Ketiga pemuda yang tinggal di satu atap yang sama itu sudah sepakat untuk menjalankan misinya memecahkan teka-teki tentang wanita berkebaya penghuni pohon beringin. Mereka akan menjalankan berbagai rencana yang sudah mereka susun sedemikian rupa.
Jika benar Clarissa dan keluarganya yang sudah melenyapkan sosok wanita berkebaya itu, lalu di mana mayat sosok itu? Lalu, mengapa mereka bisa hidup bebas dan tidak di kurung di balik jeruji besi? Mungkinkah sosok tersebut ingin menuntut balas atas kejadian yang menimpa dirinya?
Ketiga pemuda itu sudah berada di kantor pemerintahan dan sudah duduk di meja masing-masing. Ketiganya sedang menunggu kedatangan Clarissa untuk menanyai beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran ketiganya.
"Lama banget dia. Kenapa nggak datang-datang?" ucap Satrio yang tak kunjung melihat batang hidung Clarissa muncul. Dimas dan Riko berusaha untuk tenang dan tidak terburu-buru. Itu hanya akan menggagalkan rencana yang sudah mereka susun dengan sedemikian rapi.
"Itu, itu! Clarissa datang!" seru Satrio heboh namun dengan suara berbisik. Riko dan Dimas memutar bola matanya malas melihat tingkah Satrio yang mulai terlihat sifat aslinya. Awal pertemuan, Satrio terlihat jaim alias jaga image. Tapi semakin ke sini, dia ternyata tipe orang yang nggak jaim-jaim banget.
Setelah Clarissa sampai di meja kerjanya, dia melempar senyum kepada Dimas dan di balas senyum juga oleh Dimas. "Udah dari tadi ya, datangnya, Dim?" tanya Clarissa ramah sambil mengulas senyumnya.
Dimas mengangguk sambil memasang senyumnya semanis mungkin. "Iya, Ris. Tapi nggak sejak tadi banget sih," jawab Dimas ramah agar Clarissa nyaman dulu. padahsl dibalik keramahan dan senyum manis itu terdapat maksud terselubung. Ada udang di balik rempeyek.
"Eh, kamu pas tinggal di rumah dinas itu bareng sama siapa aja, Ris?" tanya Dimas berusaha mengorek informasi. Clarissa tampak diam dan memandang Dimas dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. "Memangnya kenapa, Dim?" tanya Clarissa penuh selidik.
Dimas menelan salivanya saat Clarissa memberikan gelagat curiga atas pertanyaan yang baru saja dirinya lontarkan. Dimas berusaha bersikap tenang seakan dia hanya ingin bertanya dan ingin mengenal Clarissa lebih baik lagi. "Enggak, cuma nanya aja. Masa di rumah sebesar itu, kamu tinggal sendiri kan nggak mungkin," jawab Dimas berusah tersenyum lebar walaupun dipaksakan.
Clarissa tersenyum lega lalu menjawabnya. "Aku tinggal sama papa dan mama," ungkap Clarissa yang berhasil membuat Satrio dan Riko yang diseberang sana berbisik-bisik.
Dimas melirik ke arah kedua temannya dan sedikit memberi kode untuk jangan bersikap gaduh. "Cuma bertiga berarti dong, ya?" tanya Dimas berusaha memancing Clarissa untuk berbicara lebih banyak lagi.
"Nggak kok. Ada juga ...." ucap Clarissa memotong kalimatnya. Dia terlihat gelapan dan mengalihkan pandangannya pada buku catatan dan polpen di depannya.
"Ada juga apa?" cecar Dimas penasaran. Clarissa menggeleng dan tersenyum tipis. "Ada juga pohon beringin," jawab Clarissa sambil terkekeh pelan.
Dimas tampak berpikir keras. Apa selama ini Clarissa menjadikan pohon beringin itu temanya? Jika iya, dia adalah spesies manusia yang langka. Batin Dimas menggerutu.
"Maksudnya gimana ya, Ris?" tanya Dimas lagi karena belum menemukan jawaban yang pasti. Clarissa menggeleng dan tersenyum kembali. "Nggak apa-apa. Udah yok, kerja dulu nih," ucap Clarissa yang berusaha menghindari perbincangannya.
Dimas mengangguk dan tersenyum. Jika dirinya bertanya terlalu banyak, yang ada Clarissa akan menaruh curiga pada dirinya. Lebih baik Dimas hentikan dulu interogasinya dan Dimas akan bertanya lagi di lain hari.
*
Ketiga pemuda itu sudah sampai di depan rumah dinas. Kedatangan mereka disambut oleh seorang lelaki tua yang masih terlihat sangat sehat dan masih berjalan dengan tegap.
Riko yang melihat kakeknya sudah menunggu di depan pintu gerbang pun tersenyum lebar lalu berhambur memeluk kakeknya itu. Ya, seseorang tersebut adalah kakek Fakih, kakeknya Riko.
