2. Kejadian aneh

 

Keesokan harinya, Dimas terbangun tepat pukul empat pagi. Sudah seperti alarm, Dimas selalu terbangun pada jam-jam seperti itu.

Setelah membuka matanya lebar-lebar dan mengumpulkan nyawa sebanyak-banyaknya, Dimas segera berjalan ke kamar mandi untuk berwudu dan membersihkan diri dengan mandi.

Saat sedang membasuh dirinya di bawah pancuran shower, Dimas merasa ada yang sedang mengawasi dirinya dari segala arah.

Dimas mematikan shower dan menatap sekeliling.

Nihil.

Dia tidak menemukan siapa-siapa.

Dimas berpikir sejenak.

“Mungkin ini cuma perasaanku aja,” monolog Dimas pada dirinya sendiri.

Akhirnya Dimas memilih melanjutkan ritual mandinya lagi hingga selesai.

Setelah selesai, Dimas melilitkan handuk di pinggangnya.

Kemudian Dimas berjalan menuju wastafel untuk menggosok giginya terlebih dahulu.

Saat ingin mengambil pasta gigi yang tergeletak di pinggiran wastafel, tiba-tiba pasta gigi tersebut bergeser sendiri.

Dimas masih berusaha untuk berpikir positif. Dia kembali mengambil pasta giginya itu, lagi-lagi pasta gigi itu berpindah sendiri.

Dimas kemudian celingukan ke sana ke mari untuk mengecek apa ada orang di dalam kamar mandi selain dirinya.

Setelah menarik dan menghembuskan nafasnya, Dimas mencoba untuk mengambil pasta gigi itu kembali.

Saat tangannya berhasil menyentuh pasta gigi tersebut, di saat bersamaan, Dimas merasa ada tangan lain yang juga menyentuh punggung tangannya.

Dimas langsung tersentak dan mundur beberapa langkah.

Nafasnya terdengar memburu. Dimas tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dia alami.

Dimas memepetkan tubuhnya pada tembok dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Tidak ada siapa pun selain dirinya.

Dimas mulai tahu bahwa dirinya sedang diganggu oleh makhluk tak kasat mata.

Saat pandangannya jatuh pada cermin di depannya, Dimas membelalak tak percaya, tubuhnya bergetar menahan takut karena melihat sosok berambut panjang dan berpakaian serba putih sedang berada tepat di atas kepalanya.

Posisi sosok itu merayap seperti cecak.

Kemudian terdengar suara tertawa menggelegar di seisi kamar mandi.

Hahahaha!!

Hahahaha!!

Makhluk tersebut merayap ke sana ke mari dan berhenti di langit-langit kamar dengan posisi menatap Dimas.

Bisa Dimas lihat wajah makhluk tersebut begitu menyeramkan dengan wajah rusak dan salah satu matanya keluar dan menggantung di depan wajahnya.

Dimas menutup telinga dan matanya rapat-rapat.

Karena tidak mungkin berdoa di dalam kamar mandi karena itu merupakan suatu larangan dari Allah SWT, Dimas memilih melafalkan doa di dalam hati.

Berbagai macam doa pengusir makhluk halus berusaha Dimas lafalkan dengan tubuh yang bergetar hebat.

Hingga perlahan, suara tertawa itu berubah menjadi suara tangisan merintih yang menyayat hati.

Dimas terus melafalkan doa yang dia bisa dan hafal. “Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim.”

Setelah selesai melafalkan ayat tersebut, suara-suara yang tadi ada kini sudah tidak terdengar lagi.

Bersamaan dengan itu, suara azan subuh mulai terdengar dari masjid dengan pengeras suara.

Dimas akhirnya membuka matanya yang sudah mengembun karena rasa takut yang mendera di hatinya. Ya, Dimas menangis.

Seharusnya Dimas tidak boleh takut, tapi ini merupakan kejadian pertama yang Dimas alami, yaitu bisa mendengar dan melihat makhluk halus itu sendiri.

Setelah menguasai dirinya kembali, Dimas segera mengambil air wudu dan keluar dari dalam kamar mandi.

Setelah memakai pakaian lengkap, Dimas segera menjalankan kewajibannya pagi itu sebagai umat muslim.

*

“Selamat pagi, Satrio, Riko,” sapa Dimas untuk pertama kali di meja makan.

“Selamat pagi, Dimas. Bagaimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Satrio memastikan.

“Nyenyak kok, Sat,” jawab Dimas yang memang tidak berbohong.

Setelah sarapan selesai, mereka berangkat ke kantor pemerintahan bersama dengan mengendarai mobil yang memang sudah di siapkan khusus untuk pegawai di sana.

Saat akan melewati pohon beringin, tubuh Dimas tiba-tiba merinding.

Entah mengapa Dimas selalu merinding saat melewati pohon beringin tersebut.

Dimas menatap pohon beringin itu sekali lagi sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana.

Tidak ada yang aneh sedikit pun. Tapi, Dimas selalu merasa ada sesuatu dengan pohon beringin tersebut.

“Kenapa Dimas? Kok malah melamun?” ucap Riko yang berhasil menyentak lamunan Dimas akan misteri pohon beringin yang ada di depannya.

“Eh! Ayo berangkat sekarang saja!” ajak Dimas yang di angguki oleh kedua temannya.

Sesampainya di kantor, Dimas menyapa ramah kepada setiap orang yang berpapasan dengan dirinya.

Setelah sampai, Satrio memberitahukan di mana meja yang akan Dimas tempati sebagai tempat bekerjanya.

Meja Dimas dengan kedua temannya tidak terlalu jauh. Sehingga Dimas bisa bergabung lebih dulu dengan mereka karena belum mengenal satu pun di antara pekerja lainnya.

“Karyawan baru yang dari luar kota ya?” sapa seorang perempuan yang panjang rambutnya hanya sebahu itu.

Dimas mengangguk dan tersenyum ramah untuk menjawabnya.

“Perkenalkan, nama saya Clarissa,” ucap perempuan tersebut sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Dimas tersenyum dan membalas uluran tangan tersebut.

“Saya Dimas. Senang bisa mengenal kamu,” ucap Dimas ramah.

Perempuan itu tersenyum dan meminta izin untuk kembali ke mejanya. Setelah Dimas mengangguk, perempuan itu ternyata duduk di sebelah meja yang Dimas tempati.

Saat pandangannya masih fokus menatap Clarissa, tiba-tiba ada suara bisikan lagi yang terdengar di telinga Dimas.

“Bunuh dia!” ucap suara bisikan tersebut.

Dimas sangat mengenali jika itu bukan suara dari salah satu temannya.

Dimas memejamkan matanya sebentar dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.

Dimas mencoba untuk kembali menatap Satrio yang ada di sebelahnya namun, “Aargh!” Dimas memekik kaget hingga terjatuh ke lantai karena bukan Satrio yang Dimas lihat.

Dimas sampai menjadi pusat perhatian para pegawai yang berada di ruangan tersebut. “Kamu kenapa, Dim? Kamu kaya lihat hantu saja sampai ketakutan seperti itu,” tanya Satrio sambil berniat membantu Dimas untuk berdiri lagi.

Dimas diam untuk mencerna kejadian aneh yang dirinya alami lagi.

“Mengapa di sini aku banyak sekali melihat ‘mereka’? Padahal dulu aku tidak pernah melihatnya,” monolog Dimas pada dirinya sendiri.

“Kamu nggak papa kan, Dim? Dimas? Woy!?” sentak Satrio lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.

Dimas langsung tersentak dari lamunan dan menggeleng lemah sebagai jawaban.

Dimas melihat sosok yang tadi pagi Dimas lihat di dalam kamar mandi.

wajahnya yang rusak dan salah satu matanya yang keluar itu berhasil membuat Dimas bergetar hebat.

Apalagi wajah sosok tersebut begitu dekat dengan wajahnya. matanya yang menggantung sedikit lagi akan menempel di wajah Dimas.

Seketika Dimas mengusap wajahnya takut-takut ada darah yang tertinggal di wajahnya karena hampir menempel mata sosok itu yang keluar dari tempatnya.

"Kamu kenapa Dimas? nggak ada apa-apa kok di wajah kamu," ucap Satrio kebingungan saat melihat Dimas seperti menghapus kotoran di wajahnya.

Dimas menggeleng lagi dan masih enggan untuk menceritakan kejadian yang dirinya alami.

Dimas jadi bertanya-tanya, apakah cuma dirinya yang dihantui makhluk tak kasat mata itu?

Apa Satrio dan Riko tidak mengalami hal yang dirinya alami?

 

Terpopuler

Comments

Dessy

Dessy

Y

2023-12-17

1

novita setya

novita setya

dimas indigo

2023-12-03

0

novita setya

novita setya

dimas hebat disaat ketakutan msh bs baca ayat kursi dg baik. nah gw..kebalik balik

2023-12-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!