memikirkan ide untuk menghilangkan kendali pada sosok yang sedang marah di depannya.
"Satrio! Kasih botolnya kecilnya padaku!" Dimas berbisik agar tidak terdengar oleh papanya Clarissa dan Clarissa. "Kalian masih berani ingin melawan saya?" tanya papa Clarissa dengan angkuhnya. Dimas meringis kesakitan dan berucap. "Kami menyerah,"
Ucapan Dimas berhasil membuat dua temannya membelalak tak percaya. Namun, setelah mendapat satu kedipan dari Dimas, keduanya mulai mengerti dan menjalankan perannya masing-masing. "Iya, kami menyerah. Kalian memang sangat kuat," ucap Satrio sambil merubah mimik wajahnya menjadi nelangsa.
Sedangkan Riko, dia pura-pura sudah tidak berdaya. "Jangan oercaya begitu saja dengan mereka, Pa. Tiga pemuda itu sangat licik," ucap Clarissa yang memang belum sepenuhnya percaya dengan menyerahnya tiga pemuda itu.
"Tenang saja. Kita hanya perlu menutup mulut ketiganya,"
"Tapi kan, Pa? Bagaimana kalau mereka hanya pura-pura?"
Ketika anak dan bapak itu sedang sibuk berdebat, Dimas mencari kesempatan untuk segera memusnahkan makhluk yang masih melayang dengan anteng karena belum mendapat perintah dari majikan.
"Satrio! Mana botolnya?" Kemudian, Satrio mencari botol yang sempat dia temukan dan dia taruh di saku celana. Namun, dia tidak menemukannya sama sekali. "Hilang," Satrio berucap dengan wajah pasrahnya. Riko dan Dimas sampai mengusap wajahnya frustasi.
Namun harapan mereka tidak sampai di situ saja. Dimas melihat botol kecil berisi air berwarna hijau itu tergeletak tidak jauh dari tempat Clarissa berdiri.
Dengan penuh keyakinan, Dimas mengambil botol tersebut dengan pelan dan tanpa suara. Dimas merangkak agar pergerakannya tidak disadari oleh dua manusia yang sedang berdebat itu.
Kena!
Dimas segera kembali mendekati peti. Menurut buku panduan yang dia baca, dia harus menyiramkan air hijau itu pada benda berwarna kotak yang dibungkus kain kafan. Namun, hal itu dilakukan di atas mayat yang sudah di awetkan.
Dimas segera membuka tutup botol itu dan akan menuangkannya di benda yang terbungkus kain kafan. Tangannya bergetar karena menahan takut di hatinya. Apalagi saat melihat kondisi mayatnya, Dimas mungkin tidak akan bisa tidur beberapa hari ke depan.
"Apa yang kamu lakukan!" Pekik papanya Clarissa terkejut saat dimas akan merusak semua barang yang dia gunakan untuk mengendalikan arwah. "Serang dia!" Pekiknya lagi menyuruh arwah istrinya untuk menyerang Dimas.
"Aaaa!!"
"Dimas!!"
Dimas gagal menuangkan isi botol itu karena tubuhnya sudah lebih dulu terseret oleh sosok tak kasat mata itu. Semua cairan tumpah ke lantai. Papanya Clarissa mendekati Dimas yang sudah tergolek lemah tak berdaya di lantai. "Berani-beraninya kamu ya! Kamu mau cari mati! Jika itu yang kamu mau, siap-siap untuk dicabut nyawamu!"
Dimas seakan tidak mempedulikan kalimat yang lelaki aoruh baya itu ucapkan. Tujuannya hanya satu, yaitu merebut botol kecil yang mirip sekali dengan botol yang baru saja jatuh ke lantai dan isinya tumpah.
Dimas berpikir, mungkin dengan botol itu, Dimas bisa memusnahkan makhluk fasik di depannya. Saat Dimas akan bangkit, perutnya langsung diinjak oleh papanya Clarissa. Dimas memekik tertahan menahan sakit pada bagian perutnya.
