5. Mimpi buruk

Karena merasa tidak tahan mendengar teriakan itu, Dimas akhirnya berdiri dan berjalan menuju arah sumber suara.

Setelah sampai di ruang tengah, Dimas bisa melihat Satrio yang penampilannya masih acak-acakan karena baru bangun tidur. Ditangannya sudah memegang sapu dan terlihat sibuk mengejar sesuatu yang tidak Dimas tahu apa itu.

“Satrio berhenti!” sentak Dimas merasa geram Karena pagi-pagi begini Satrio sudah berteriak-teriak. “Itu kecoaknya banyak banget, Dim. Aku geli liatnya,” jawab Satrio lengkap dengan wajah paniknya.

Dimas menghembuskan nafasnya kasar saat mengetahui apa penyebab Satrio berteriak seperti itu.

Tidak lain hanya karena ada kecoak di sekitarnya.

“Hanya kecoak dan kamu sehisteris itu?” tanya Dimas tidak habis pikir dengan temannya satu itu. “Aku phobia kecoak, Dimas. Aku takut kalau lihat kecoak karena dulu, telinga aku pernah kemasukan kecoak kecil dan bikin telinga bagian dalam aku tuh berdarah,” jawab Satrio memberikan alasan.

Dimas mengerti alasan mengapa Satrio begitu takut dengan kecoak. Dimas bisa memahami itu walau dirinya sama sekali tidak punya phobia terhadap apa pun.

“Biar aku saja yang mengusir kecoaknya. Kamu mending mandi dulu. Bisa saja kecoak datang karena badan kamu bau,” ucap Dimas sambil tersenyum meledek ke arah Satrio.

Satrio mengendus-endus tubuhnya sendiri dan memang benar bahwa, tubuhnya memanglah sangat bau keringat.

“Oke, aku mandi dulu kalau begitu,” ucap Satrio menurut.

Dimas sudah tidak menanggapi ucapan Satrio dan memilih fokus mengusir kecoak yang jumlahnya tidak banyak. Hanya ada tiga kecoak namun, tingkah Satrio seakan-akan sedang membasmi beribu-ribu kecoak.

Dimas geleng-geleng kepala mengingat tingkah lucu Satrio yang takut kepada kecoak.

Tidak sepadan dengan tubuh atletiknya.

Setelah menyemprot kecoak dengan cairan pembasmi, akhirnya kecoak itu mati. Dimas segera membuangnya di tempat sampah.

*

Saat jam istirahat kantor tiba, Dimas memilih makan siang di kantin. Dimas juga sudah melaksanakan salat zuhurnya.

Riko dan Satrio tidak ikut dengannya karena harus turun ke lapangan mengurusi pekerjaan.

Dimas memesan bakso untuk makan siangnya. Tidak lupa, Dimas juga memesan ketupat agar perutnya kenyang.

“Hai Dimas, boleh aku duduk di sini?” sapa seseorang yang sudah berdiri di samping meja Dimas.

Dimas yang sedang akan menyuapkan satu bakso ke mulutnya pun akhirnya urung. Dia mendongak menatap seseorang yang menyapa dirinya.

“Hai Clarissa. Silakan duduk,” jawab Dimas ramah.

Setelah Clarissa duduk, Dimas kembali memakan baksonya.

“Kamu juga tinggal bersama Riko dan Satrio, Dim?” tanya Clarissa membuka pembahasan.

“Iya, kami tinggal bersama,” jawab Dimas yang masih fokus dengan semangkok baksonya.

Tidak berapa lama, mangkok bakso yang ada di hadapannya pun sudah habis isinya.

Dimas meminum jus jeruknya hingga tandas dan membuat Clarissa terkekeh melihatnya.

“Kenapa?” tanya Dimas bingung karena tidak mengetahui penyebab pasti yang membuat Clarissa terkekeh.

“Nggak, kamu lucu banget minumnya. Haus banget ya?” tanya Clarissa lagi sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih.

Dimas mengangguk dan tersenyum mengiyakan.

“Oh ya, dulu aku juga tinggal di rumah dinas itu loh. Dulu bukan rumah Dinas, melainkan rumah pribadi yang keluargaku tinggali,” ucap Clarissa yang berhasil menarik perhatian Dimas untuk bisa mendengarkan lebih banyak lagi tentang rumah dinas itu.

“Lalu, kenapa sekarang menjadi rumah dinas? Apa keluargamu menjualnya?” tanya Dimas mulai penasaran.

