"Kamu kenapa, Dim? Kok duduk di pojokan gitu? Kaya liat setan aja," ucap Riko berjalan mendekat menuju dapur. Dia langsung terkejut karena melihat dapur yang sangat berantakan hingga semua baenag berjatuhan di lantai.
"Emang Dimas habis liat setan. Dan setannya itu nyamar jadi kamu," jawab Satrio yang berhasil membuat mulut Riko menutup kembali karena sangat terkejut. "Jangan-jangan, dia makhluk yang sama dengan yang pernah gangguin kalian waktu itu," ucap Riko panik.
"Kalian sudah pernah mengalami kejadian ini sebelumnya?" tanya kakek Fakih yang sudah tidak terkejut lagi. Dimas dan Satrio mengangguk membenarkan. Mereka tidak perlu lagi menutup-nutupi semua dari kakek Fakih.
"Tapi ini lebih parah lagi, Rik. Dia sampai mendodongkan pisau dan hampir saja mengenai mataku," jawab Dimas menjelaskan.
Memang kita hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata. Mereka bisa melihat kita, tapi kita tidak bisa melihat mereka. Wajar saja jika merasa terganggu dengan kehadiran manusia di dalam tempat yang sudah mereka tandai menjadi miliknya.
Mereka yang tak kasat mata akan berpikir bahwa kita sudah mengusik ketenangannya. "Kamu pasti rajin sholat kan, Dimas?" tanya kakek Fakih lagi. Dimas terkejut dan hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan dari kakek Fakih.
"Bagus. Tingkatkan! Ini akan membantu mempermudah kita menyelesaikan teka-teki tentang pohon beringin di depan rumah itu. Satrio dan Riko, kalian juga harus rajin beribadah," ucap kakek Fakih yang berhasil membuat ketiga pemuda itu mengernyit bingung. "Maksudnya gimana, Kek? Misi apa yang kakek maksud?" tanya Riko yang tidak paham.
Kakek Fakih tersenyum tipis. "Sepertinya, indera keenammu sudah tidak berfungsi dengan baik." jawab kakek Fakih terkekeh. Riko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena perkataan kakeknya memang benar adanya.
"Nanti kakek akan ceritakan semua yang ada di penglihatan kakek. Kita makan dulu," ucap kakek Fakih akhirnya.
Setelah itu, Dimas kembali meneylesaikan masaknya yang sempat tertunda. Satrio dan Riko ikut membantu agar cepat selesai. Kakek Fakih hanya memandang ketiga pemuda itu yang sangat akrab layaknya saudara. Kakek Fakih bertambah yakin bahwa mereka semua bisa memecahkan misteri dari dunia lain.
Kakek Fakih tahu bahwa ada tangan-tangan serakah yang ingin menguasai segalanya. Dialah penyebab rumah sebesar itu menjadi sangat dingin dan mencekam untuk ditinggali. Namun karena Dimas selalu melaksanakan salat dan membaca Al Qur'an dalam rumah, rumah Dimas tersebut jadi memiliki sedikit cahaya.
Kakek fakih bisa melihat kamar yang di tempati Dimas begitu nyaman dan hangat tidak seperti ruangan yang lainnya. Mungkin karena kamar Dimas selalu digunakan untuk melakukan hal-hal yang positif.
Tidak berapa lama, akhirnya makan malam sudah terhidang di atas meja. Semua mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang telah tersedia. Mereka semua makan dengan khidmat tanpa suara karena ingin menghargai makanan.
*
Saat ini, kakek Fakih dan tiga pemuda pemberani itu sedang berkumpul di ruang tengah. (Tiga pemuda pemberani 😅). Kakek Fakih akan menjelaskan semua kejadian yang telah menimpa mereka.
"Sebenarnya, penunggu pohon beringin itu bernama Bening. Dia meninggal karena di pukul menggunakan tongkat bisbol dan kepalanya mengenai pohon beringin itu," ungkap kakek Fakih yang berhasil membuat Satrio dan Riko membelalak, mulutnya menganga lebar saking terkejut dan tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
Sedangkan Dimas, dia menunjukkan ekspresi biasa saja, sama sekali tidak terkejut. Dia menduga bahwa mimpinya benar-benar kejadian nyata. "Eh, kalau nggak salah, Dimas juga mimpi gitu kan? Dan gadis itu bernama Bening. Sama persis seperti yang kakek ceritakan," ucap Riko yang mulai menyadari.