"Dimas!" Lagi-lagi Satrio dan Riko berteriak memanggil namanya. Mereka akan berlari untuk menolong Dimas dari genggaman lelaki paruh baya itu. Namun, lelaki paruh baya itu giliran memerintahkan sosok kuntilanak itu untuk menyerang keduanya. "Berdoa! Ayo berdoa! Baca ayat kursi sama An-Nas!" Pekik Dimas memerintah.
Riko dan Dimas menurut dan dengan lantangnya membaca ayat-ayat Allah. Dimas tersenyum penuh kemenangan saat sosok wanita berbaju putih itu judutue berteriak kepanasan. "Kamu tidak akan bisa mengalahkan kuasa Allah SWT," ucap Dimas jumawa.
Clarissa dan papanya mulai panik saat kekuatan besarnya akan hancur karena bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tak mau kalah, Dimas juga dengan lantang ikut mengucapkan kalimat-kalimat Allah SWT.
"Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahirobbil'alamin. Arrohmanirrohim. Malikiyaumiddin. Iyyakana'buduwaiyyakanasta'in—"
Clarissa beserta papanya panik dan menggunakan botol yang ada di tangannya untuk kembali mengendalikan makhluk arwah itu. Namun semua hanya sia-sia. Perintahnya sudah tidak didengar sama sekali.
Clarissa yang merasa kesal dan marah, dia langsung membuang botol itu dengan kasar ke lantai. Namun dengan sigap, Dimas menangkapnya dan berlari mendekati mayat.
"Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim. "
Sambil membaca doa, Dimas menuangkan cairan berwarna hijau itu diatas benda kotak kecil yang di bungkus kain kafan. Dia juga menuangkannya tepat di atas kepala mayat.
Riko dan Satrio bertugas memegangi dua manusia yang tidak punya hati nuraini itu agar tidak menganggu proses yang sedang Dimas lakukan.
"Jangan lakukan! Jika kamu melakukannya, aku tidak akan segan untuk membuat kalian di pecat!" ucap Clarissa mengancam ketiganya.
"Lepaskan aku!" ucapnya lagi. Tiga pemuda itu sama sekali tidak menggubris. Apalagi Dimas, dia sudah berhasil menuangkan cairan itu dan segera menghancurkan botolnya.
Cekrek.
"Aaaaa!!! Panas!!! Aaaaaa!!!!
Bersamaan dengan itu, sosok menyeramkan yang ada di hadapannya menghilang perlahan seperti terbakar api dan berubah menjadi abu.
"Alhamdulillah." Ketiga pemuda itu mengucap Hamdallah bersama setalah makhluk dengan energi negatif itu telah musnah. Dimas menatap nyalang pada dua manusia bejat di depannya. "Kalian harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian," Dimas berucap sungguh-sungguh.
Gubrak!
Pintu dibuka dengan kasar dari depan ruangan. Di sana sudah ada pak polisi berserta anak buahnya yang siap meringkus dua manusia tak punya hati itu. "Tangkap mereka, Pak! Ini dia mayat yang mereka sembunyikan diam-diam untuk sesuatu hal yang menyimpang,"
Setelah itu, dua manusia itu di ringkus. Diluar sudah banyak sekali warga yang menyaksikan tentang tertangkapnya Clarissa beserta ayahnya. Tiga pemuda itu memang sudah berada di pelataran rumah.
"Pak Wongso? Kok bapak ada di sini? Terus yang memberitahu polisi siapa?" Ucap Dimas kaget saat meliaht pak Wongso tersenyum ke arah tiga pemuda itu.
"Nanti saya akan ceritakan pada kalian. Banyak hal yang akan bapak ceritakan karena sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya. Saya juga akan memberitahukan satu rahasia besar lagi,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Milady Adara
gemes banget sama Satrio..kelakuannya ga sesuai sama namanya...
2023-12-01
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
sumpah makin seru aja
2023-09-19
0
Putri Minwa
kisah yang sangat menarik thor
2022-10-28
1