15. MATI!

Tanpa memedulikan jepit rambut itu lagi, Dimas segera berjalan keluar untuk menepati janjinya pada semua. Yaitu memasak makan malam.

Setelah sampai di ruang tengah, Dimas tidak menemukan siapa-siapa di sana. *Mereka semua pada ke mana? Kakek fakih juga ke mana?* monolog Dimas pada dirinya sendiri.

Karena tidak ingin bertambah pusing memikirkan hal yang tidak perlu, Dimas akhirnya memilih untuk berjalan menuju dapur. Dia segera melaksanakan janjinya tadi. Dia melihat isi dalam lemari pendingin. Ada daging ayam, kentang, wortel, dan juga tempe.

Dimas berpikir sejenak untuk membuat masakan itu menjadi menu yang bagaimana. Setelah menemukan ide dalam pikirannya, Dimas segera meracik semua bumbu dan bahan makanan. Dia akan membuat sup ayam di lengkapi dengan wortel dan kentang. Sedang untuk tempenya, Dimas akan menggorengnya dengan bumbu bawang dan garam.

Setelah semua bahan terpotong, Dimas mendidihkan air terlebih dahulu. Setelah itu dia menggoreng bumbu yang sudah dia cincang halus. Semua bahan sup segera Dimas masukkan agar matangnya sempurna.

"Kaya ada yang lupa, tapi apa ya?" monolog Dimas pada dirinya sendiri. Dia berpikir sejenak bahan apa yang lupa untuk dia masukkan ke dalam bumbu sup tersebut.

Ting.

Dimas langsung teringat akan daun seledri dan daun bawang yang belum dia masukkan ke dalam panci berisi sup itu. Dia segera mencarinya di dalam lemari pendingin. Beruntung, bahan tersebut masih ada dan Dimas langsung mencucinya di bawah air mengalir.

Saat tangannya sudah siap untuk memotong seledri dan daun bawang tersebut, tiba-tiba Dimas teringat bahwa tempe yang sudah dia potong belum di kasih bumbu terlebih dahulu agar meresap saat digoreng nanti.

Dimas segera meletakkan pisaunya kembali dan mengerjakan tugasnya yang terlupa. Hanya butuh beberapa menit tempe itu sudah di baluri bumbu dan Dimas diamkan dulu agar meresap sampai ke dalam.

Dimas ingin kembali memotong seledri dan daun bawang yang sempat tertunda. Namun saat Dimas kembali, pisau yang dia letakkan sudah tidak ada lagi di tempat.

Dimas mencari ke mana-mana dan tetap tidak menemukan pisau itu. Saat Dimas berusaha mencari di lantai barangkali terjatuh, lagi-lagi Dimas tidak menemukannya. Dia mengangkat tubuhnya kembali karena sempat menunduk.

Saat badannya sudah tegap kembali, Dimas dibuat terkejut karena kehadiran Riko yang tiba-tiba sudah berada di sebelah dirinya. "Ngagetin aja kamu, Rik. Mau bantu masak ya?" ucap Dimas sambil mengelus dadanya karena degup jantungnya bekerja terlalu keras.

Riko hanya terdiam menatap Dimas dengan tatapan kosong. Tanpa menaruh curiga, Dimas melanjutkan pencariannya lagi. "Kamu lihat pisau yang ada di sini nggak, Rik? Aku cari nggak ketemu sejak tadi," tanya Dimas memastikan barangkali Riko melihatnya namun dirinya tidak.

Riko masih saja bergeming di tempat. Dimas yang merasakan aneh dari sikap Riko segera menghentikan kegiatan pencariannya dan beralih menatap Riko. "Kenapa kamu diam aja sih, Rik?" tanya Dimas lagi yang merasa aneh dengan sikap Riko.

SRIIIINK!

Tanpa di duga, Riko sudah memegang pisau yang sejak tadi Dimas cari. Namun yang membuat jantung Dimas lari maraton adalah, Riko menodongkan pisau itu tepat di depan mata Dimas. Hanya berjarak lima centi. Bila Riko maju sedikit saja, matanya akan menjadi korban penusukan.

"Rik, kamu jangan bercanda deh," ucap Dimas terbata karena berusaha menahan rasa takut yang sedang mendera. Riko masih saja bergeming dengan menatap lurus ke arah Dimas. Dimas bisa melihat tatapan Riko itu terlihat kosong.

"MATI!" Riko berucap dengan nada penuh peneknan dan kemarahan. Dimas semakin tidak paham dengan situasi yang sedang dirinya alami. Karena pisau itu masih mengarah pada dirinya, Dimas hanya bisa waspada takut Riko akan segera menerjang matanya dengan pisau yang dia pegang.

