12. Sebuah petunjuk

"Aaaaa!" Pekik bening kesakitan.

Tubuh Bening terjatuh saat tongkat bisbol itu mengenai kepalanya. Apalagi baju kebaya yang di kenakannya begitu menyusahkan Bening untuk berlari.

Namun bening tetap berusaha untuk berlari menghindari walau kepalanya juga terasa begitu pening akibat pukulan dari sepupunya.

"Hahahaha." suara tawa dari satu keluarga itu seakan begitu mengiris hati Bening. Bening terus berlari dengan air mata yang sudah mengalir deras dari kedua sudut matanya.

DUK!

DUK!

Lagi-lagi sepupunya memukul dirinya dengan tongkat bisbol hingga tubuhnya limbung dan kepala membentur pohon beringin yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Pandangan Bening langsung gelap dan Bening bisa melihat kedua orang tuanya berdiri tidak jauh darinya.

Kedua orang tuanya tersenyum memandang Bening. Bening balas tersenyum dan setelah itu, nyawa Bening meninggalkan raganya.

"Clarissa! apa yang kamu lakukan itu sudah keterlaluan!" Pekik omnya bening dan berjalan mendekati bening yang sudah terkapar mati. "Paling cuma pingsan doang, Pa. Coba di cek dulu," ucap Clarissa yang mulai ketakutan.

"Bening udah mati!" ucap papa Clarisa panik.

Buk!

Dimas langsung tersadar dari mimpinya saat dia mendengar suara benda jatuh di dalam kamarnya. Dimas terbangun dengan keadaan nafas yang terengah-engah karena seseorang yang Dimas kenal berada dalam mimpinya dan terlibat pembunuhan bening.

Dimas juga terkejut karena benda yang jatuh di kamarnya ternyata adalah sebuah buku yang berada di meja kerja Dimas. Dimas lalu mendudukkan dirinya guna mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran sama seperti keringatnya yang sudah bercucuran di sekujur tubuhnya.

Bahkan, Dimas bisa merasakan punggungnya yang basah hingga keringat itu mengalir ke bagian pinggangnya. Hari masih siang tapi Dimas sudah memimpikan hal yang tidak-tidak.

Satu hal yang Dimas ingat dari mimpinya barusan adalah, saat gadis bernama Clarissa memukul gadis bernama Bening hingga dia mati. Dimas merasakan mimpi itu seperti sangat nyata dan benar-benar terjadi.

Untuk menjernihkan isi kepalanya yang mendadak pusing, dimas mengambil botol minum di atas nakas yang terletak di samping ranjangnya. Dia menenggak setengah dari isi botol tersebut. Setelah itu, Dimas sudah merasa lebih tenang.

Dimas beranjak dari ranjang menuju meja kerjanya untuk mengambil buku yang baru saja terjatuh. Dia membungkuk demi bisa mengambil buku yang sudah tergeletak di lantai itu. Setelah Dimas mengambilnya, dia meletakkan kembali di atas meja.

Setelah itu Dimas berbalik untuk keluar dari kamar demi mencari udara segar. Tanpa Dimas sadari, saat dirinya meletakkan buku di meja, di sebelah meja itu sudah berdiri sosok wanita berkebaya yang hadir di mimpi Dimas. Dialah yang memberikan petunjuk pada Dimas agar mau membantu dirinya lepas dari tempat dia terpenjara dingin dan sunyi. Dia ingin mati dengan damai.

Setelah keluar kamar, perut Dimas merasakan lapar sehingga dia memilih untuk membuat makan siang. Dia berjalan menuju dapur dan melihat isi lemari pendingin untuk mengecek ada bahan makanan apa saja yang tersisa di sana. Hanya tersisa telur dan sosis yang berada di freezer.

Karena tidak punya pilihan lain, Dimas akhirnya mengolah telur dan sosis itu menjadi nasi goreng sebagai menu makan siangnya. "Nggak ada lauk, masak nasi goreng pun, jadi." Monolog Dimas pada dirinya sendiri.

Riko dan Satrio yang memang berada di rumah dan sedang mengobrol di teras pun bisa mencium bau wangi masakan dari dapur. Perut keduanya langsung berbunyi meminta untuk di isi. Akhirnya keduanya memilih masuk untuk melihat apakah Dimas yang sedang memasak di dapur.

Tidak berapa lama, akhirnya nasi goreng telah jadi. Dimas mengambil piring dan menuangkan nasi tersebut di atas piring. Tidak hanya satu, melainkan tiga piring. Dimas sengaja membuat lumayan banyak karena untuk teman-temannya juga.

"Eh, kamu lagi masak apa, Dim?" tanya Satrio tidak sabaran. Dimas menoleh dan mendapati kedua temannya sudah berdiri tidak jauh dari meja makan. "Masak nasi goreng. Buat kalian juga nih, ambil!" ucap Dimas sambil tersenyum menatap kedua temannya itu.

Riko dan Satrio langsung berbinar karena mendapat jatah makan siang dari Dimas. Apalagi makanannya nasi goreng yang dibuat oleh Dimas sendiri. Keduanya sudah tidak meragukan lagi rasa dari masakan Dimas. Walau Dimas seorang laki-laki, tapi masakannya tidak kalah enak dari chef-chef yang sudah terkenal.

"Beneran nih? Duuuh, jadi ngerasa enak nih," ucap Satrio tersenyum senang dan segera mendudukkan dirinya di kursi kosong untuk menyantap makanan yang sudah di buatkan oleh Dimas.

"Ngerasa nggak enak kali, Sat." sangkal Riko membenarkan. "Ya enak dong. Kan kita jadi kenyang," jawab Satrio tak mau kalah. Akhirny Riko mengangguk mengiyakan saja semua yang dikatakan oleh Satrio. Karena jika hanya berdebat, mungkin sampai subuh pun belum selesai jika orang yang di ajak berdebat seperti Satrio.

Dimas yang melihat interaksi keduanya hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum bahagia. Setiap kali dirinya masak, kedua temannya ini selalu berebut untuk memakan masakannya. Dan itu membuat Dimas mempunyai kepuasan tersendiri pada hasil masakannya sendiri.

"Buruan makan deh. Aku denger suara perut dangdutan barusan," ucap Dimas yang mendengar bunyi perut kelaparan. Riko dan Satrio menyengir karena bunyi perutnya sampai terdengar ke telinga Dimas. "Iya, ini kita makan deh biar perutnya nggak dangdutan mulu,"

Setelah itu, ketiga laki-laki itu makan tanpa suara karena begitu menikmati masakan nasi goreng yang telah Dimas buat. Sangat nikmat dan lezat. Apalagicuaca di luar sedang panas terik, sehingga ketiga laki-laki itu membuat es teh manis untuk menyegarkan tenggorokannya.

Setelah semua selesai, Dimas mulai membuka mulutnya untuk berbicara serius kepada kedua temannya itu. "Aku tadi habis mimpi lagi tentang gadis bernama Bening," ungkap Dimas memulia pembicaraan.

Riko dan Satrio mulai memposisikan diri menghadap Dimas untuk serius mendengarkan setiap ucapan yang akan keluar dari mulut Dimas. "Terus, apa yang terjadi?" jawab Satrio yang mulai penasaran. Kemudian, Dimas menceritakan semua kejadian yang ada dalam mimpinya kepada dua temannya itu.

Dimas menceritakannya dari awal hingga akhir tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Jadi begitu. Tapi, yang bikin aku penasaran adalah, kenapa ada nama Clarissa di dalam mimpiku. Dan orangnya sama persis seperti Clarissa yang kerja juga di kantor pemerintahan," ucap Dimas penuh tanda tanya.

Riko dan Satrio tampak berpikir keras seperti yang Dimas lakukan. Kemudian Riko bersuara. "Ini pasti ada hubungannya dengan wanita penunggu pohon beringin itu. Dengan catatan, mimpi kamu memang dari si arwah tersebut,"

"Bagaimana kita bisa tau jika itu merupakan sebuah petunjuk namun di gambarkan lewat mimpi?" tanya Dimas menduga-duga.

"Bener juga yang dikatakan Dimas, Rik. Bisa aja arwah penunggu pohon beringin ingin meminta bantuan dengan cara lewat mimpi," ucap Satrio yang membenarkan ucapan Dimas.

Riko tamaok berpikir keras untuk mencerna setiap ucapan yang teman-temannya lontarkan. Dia juga tidak bisa memastikan apakah itu sebuah petunjuk atau hanya bungs tidur.

Kemudian Riko berkata. "Besok kakek akan sampai di sini. Lebih baik kita tanya sama kakek apa yang sebenarnya terjadi,"

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

kenapa Dimas gak baca buku yg jatuh dr deket meja kerjanya

2023-09-19

1

Putri Minwa

Putri Minwa

Clarisa jangan berbohong dong

2022-10-27

0

Reni Ardiana

Reni Ardiana

sebaiknya jujurlah clarissa akui smuanya sblm terlambat🤗

2022-08-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!