Masih di ruangan yang sama, aku sangat senang karena malam ini bisa mendapatkan teman, yang membuatku penasaran kenapa Erlangga seperti orang yang begitu familiar bagiku, sayangnya aku tidak bisa mengingat apa-apa, ataukah benar apa yang dikatakan Erlangga ini hanya kebetulan saja? ahh, rasanya seperti tidak mungkin tapi biarlah, toh percumah saja aku terus berpikir tapi tidak akan mendapatkan jawabannya sama sekali, yang ada nanti kepalaku kembali terasa sakit.
"Urh"
Kepalaku kembali sakit, baru saja aku membicarakan tentang kepalaku sekarang sakitnya mulai kembali terasa. Benar kataku jika aku berpikir keras pasti kepalaku akan terasa sakit.
"Nayla kamu tidak apa-apakah?" tanya Erlangga dan Arin secara bersama, aku senang di tempat asing ini ada orang yang memperhatikanku, aku juga sangat yakin jika Arin, Erlangga dan Dika merupakan orang baik, apalagi jika aku melihat tatapan lembut dari Erlangga mampu membuatku merasa nyaman dan tenang.
"Aku tidak papa, aku sering merasakan sakit kepala seperti ini, jadi hal ini sudah biasa aku alami"
Aku menjawab pertanyaan Erlangga dan Arin dengan suara yang sedikit serak dan berusaha tetap tersenyum pada mereka.
"Aku akan mengambil obatku dulu di kamar" ucapku hendak berdiri, namun Erlangga mencegahku.
"Biar aku temani, kamu sedang sakit kepala, tidak baik jika terjadi apa-apa denganmu"
Tutur Erlangga dengan lembut, aku yang mendapatkan perhatian seperti itu dari Erlangga tersenyum senang, sedangkan aku dapat melihat Arin dan Dika hanya memperhatikan aku dan Erlangga.
"Dimana kamarmu?" pertanyaan Erlangga membuat aku tersadar.
"Lantai atas kamar 45" jawabku cepat.
" Kalau begitu mari aku antar, itu sangat berbahaya untukmu yang sedang sakit kepala jika menaiki anak tangga" ucap Erlangga.
Aku dan Erlangga pergi menuju kamarku setelah berpamitan dengan Arin juga Dika, saat sampai di tangga paling atas aku dapat melihat boneka yang kusam itu masih setia berada disana, aku tersenyum tipis saat melihat boneka itu, lalu terus berjalan menuju kamarku.
"Nayla jika ada apa-apa bilang padaku, atau jika kamu butuh sesuatu ketuk saja pintu kamarku yang berada di seberang kamarmu, kamarku no 40" ucap Erlangga padaku, saat sudah sampai di depan pintu kamarku.
Aku senang mendapatkan perhatian lagi seperti itu dari Erlangga, aku merasa momen seperti ini pernah terjadi padaku, tapi aku tidak bisa mengingatnya, karena aku merasa momen ini sangat familiar.
"Baik Er, terima kasih banyak kamu sudah baik denganku" jawabku senang.
"Masuklah, kamu butuh istirahat, apalagi tadi kepalamu sakit" ucap Erlangga lagi.
"Oke Er" jawabku sambil kembali tersenyum. "Er" panggilku sebelum Erlangga pergi dari depan pintu kamarku dan sebelum aku juga masuk ke dalam kamarku tentunya.
"Kenapa Nay?" tanyanya lagi, sungguh aku benar-benar seperti mendapatkan kasih sayang di tempat asing ini.
"Begini Er, aku besok ingin melihat desa ini, kamu mau tidak pergi jalan-jalan denganku?" aku berkata sedikit gugup takut Erlangga menolak ajakanku.
"Sepertinya asik Nay, besok aku akan ikut denganmu sekalian juga aku akan mengambil gambar untuk potretku nanti"
"Apakah kamu seorang fotografer Er?" aku mulai penasaran entah kenapa aku menjadi sangat kepo tentang Erlangga.
