"Sekarang kita cari tempat tinggal untuk sementara, sebentar lagi hari akan mulai gelap" ajak Erlangga, pada mereka bertiga.
"Bisa ditunda dulu nggak Er? bentar lagi aku masih capek" ucap Arin dengan memelas.
Rasa capek sepertinya benar-benar melekat pada tubuh Arin, mungkin efek dari terus berlari.
"Biar digendong sama Dika aja Rin, kasihan juga kamu kalau jalan terus kelihatan capek banget, tapi kalau kita nggak cari tempat tinggal sekarang bisa bahaya, kita nggak tahu bahaya apa yang mengintai, gimana kalau ada binatang buas atau semacamnya, contohnya saja seperti tadi cacing aneh yang kamu lihat, apa lagi sekarang kita nggak tahu ada dimana" tutur Nayla panjang lebar.
Arin tersenyum mendengar penuturan Nayla, sambil menatap Dika penuh makna.
Begitu juga Erlangga dan Nayla menatap Dika penuh makna, sedangkan yang ditatap seperti itu mulai waspada.
"Kamu harus gendong Arin Dika!" ucap kompak Nayla dan Erlangga.
"Bujubuset, santai mbak, mas kagak usah kompak gitu, gue juga denger tadi kamu ngomong apa Nayla" sungut Dika.
"Ka, jadi kamu nggak mau gedong aku nih? kalau nggak mau nggak papa kok aku bisa jalan sendiri aja"
Dika sudah mulai was-was jika Arin sudah seperti itu, Dika paling tidak mau jika Arin ngambek pada dirinya, karena jika Arin marah pada dirinya maka urusannya akan panjang, intinya kalau Arin marah dibujuknya susah banget.
"Nggak yang, siapa bilang aku nggak mau, sekarang juga naik ke panggung aku, biar kita cari tempat berteduh bareng-bareng" ucap Dika semanis mungkin.
"Tapi hati aku ngenes, untung sayang kalau nggak udah gue buang" batin Dika.
Memang terkadang bibir bisa berdusta tapi tidak dengan hati, bukankah begitu.
Jika ingin tidak pernah dibohongi maka percayalah apa yang ada di hati orang tersebut jangan percaya apa yang dia katakan, sayangnya hanya satu manusia lain tidak bisa membaca isi hati manusia yang lainnya.
"Kalau gitu kita pergi sekarang" putus Erlangga.
Mereka berempat menyusui tempat itu dengan saksama, sambil sesekali mencari tempat untuk beristirahat malam ini, jika besok mereka masih bisa melanjutkan perjalanan, tapi malam ini mereka harus mencari tempat tinggal untuk satu malam terlebih dahulu.
"Kenapa suasana disini semakin malam semakin menyeram kan" komen Dika.
Mereka semua membenarkan ucapan Dika barusan, bagaimana tidak padahal tadi saat matahari masih menampakan sinarnya, suasana di tempat itu sedikit terasa hidup, sayangnya setelah matahari pergi dan bergantian dengan bulan, sang penerang di malam hari, suasana di tempat itu sangat berbeda kini kian mencengkram.
"Kamu bener Dika, kenapa suasananya jadi serem gini, kok aku merinding" tutur Nayla, sambil menyatukan kedua telapak tangannya seraya menggosok-gosokan kedanya.
Melihat hal itu buru-buru Erlangga memegang kedua tangan Nayla. "Udah ya jangan takut ada aku disini" tutur lembut Erlangga pada Nayla, seperti biasa sikap manis Erlangga pada Nayla tidak pernah berubah. Dan sikap manis Erlangga itu pula yang membuat Nayla merasa lebih aman.
"Stop!" perintah Arin pada Dika.
"Kenapa yang?" bingung Dika.
" Aku mau turun takut" cicitnya, buru-buru Dika menurunkan Arin dari gendongannya.
"Jangan dulu jalan, biar aku sama Nayla di tengah kalian berdua dipinggir" atur Nayla saat mereka hendak kembali melangkah.