“Kami menjualnya beberapa tahun yang lalu dengan pihak pemerintahan dengan harga yang lumayan murah. Dan pemerintah setempat menjadikannya rumah dinas sampai sekarang,” jawab Clarissa yang sudah tidak sadar telah menceritakan asal-usul rumah dinas.

“Kenapa murah? Bukankah rumah itu luas? Harusnya punya harga jual yang tinggi kan?” tanya Dimas lagi.

“Ada sesuatu yang terjadi di rumah itu dan membuat kami sekeluarga memilih menjualnya dan pindah rumah,” jawab Clarissa lagi.

“Apa yang terjadi memangnya? Oh ya, apa dulu kalian yang menanam pohon beringin di depan rumah?” tanya Dimas yang berhasil membuat wajah Clarissa terlihat salah tingkah.

Clarissa seakan sadar bahwa dirinya sudah kelepasan bicara dan memilih pamit ke kamar mandi sebagai alasan.

“Aku nggak tahu. Kalau begitu, aku ke toilet sebentar dan harus kembali lagi bekerja. Aku tinggal dulu ya, Dim,” ucap Clarissa yang sudah terburu-buru pergi dari hadapan Dimas.

Dimas ingin mencegah dan bertanya lebih lanjut, namun sepertinya Clarissa sudah tidak mau menceritakannya lebih detail lagi.

Dan yang membuat Dimas bertanya-tanya adalah, mengapa Clarissa mau bekerja di pemerintahan?

Bukankah dia anak orang kaya jika dulu keluarganya adalah pemilik rumah dinas itu?

Teka-teki yang Dimas temui semakin membuat kepalanya pusing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

Semua seperti kepingan puzzle yang belum menyatu satu sama lain.

Apalagi jika mengingat sesosok perempuan yang meminta tolong kepadanya di dekat pohon beringin itu.

Dimas yakin ada sesuatu yang terjadi di rumah dinas dan pohon beringin itu.

Lalu siapa sosok yang berada di kamar mandi yang Dimas lihat?

Wujudnya sangat berbeda dengan sosok yang Dimas lihat di dekat pohon beringin.

Apakah keduanya ada sangkut pautnya?

Dimas mengacak rambutnya frustasi karena masih belum mendapatkan jawaban yang pasti tentang misteri pohon beringin itu.

*

Dimas kembali lagi ke rumah dinas setelah jam kantornya habis.

Dia menaiki ojek online karena mobil dinasnya sedang Riko dan Satrio pakai.

Saat melihat ke dalam, sepertinya Riko dan Satrio belum pulang.

Hari sudah menunjukkan pukul lima sore, namun suasananya masih terlihat terang dan belum menunjukkan tanda-tanda akan gelap.

Dimas memasuki pekarangan rumah itu dengan langkah gontai. Hari ini dia bekerja sangat keras. Banyak berkas pemerintahan yang harus Dimas kerjakan.

“Assalamualaikum.”

Dimas mengucapkan salam saat pertama kali memasuki rumah walaupun tidak ada orang di dalamnya. Tujuannya adalah, agar ‘sesuatu’ yang mengikutinya di luar rumah juga tidak ikut masuk.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, Dimas segera menghidupkan lampu karena kelambu di dalam kamarnya tadi pagi lupa Dimas sibakkan. Sehingga membuat suasana menjadi gelap gulita walau di luar rumah masih terang.

Dimas segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lupa dia membaca doa terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Dimas membaringkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang.

Tidak berapa lama, Dimas akhirnya tertidur di sore hari itu.

Sudah setengah jam lamanya Dimas tertidur di dalam kamarnya. Hari bahkan sudah berganti dengan gelap.

Namun sepertinya, Dimas masih enggan untuk membuka mata. Dimas bermimpi, mimpi yang sangat aneh karena tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadinya.

Dahi Dimas terlihat berkerut pertanda mimpi yang sedang dia alami bukanlah mimpi indah.

Dimas memimpikan seorang gadis bernama Bening yang sedang berjuang untuk menyelamatkan rumah peninggalan orang tuanya dari keserakahan pamannya.

Bisa Dimas lihat bahwa ruangan yang berada di dalam mimpinya sama dengan ruangan yang berada di dalam rumah dinas yang dia tempati.

 

 

Terpopuler

Comments

🥰Siti Hindun

🥰Siti Hindun

penuh dengan teka-teki,apakah paman'y Bening yg menyebabkan Bening meninggal?🤔

2023-12-10

1

novita setya

novita setya

masdim..menjelang magrib ko tdr siii ga blh lho

2023-12-06

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

apa Clarissa ada sangkut pautnya sama Bening ya 🤔🤔🤔

2023-09-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!