4. sosok wanita berkebaya (2)

Dimas kembali terbangun dari tidurnya tepat pukul empat pagi.

Setelah matanya terbuka sempurna, Dimas melafalkan doa bangun tidur untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kehidupan di hari itu untuknya.

Setelah itu, Dimas menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Dimas sudah membaca doa agar tidak diganggu lagi dengan sosok wanita yang kemarin pagi mengganggunya.

Setelah membaca doa, Dimas masuk dengan mendahulukan kaki kirinya diikuti kaki kanan.

Itu sudah menjadi tata cara bagaimana masuk kamar mandi yang benar menurut syariat Islam.

Setelah menutup pintu kamar mandi, Dimas masih waswas dan memperhatikan sekeliling kamar mandi.

Setelah kejadian kemarin pagi, Dimas lebih berhati-hati lagi saat akan masuk ke dalam kamar mandi. Kemarin dia memang lupa membaca doa masuk ke dalam kamar mandi. Jadilah makhluk tak kasat mata itu belum menyingkir atau memang sengaja masuk.

Karena, bila kita memasuki kamar mandi dengan berdoa, semua makhluk yang berada di dalam kamar mandi akan pergi.

Namun jika tidak membaca doa, jin tidak akan keluar dan melihat semua aktivitas kita saat berada di kamar mandi.

Termasuk bila tubuh kita tidak berpakaian, jin akan melihatnya juga.

Dimas mendadak merinding mengingat semuanya.

Namun sepertinya, hanya ada dirinya di dalam kamar mandi.

Dimas bisa bernafas dengan lega dan segera melakukan ritual membersihkan diri.

Setelah selesai mandi dan memakai handuknya, Dimas mengambil air wudu untuk melaksanakan salat subuh.

Benar saja, tidak ada gangguan apa pun saat Dimas berada di kamar mandi.

Setelah keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintunya kembali, Dimas bergumam.

“Memang benar, kekuatan doa sangat berpengaruh besar pada aktivitas yang akan kita jalani ke depannya,” monolog Dimas merasa bersyukur paginya tidak mendapat gangguan dari makhluk halus.

Setelah memakai baju koko dan sarung, Dimas segera berangkat ke masjid walaupun azan belum di kumandangkan.

Namun sebentar lagi, azan pasti akan di kumandangkan.

Benar saja, setelah Dimas keluar dari kamar dan sudah hampir mencapai pintu keluar, suara azan berkumandang dari masjid.

Sebelum keluar rumah, tidak lupa Dimas membaca doa keluar rumah agar pagi harinya terselamatkan.

“Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâhi wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘adhîm”

*

Setelah salat subuh berjamaah di dalam masjid, Dimas tidak langsung pulang melainkan melakukan zikir terlebih dahulu agar hatinya selalu tenang karena mengingat Allah SWT.

Setelah berzikir, Dimas bisa melihat sang imam yang juga sebagai ustaz di kota tersebut, masih belum beranjak dari zikir panjangnya.

Dimas mempunyai ide terlintas di otaknya untuk bertanya mengenai makhluk yang pernah mengganggunya.

Setelah melihat pak ustaz akan beranjak dari duduknya, Dimas segera mendekati pak ustaz dan meminta waktu untuk bisa berbicara dengannya.

“Pak Ustadz, boleh saya berbicara untuk menanyakan sesuatu?” ucap Dimas membuka pembicaraan.

Sang ustadz tersenyum manis menatap Dimas.

“Tentu saja boleh. Mau bertanya soal apa, Mas?” tanya pak ustadz ramah.

Dimas terlihat menarik nafasnya dahulu sebelum kembali berbicara.

“Ini tentang makhluk halus yang mengganggu manusia,” ucap Dimas memulai pembicaraan yang serius.

“Apa Mas sendiri di ganggu oleh makhluk itu?” tanya pak ustadz memastikan.

Dimas mengangguk dan mengiyakan pertanyaan pak ustadz.

“Innalillahi ....” ucap pak ustadz menyebut kalimat musibah.

“Kalau boleh bertanya lagi, mengapa mereka mengganggu manusia termasuk saya? Apa ada tujuan lain selain untuk menakut-nakuti?” tanya Dimas lagi.

“Saya kurang tahu, tapi kebanyakan dari mereka adalah karena mati penasaran. Mungkin mereka ingin meminta tolong kepada mas Dimas untuk membantunya memecahkan misteri kematiannya,” jawab pak ustadz menduga-duga.

