19. Terancam

"Hihihihihihi."

tiga pemuda itu langsung mengarahkan pandangan ke arah sumber suara. Sungguh, ketiganya langsung terjatuh ke lantai saking terkejutnya. Sosok yang pernah Dimas lihat di kamar mandi, kembali memunculkan dirinya.

"Dia yang pernah aku lihat di kamar mandi. Ingat pesan kakek, jangan takut dan hadapi," ucap Dimas dengan dada yang berdebar-debar. Dimas sedang mengendalikan dirinya dari rasa takut. Satrio dan Dimas seperti mendapat keberaniannya kembali.

"AYO!" Seru ketiganya segera menjalankan tugas masing-masing. Mereka segera berlari menuju tugas masing-masing. Tanpa di duga, sosok itu mengangkat tubuh ketiganya ke udara. Mereka tentu sangat terkejut. Namun mereka memilih menyembunyikannya. Mereka harus berani.

"Lepaskan kami!" Riko memekik dengan lantangnya. Sosok itu kembali tertawa dengan ciri khasnya. Melengking hingga membuat telinga berdenging. "Tidak akan! Kalian sudah menganggu ketenangan ku!" jawab sosok itu dengan geraman dan suara beratnya. Terdengar sangat seram di telinga ketiganya.

Dimas membacakan ayat kursi dengan lantang agar dirinya segera diturunkan begitu juga dengan dua temannya. Terbukti saat Dimas membaca lafal terakhir, tubuh sosok itu terpental dan akhirnya tiga pemuda itu terjatuh ke lantai dengan sangat keras.

Ketiganya memekik sakit. Dimas segera bangkit karena tidak punya waktu lebih lama lagi. Dia segera mencari di mana benda berbentuk kotak kecil dan di bungkus kain kafan. Dengan begitu, dirinya akan mudah menyingkirkan makhluk di depannya.

"Kalian berdoa terus agar makhluk itu tidak mudah menyerang kalian. Aku juga akan berdoa. Sekarang kita cari barang yang dibutuhkan untuk memusnahkan makhluk itu!" pekik Dimas memerintahkan dua temannya untuk segera bergerak. Jika tidak, mereka semua yang akan mati terbunuh oleh makhluk di depannya yang sedang meronta kepanasan setelah mendengar ayat-ayat Allah.

Ketiganya mencari barang yang dibutuhkan dengan selalu mengucapkan kalimat-kalimat Allah. Terbukti, sosok seperti kuntilanak itu selalu memekik kesakitan. "Aaa! Panas! Panaaaas!"

"Aku menemukan botolnya!" Pekik Satrio merasa lega. Tidak lama, Riko juga bersuara bahwa dia sudah menghancurkan semua sesajen di atas meja. Tinggal Dimas yang masih sibuk mencari benda berbentuk kotak yang dibungkus kain kafan.

*

Di kediaman keluarga Clarissa.

"Papa! Papa! Lilinnya padam! Ini pertanda bahaya, Pa!" Clarissa memekik ketakutan. Papa Clarissa langsung berlari menuju tempat sesajen yang berada di rumahnya di letakkan. "Berarti sudah ada yang mengetahui keberadaan jasad ibumu. Ini akan bahaya untuk kita. Kita akan segera mati jika tidak menghentikan semua ini," ucap papa Clarissa dengan tubuh bergetar karena takut.

"Clarissa nggak mau mati! Kita harus segera ke rumah dinas itu! Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja," ucap Clarissa lalu segera berjalan ke kamar untuk mencari kunci mobilnya. "Kita harus ke sana sekarang juga, Pa!" ucap Clarissa mengajak papanya.

Papa Clarissa mengangguk dan segea berjalan keluar untuk menuju rumah dinas. Hanya butuh waktu lima belas menit, Clarissa berserta papanya sampai di depan rumah Dinas.

Keduanya segera berlari untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Namun sayang seribu sayang, semua akses untuk masuk sudah terkunci dengan rapat. "Pasti pelakunya adalah ketiga pemuda itu! Mereka sudah merencanakan semuanya dengan baik," ucap Clarissa kesal karena sudah di bodohi.

"Kamu tenang saja. Masih ada pintu rahasia yang belum kita coba," ucap papa Clarissa lalu melenggang santai menuju belakang rumah. Dan benar saja, pintu rahasia tidak terkunci. Keduanya segera masuk dan menuju ruangan tempat mama Clarissa berada.

Ya, mayat yang berada di ruangan itu adalah mama Clarissa yang mati terbunuh oleh arwah Bening. Bening ingin membalas dendam atas kematian dirinya.

Namun saat baru berhasil membunuh mama Clarissa, papa Clarissa dan Clarissa sudah lebih dulu menghalangi arwah Bening dengan cara membangkitkan arwah mama Clarissa lagi.

Memang papa Clarissa mempunyai banyak relasi dengan dukun yang terkenal hingga yang terhebat di Indonesia. Hanya hal sekecil itu merupakan hal yang mudah untuk papa Clarissa.

Setelah istrinya mati, dia mengendalikan arwah istrinya agar menghalangi arwah Bening untuk tidak membunuh dirinya demi membalas dendam. Dengan syarat, mayat istrinya harus di awetkan di tempat terakhir kali dia meninggal.

Tempat yang sekarang digunakan untuk menaruh sesajen dan mayat istrinya merupakan bekas kamar utama yang di tiduri oleh papa Clarissa dan istrinya dulu.

Memang, manusia yang sudah haus akan kekuasaan sudah tidak mempunyai hati untuk mengasihani walaupun itu keluarganya sendiri. Sudah jelas-jelas itu merupakan istrinya, bukannya segera di makamkan malah dijadikan bahan untuk melindungi diri. Sungguh, tak berperikemanusiaan.

Setelah sampai belakang rumah, mereka dengan mudah bisa membuka pintu rahasia. Mereka segera berjalan menuju tempat mayat mama Clarissa diawetkan. Benar saja, mereka melihat pintu ruangan itu terbuka. Tanpa menunggu lama lagi, mereka segera masuk untuk mengetahui siapa yang berhasil menghancurkan rencananya selama bertahun-tahun.

"Prok, prok, prok!"

Tiga pemuda itu langsung menoleh dan menghentikan kegiatannya saat mendengar tepukan tangan dari arah pintu. Padahal Dimas sudah menemukan benda yang di carinya namun urung dia ambil karena terlalu terkejut mendengar tepukan tangan. Saat menoleh, mereka sudah mendapati Clarissa berserta lelaki paruh baya yang bisa Dimas duga adalah papa Clarissa.

"Hebat sekali kalian. Kalian mau jadi pahlawan? Untuk siapa? Untuk istri saya? Atau untuk Bening?" ucap papa Clarissa yang berhasil membuat tiga pemuda itu merasa geram.

Dimas berusaha mencerna kalimat yang baru saja papa Clarissa ucapkan. "Istri?" batin Dimas bertanya-tanya. Saat sudah paham akan maksud perkataan tadi, Dimas semakin membelalak tak percaya. Mayat yang berada dalam peti adalah ibu Clarissa.

"Mengapa kalian melakukan ini? Dimana hati nuraini kalian? Apa kalian juga membunuh dia?" ucap Dimas sambil menunjuk peti berisi mayat.

"Hahahaha." Clarissa dan papanya tertawa dengan angkuhnya. Selama merekalah pemeran utamanya. "Itu bukan urusan kamu! Hentikan semua yang kalian lakukan. Jika tidak—" ucap papa Clarissa menggantung.

"Jika tidak apa?" tanya Riko yang sudah geram dengan tingkah kedua manusia tak punya hati di hadapannya. "Jika tidak, kalian lah yang akan menyusul Bening ke neraka!"

Setelah mengucapkan itu, papa Clarissa terlihat komat-kamit seperti sedang membacakan mantra sambil memegang botol kecil berisikan air berwarna hijau. Satrio yang memang melihat botol yang sama dengan yang dia pegang, Satrio segera menyembunyikannya di dalam saku celananya.

"Hihihihihi."

Setelah itu, terdengar suara tawa melengking yang bisa tiga pemuda itu tebak adalah suara sosok kuntilanak. Bedanya, salah satu mata sosok itu keluar dari tempatnya. "Hati-hati. Dia adalah ibu Clarissa yang di kendalikan arwahnya. Dan mayat dalam peti merupakan jasadnya yang belum dikuburkan," Dimas berucap saat dua temannya sudah merapatkan tubuh pada dirinya.

Ketiganya sudah berdiri dengan menatap was-was pada apa yang akan sosok itu lakukan pada mereka. Mereka sudah tahu bahwa sosok di hadapannya bukanlah sosok biasa. Dia mempunyai energi yang sangat besar. Sehingga, dia akan dengan mudahnya membunuh ketiganya.

"Habisi tiga manusia bodoh itu!"

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

tidak semudah itu Ferguso 🤭🤭🤭

2023-09-19

1

Putri Minwa

Putri Minwa

kk mampir ya thor, jangan lupa mampir Dibalik kesetiaan Nayla ya

2022-10-28

0

Reni Ardiana

Reni Ardiana

smoga dimas dkk bs slamat🤗

2022-08-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!