Setelah pelukan terlepas, kakek Fakih memandang ke arah Satrio dan Dimas, mereka sama-sama bingung karena belum mengenal satu sama lain. Riko yang paham akan tatapan mereka pun memilih memperkenalkannya.
"Satrio, Dimas, ini kakek aku. Namanya kakek Fakih. Dan kakek, ini teman-teman Riko," ucap Riko memperkenalkan pada saat pertemuan perdana di antara ketiganya.
Riko dan Satrio langsung menyalami tangan kakek Fakih dan mencium punggung tangannya. Setelah sesi berkenalan selesai, mereka semua masuk ke dalam rumah dinas.
Saat Riko, Dimas, dan Satrio hampir mencapai pintu, kakek Fakih masih bertahan di tengah halaman dan memandang pohon beringin yang berdiri begitu kokohnya di tengah-tengah pelataran rumah.
Kakek Fakih bisa melihat banyak sekali makhluk yang tinggal di pohon beringin itu. Tapi ada dua makhluk yang begitu menonjol di penglihatan kakek Fakih.
Pertama yang terkuat dan sangat berkuasa, sedang yang kedua seakan ketakutan dengan yang makhluk pertama. Makhluk yang pertama itu seperti menjadi pagar agar makhluk yang kedua tidak berkeliaran ke mana-mana.
Kakek Fakih tidak tahu pasti apa penyebabnya. Mungkin nanti dia akan berbicara dengan kedua makhluk itu. Saat sedang hanyut dalam pandangannya, suara Riko berhasil menyadarkan kakek Fakih. "Kakek, kenapa? Ayo masuk dulu, kakek pasti lelah," ajak Riko yang juga di setujui oleh Satrio dan Dimas.
Menurut. Kakek Fakih segera berjalan masuk ke dalam rumah. Kakek Fakih bisa mendengar jeritan minta tolong dari sosok wanita berkebaya. Namun, sosok wanita berambut panjang dan berbaju putih itu seakan memandang nyalang pada dirinya.
Kakek Fakih bisa merasakan aura negatif di halaman rumah dinas itu begitu besar. Setelah berhasil masuk dan Riko menutup pintu, kakek Fakih menyusuri setiap sudut ruangan yang berada di rumah dinas tersebut.
Kakek Fakih terus berjalan dalam diam sambil matanya melihat ke sana dan ke mari. Dimas dan Satrio hanya bisa mengenyit bingung karena apa yang kakek Fakih lihat, tidak bisa keduanya lihat. Termasuk Riko, dia juga tidak bisa melihat apa yang kakeknya lihat.
"Kalian betah, tinggal di sini?" tanya kakek Fakih dengan masih fokus menyusuri setiap ruangan. Ketiga pemuda itu yang memang mengikuti langkah kaki kakek Fakih pun menggumamkan kata iya sebagai jawaban. "Iya, Kek."
"Apa pernah ada kejadian yang di luar nalar?" tanya kakek Fakih lagi sambil menghentikan langkahnya dan berbalik untuk bisa menatap ketiga pemuda di belakangnya.
"Waa!" Ketiga pemuda itu terpekik bersamaan saat kakek Fakih membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba. Ketiganya merasa kaget. "Aku sama Satrio pernah mengalami, Kek. Nggak tau kalau sama Riko," jawab Dimas jujur.
Kakek Fakih tampak memandang ke arah Riko. "Riko tidak akan di ganggu karena dia punya sesuatu yang sudah kakek kasih ke dia. Tujuannya agar makhluk itu tidak mengganggunya secara fisik maupun psikis," ungkap kakek Fakih yang berhasil membuat Dimas dan Satrio melongo tak percaya.
Pantas saja, Riko tidak mengalami serangan fisik dari makhluk bernama dedemit. Ternyata kakek Fakih sudah memberinya pegangan. Pikir Dimas dalam hati.
Kemudian Kakek Fakih membuka pembicaraan lagi. "Karena jika tidak dikasih pegangan, Riko akan dalam bahaya karena dia bisa melihat mereka," ungkap kakek Fakih lagi. Dia berbalik untuk menyusuri seisi rumah itu kembali. Banyak sekali kejadian di masa lalu yang bisa kakek Fakih lihat.
Setelah berada di depan suatu ruangan yang pintunya terkunci, kakek Fakih berhenti dan telapak tangannya dia tempelkan di pintu tersebut. Mata kakek Fakih terpejam seperti sedang melihat isi dari dalam ruangan tersebut.
Setelah cukup lama melakukannya, kakek Fakih menatap ketiga lelaki yang berada di belakangnya. Dia berkata.
"Omah Iki Adem,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Bondan Suharmanta
langsung bongkar aja kek semuanya biar para pelaku keji jera
2023-12-12
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo kakek Fakih jelaskan semuanya biar mereka th 💪💪💪
2023-09-19
0
Putri Minwa
kita saling dukung ya say
2022-10-27
0