Keanehan

Di kamar Nayla, dia sedang asik memindahkan semua foto-foto yang telah Erlangga ambil ulang sebelumnya.

"Akhirnya selesai juga" ucap Nayla senang sambil menutup laptopnya.

Nayla terdiam sebentar sambil memperhatikan seisi kamarnya. "Lusa jembatan akan jadi, tapi jika Arin belum sembuh aku belum bisa pergi dari tempat ini" tutur Nayla pada dirinya sendiri, matanya masih setia mengitari seluruh isi kamarnya, sekarang hari sudah malam gelap terus menyapa di tempat itu.

Mata Nayla berhenti pada jendela kamarnya, sudah beberapa hari ini dia tidak memperhatikan penduduk desa di tempat ini, kaki jenjang Nayla membawa badannya melangkah ke arah jendela, dengan gerak cepat Nayla membuka hordeng jendela kamarnya, dia yang masih penasaran tentang desa itu segera melihat keadaan disana seperti biasanya dari jendela tapi hasilnya sama saja, seperti yang sudah-sudah.

"Ternyata hanya firasatku saja yang selalu berkata jika buka orang yang tinggal di desa ini melainkan makhluk lain, tapi nayatanya desa ini berjalan seperti biasanya" ucap Nayla, sambil menutup hordeng jendela kamarnya kembali.   

"Lebih baik sekarang aku melihat keadan Arin terlebih dahulu"

Nayla berlalu pergi meninggalkan kamarnya menuju kamar Arin dan Dika, saat sampai di depan kamar Arin dan Dika ternyata kamarnya belum di tutup.

"Dika, bagaimana keadaan Arin?" tanya Nayla pada Dika yang masih setia menemani Arin.

"Belum ada perubahan Nay" jawab Dika sendu.

"Hemm, Dika apa kau percaya jika di tempat ini ada hantunya?" tanya Nayla pelan pada Dika, Dika yang tadinya sedang fokus pada Arin segera menoleh ke sampingnya yang dimana Nayla ada disitu.

Tapi belum sempat Dika menjawab pertanyaan Nayla, Erlangga juga masuk kesana.

"Nay, belum tidur?" tanya Erlangga saat melihat Nayla ada di kamar Dika dan Arin juga.

"Belum Er, aku memutuskan untuk melihat keadaan Arin terlebih dahulu" jawab Nayla.

"Bagaimana keadaan Arin?" tanya Erlangga, kini beralih pada Dika.

Dika hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Erlangga. "Belum ada kemajuan Er" jawab Dika seadanya.

"Mengenai pertanyaan mu tadi aku sedikit percaya Nay, tapi kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?" tanya Dika penasaran.

"Aku masih mengingat ucapan Nita, jika di kamarku, aku tidak tinggal sendiri melainkan dengan seorang gadis, aku ingin memastikannya tapi bagaimana caranya?" bingung Nayla, dengan rasa penasarannya.

"Aku pernah mendengar, jika hantu bisa terlihat saat tertangkap kamera" ucap Dika, Erlangga hanya diam memperhatikan keduanya.

"Sepertinya aku harus mencoba usulanmu Dika, kalau begitu aku kembali ke kamar dulu" pamit Nayla, tapi belum pergi dari tempat itu.

"Semoga Arin cepat sembuh, lusa jembatan sudah selesai diperbaiki" tambah Nayla lagi.

"Er, aku duluan" pamit Nayla juga pada Erlangga.

Saat Nayla berjalan ke kamarnya dia terus memikirkan perkataan Dika, jika makhluk tak kasat mata bisa terlihat jika tertangkap kamera, sepertinya Nayla harus melakukan apa yang Dika usul kan.

***

Pagi harinya mereka bertiga sarapan tanpa seorang Arin, semalam keadaan Arin sudah lebih baik dari sebelumnya, Dika merasa bersyukur.

Tadi sebelum sarapan Nayla dan Erlangga juga menjenguk Arin terlebih dahulu.

"Bagaimana Nay, apakah kamu sudah melakukan yang aku sulukan?" tanya Dika pada Nayla.

"Belum Dika, aku harus mengumpulkan keberanian terlebih dahulu" jawab Nayla.

Dika beralih menatap Erlangga dengan tatapan yang aneh. "kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Erlangga dengan bingung pada Dika.

"Ah, tidak apa-apa Er, hanya saja kamu percaya tidak jika disini ada hantu?" tanya Dika, Erlangga menjawab pertanyaan Dika hanya mengangkat kedua bahunya acuh tanda dia tidak tahu atau entahlah apa.  

***

Sesudah sarapan Erlangga mengajak Nayla untuk melihat potretna kemarin secara bersama di halaman depan dekat kosan itu, disana memang disediakan tempat duduk.

Sedangkan Dika memutuskan untuk tetap menjaga Arin terlebih dahulu dia ingin Arin segera sadar kembali seperti biasanya. 

Sekarang Nayla dan Erlangga sudah duduk bersama di kuris yang sudah disediakan.

"Apakah fotonya masih berbeda-beda Nay?" tanya Erlangga membuka perbincangan untuk mereka berdua, sambil sesekali dia memotret tempat sekitar.

"Sudah tidak lagi Er, yang sebelumnya juga sudah aku hapus semua" jawab Nayla tersenyum, sambil memperhatikan Erlangga yang masih fokus memotret. 

Pandangan Nayla beralih pada Roi yang sedang bermain bersama anak perempuan di bawah pohon besar yang tidak jauh dari mereka.

Nayla tersenyum melihat pemandangan tersebut, tapi yang membuatnya bingung kenapa dia baru pertama kalinya melihat anak perempuan itu.

Selang beberapa detik Nayla sudah tidak melihat anak perempuan itu lagi, sejak kapan dia pergi? kenapa Nayla tidak melihatnya lagi, padahal sedari tadi pandangan Nayla tak lepas dari Roi dan anak perempuan tadi, diantara keduanya juga di sana terdapat sebuah boneka yang selalu Nayla jumpai di lorong menuju kamarnya.

"Aneh, kemana anak perempuan tadi?" gumun Nayla, sambil mengucek matanya siapa tahu anak perempuan itu masih disana.

"Kenapa Nay?" tanaya Erlangga, dia sedikit mendengar ucapan Nayla yang hanya terdengar samar-samar. 

"Er apakah kamu melihat anak perempuan yang sedang bermain dengan Roi?" tanya Nayla.

Erlangga menatap Nayla sebentar lalu beralih menatap Roi yang sedang bermain sendiri di bawah pohon. "Sedari tadi aku hanya melihat Roi bermain sendiri dan boneka itu" ujar Erlangga.

Setelahnya Nayla hanya bisa terdiam saja, tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Er, masuk yuk" ajak Nayla setelah keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama.

"Ayu Nay, aku juga udah nggak betah di luar" sahut Erlangga, lalu keduanya berlalu masuk ke dalam kosan.

Saat Nayla ingin menuju kamarnya dia tidak sengaja mendengar Roi menangis dan tamparan keras dari dalam kamar Nita.

Nayla ingat sekali saat malam di mana dia mendengarkan kegaduhan dari dalam kamar Nita, Nita ingin membunuhnya, maka dari itu sekarang Nayla hanya bisa berlalu pergi begitu saja sambil menahan ngilu yang dia rasakan.

Membayangkan Roi mendapatkan tamparan yang begitu sangat kuat sungguh membuat Nayla tidak mampu sama sekali, tapi apalah daya Nayla tidak bisa berbuat apa-apa dia takut Nita akan kembali mencelakai dirinya 

Terpopuler

Comments

Ilmara

Ilmara

potretan

2022-06-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!