“Begitu ya, Pak?” tanya Dimas memastikan.

“Saran saya, Mas Dimas harus lebih menguatkan iman lagi. Karena tidak jarang dari mereka juga ingin menjerumuskan,” ucap pak ustadz yang berhasil membuat pikiran Dimas menjadi tidak karuan.

Di sepanjang jalan menuju rumahnya, Dimas selalu memikirkan ucapan pak ustadz yang mengatakan bahwa makhluk tersebut bisa saja mati penasaran.

Mungkinkah makhluk yang dia lihat di kamar mandi ingin meminta pertolongan?

Apa harus dengan cara mengganggu dirinya juga?

Sepertinya makhluk itu hanya ingin menakut-nakuti Dimas saja.

Setelah berada di pintu gerbang besi depan rumah dinas, Dimas segera mendorong salah satu pintu agar terbuka.

Pandangan Dimas jatuh lagi kepada pohon beringin yang ada di depannya.

 Dimas melangkah pelan mendekati pohon beringin itu. Dimas ingin melihatnya lebih dekat lagi.

Suasana yang masih gelap menambah kesan horor dari pemandangan pohon beringin di depannya.

Saat langkahnya tinggal tiga langkah lagi, pundaknya kembali di tepuk seperti kemarin saat dirinya ingin mendekati pohon beringin di depannya.

Dimas berdecak sebal karena mengira seseorang yang menepuk pundaknya adalah Riko lagi.

“Kenapa sih, Rik. Kamu kayaknya nggak membiarkan aku untuk melihat lebih jelas lagi pohon beringin itu,” gerutu Dimas dan masih enggan untuk menolehkan kepalanya ke belakang.

“Mau ngapain, Mas?”

Dimas tertegun dengan suara yang baru saja dia dengar. Suara seorang perempuan yang terdengar begitu lembut di telinga Dimas.

Bukankah tidak ada seorang perempuan yang tinggal di rumah dinas yang Dimas tinggali?

Lalu siapa pemilik suara perempuan yang ada di belakangnya ini?

Beberapa pertanyaan muncul di kepala Dimas.

Dimas segera menolehkan kepalanya dengan perlahan.

Dimas bertambah merinding karena tidak ada siapa pun di belakangnya.

Lalu siapa yang baru saja berbicara dengannya?

“Di sini, Mas,” ucap suara itu lagi yang sudah berpindah di depan Dimas.

Dimas bertambah merinding mendengarnya.

Karena wajah Dimas sedang menoleh ke belakang, dia segera mengembalikan kepalanya menoleh ke depan.

“Argh!!” Dimas memekik kaget saat melihat sesosok perempuan mengenakan kebaya dengan rambut sebahunya yang di gerai. Tubuh Dimas langsung jatuh ke tanah karena terlalu terkejut.

Bisa Dimas lihat, wajah perempuan tersebut terlihat pucat pasi dan tatapan matanya kosong. “Si–siapa ka–ka–mu?” tanya Dimas terbata. “Tolong saya! Tolong saya!” suara sosok wanita tersebut terdengar merintih menahan sakit.

Dimas langsung mundur beberapa langkah dengan gerakan merangkak. Dimas merasa sangat ketakutan namun ada keinginan untuk mencari tahu mengapa sesosok perempuan yang ada di depannya ini meminta tolong padanya.

Setelah agak jauh, Dimas segera berdiri dan berlari masuk ke dalam rumah.

BRAK.

Dimas menutup pintu dengan cepat takut perempuan tadi mengikutinya. Tidak lupa, Dimas juga mengunci pintu itu.

Tubuh Dimas langsung melorot ke lantai dengan posisi membelakangi pintu.

Nafasnya masih terdengar terengah-engah, degup jantungnya berdetak begitu cepat karena ketakutan dan berlari terburu-buru.

Walau wujud perempuan itu seperti manusia, Dimas bisa melihat jika perempuan yang baru saja dia temui bukanlah manusia.

Belum hilang rasa terkejut yang Dimas rasakan, dirinya harus di kejutkan lagi dengan suara teriakan dari ruang tengah.

Dimas langsung menutup telinganya agar tidak mendengar suara apa-apa lagi.

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

kasihan Dimas diganggu aja 😔😔😔

2023-09-19

1

Putri Minwa

Putri Minwa

awal cerita yang menarik thor semangat terus

2022-10-23

0

Reni Ardiana

Reni Ardiana

makin seru nih💪💪💪

2022-08-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!