"Banyak ngaturnya!" Erlangga sedikit kesal pada Arin, sedari tadi dia sudah berusaha keras untuk tidak mengumpat manusia satu ini tapi sekarang sepertinya kesabaran seorang Erlangga sudah habis terkuras.
"Masa bodo, aku nggak peduli" sahut Arin.
"Udah-udah jangan ribut disini oke, kalau kalian ribut disini kita nggak akan dapat tempat tinggal untuk sementara malam ini, yang ada malam mengundang perhatian makhluk-makhluk yang ada disini, jadi sekarang turunkan ego masing- masing, oke!" lerai Nayla pada keduanya.
Untuk pertama kalinya Nayla melihat Erlangga bicara sedikit emosi, biasanya Erlangga hanya akan bersikap baik, untuk pertama kalinya juga Nayla melihat Erlangga mengumpat seperti itu.
"Kenapa Nay? kamu heran ya lihat Erlangga marah, tenang aja dia emang udah biasa sama kita kayak gitu, tapi kalau sama kamu lembutnya nggak ketulungan" sahut Dika, saat melihat raut wajah heran dari Nayla.
Tiba-tiba saja suasana di dekat mereka menjadi sangat hening, seperti ada sesuatu yang membuat mereka merinding. "Kok suasananya tiba-tiba berubah gini?" tanya Arin sambil mendekat pada Dika.
Takut, tentu saja siapa yang tidak takut berada ditempat yang tidak kita kenali, dengan suasana hening, ditambah suara-suara aneh yang sangat nyaring mamasuki kuping, apa tadi suara aneh, apakah mereka mendengarnya.
"Hihihi, Ningggh,"
Suara-suara aneh itu terus terdengar semakin mendekat, dan semakin dekat.
"Er, itu suara apa?" tanya Nayla penasaran, kini tubuhnya sudah kembali bergetar, begitu juga dengan Arin dia memegang tangan Dika dengan lebih erat saat mendengar suara yang aneh dan sangat mengganggu gendang telinga.
"Kita harus cari tempat tinggal segera" bukanya menjawab Erlangga buru-buru pergi dari sana, sambil menarik pelan Nayla, disusul oleh Arin dan Dika di belakang mereka.
"Bentar, jangan cepet-cepet jalannya" cegah Arin. "Kenapa lagi?" tanya Erlangga.
"Itu lihat" Arin menunjukan sebuah gubuk tua yang terletak di samping kanan mereka.
"Mungkin kita bisa beristirahat disitu" ucap Nayla, kala tahu apa yang dimaksud oleh Arin.
"Bener kata Nayla siapa tahu kita bisa istirahat di tempat itu, kaki aku udah keram semua nih, dari tadi jalan terus kagak istirahat-istirahat" keluh Dika, dia berharap bisa segera beristirahat.
Merasa tak tega dengan semua teman-temannya Erlangga memutuskan untuk beristirahat di gubuk tua yang baru saja mereka jumpai.
"Kita istirahat sekarang" akhirnya Erlangga setuju juga, dia melangkah ke arah gubuk tua yang dimaksud Arin tadi diikuti Nayla dan kedua orang lainnya, siapa lagi kalau bukan Arin dan Dika.
"Yes! lega akhirnya sebentar lagi bisa istirahat, sabar ya kaki aku bentar lagi nggak bakal ngajak kamu jalan dulu" tutur Dika penuh dramatis.
"Lebay, gitu doang lu udah kayak mendaki gunung setinggi 1000 meter, padahal mah dari tadi kerjaannya cuman ngeleuh aja" ejek Nayla pada Dika.
"Buset Nay, lu kalau ngomong suka bener" sahut Dika dengan cengir tanpa dosanya.
Situkang penuh menegeluh, penuh drama yang seakan-akan dia yang paling disakiti, paling dikucilkan, padahal dia yang membuat ulah dan sang biang keroknya, siapa lagi kalau bukan si Dika.
Orang yang penuh dengan drama kehidupannya, tidak tahu apa dia sedang berada di alam yang berbeda dengan alam manusia, sepertinya Arin dan Dika belum menyadari dimana mereka berada, berbeda dengan Nayla dan untuk Erlangga, sepertinya orang itu memiliki banyak rahasia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments