"Suasana disini sangat indah bukan" ucapku, aku tidak bermaksud berkata pada Erlangga, aku hanya mengatakan itu pada diriku sendiri.
"Benar, sepertinya hanya di pinggir danau ini saja yang terasa nyaman di desa ini" apakah Erlangga sedang menjawab pertanyaanku, atau bagaimana?entahlah, aku tidak perlu memikirkan hal-hal yang membuat kepalaku pusing.
"Hmmm, Er boleh aku meminta tolong" ucap ku ragu. "Kamu mau minta tolong apa Nay? ngomong aja" ucap Erlangga lembut padaku, aku selalu merasa tenang saat Erlangga berkata dengan lembut padaku.
"Aku ingin kamu memotret ku dengan benar Er, dan kamu juga yang mengusulkan gaya ku bagaimana?" pintaku penuh harapan.
"Dengan senang hati Nay" jawab Erlangga. "Ayo kamu harus memposisikan dirimu sekarang, aku segera mengambil gambarnya"
Dengan segera aku menuruti ucapan Erlangga, aku memposisikan diriku sesuai perintah yang Erlangga katakan.
"Senyum Nay, tangan kamu bentuk huruf V coba" ucap Erlangga.
"Siap" jawabku cepat, setelah Erlangga merasa posisiku sesuai dengan apa yang dia katakan Erlangga segera mengambil gambar diriku.
Aku terdiam sejenak setelah Erlangga memotret diriku, aku merasa familiar dengan gaya ku barusan.
"Ada apa Nay?" tanya Erlangga, aku segera tersadar dari lamunanku, aku sendiri bingung kenapa aku sering sekali melamun akhir-akhir ini.
"Tidak apa-apa Er, hanya saja aku merasa gaya barusan sudah pernah aku alami" jawabku jujur.
"Sudah Nay jangan terlalu banyak berpikir kasihan nanti kepalamu sakit lagi, mungkin itu hanya kebetulan saja" aku merasa heran kenapa Erlangga sering berkata ini sebuah kebetulan tapi biar saja lah, mungkin apa yang dikatakan Erlangga ada benarnya juga.
Sebelum hari menjelang sore aku dan Erlangga memutuskan untuk kembali ke kosan, sesampainya di kosan disana sudah ada Arin dan Dika yang sudah terlihat segar, aku rasa mereka sudah memberihkan diri, itu artinya mereka sudah tiba sedari tadi.
"Bagaimana jalan-jalan kalina?" tanya Erlangga basa-basi pada Arin dan Dika.
"Biasa saja, tidak ada apapun yang menarik disini" jawab Dika.
Dika menjawab seperti seorang anak yang sedang mengadu pada ibunya. "Aku duluan ke atas" pamitku pada mereka semua, dan mereka hanya menganggukka kepala mereka seraya tersenyum padaku.
***
Malam harinya setelah Nayla selesai makan malam dengan yang lain dia segera kembali ke kamar untuk beristirahat, sesampainya di kamar Nayla merasa takut.
"Kenapa gelap sekali" ucap Nayla, ternyata saat dia memeriksa lampu kamrnya mati. "Ada-ada saja lebih baik aku memberi tahu paman atau bibi, jika begini aku tidak bisa tenang" ucap Nayla.
Nayla segera pergi meninggalkan kamarnya untuk menemui paman dan bibi.
Tapi saat sampai di lorong kamarnya dia penasaran dengan sebuah kamar yang selalu tertutup dengan perasaan takut Nayla berjalan ke arah kamar tersebut.
Nayla perlahan membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tidak terkunci Nayla melihat sekeliling isi kamar tersebut dengan perasaan yang tidak menentu tiba-tiba saja Nayla mendengar ada suara seseorang yang sedang tertawa dari kamar tersebut.
"Hahaha" tawa orang itu kembali membuat Nayla penasaran, saat hendak melakangkan kakinya kembali, tangan Nayla seperti dipegang oleh seseorang.