"Ya aku kuliah di jurusan fotografer Nay, jadi sekarang lebih baik kamu istirahat agar besok kamu bisa jalan-jalan menjelajahi desa ini" suruh Erlangga padaku.
"Baik Er, selamat malam Er semoga tidurmu nyenyak" ucapku pada Erlangga, sambil berlalu masuk tanpa menunggu jawaban darinya karena dia juga hanya tersenyum ramah denganku.
"Selamat malam juga Nay" aku masih bisa mendengar suara Erlangga dari balik pintu kamarku.
Saat aku berada di dalam kamar aku merasakan ada sesuatu yang aneh di kamarku. "Kenapa televisinya menyala aku rasa, aku sudah mematikannya tadi sebelum makan malam" pikirku, tapi tanganku bergerak untuk kembali mematikan televisinya.
"Aneh, seingatku aku memang sudah mematikan televisinya buka? tapi sudahlah lebih baik sekarang aku meminum obatku dulu" dengan segera aku berjalan ke arah meja naskah yang terdapat di dekat kasurku.
Aku segera meraih botol obatku, tapi saat aku hendak meminum obat itu aku mendengar ketukan pintu dari kamarku.
"Tok, tok" pintu kamarku kembali bersuara. "Siapa?" tanyaku tapi tidak ada jawaban sama sekali dari luar pintu kamarku, apakah Erlangga pikirku.
"Tok, tok" ini untuk ketiga kali nya pintu kamarku diketuk. "Iya sebentar" ucapku akhirnya, dengan terburu-buru aku berjalan ke arah pintu kamarku, aku belum sempat meminum obatku yang kembali aku geletkan begitu saja.
"Siapa?" aku kembali bertanya saat sudah membuka pintu kamarku, tapi tidak ada siapapun di depan pintu, aku menelusuri lorong yang berada di depan kamarku siapa tahu ada orang yang aku temui, kalau ada berarti orang itu yang mengetuk pintu kamarku, tapi apa hasilnya nihil, aku kembali menutup pintu kamarku dan berjalan ke arah meja dimana obatku berada.
Lagi saat aku sudah sampai di depan naskahku, suara ketukan pintu dari kamarku kembali terdengar di telingaku, aku yang herna hanya bisa mengerutkan dahi ku tanpa bersuara seperti tadi, aku kembali berjalan mendekati pintu kamarku, kini aku membukanya perlahan.
"Siapa?" ulang aku lagi seperti tadi, tapi sama saja aku tidak melihat siapapun, saat hendak menutup pintu kamarku kembali aku menoleh ke bawah.
Aku mengerutkan dahi ku bingung saat melihat boneka yang berada di lorong ini sudah berada di depan pintu kamarku. "Kenapa bisa disini?" tanyaku ntah pada siapa, tapi aku mengingat kembali perkataan paman tempo hari, jika boneka ini dilengkapi oleh mesin canggih jadi mungkin saja dia bisa berbicara dan yang lainnya, itu artinya boneka ini kemungkinan besar bisa berjalan.
Aku segera mengambil boneka itu dan pergi meletakkannya ke tempat semula. "Kamu disini saja" ucapku sambil menatap boneka itu dengan senyum, aku merasa boneka usam ini seperti hidup.
Setelahnya aku kembali ke kamar dan segera menelan pil ku secara bersama, aku bingung kenapa aku melakukan hal ini, tapi yang aku tahu pil ini bisa menyembuhkan sakit kepalaku dengan cepat, mungkin ini salah satu alasannya kenapa aku terus menerus menelan pil ini.
"Ini sudah tidak sesakit seperti tadi" ucapku sambil kembali meletakan botol pil ku di atas naskah, aku kembali menyerit bingung. "Bukankah buku ini sudah aku tutup sebelumnya?" bingung ku, tapi karena tidak ingin banyak memikirkan hal-hal negatif aku segera menutup buku itu kembali dan segera membenarkan posisi tidurku, aku harus cepat istirahat sekarang karena besok aku dan Erlangga aku melihat-lihat desa disini, kemungkinan Arin dan Dika juga akan ikut bersama kami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments