Entah apa yang terjadi di Desa itu malam begitu cepat datang daripada pagi sepertinya lebih panjang malam daripada Pagi dan siang. Nayla yang merasa badannya sudah lebih segar dari sebelumnya kini dia sedang makan malam bersama Erlangga, Dika, dan Arin.
Nayla dapat melihat tatapan aneh dari Arin yang diberikan untuk dirinya, tapi Nayla lebih aneh lagi ketika menetap Dika yang ternyata menatap Erlangga dengan Tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Aku ke kamar duluan ya" pamit Nayla. "Oh iya Er, aku besok akan mengembalikan kamera kamu, karena hari ini aku belum sempat memindahkan jepretan yang kamu ambil kemarin" ucap Nayla sebelum pergi meninggalkan ruang makan.
"Baik Nay" ucap Erlangga.
"Selamat beristirahat Nay" ucap Dika dan Arin bersama, Nayla sempat heran dengan Arin dan Dika, tapi dia tidak berpikir banyak, Nayla langsung tersenyum pada keduanya.
"Oke, kalian berdua juga selamat beristirahat dan kamu juga Er" ucap Nayla, sambil berlalu pergi.
Nayla sudah berada di kamarnya Dia segera mengambil laptopnya dan kamera milik Erlangga. Untuk memindahkan gambar-gambar yang sudah diambil oleh Erlangga beberapa hari yang lalu.
Saat semua gambar Itu sudah berpindah dengan sempurna ke dalam laptop Nayla, Nayla heran dengan gambar yang ada semua gambar yang sama tapi pemandangan yang berbeda.
"Kenapa semua fotonya sangat berbeda"ucap Nayla dengan heran dia terus mengotak-atik laptopnya dan memperhatikan secara seksama foto-foto dirinya tersebut. Nayla kembali memperhatikan foto-foto itu secara terus-menerus tapi hasilnya kembali tetap berbeda dengan gerak cepat Nayla segera menutup laptopnya.
" Oke Nayla, kamu harus memeriksa kembali Apakah yang kamu lihat itu benar-benar berbeda atau hanya penglihatanmu saja yang kurang jelas" ucap Nayla pada dirinya sendiri, Nayla kembali membuka laptopnya Tapi belum sempat laptop itu Menyala kembali Nayla mengurungkan niatnya.
"Lebih baik aku meminta Erlangga untuk mengambil ulang semua foto-fotoku siapa tahu pemandangannya jauh lebih bagus dari sebelumnya" putus Nayla.
Nayla segera merebahkan dirinya untuk menjemput alam mimpi, tidak terasa dua hari lagi jembatan akan jadi, itu artinya Nayla tidak perlu lagi tinggal di kosan yang sangat membingungkan ini. Saat Nayla tertidur dia tidak tahu jika ada seorang gadis yang selalu memperhatikan dirinya di setiap malam.
Gadis itu pada malam hari akan tertawa atau menangis ketika melihat Nayla, kadang dia tersenyum mengerikan pada Nayla, kadang juga dia menatap Nayla dengan tatapan yang aneh, dan juga dia selalu menatap muka Nita yang sering berjalan di depan pintu kamar Nayla dengan tatapan yang sangat tajam seperti ingin memakannya.
Akan tetapi selama ini Nayla tidak menyadari semua yang terjadi dengan dirinya, mungkin itu semua karena efek obat yang selalu dia minum rutin setiap hari ketika kepalanya terasa sangat sakit.
***
Beralih ke Arin dan Dika, di kamar mereka berdua sedang berdebat karena Ari memaksa Dika untuk menemaninya menuju kamar atas yang sudah dijadikan gudang oleh Bibi, dia penasaran dengan apa yang terjadi pada Nayla pada hari itu. Apakah benar itu sebuah patung atau hanya alasan yang diberikan saja kepada mereka agar tidak curiga.
"kau mau menemaniku atau tidak?" ucapan dengan nada yang sudah sangat kesal, karena Dika terus membujuk Arin untuk tidak pergi ke kamar itu.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu" ucap Dika dengan rasa khawatirnya pada Arin "kalau kau takut ya sudah biar aku saja yang pergi" ucap Karin tambah merasa kesal pada Dika.
