18. Tercengang

"Meong, meong, meong."

Dimas menirukan suara kucing agar keberadaannya tidak diketahui. Dimas segera berlari untuk menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh pak Wongso.

Beruntung tadi sore dia menemukan kucing di dapur. Kucing memang menjadi sumber inspirasi Dimas saat ini.

Pak Wongso sudah mencapai pintu dan membuka pintu itu lebar-lebar untuk memastikan tidak ada orang yang melihat dirinya di dalam. Dirinya lupa mengganti sesajen kemarin. Akhirnya dia menggantinya hari ini dengan sangat terpaksa.

Biasanya dia akan mengganti pada saat tiga pemuda itu sedang bekerja. Kemarin dirinya gagal mengganti sesajen karena ada kakek Fakih yang mengahalanginya.

"Mungkin hanya seekor kucing." monolog pak Wongso ketika melihat vas bunga yang berada di depan ruangan sudah terjatuh dan pecah. Pak Wongso segera mengunci pintu ruangan itu lagi tanpa menaruh curiga sedikit pun bahwa salah satu kuncinya sudah hilang.

Setelah pintu tertutup rapat, pak Wongso segera membereskan vas bunga yang berserakan di lantai agar tidak mengenai siapa pun yang lewat nanti. Setelah tugasnya beres, pak Wongso berpamitan kepada tiga pemuda yang sedang duduk santai di ruang tengah. "Saya pulang dulu ya, Mas. Udah sore nih," pamit pak Wongso pada tiga pemuda yang ada di sana.

Mereka langsung mengalihkan pandangan menatap pak Wongso yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk. "Iya, Pak. Hati-hati di jalan ya." ucap Dimas sambil tersenyum manis karena dirinya masih merasa takut bahwa pak Wongso melihatnya tadi di depan ruangan misterius itu.

"Iya, Mas. Saya pamit ya." Riko dan Satrio tersenyum dan mempersilakan pak Wongso pulang ke rumah. Dengan begitu, mereka bisa melihat apa yang sebenarnya mengisi ruangan misterius itu.

Setelah mengucapkan itu, pak Wongso segera berjalan keluar rumah menuju kediaman rumahnya. Tiga pemuda itu langsung menegakkan tubuhnya untuk membicarakan hal yang sempat terpotong karena kehadiran pak Wongso.

"Jadi gimana? Kamu beneran udah dapet kuncinya?" tanya Riko memastikan sekali lagi. Dimas mengangguk dan menunjukkan kunci yang sudah berada di tangannya.

"Pastikan dulu pak Wongso sudah benar-benar pulang," jawab Dimas sambil menengok ke luar. Pak Wongso sudah tidak terlihat lagi. "Sudah aman." Satrio ikut menyahuti.

"Sekarang!"

Setelah mendapat aba-aba dari Dimas, tiga pemuda itu segera menutup jendela beserta gordennya. Tidak lupa mereka juga mengunci pintu takut pak Wongso kembali lagi.

Saat ini mereka sudah berada di depan ruangan misterius. Dimas menghela dan menghembuskan nafasnya berulangkali sebelum menancapkan kunci itu di lubangnya. Satrio dan Riko hanya bisa menunggu kunci terbuka dengan hati yang berdebar-debar.

Klik, klik.

Suara kunci terbuka sudah berbunyi dua kali. Itu pertanda bahwa pintu sudah bisa di buka. Dimas menoleh pada dua temannya untuk meminta persetujuan. Ketika sudah mendapat anggukan dari Riko dan Satrio, Dimas mulai memegang gagang pintu.

Lagi-lagi Dimas menghela dan menghembuskan nafasnya kasar. Perlahan, Dimas memutar kenop pintu hingga pintu itu sedikit terbuka. Dimas mendorong pelan pintu itu hingga menampakkan pemandangan di dalam ruangan itu.

Tiga pemuda itu langsung tercengang saat pintu sudah terbuka lebar. Dimas juga sama terkejutnya karena tadi dia hanya melihat sekilas. Ruangan itu sudah seperti ruangan untuk sesembahan karena begitu banyak sesajen di dalamnya.

Tiga pemuda itu segera masuk lebih dalam lagi dan menutup pintu. Suasana di dalam ruangan cukup temaram karena di dalam ruangan itu menggunakan lampu berwarna kuning.

Mereka bisa melihat ada sajen yang tergeletak di atas meja. Lalu yang menjadi pusat perhatian Dimas adalah, ada peti di sebelah meja tempat meletakkan sesaji. "Kalian bisa liat itu nggak? Aku penasaran apa isinya," ucap Dimas sambil menunjuk peti yang bentuknya seperti peti orang mati.

"Kita harus lihat supaya semuanya bisa terjawab." Setelah mengucapkan itu, Riko segera mendekati peti itu. Dia berjongkok untuk menyamai tingginya. Dimas dan Satrio juga melakukan hal yang sama.

Ketiga pemuda itu membuka peti itu bersamaan karena penutup peti itu sudah sangat berat. Saat peti terbuka sempurna, tiga pemuda itu tercengang dan mundur beberapa langkah.

Wajah ketiganya langsung pucat pasi melihat sesuatu yang ada di dalam peti itu. Mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Nafasnya terengah-engah saking terkejutnya. Cukup lama ketiganya terdiam dan tersadar ketika suara Dimas menginterupsi. "Kita harus selidiki apa yang sebenarnya terjadi. Telfon kakek Fakih, Rik. Kita butuh bantuannya," ucap Dimas dengan nada tegas dan begitu yakin.

Riko mengangguk dan segera merogoh saku celananya untuk mencari benda pipih serbaguna. Setelah benda itu berada di genggamannya, dia segera menelepon kakeknya yang mungkin baru saja sampai di rumah.

Tut. Tut. Tut.

Tepat saat dering ketiga, kakek Fakih menerima panggilan itu. Riko yang masih terkejut dan merasa otaknya blank, dia memilih memberikan ponsel itu pada Dimas agar Dimas segera menjelaskan apa yang sedang mereka alami. Dimas menerima ponsel yang disodorkan Riko dan segera membuka pembicaraan. "Halo Kek." sapa Dimas untuk pertama kalinya.

"Halo, ada apa kalian menelpon lagi?"

Sebelum menjawab pertanyaan kakek Fakih di seberang sana, Dimas menghela nafas panjang.

"Kami sudah menemukan sesuatu yang membuat rumah dinas ini terasa mencekam. Lalu apa yang harus kami lakukan, Kek?" tanya Dimas pada kakek Fakih yang berada di seberang sana.

"Apa kalian menemukan banyak buku yang terletak di atas meja? Jika iya, bacalah buku itu untuk mencari petunjuknya. Jangan lupa berdoa. Kakek akan mendoakan keselamatan kalian dari sini," ucap kakek Fakih.

Dimas mengangguk mengiyakan ucapakan kakek Fakih. "Terima kasih atas sarannya, Kek. Kami akan melaksanakannya dengan benar,"

"Satu lagi, jangan lupa hancurkan hal-hal yang membuat makhluk itu lebih kuat. Jika kalian menemukan botol berukuran kecil berisikan air berwarna hijau, segera hancurkan!"

Setelah memberikan nasihatnya, kakek Fakih memutuskan panggilan terlebih dahulu. Dia akan melakukan ritual agar para cucunya bisa selamat. Karena itu merupakan perjuangan yang tidak mudah.

"Udah Rik. Kalian udah dengar semuanya kan? Kalian sudah tahu apa yang harus kita lakukan?" tanya Dimas menatap kedua temannya dengan tegas.

Riko dan Satrio mengangguk bersamaan. Mereka harus melakukan semuanya dengan sama-sama. Setelah sepakat, hal yang pertama kali tiga pemuda itu lakukan adalah membaca buku petunjuk yang terletak di atas meja.

Itu merupakan buku dengan judul cara membangkitkan arwah dan mengendalikannya. Ada lagi buku dengan judul, Mengembalikan Arwah. Dimas langsung membuka buku yang kedua untuk dia baca.

Banyak informasi yang bisa mereka dapatkan. "Kita nggak punya waktu lama. Kita harus segera mencari botol kecil berwarna hijau itu. Riko, kamu hancurkan semua sesajen. Satrio, kamu yang mencari botol itu. Aku akan mencari alat yang berada di dalam buku ini," ucap Dimas menyusun strategi.

Riko dan Dimas menyetujui apa yang Dimas perintahkan. Mereka segera berpencar untuk mengobrak-abrik seluruh isi dalam ruangan tersebut.

Saat mereka baru akan beranjak, tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring yang berasal dari suara seorang wanita.

Ketiga pemuda itu langsung menatap ke arah sumber suara dan mendapati sesosok berambut panjang dan berbaju putih sudah melayang-layang di udara.

"Hihihihihihi."

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

ganggu aja sih mbak Kunti bikin tak pites 😅😅😅😅

2023-09-19

0

Putri Minwa

Putri Minwa

hii, itu pasti Kunti thor

2022-10-28

0

Reni Ardiana

Reni Ardiana

smoga smua baik"saja&terkendali💪good luck dimas

2022-08-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!