3. Sosok wanita berkebaya

Dimas sedang melaksanakan salat magrib berjamaah di masjid yang dekat dengan rumah dinas.

Dimas sengaja salat di masjid untuk menenangkan diri. Dia belum ingin menceritakan masalahnya kepada kedua temannya.

Dimas khawatir mereka akan takut dan yang lebih parahnya lagi, kedua temannya itu tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat.

Setelah pulang dari masjid, Dimas tidak langsung pulang melainkan mampir dulu ke rumah pak Wongso.

Setelah sampai, Dimas langsung mengetuk pintu rumah pak Wongso. Tidak berapa lama, terdengar bunyi pintu dibuka dari dalam.

Ceklek.

Pintu terbuka dan menampakkan pak Wongso dengan lilitan sarung di pinggangnya.

Bisa Dimas duga, pak Wongso habis melaksanakan salat magrib pastinya.

“Assalamualaikum, Pak ....” sapa Dimas untuk pertama kali.

“Waalaikumsalam Mas Dimas. Ayo masuk, Mas,” ajak pak Wongso pada Dimas.

Dimas menurut dan masuk ke dalam rumah pak Wongso. Dia mendudukkan dirinya di kursi rotan yang berada di ruang tamu rumah pak Wongso.

“Ada apa ya, Mas? Kok tiba-tiba ke sini?” tanya pak Wongso penasaran.

“Saya mau tanya tentang pak Wongso yang tidak memperbolehkan saya untuk duduk di teras di atas jam sebelas malam, itu maksudnya bagaimana ya, Pak? Mengapa tidak boleh begitu?” tanya Dimas langsung ke intinya.

Pak Wongso tampak gugup setelah mendapat pertanyaan tersebut.

“Saya tidak bisa bercerita, Mas. Kalau saya bercerita, itu tidak akan baik untuk diri saya sendiri,” jawab pak Wongso sambil mengedarkan pandangan menatap sekeliling.

Pak Wongso bertingkah seolah-olah ada yang mengawasi dirinya.

Kebingungan Dimas semakin bertambah. Namun dia tidak akan memaksa pak Wongso untuk bercerita jika itu akan membahayakan keselamatan pak Wongso sendiri.

“Bisakah bapak kasih saran ke saya, harus apa lagi?” tanya Dimas lagi.

“Apa mas Dimas sudah mendengar bisikan-bisikan?” tanya pak Wongso lirih sambil mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Dimas, berharap tidak ada orang lain yang mendengar ucapannya.

Dimas terlihat kaget karena pertanyaan pak Wongso sudah dia alami.

“Saya diganggu sama bisikan itu,” ucap Dimas yang suaranya memelan.

“Saya tidak bisa membantu apa-apa, tapi saran saya, Mas Dimas harus berhati-hati,” ucap pak Wongso menasihati.

*

“Dimas ke mana sih, Sat?” tanya Riko yang menyadari bahwa Dimas sedang tidak berada di rumah.

“Lagi salat magrib di masjid, katanya sekalian mau mampir ke rumah pak Wongso,” jawab Satrio memberitahu tentang keberadaan Dimas.

“Ada perlu apa ke sana memangnya?” tanya Riko lagi belum menyerah.

Satrio hanya mengangkat bahu sebagai jawaban bahwa dirinya juga tidak tahu menahu alasan Dimas pergi ke rumah pak Wongso.

“Menurut aku, sikap Dimas sejak pagi tuh, kaya aneh banget. Masa lihat muka kamu, dia sampai berteriak kencang begitu,” ucap Riko yang mulai mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya.

“Aku juga heran. Apa muka aku sangat tamvan? Aku sadar, kalau aku memang babang tamvan. Dari depan aku tamvan, dari belakang aku tamvan, dari mana-mana aku tetap tamvan,”

Satrio terus mengoceh dengan percaya diri memuji dirinya sendiri.

Riko sama sekali sudah tidak mendengarkan apa pun yang Satrio ucapkan. Fokusnya sekarang ini adalah Dimas yang sedang berdiri di teras dan terlihat menatap ke arah pohon beringin.

Riko terus memperhatikan apa yang akan Dimas lakukan selanjutnya.

Saat Riko melihat Dimas seperti akan berjalan mendekati pohon beringin dengan langkah pelannya, Riko langsung berlari untuk mendekati Dimas.

Riko sudah tidak memedulikan Satrio yang berteriak memanggil dirinya dan mengumpati dirinya karena tidak menanggapi ucapannya.

*

Dimas sudah berada di teras rumah dinas. Dia masih enggan masuk ke dalam karena mempunyai satu tujuan, yaitu memecahkan misteri tentang sosok wanita yang mengikutinya dengan pohon beringin di depannya.

Dimas merasa, keduanya ada sangkut pautnya.

Siapa tahu dengan Dimas melihat lebih dekat lagi pohon beringin itu, dia akan menemukan petunjuk di sana.

Dimas berjalan pelan mendekati pohon beringin yang terlihat menyeramkan pada malam hari tersebut.

Apalagi penerangan yang begitu minim karena lampu teras rumah dinas yang berwarna kuning, bukan putih, membuat suasana semakin mencekam.

Tinggal tiga langkah lagi Dimas mencapai pohon beringin itu, tiba-tiba saja ada yang menepuk punggungnya dari belakang.

“Allahu Akbar!”

“Allahu Akbar!”

“Astagfirullah, astagfirullah!”

Dimas memekik kaget dengan menyebut nama Tuhannya.

“Ini aku, Dimas!” ucap Riko yang sengaja menghampiri Dimas yang sedang berjalan mendekati pohon beringin.

Riko melihat tatapan yang tidak biasa dari temannya itu saat melihat pohon beringin di depannya.

“Bikin kaget saja sih, Rik.” ucap Dimas setengah kesal.

“Ya lagian, kamu malam-malam seperti ini malah berdiri di sini,” jawab Riko beralasan.

Setelah itu, tiba-tiba hujan deras mengguyur dua manusia yang sedang berdebat itu.

Dimas dan Riko segera berlari masuk ke dalam rumah agar tidak kehujanan.

Setelah pintu rumah ditutup, di bawah pohon beringin itu telah berdiri sesosok wanita berambut sebahu lengkap dengan baju tradisionalnya, yaitu baju kebaya.

Sosok itu menatap ke arah Riko dan Dimas dengan tatapan yang kosong dan wajahnya terlihat pucat pasi.

Flashback on.

Tadi, saat Riko tergesa-gesa berlari mengejar Dimas adalah bukan tanpa alasan.

Melainkan, Riko sudah melihat bahwa ada seorang wanita berkebaya yang selalu dirinya lihat setiap kali berangkat dan pulang bekerja.

Riko tahu bahwa dia bukan manusia melainkan makhluk dari dunia lain.

Riko takut makhluk itu akan menganggu Dimas karena Riko sudah memerhatikannya sejak Dimas datang ke rumah yang sekarang dirinya tinggali.

Sosok wanita itu selalu memperhatikan Dimas saat berangkat dan pulang bekerja.

Ketika langkah Dimas kurang tiga langkah lagi menuju pohon beringin, sosok tersebut masih saja menatap datar ke arah Dimas dan dirinya.

Hingga Riko memilih untuk menepuk pundak Dimas agar tidak lagi mendekati pohon beringin tersebut.

Nyatanya, usahanya berhasil membuat Dimas gagal mendekati pohon beringin tersebut.

Flashback off.

"Kamu ngapain berjalan mendekati pohon beringin itu?" tanya Riko mulai menginterogasi.

Dimas tampak terdiam memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan. Dimas masih ragu untuk menceritakan kejadian yang di alaminya itu kepada kedua temannya.

"Cuma penasaran aja, kalau aku melihat pohon beringin itu, rasanya kaya menyimpan sebuah misteri," ucap Dimas tidak sepenuhnya bohong.

Riko bisa bernafas lega karena Dimas tidak melihat sesosok wanita yang sedang berdiri di bawah pohon beringin itu.

"Memang penuh misteri. aku aja yang melihat setiap hari, tetap aja merinding kalau melewatinya," ucap Satrio yang ikut menyahut dengan pembicaraan Riko dan Dimas.

"Berarti bukan cuma aku yang merasa bahwa pohon beringin itu seperti menyimpan sebuah misteri?" tanya Dimas berbinar karena menemukan teman yang mempunyai insting yang sama.

"Kalau kamu bagaimana, Rik?" tanya Satrio yang melihat Riko hanya terdiam.

Riko tampak menatap kedua temannya secara bergantian sebelum menjawabnya.

"Memang banyak misteri yang tersimpan di dalam pohon beringin itu,"

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

🥰Siti Hindun

🥰Siti Hindun

mampir Kak..
udah mulai tegang nih..

2023-12-10

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

jadi makin penasaran nih 😅😅😅

2023-09-19

0

Putri Minwa

Putri Minwa

kita saling dukung ya thor

2022-10-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!