Seperti mayat

Aku tertidur dengan sedikit gelisah seperti malam-malam kemarin, aku sudah berusaha sebisa mungkin agar aku bisa tertidur dengan nyaman tapi nyatanya tidak bisa sama sekali, aku memejamkan mataku sambil tidur telentang di atas kasur milikku, nama aku merasakan sesuatu yang sangat dingin jatuh menetas dari atas atap kamarku mengenai pipiku.

Aku segera mengelap sesuatu yang mengenai pipiku itu, tapi aku membutakan mataku kaget saat aku melihat itu bukan air tapi darah yang sangat merah dan cari seperti darah baru.

"Arghh…!" sepertinya aku sering sekali berteriak. "Haha, haha, hahaha" aku terjaga kembali dari tidurku ini aneh kenapa setiap di tengah malam aku akan selalu bangun, tapi beruntung yang tadi hanya mimpi, mimpi saja sudah membuatku takut, saat aku terbangun ternyata di luar hujan deras, dan saat aku menoleh ke atas atap kamarku ternyata bocor dan airnya mengenai pipiku.

Sepertinya aku sudah parno dengan hal-hal negatif, aku berusaha kembali memejamkan mataku, akhirnya aku sekarang bisa benar-benar tidur buktinya saat aku terbangun cahaya matahari sudah masuk dari celah kaca jendela kamarku yang masih tertutup rapat.

"Urg, lebih baik sekarang aku mandi lalu sarapan bersama yang lainnya, setelah itu aku akan jalan-jalan di desa ini" ucapku senang sambil ngulet tidak jelas. 

Aku pernah mendengar rumor jika seorang yang sedang mengulet kan tubuhnya dia itu sedang dipeluk dengan hantu, tapi aku menyangkal itu semua karena menurutku ngulet sangatlah nikmat, apalagi saat bangun tidur.

Setelah nyawa ku terkumpul sempurna aku segera membersihkan diriku. "Aku menjadi penasaran semalam saat hujan lebat apakah orang-orang di desa ini tetap keluar di malam hari, seperti malam-malam sebelumnya atau tidak?" gumunku sambil terus melakukan aktivitas mandiku. "Semalam aku menyesal tidak melihat keadaan penduduk sekitar sebelum tidur, sepertinya semalam aku terlalu banyak memikirkan hal-hal negatif jadi melupakan kegiatanku sebelum tidur, yaitu melihat desa ini saat malam hari dari jendela kamarku"

Aku sudah selesai mandi, sedari tadi aku terus mengoceh tidak jelas sampai aku merasa sepertinya mulutku sudah capek untuk terus berbicara.

Aku yang sudah rapi segera turun ke bawah untuk sarapan dengan yang lain, seperti biasa aku melirik sekilas boneka usam itu dia masih setia berada di tempatnya semula sebelum tadi malam sempat berpindah tempat di depan pintu kamarku.

"Pagi semua" sapa ku pada mereka.

"Pagi Nay" jawab mereka bertiga kompak,  Erlangga sambil memberiku kursi untuk duduk.

"Bagaimana Nayla, apakah semalam tidurmu menyenyakan?" bibi bertanya padaku sambil meletakan  sayur yang dia bawa di meja makan kami.

Aku tersenyum kecut pada bibi seraya berkata. "Aku tidak tidur terlalu nyenyak, semalam aku bangun dan ada sesuatu yang menetes dari atap kamarku, itu"

"Semalam hujan sangat lebat, dan kosan ini sudah lumayan tua, jadi pasti kamarmu mengalami kebocoran" ucap bibi padahal aku belum selesai bicara tapi bibi sudah menyela perkataan ku terlebih dahulu.

"Tapi…" ucap ku lagi.

"Sudahlah selamat menikmati sarapanmu nanti aku suruh orang untuk membenarkan kamarmu" ucap bibi lagi. Lagi-lagi bibi menyela perkataanku yang belum selesai.

"Nay, kamu ngerasa nggak sih kalau kosan ini sedikit aneh?" tanya Arin padaku saat bibi sudah pergi dari hadapan kami. "Aku juga merasakan seperti itu Rin" jawabku jujur tanpa menutupi apa-apa. "Aku juga sering ngalamin hal-hal aneh selama berada disini" tambahku lagi.

"Serusi Nay, coba lo perhatiin muka bibi, mukanya benar-benar seperti mayat mati aku sedikit takut jika melihat bibi" aku merasa sepertinya Arin sedang mengeluarkan rasa ketakutannya saat berada disini.

"Huh, jangan asal ngomong sekarang lebih baik makan" tegur Dika, sedangkan Erlangga asik menyantap makanan nya seperti tidak mendengar apa-apa dari mulutku dan mulut Arin.

Arin hanya bisa menuruti ucapan Dika, dia segera menghabiskan makananya. "Aku dan Nayla aku pergi jalan-jalan di desa ini apa kalian mau ikut?" tanya Erlangga pada Dika dan Arin, suara Erlangga barusan mampu mengalihkan perhatian kami dari makanan yang sedang kami santap menjadi menatap Erlangga.

"Kenapa kalian bertiga menatapku seperti itu?" aku merasa Erlangga bingung saat mendapatkan tatapan aneh dari kami bertiga, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menatap Erlangga seperti ini.

"Aku kira kau sudah memberi tahu Arin dan Dika semalam jika kita akan jalan-jalan di desa ini sekarang" jawabku, karena hanya jawaban itu yang terlintas di otaku.

"Belum, semalam saat aku mengantarmu ke kamar, aku langsung pergi menuju kamarku tanpa menemui Arin dan Dika terlebih dahulu, karena semalam aku sangat mengantuk" aku mengangguk paham dengan jawaban yang diberikan oleh Erlangga.

"Kami ikut, tapi kami akan pergi sendiri" putus Dika. 

"Baiklah aku harap kalian pulang sebelum sore menjelang" pesan Erlangga pada Dika dan Arin, keduanya hanya menganggukan kepala mereka kompak untuk mengiyakan ucapan Erlangga.

Kini aku dan Erlangga sudah berada di danau dekat desa, tadi kami pergi bersama Dika dan Arin juga, tapi seperti kata Dika tadi saat sarapan pagi jika mereka berdua akan berpisah, yang membuat aku penasaran di desa ini benar-benar tidak ada satupun orang yang berlalu lalang di pagi hari.

"Jangan ambil fotoku" ucapku pada Erlangga. Erlangga berjalan lebih mendekat ke arahku.

"Aku tidak mengambil fotomu, aku hanya akan mengambil foto seorang yang aku sayangi dan aku hanya akan mengambil foto seorang dengan izin" jawab Erlangga sambil tetap mempertahankan senyumnya padaku.

"Kalau begitu aku lihat?" pintaku sambil meminta camera milik Erlangga tanpa bertanya untuk apa padaku Erlangga memberikan kameranya.

Aku melihat semua foto yang terdapat di dalam kamera tersebut benar-benar tidak ada fotoku.

"Hasil potretmu sangat bagus" puji ku sambil mengembalikan kamera milik Erlangga ke tangannya.

"Jadi sekarang apakah aku boleh memotretmu?" tanya Erlangga padaku, tanpa menunggu jawaban dariku dia sudah mengambil beberapa gambar potret diriku.

"Kau bilang tidak akan mengambil gambar seseorang tanpa seizinya" sangkalku sambil tersenyum.

"Bukankah tadi aku sudah meminta izin denganmu" jawabnya sambil kembali

 mengambil potret diriku lagi.

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!