"Jadi, Dimas sudah pernah di datangi dalam mimpinya?" tanya kakek Fakih terkejut. Dimas mengangguk membenarkan. "Iya, Kek. Dan yang di katakan kakek sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku. Aku bisa liat kejadian itu secara langsung," jawab Dimas sambil matanya menerawang.
Kakek Fakih menegakkan duduknya untuk menanayai lebih lanjut kepada Dimas. "Terus, kamu tahu tidak setelah itu si Bening di bawa ke mana?" tanya kakek menatap Dimas serius.
Dimas menggeleng. "Aku nggak tahu, Kek. Habis itu, aku terbangun," jawab Dimas berkata jujur. Kakek Fakih tampak berpikir untuk mencerna ucapan Dimas. Sedangkan Satrio dan Riko, mereka masih menjadi pendengar setia.
Kakek mulai membuka mulutnya lagi untuk berbicara. "Kakek yakin, entah cepat atau lambat, dia akan datang ke dalam mimpimu lagi. Ceritanya belum selesai sampai di situ," Kakek Fakih mengucapkannya dengan nada serius.
Tiga pemuda itu tampak mengernyit kebingungan. Riko yang sudah tidak tahan, akhirnya memilih bertanya daripada dihantui rasa penasaran. "Maksud kakek gimana?" tanya Riko yang di angguki oleh Dimas dan Satrio. Sekaan pertanyaan Riko juga ingin mereka tanyakan pada kakek Fakih.
"Sampai sekarang, jasad Bening tidak di ketahui keberadaannya. Arwah Bening juga tidak mengetahuinya. Katanya, ada sesuatu yang mengahalangi dia untuk melihat jasadnya sendiri," ungkap kakek Fakih yang membuat ketiga pemuda itu terdiam seribu bahasa.
Dimas tidak bisa berkata apapun. Ini adalah masalah yang serius. Dan Dimas bisa memastikan jika jasad Bening di temukan, pelakunya juga akan tertangkap. "Kek, apa arwah Bening nggak ganggu pembunuhnya?" tanya Dimas begitu saja. Pertanyaannya itu berhasil membuat Satrio dan Riko kembali tersadar dari lamunan.
Kakek Fakih menghela nafasnya lelah. "Justru itu, ada makhluk kiriman yang mencegah arwah Bening agar tidak menganggu pembunuhnya. Kakek juga agak bingung dengan makhluk kiriman itu," ucap kakek Fakih sambil menerawang jauh.
"Bingung bagaimana maksudnya, Kek?" tanya Satrio penasaran. Riko dan Dimas terdiam untuk mendengarkan penjelasan kakek Fakih selanjutnya. "Dia sangat kuat. Tapi kakek percaya dia juga sosok arwah, sama seperti bening," ungkap kakek Fakih lagi.
Pikiran Dimas semakin tidak karuan. Mungkin jika kepalanya Made in Cina, sudah dipastikan bahwa kepalanya akan meledak karena tidak sanggup menahan beban berat.
Banyak sekali misteri yang harus Dimas pecahkan. Belum selesai masalah yang satu, sudah muncul lagi masalah yang lain.
Semua seakan beruntun mengisi kepala Dimas begitu saja. Dan entah mengapa, hanya dirinyalah yang di datangi dalam mimpi oleh arwah Bening.
Dimas juga sedikit heran, mengapa mimpinya selalu terpotong dan akan berlanjut di lain hari? Aneh sekali jika itu hanya bunga dalam tidurnya. Rasanya bagi Dimas, itu tidaklah wajar.
Dimas berharap, nanti malam mimpinya akan berlanjut kembali. Dengan begitu, misteri dan teka-teki dalam hidupnya akan segera terpecahkan.
"Tunggu, Kek." ucap Dimas ketika dia mengingat perkataan kakek Fakih. "Jadi maksud kakek, sosok yang mempunyai energi sangat kuat itu juga seorang arwah?" tanya Dimas serius.
"Ealah, masa seorang arwah si? Ambigu banget. Sesosok arwah baru bener," ucap Satrio nyeleneh. Satrio tidak tahu saja bahwa Dimas mengucapkan kalimat itu juga tanpa sadar. "Iya, sesosok." ucap Dimas memilih mengalah karena tidak mau perdebatan dengan Satrio terjadi.
"Iya, dia juga arwah yang matinya penasaran,"
"APA!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
FD21
sepertinya bermaksud meroasting produk cina🗿🗿
2024-01-11
2
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bikin penasaran nih
2023-09-19
0
Putri Minwa
ceritanya bikin kk merinding thor
2022-10-28
1