"Argh! tolong….!" Teriak Nayla sambil mengambil boneka yang dia lihat sepanjang hari di lorong menuju kamarnya. Dia berlari dengan sangat cepat dan membawa boneka itu untuk meletakkannya kembali di tempat semula, sesudah Nayla memastikan jika boneka itu sudah terletak sempurna di tempat itu dia segera masuk ke kamarnya dengan nafas yang hampir habis.
"Kenapa bisa seperti ini? apakah di dalam sana ada orang?" tanya Nayla pada diri sendiri dia masih merasa merinding saat ini. "Aku yakin tadi yang memegangku tanga seseorang" ucapnya lagi.
Tidak terasa pagi sudah kembali menerangi desa yang penuh kabut itu Nayla sudah duduk bersama Erlangga Dika dan Arin di ruang makan dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan Nayla menceritakan pada Arin apa yang semalam dia alami.
"Kamu kenapa Nay? seperti orang ketakutan gitu?" tanya Arin pada Nayla.
"Entahlah Arin, tapi semalam saat aku hedak menemui paman dan bibi, karena lampu di kamarku mati, aku merasakan ada seseorang yang memegang tanganku begitu dingin aku tidak tahu itu apa, aku belum memastikannya yang pasti tanganya sangat dingin" ungkap Nayla.
"Kamu merasakan hal semacam itu dimana Nay?" tanya Arin penasaran.
"Di lanati atas kamar yang terdapat tepat di depan kamarku sepertinya itu gudang"
"Aku keluar sebentar" pamit Nayla.
Arin yang meliahat Nayla pergi begitu saja hanya menghela nafas kasar, lalu dia beralih menatap bibi yang sedang membawa makan ke meja makan mereka.
"Apakah di kosanmu ada hantu?" tanya Arin the to point pada bibi. "Kenapa kau bisa berkata seperti itu Arin?" bibi balik bertanya dengan nada yang tidak suka.
"Semalam Nayla tidak sengaja merasakan ada seseorang yang memegang tangannya saat hendak menemui bibi dan paman untuk membenarkan lampu kamarnya dia melihat itu di kamar atas, yang terdpat tepat di depan kamarnya" jelas Arin pada bibi.
Mendengar penjelasan dari Arin bibi hanya tertawa sambil sedikit berpikir. "Aku lupa, jika sekarang kamar itu kujadikan gudang tempatku menyimpan barang-barang, jadi mungkin semalam yang memegang tangan Nayla patungku yang baru saja aku beli kemarin, patang itu memang bisa bergerak dan sangat dingin" ucap bibi sambil tersenyum ke arah Nayla yang baru saja kembali. "Kalau begitu tolong benarkan lampu kamarku" ucap Nayla kelaur dari topik barusan.
"Tenut Nayla, aku akan melayanin kalian dengan sangat baik saat berada disini, jadi tolong maafakn aku karena semalam lampu kamarmu tidak hidup" bibi berkata sambil pergi meninggalkan meja makan.
"Apa kamu benar yakin itu pataung Nay?" tanya Arin saat bibi sudah pergi.
"Sudahlah kamu sudah dengan sendiri apa yang di katakan oleh bibi" sangkal Erlangga.
"Oh iya Nay, mumpung aku ingat semua fotomu sudah aku pindahkan ke dalam laptopmu, jadi ambil saja di kamarku atau nanti aku mengembalikannya ke kamarmu"
"Oke" jawabku.
"Mengenai kamar Nayla, bagaimana jika nanti malam kita ke kamarnya saja untuk bermain kartu, anggap saja sambil menemanimu Nay, bagaimana?" tawar Arin. "Boleh juga usulanmu Ar" Dika menyetujui usulan Arin.
"Aku setuju, lagipun aku selama tiga hari ini tidak bisa tidur dengan nyenyak"
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Dika, ketiganya kembali beralih menatap Erlangga.
"Aku ikut saja" jawab Erlangga, sepertinya dia orang yang tidak ingin melakukan seseuatu yang ribet, Erlangga menyukai hal-hal yang begitu simpel menurutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Evi Yanti
Ada apa, Nay?
2022-07-07
0