Setelah lewat beberapa hari kakek Fakih menceritakan tentang sosok arwah yang berkeliaran di rumah Dinas itu, arwah tersebut seakan tidak pernah muncul lagi. Entah di dunia nyata maupun di alam mimpi Dimas.
Entah ke mana perginya sosok wanita berkebaya dan wanita berambut panjang dengan mata akan keluar itu. Mereka seakan menghilang bersamaan dengan datangnya kakek Fakih ke rumah dinas.
"Bagaimana, Dim? Apa kamu sudah mendapatkan petunjuk lagi, dari dalam mimpi?" tanya Riko memulai pembicaraan. Hari ini adalah hari Minggu. Ketiga pemuda itu libur dan mengabiskan waktunya di dalam rumah.
Saat ini mereka sedang duduk di ruang tengah untuk melanjutkan pembahasan tempo hari bersama kakek Fakih.
Dimas menggeleng lemah. "Belum sama sekali. Udah beberapa hari ini juga, aku nggak pernah di datangi mereka lagi," jawab Dimas sambil memangku tangan. Dia juga bingung mengapa mereka tidak menampakkan dirinya lagi.
"Semua akan ada waktunya dan jika waktu itu tiba, kalian harus bersiap untuk menghadapinya," ucap kakek Fakih misterius dan pandangannya menatap lurus ke arah luar rumah yang terhalang kaca jendela.
Dimas terdiam dan berusaha mencerna kalimat yang kakek Fakih ucapkan. "Berarti, mereka akan datang kembali, Kek?" tanya Dimas yang mulai paham arah pembicaraan kakek Fakih.
Kakek fakih mengangguk membenarkan. "Mereka akan tiba pada waktunya," ungkap kakek Fakih yang berhasil membuat ketiga pemuda itu larut dalam pikirannya masing-masing.
Pada siang harinya, kakek Fakih berpamitan pada tigs pemuda itu. Dia akan pulang siang itu juga. Masih banyak tugas yang harus kakek Fakih selesaikan di kampung halamannya.
"Hati-hati ya, Kek. Dimas hanya bisa mengantar kakek sampai terminal," ucap Riko saat sudah sampai di terminal. Ya, ketiga pemuda itu mengantar kakek Fakih sampai terminal bus yang akan membawa kakek Fakih ke tempat tujuan selanjutnya.
"Iya, jaga diri kalian baik-baik. Satu pesan kakek pada kalian, kuatkan iman kalian agar mudah melawan mereka. Sejatinya, derajat manusia lebih tinggi dari jin dan syetan yang terkutuk. Berdoa selalu setiap kalian ingin memulai sesuatu yang baik,"
Setelah mengucapkan nasihatnya, kakek Fakih masuk ke dalam bus dan tidak lama, bus yang di tumpangi kakek Fakih akhirnya berangkat menuju kota tujuan.
Riko, Dimas, dan Satrio menatap kepergian kakek Fakih dengan perasaan tidak rela. Bagaimana mereka akan melawan kebatilan itu? Apakah mereka bisa menghadapinya? Sungguh, Dimas tidak berpikir sejauh itu bila kakek Fakih akan meninggalkan dirinya dan dua temannya.
Dimas berjalan gontsi menuju mobilnya terparkir. Riko dan Satrio mengikuti Dimas dari belakang. Mereka juga sama tidak relanya jika kakek Fakih meninggalkan mereka hanya dengan sebuah nasihat yang entah akan bisa mereka jalani atau tidak.
Sesampainya di rumah, tiga pemuda itu langsung mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Apakah setelah kepergian kakek, perjuangan kita akan di mulai?" tanya Riko yang sudah menengadah menatap langit-langit rumah. "Entahlah. Mungkin memang benar bahwa semuanya akan segera di mulai," jawab Dimas yang juga melakukan hal yang sama seperti yang Riko lakukan.
GUBRAK!!
Suara itu berhasil mengejutkan ketiga pemuda yang sedang dalam mode melamun itu. Mereka jelas terkejut sampai terheran-heran dengan suara yang baru saja terdengar.
"Itu suara apa ya?" tanya Satrio yang langsung merapatkan tubuhnya pada kedua temannya. Dia mendadak parno jika mendengar suara-suara seperti itu.
Suasana di ruang tengah seakan menjadi mencekam. Tidak ada yang berani mengecek ke arah sumber suara. Dimas dan Riko mengedarkan pandangan ke sekeliling takut mereka yang tak terlihat berhasil di tangkap oleh indera penglihatan mereka.
GUBRAK!!
"Woah!" Tiga pemuda itu memekik kaget saat suara itu terdengar kembali. Karena rasa penasaran lebih besar daripada rasa takut, Dimas akhirnya memberanikan diri untuk melihat ke dapur dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Dimas berjalan mengendap-endap menuju dapur dengan diikuti Satrio dan Riko di belakangnya.
Meong, meong.
Ketiga pemuda itu langsung bernafas lega saat yang di temui di dapur adalah seekor kucing yang sedang mengobrak-abrik isi sampah. Mungkin si kucing mencium bau ikan goreng dari luar sehingga masuk melewati jendela untuk menemukan makanan kesukaannya.
Dimas mendekati kucing tersebut dan memilih memebrikan satu ekor ikan untuk kucing itu makan. Sangat kasihan jika kucing tersebut hanya makan tulang. "Kok malah di kasih ke kucing sih, Dim? Entar makan malem pake apa coba?" tanya Satrio dengan wajah lesunya.
Riko mencebikkan bibirnya kesal. "Pelit banget sih. Entar kita mah gampang mau makan apa. Orang punya duit kok repot," ucap Riko kesal. Dimas menimpali ucapan Riko yang memang ada benarnya. "Benar banget. Sedekah tuh nggak melulu sama manusia. Sama hewan peliharaan juga bisa."
Setelah kucing itu berhasil menghabiskan ikan yang diberikan Dimas, kucing itu langsung pergi lagi lewat jendela. Setelah itu, Dimas pamit menuju kamarnya untuk membersihkan diri karena waktu sudah sore dan sebentar lagi waktu ashar akan tiba.
Setelah masuk ke dalam kamar, Dimas berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak berapa lama, Dimas keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah lebih bugar.
Bersamaan dengan itu, azan ashar di kumandangkan dari masjid dengan pengeras suara. "Alhamdulillah." Dimas mengucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri lebih baik lagi.
Dimas berjalan menuju lemari tempat bajunya di simpan. Dia memakai baju Koko dan sarungnya lalu menggelar sajadah untuk melaksakan kewajibannya kepada Allah SWT.
Setelah selesai, Dimas memanjatkan doa kepada Allah SWT. Dia meminta ampunan atas segala dosa dirinya dan dosa orangtuanya. Tidak lupa, Dimas juga berdoa agar segera diberi petunjuk atas kasus kematian Bening.
Setelah urusannya selesai, Dimas keluar kamar untuk bergabung bersama teman-temannya. Saat melewati lorong kamarnya, Dimas bisa melihat pak Wongso belum pulang dan berjalan tergesa entah ke mana arah yang dia tuju.
Karena merasa penasaran, Dimas memilih mengikuti pak Wongso. Betapa terkejutnya Dimas setelah mengetahui bahwa pak Wongso masuk ke dalam ruangan yang selalu terkunci itu. Bahkan pak Wongso dengan mudahnya masuk ke dalam dengan akses kunci yang berada di tangannya.
Pak Wongso terlihat celingukan ke sana dan ke mari untuk memastikan tidak ada yang melihat dirinya. Dimas bersembunyi di balik dinding agar tidak terlihat oleh pak Wongso.
Setelah memastikan pak Wongso masuk, Dimas mendekati pintu yang sedikit terbuka itu. Dimas sedikit mengintip apa yang di lakukan pak Wongso di dalam.
Dimas bisa melihat pak Wongso seperti sedang membakar dupa yang berada di hadapannya. Ada juga sesajen di sana. Dimas bisa melihatnya karena pak Wongso berdiri menyamping.
Dimas sangat terkejut namun dia berusaha meredamnya agar tidak di ketahui keberadaanya oleh pak Wongso. Seketika pikiran Dimas mempunyai ide agar bisa leluasa melihat-lihat isi di dalam ruangan tersebut.
Dimas mengambil salah satu kunci yang tergantung di lubang kunci. Dimas yakin itu merupakan kunci yang sama dengan kunci yang menacap pada pintu.
Setelah berhasil, Dimas segera berjalan menjauhi ruangan tersebut agar tidak ketahuan oleh pak Wongso.
PRANK!
Dimas malah menyenggol vas yang berada di belakangnya saat akan brbalik. Sehingga hal itu mengundang perhatian pak Wongso. "Siapa itu?" Pekik pak Wongso terkejut.
"Meong, meong, meong."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa ak Wongso jg terlibat ya dlm kasus Bening 🤔🤔🤔
2023-09-19
1
Putri Minwa
pak Wongso ini Mesti di cekal ini thor, biar nggak buat onar
2022-10-28
0
Puspa Elok
pak wongso tgn kanan orgtuay clarissa kli ma
2022-08-22
0