Di dalam mimpi.
“Tolong jangan lakukan ini kepadaku. Jangan jual rumah ini, rumah ini satu-satunya peninggalan orang tua Bening, Om,” ucap seorang perempuan memohon kepada seseorang yang disebut Om itu.
Dia sampai bersimpuh di kaki omnya dan menangis sesenggukan agar rumah peninggalan orang tuanya tidak dijual.
“Kamu sudah menanda tanganinya. Rumah ini sudah resmi menjadi rumah kami,” jawab seseorang yang dipanggil Om itu oleh perempuan bernama Bening. “Kalau begitu, Bening bakal laporkan Om ke polisi karena telah melakukan penipuan kepada keponakannya sendiri,” ucap bening dengan nada tegas dan mengancam.
“Sudahlah, Pa. Kita habisi dia saja secepatnya. Agar semua harta warisannya jatuh ke tangan kita,” ucap seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah istri dari seseorang yang di panggil Om, oleh Bening.
Sedangkan di sebelah wanita paruh baya itu, ada seorang gadis yang duduk di sebelah ibunya dengan tampang angkuhnya.
Kemudian, gadis itu membisikkan sesuatu di telinga sang bunda dan berhasil membuat sang bunda tersenyum licik.
“Pa, kita nggak perlu jual rumah ini, asalkan Bening mau ....” ucap wanita paruh baya itu sengaja menggantung. “Mau apa Tante? Apa pun itu akan Bening lakukan untuk menyelamatkan rumah kenangan Bening bersama ayah dan ibu,” ucap bening seperti mendapat secercah harapan.
Air mata yang masih mengalir di pipinya, Bening hapus dengan punggung tangannya.
“Tante akan kasih tahu nanti. Sekarang kamu ke kamar dulu dan Tante akan nyusul sama adek kamu,” ucap sang Tante memerintah.
Bening mengernyit bingung dengan apa yang akan Tante dan adik sepupunya itu lakukan.
Namun karena merasa tidak punya pilihan, Bening memilih menurut dan masuk ke dalam kamarnya. Selang beberapa menit kemudian, pintu kamar Bening terbuka menampakkan sosok adiknya yang sedang berjalan dengan angkuhnya mendekati Bening.
Di tangan adik sepupunya itu terdapat setelan kebaya. Entah apa yang akan dilakukan adik sepupunya itu hingga membawa kebaya ke dalam kamarnya.
“Pakai ini, cepat!” perintah adik sepupu kepada Bening.
“Tapi buat apa?” tanya bening yang sebenarnya ingin menolak.
“Pakai nggak?!” bentak adik sepupu kasar.
“Nggak. Aku nggak mau pakai. Buat apa aku pakai baju beginian,” jawab Bening yang mulai berani.
“Pakai sekarang juga, Bening!” ucap tantenya kasar yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
Bening menurut dan mengganti bajunya dengan baju kebaya itu ke kamar mandi.
Setelah selesai, Bening keluar dari kamar mandi dengan mengenakan setelan kebaya itu.
Sangat cantik dengan rambut sebahunya yang tergerai indah.
Dimas yang memimpikannya sampai terpana dengan kecantikan seseorang bernama Bening itu.
“Bangun Dimas! Bangun!”
“Maling! Maling!”
Byur! Byur! Byur!
Dimas langsung gelagapan dan terbangun dari mimpinya.
Dimas mengusap wajahnya yang terkena air tiga kali guyuran.
“Apa-apaan sih kalian. Jahat banget sama teman sendiri main guyur pakai air saja,” gerutu Dimas merasa kesal dengan tingkah kedua temannya itu.
“Ya habisnya kamu tidurnya sambil senyum-senyum sendiri. Lagi memimpikan siapa hayo?” tanya Satrio dengan senyum menyebalkannya. “Apaan sih kalian berdua. Yang ada tuh, aku mimpi aneh banget,” ucap Dimas yang mulai mengingat isi dari mimpinya.
“Mimpi apa memangnya?” tanya Riko penasaran. “Aneh pokoknya. Kalau kalian nggak bangunin, mungkin aku sudah menyelesaikan mimpi itu,” ucap Dimas kesal dan segera beranjak dari kasur untuk mengganti bajunya yang basah.
*
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ketiga lelaki itu masih betah berada di depan tv untuk menyaksikan acara pertandingan bola. Karena besok libur, mereka bertiga sepakat untuk begadang.
Nyatanya rencana hanya tinggal wacana karena Riko dan Satrio sudah merasa mengantuk. “Pertandingan sudah mau selesai, aku tidur dulu kalau begitu ya,” ucap Riko berpamitan.
“Aku juga deh. Ngantuk banget mata aku,” ucap Satrio yang juga menyusul Riko ke kamar.
Dimas hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua temannya.