"MATI!!"

Setelah Riko berucap, bersamaan dengan itu, Riko mengarahkan pisau itu ke mata Dimas. Dimas yang memang sejak tadi sudah waspada pun merasa beruntung karena bisa menghindari serangan dari Riko. Dimas yakin bahwa itu bukanlah Riko, temannya.

"Kamu bukan Riko, kamu bukan Riko. Siapa kamu?" tanya Dimas dengan nafas yang sudah terengah-engah. Jantungnya seperti akan copot dari tempatnya. Dimas melafalkan doa dalam hatinya.

"Hahahaha"

Terdengar suara tawa dari Riko yang begitu memekkan telinga. Dimas sampai menutup kedua telinga karena suara itu sangat menganggu pendengarannya. Riko lalu berlari ke arah Dimas lagi dengan pisau yang siap menghunus kapan saja.

Dimas selalu bisa menghindari setiap serangan yang Riko lakukan. Riko seakan tidak kenal lelah untuk menghunuskan pisau itu pada tubuh Dimas. Hingga Dimas merasa kelelahan dan dia terjatuh di lantai. Tidak hanya dirinya, barang-barang yang berada di dapur juga berjatuhan ke lantai karena tersenggol oleh Dimas.

Dimas sudah pasrah jika pisau itu akan menghunus dirinya. Dimas bisa melihat wajah Riko yang tersenyum penuh kemenangan. Riko mengangkat pisau itu tinggi-tinggi seakan ingin membuat tancapan yang sangat dalam pada tubuh Dimas.

Dimas bisa melihat wajah Riko dengan jelas karena dia berada tepat di depannya. Dimas hanya bisa menggumamkan doa dan menutup matanya rapat-rapat.

"Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim. "

Bersamaan dengan berakhirnya doa yang Dimas panjatkan, Satrio dan kakek Fakih berjalan menuju dapur dan melihat kondisi dapur begitu berantakan. "Dimas! Kamu kenapa?!" tanya Satrio panik saat melihat Dimas suda berada di pojok kabinet dapur.

"Dimas! Sadar Dimas!" Satrio juga ikut menyadarkan Dimas.

Setelah mendengar namanya disebut-sebut, Dimas akhirnya membuka matanya perlahan. Dia bisa melihat Satrio dan kakek Fakih sudah berdiri di hadapannya. Dimas langsung mencari keberadaan Riko yang sudah tidak ada di depannya. "Riko ke mana? Dia mau bunuh aku," ungkap Dimas dengan wajah celingukan ke sana dan ke mari.

Kakek Fakih dan Satrio saling melempar pandang karena tidak paham dengan yang Dimas katakan. "Riko lagi di kamarnya sejak tadi belum keluar," jawab Satrio kebingungan. "Emang kamu lihat Riko dimana?" tanya Satrio lagi karena masih tidak percaya dengan yang di ucapkan Dimas.

Dimas menatap ke lantai dan memang ada pisau yang tergeletak di atas lantai. "Di situ. Dia bawa pisau dan mau menusuknya ke mataku," jawab Dimas sambil menunjuk tempat yang semula Riko pijak.

Kakek Fakih dan Satrio memandang ke arah Dimas menunjuk dan memang ada pisau yang sudah tergeletak tak berdaya di sana. "Kamu yakin, Dim?" tanya Satrio memastikan. Dimas mengangguk mantap karena dia emmangmengalami kejadian aneh itu.

"Itu bukan Riko. Di hanya menyamar jadi Riko. Dia makhluk terkuat di rumah ini," ungkap kakek Fakih yang berhasil membuat Dimas dan Satrio membelalak tak percaya. "Memang mereka bisa berubah menyamai manusia,Kek?" tanya Dimas yang masih tidak percaya.

Kakek Fakih tampak menerawang ke sekeliling ruangan. "Jika energi mereka sangat kuat, mereka juga bisa menarik energi kita. Contohnya, dengan menyamar sebagai salah satu di antara kita," ucap kakek Fakih menjelaskan.

Dimas dan Satrio saling melempar pandang. Kejadian ini sudah pernah mereka alami tempo hari. Dan sekarang, Dimas mengalaminya lagi. Sepertinya, dia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Terpopuler

Comments

Fadlan

Fadlan

om Anton lari maraton...
🤣/Facepalm/

2023-12-16

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

serem cuy ngeri" sedep 😱😱😱

2023-09-19

1

Putri Minwa

Putri Minwa

hantu nya mengerikan ya thor

2022-10-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!