Setelah memarkirkan mobilnya di pelataran rumah, Riko dan Dimas langsung berjalan tergesa memasuki rumah.
Brak!
Riko langsung membuka pintu dengan kasar dan tidak menemukan Satrio di luar ruangan. Setelah itu, Riko dan Dimas berjalan menuju kamar Satrio barangkali Satrio tertidur karena habis minum obat.
Ceklek.
Riko membuka pintu kamar Satrio dengan pelan karena takut mengganggu istirahat Satrio. Dimas mengikuti dari belakang. Namun saat pintu terbuka, mata Riko dan Dimas langsung membelalak melihat kondisi kamar yang berantakan dan barang-barang berserakan di mana-mana.
Pandangan keduanya jatuh pada Satrio yang sudah tergeletak di lantai dengan kondisi tubuh yang lebam di wajah dan tangannya. Dimas dan Riko langsung berlari mendekat untuk menolong Satrio.
“Satrio! Bangun Sat!” pekik Riko ketakutan. Dia juga menyingkirkan pecahan lampu yang berserakan di sebelah Satrio. Beruntung, tidak ada serpihan kaca yang mengenai bagian tubuh Satrio.
Ya, saat lampu akan jatuh, Satrio segera menghindar dengan menggeser tubuhnya agar tidak tertimpa. Satrio masih punya sedikit tenaga untuk bergerak menghindari lampu itu.
Namun setelah itu, Satrio langsung tak sadarkan diri karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Kepalanya juga terasa pening dan pandangannya langsung gelap begitu saja.
Sedangkan Dimas, dia lebih tenang dan mengecek nadi dan nafas Satrio untuk memastikan Satrio masih bernyawa. “Satrio hanya pingsan, cepat bawa Satrio ke rumah sakit sekarang!” ucap Dimas tidak sabar karena merasa sedih namun ada haru Karana Satrio masih bernafas.
Keduanya tidak tahu kejadian apa yang sudah di alami Satrio sehingga keadaannya begitu mengenaskan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Riko dan Dimas segera membopong tubuh Satrio menuju mobil. Setelah Satrio di baringkan di jok belakang, Riko segera membawa mobil itu menuju rumah sakit agar Satrio segera mendapatkan penanganan.
Sedangkan Dimas, dia tidak ikut ke rumah sakit karena harus menyuruh pekerja yang bertugas membersihkan rumah dinas untuk datang. Setelah memastikan mobil yang Riko kendarai menghilang, Dimas segera masuk kembali ke dalam rumah dan menghubungi pak Wongso yang memang bertugas membersihkan rumahnya.
Pak Wongso hanya datang dua hari sekali untuk membersihkan rumah, dan sekarang bukan jadwalnya pak Wongso membersihkan rumah karena kemarin dia baru saja membersihkannya.
Tut. Tut. Tut.
Panggilan sudah tersambung namun belum ada tanda-tanda bahwa pak Wongso akan mengangkat teleponnya. Karena merasa percuma, akhirnya Dimas memutuskan untuk mendatangi rumahnya saja. Mungkin di rumah pak Wongso sedang melakukan pekerjaan dan tidak mendengar panggilan teleponnya.
Setelah memastikan pintu terkunci, Dimas segera berjalan menuju rumah pak Wongso yang jaraknya tidak jauh dari rumah yang dia tinggali. Hanya butuh waktu lima menit, Dimas akhirnya sampai di depan rumah pak Wongso. Dimas segera mengetuk pintu rumah sebelum masuk.
Tok. Tok. Tok.
Ceklek.
“Eh, Mas Dimas ... Ada apa ya, Mas?” tanya pak Wongso sambil tersenyum lebar.
Dimas balas tersenyum dan mengangguk tanda hormat kepada pak Wongso. Dimas kemudian berucap. “Pak, saya mau minta tolong, bapak bisa nggak sedang datang ke rumah? Karena rumah berantakan banget, Pak,” Dimas berkata sambil memohon.
Dimas bisa melihat ada raut ragu di wajah pak Wongso. Namun sedetik kemudian, pak Wongso bersedia untuk membersihkan rumah walaupun hari ini bukan jadwalnya bersih-bersih.
“Terima kasih, Pak. Ayo, bareng saya berangkatnya,” ucap Dimas berterima kasih.
Kemudian, dia lelaki beda generasi itu segera berjalan beriringan menuju rumah dinas.
“Kenapa bisa seberantakan ini ya, Mas?” tanya pak Wongso merasa terkejut terheran-heran karena melihat kondisi kamar yang berantakannya sudah keterlaluan.
Dimas menggeleng sebagai jawaban karena dia juga tidak tahu pasti apa yang terjadi. “Saya juga kurang tahu, Pak. Tapi, saat saya dan Riko sampai, Satrio sudah tergeletak di lantai dengan luka lebam di sekujur tubuhnya, Pak,” ungkap Dimas pada akhirnya.
Pak Wongso menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan Dimas barusan. Pikirannya langsung jatuh pada kejadian masa lalu yang juga menimpa orang yang tinggal di sini. Dia juga sama seperti Dimas, Riko dan Satrio. Dia bekerja di kantor pemerintah dan merupakan perantauan.
Dimas yang melihat pak Wongso melamun langsung menyadarkannya. “Jangan melamun, Pak. Apa bapak memikirkan sesuatu?” ucap Dimas bermaksud memancing agar pak Wongso mau buka mulut.
Pak Wongso menggeleng dan berusaha tersenyum walau dipaksakan. “Nggak ada, Mas. Saya hanya sedang berpikir beberapa kemungkinan yang terjadi pada mas Satrio,” jawab pak Wongso berbohong.
Dimas sudah menatap curiga pada pak Wongso yang sepertinya salah tingkah. “Ya udah, bapak bersihin dulu tolong ya, Pak. Saya mau nyusul Riko buat jaga Satrio,” ucap Dimas berpamitan.
Setelah mendapat izin dari pak Wongso, Dimas segera memesan taksi online untuk menuju rumah sakit menyusul Riko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jujur aja pak Wongso sama Dimas
2023-09-19
1
Putri Minwa
kita saling dukung ya thor, semangat terus.
2022-10-24
0
Reni Ardiana
jujurlah pak wongso dan berantas smua kejahatan itu💪💪
2022-08-19
0