Mereka yang mengatakan ingin begadang dengan menggebu-gebu, mereka juga yang menyerah dahulu karena merasa mengantuk.
Dimas kembali fokus menyaksikan pertandingan bola di depannya. Namun tiba-tiba Dimas melihat siluet seseorang berada di luar tepatnya di teras depan.
Dimas melebarkan matanya untuk bisa melihat seseorang tersebut dengan jelas.
Namun entah mengapa, lampu tiba-tiba mati dan membuat Dimas panik mendadak.
“Riko! Satrio! Jangan bercanda deh. Nggak lucu tau,” gerutu Dimas merasa kesal.
Ting.
Lampu kembali menyala dan membuat Dimas bisa bernafas dengan lega.
Karena sudah malam, akhirnya Dimas memilih untuk tidur saja.
Dia beranjak dari sofa yang di dudukinya dan langsung terkejut saat melihat Riko yang sedang berdiri di depan lemari pendingin.
“Kamu haus, Rik?” tanya Dimas tenang.
Riko hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan yang Dimas lontarkan.
“Aku tidur dulu ya, nanti lampunya kamu yang matikan,” ucap Dimas yang tidak memedulikan Riko yang mengabaikan ucapannya.
Dimas berjalan menuju kamarnya. Setelah sampai, Dimas menyempatkan diri untuk menengok ke belakang demi melihat Riko lagi dan ingin mendengar jawaban dari Riko.
Saat dirinya menoleh, lampu ruang tengah sudah padam dan Riko sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Dimas mengangkat bahunya tanda tidak peduli.
“Mungkin Riko udah ke kamarnya lagi,” monolog Dimas pada dirinya sendiri.
Kemudian Dimas membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali saat dirinya sudah masuk.
Dimas merebahkan dirinya di atas kasur dan perlahan-lahan, matanya mulai berat dan akhirnya, Dimas tertidur.
Keesokan harinya, Dimas bangun pagi walaupun hari ini dirinya libur bekerja. Dimas harus tetap bangun pagi untuk melakukan salat Subuhnya.
Setelah selesai salat dan membaca Al Qur’an, Dimas segera mengambil ponsel untuk berkabar dengan kedua orang tuanya.
Sekitar satu jam berkabar, Dimas keluar dari kamar untuk sarapan.
Bisa Dimas duga jika kedua temannya itu pasti belum terbangun dari tidurnya.
Namun dugaan Dimas salah, kedua temanya itu sudah terbangun dan sedang duduk di teras depan ditemani secangkir kopi dan beberapa camilan di meja.
“Kalian kok udah bangun?” tanya Dimas saat sudah dekat dengan kedua temannya.
Dimas sengaja menyusul kedua temannya yang berada di teras untuk mengobrol bersama mereka agar hubungannya lebih dekat lagi.
“Semalam kamu minumnya cepat banget ya, Rik? Kok aku nengok kamu udah nggak ada. Terus aku tanya, kamu diam saja,” ucap Dimas kesal menatap ke arah temannya itu.
“Nanya apaan? Aku semalam nggak ada kebangun buat ambil minum loh,” ungkap Riko yang berhasil membuat mulut Dimas melongo.
“Mungkin kamu mimpi kali, Dim. Orang semalam aja aku lihat kamu tertidur di ruang tengah dengan TV masih menyala,” ungkap Satrio lagi yang berhasil membuat jantung Dimas berdetak tidak sewajarnya.
“Aku nggak ada tidur di ruang tengah. Setelah kalian masuk kamar, aku juga masuk ke kamar untuk tidur,” ucap Dimas tidak berbohong.
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain tanda tidak mengerti dengan keadaan yang sedang mereka alami.
“Jadi, semalam yang berdiri di depan kulkas, siapa?” tanya Dimas yang wajahnya mulai pias.
“Terus yang tidur di depan TV, kalau bukan Dimas, siapa?” sahut Satrio yang juga kebingungan.
Satrio dan Dimas menatap penuh tanya ke arah Riko yang masih terdiam menatap lurus ke depan.
Kemudian Riko bersuara untuk menjawab pertanyaan kedua temannya.
“Ada yang mau gangguin kita, dan mereka penunggu rumah dinas ini,"
.
.
.
.
.
.
ada salam dari mbak Kun nih 🤣🤣🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Lina Suwanti
astaghfirullah.....kaget saya,,nyerah deh klo ada visual begitu
2023-12-13
1
novita setya
astagaaa q kwaaageet..njondhil gegara gambar yg tiba2 nongol. hadeeh untung bacanya sore..wes wes
2023-12-06
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Thor itu gambar bikin saya serangan jantung sumpah untuk bacanya pagi menuju siang jadi msh gak terlalu deg deg gan nih 🤭🤭🤭
2023-09-19
0