Setelah perdebatan panjang keduanya, akhirnya Dika mengalah juga, dia menemani Arin untuk memeriksa Apa yang sebenarnya ada di kamar atas yang Nayla disebut waktu itu.
Keduanya masing-masing membawa senter di tangan mereka saat sampai di depan pintu kamar itu, Dika menarik tangan Arin agar Ari tidak masuk lebih dalam lagi.
"Kenapa lagi?" tanya Arin bingung, dan rasa kesalnya masih ada.
"Kamu benar mau masuk ke dalam?" tanya Dika dengan tatapan dan perasaan takutnya yang diperlihatkan dengan sangat jelas.
"Sudah aku bilang jika kau takut maka tunggu saja aku di luar dan aku yang akan masuk" ucap Arin pada Dika, lalu Arin berjalan masuk ke dalam kamar itu dengan mengendap-ngendap karena kamar tersebut sangatlah gelap tanpa adanya cahaya.
Sedangkan Dika setia menunggu Arin di depan pintu kamar tersebut.
Kini Arin yang sudah berada di dalam kamar itu tiba-tiba saja dari bawah kolong kakinya ditarik oleh sesuatu dengan ketakutan Arin berteriak sangat kencang.
"Argh….tolong" teriak Arin.
hingga Dika yang berada di luar kamar itu segera masuk untuk melihat apa yang terjadi pada Arin.
Tapi anehnya saat Dika masuk ke kamar itu dia tidak menemukan keberadaan Arin, Dika mengarahkan senternya ke bawah kolong meja ternyata Arin berada di sana dengan keadaan pingsan dan tubuhnya memucat begitu juga dengan mukanya. Dika segera membawa Arin ke kamar mereka dengan tergesa-gesa. Lalu dia Memberitahu semuanya kepada Bibi Paman juga Erlangga dan Nayla tentang keadaan Arin.
Mereka semua sudah berkumpul di kamar Dika dan Arin" apa yang terjadi pada Arin?" tanya Nayla pada Dika, Nayla menuntut jawaban dari Dika untuk segera menjawab pertanyaannya.
Sedangkan Erlangga, bibi dan paman hanya diam saja seakan mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi di kosan dan di desa itu.
"Tadi Arin mengajakku untuk memeriksa kamar yang kamu ceritakan waktu itu tadi, sebenarnya aku melarangnya tapi dia tetap memaksa untuk mengecek kamar tersebut"
"Karena aku yang terlalu takut memutuskan untuk menunggu di luar sedangkan Adin masuk ke dalam, sangat beberapa menit kemudian aku mendengar teriakan Arin yang begitu sangat keras tanda" jelas Dika pada Nayla.
"Aku yakin pasti di kosan Kalian ada hantunya, lihat sekarang keadaan Arin sampai begitu, seperti seorang yang kehilangan jati dirinya" ucap Nayla pada bibi dan paman.
Mendengar perkataan Nayla barusan Bibi hanya bisa melotot tak percaya, lalu bersuara. "Salah sendiri! aku sudah mengunci kamar itu tapi mereka tetap memaksa masuk dan mengambil kuncinya dariku tanpa seizin ku "jawab Bibi dengan ketusuk.
"Lagi pula jika di kamar itu ada hantunya Wajar saja karena kamar yang tidak pernah ditempati pasti akan ada penghuninya bukankah begitu?" sinis bibi, sambil menaikkan kedua alisnya Nayla langsung bungkam dengan jawaban yang Bibi berikan kepadanya.
"Sudah kalau begitu mari kita keluar, agar Arin bisa beristirahat biarkan Dika menjaganya" Erlangga berusaha mencairkan suasana.
Lalu dia mengajak Nayla untuk meninggalkan Dika dan Arin, agar bisa beristirahat, pama dan bibi tadi sudah keluar terlebih dahulu.
"Erlangga, bisakah kamu mengambil fotoku lagi?" tanya Nayla dengan rasa tidak enak.
"Foto-foto kemarin pemandangannya sangat berbeda-beda padahal dalam satu foto yang sama" Nayla meneruskan ucapannya, dia berkata saat mereka berdua sudah keluar dari kamar Arin dan Dika.
"Tentu saja Nay dengan senang hati, tapi kenapa foto-foto itu bisa berbeda-beda pemandangan?" tanya ya Erlangga pada Nayla.
"Aku juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi" jawab Nayla.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments