Aku benar-benar tidak menyangka malam begitu cepat di tempat ini, yang membuatku senang besok aku bisa melanjutkan perjalananku, karena jembatan yang sudah selesai diperbaiki, sungguh berita jika jembatan sudah bisa digunakan membuatku senang sekaligus sedih, senang karena bisa pergi dari desa aneh ini, sedih karena aku akan berpisah dengan Erlangga, Dika dan Arin, ingin rasanya aku tetap bersama mereka tapi apalah daya tujuan kami berempat berbeda.
"Aku hampir lupa lagi untuk memeriksa kamera yang sudah aku pasang dua hari lalu di kamarku" gumunku, saat menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarku.
Tadi setelah makan malam mereka semua memutuskan untuk beristirahat agar besok bisa melakukan perjalanan dengan keadaan segar.
"Krek" aku perlahan membuka pintu kamarku, aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal itu, tapi rasanya seperti ada orang di dalam kamarku.
Aku memasuki kamarku secara perlahan seperti orang maling yang mengendap-endap, padahal ini kamarku sendiri, aku berjalan mendekati televisi dimana aku meletakkan kamar itu disana.
Tanganku terulur untuk mengambil kameraku yang sudah dah hari pull terpanjang di sana.
Perlahan aku membuka kamera ku untuk melihat apa yang terjadi selama dua hari dua malam di kamarku, apakah benar di tempat ini ada makhluk tak kasat mata.
"Huhuhu….." aku menarik nafas panjang sebelum melihat gambar apa yang berhasil kameraku tangkap.
Aku mulai melihat isi kamera itu dengan saksama, saat sudah menyalakan video yang berhasil aku rekam.
Video di kameraku terus berputar, aku hanya bisa menutup mulutku saat melihat video tersebut, di mana di dalamnya ada seorang gadis berbaju merah, persis sama yang dikatakan Nita, dia duduk di pinggir kasur ku sambil menatapku dengan tatapan tajam, mukanya sangat menyeramkan.
"Argh….!" teriakku, aku buru-buru berlari menuju kamar Erlangga untuk memberitahunya.
"Tok…, Tok…" aku mengetuk pintu kamar Erlangga dengan keras.
"Er, apakah kamu ada di dalam?" tanyaku sambil sedikit berteriak agar Erlangga bisa mendengarkan ku, sekarang aku sedang menahan rasa takutku yang sedari tadi sudah lebih dulu menguasai tubuhku.
"Ada apa, Nay?" tanya Erlangga padaku, saat dia sudah membuka pintu kamarnya dengan sempurna.
"Masuk dulu Nay, kita bicara di dalam" ajak Erlangga padaku, saat dia melihat aku penuh dengan keringat.
"Er, aku melihat sesuatu dari kameraku" ucapku jujur, sambil menunjukan video itu.
"Kamu benar melakukannya Nay?" tanya Erlangga, sambil menatapku.
"Iya, Er, kamu harus melihat video ini"
Aku menunjukan video itu pada Erlangga, tapi anehnya kenapa video itu saat kembali ku putar tidak ada.
"Kemana? disini Er?" ucapku. "Aku yakin tadi ada disini" aku masih berusaha mencari keberadaan makhluk tak kasat mata itu di dalam kamera video ku.
Tapi sekeras apapun aku mencarinya hasilnya nihil, tidak satupun ditemukan padahal jelas sekali aku tadi melihatnya.
"Nay, lebih baik sekarang kamu istirahat, besok kita akan melanjutkan perjalanan" penuturan Erlangga yang lembut padaku, tidak bisa aku bantah.
"Baiklah" ucapku lemas. "Selamat malam Er" ucapku sebelum keluar dari kamar Erlangga.
"Malam Nay" jawabnya sambil tersenyum.
Aku sudah keluar dari kamar Erlangga, tapi aku tidak menuju kamarku, melainkan aku menggunakan kamera ku untuk melihat dan memastikan kembali apakah makhluk tak kasat mata itu masih terlihat jelas.
"Argh…!" aku mematung di tempatku saat melihat dengan kamera di depanku ada seorang wanita yang sedang bergelantungan di depanku dengan rambut yang terurai ke bawah, sungguh rasanya aku sudah kaleuh untuk bersuara saja aku sudah tidak mampu.
Aku berlari ke kamar Dika dan Arin, jika aku berbalik ke kamar Erlangga lagi percumah dia tidak akan percaya, tapi yang membuatku kepikiran jika nanti aku, Dika dan Arin pergi untuk menyelamatkan diri bagaimana dengan Erlangga, aku hanya bisa berdoa semoga Erlangga dapat selamat, jika boleh jujur aku belum siap berpisah dengannya.
"Arin…,Dika…" teriakku saat sudah sampai di depan kamar mereka.
"Ada apa, Nay?" tanya Arin, dia membuka pintu kamarnya, dengan menatapku bingung.
Aku sudah berkeringat di seluruh wajah dan tubuhku. "Kita harus pergi dari tempat ini sekarang" ajakku tergesa-gesa.
"Memangnya ada apa, Nay?" bingung Dika yang baru saja bergabung denganku dan Arin.
"Kamu ingatkan Dika, waktu kamu nyuruh aku buat masang kamera, karena biasanya makhluk tak kasat mata bisa tertangkap dengan kamera?"
"Iya, memangnya kenapa, Nay?" huhu, aku merasa kesal sekarang kenapa Dika tidak paham juga sedangkan aku sudah merasa sangat takut.
"Kita harus lari sekarang juga" ucapku akhirnya, sambil menunjukan apa yang ada di dalam kamera itu.
Aku dapat melihat saat itu juga Dika dan Arin merasa merinding. "Ayu lari" ajakku lagi.
Benar saja tanpa menunggu lama kami bertiga segera berlari meninggalkan kosan itu, tapi saat sampai di depan pintu keluar kosan kami bertiga kaget. Karena orang-orang di desa itu ternyata bukan manusia melainkan makhluk yang menyeramkan.
"Sekarang bagaimana?" kami bertiga sudah kalang kabut.
"Tunggu, Erlangga mana? dia tidak itu kabur juga?"
"Aku sudah memberitahunya Dika, tapi dia tidak percaya, sekarang kita berdoa saja semoga Erlangga menyadari semua ini" jawabku.
Toh jika kembali ke kamar Erlangga percumah saja aku tidak berani.
"Sudah, sekarang lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya keluar dari tempat ini"
"Itu lebih baik, tapi kenapa mereka terlihat sangat menyeramkan, mereka semacam zombie buka?" tanyaku.
"Sepertinya begitu, tapi sedikit berbeda, jika mereka zombie kenapa di siang hari tidak berkeliaran?"
Di kosan bibi dan paman memang jika setelah makan malam tidak diperbolehkan untuk keluar lagi, harus tetap berada di kamar masing-masing, jadi kami tidak tahu kehidupan malam seperti apa di tempat ini, sedangkan aku hanya mengintip dari atas kamarku untuk melihat suasana desa ini di malam hari.
Siapa sangka malam ini aku bisa melihat dengan jelas orang-orang yang berada di desa ini, ternyata mereka bukan manusia melainkan seperti mayat hidup, jika zombie pasti tidak seperti itu bentuknya.
"Lebih baik kita keluar dengan cara berpencar dan ketemu di depan taman" usulku.
"Tapi Nay, aku tidak berani" adu Arin.
"Kalau begitu biar kamu dan Dika pergi bersama"
Kami bertiga saling menatap satu sama lain, lalu menganggukan kepala bersama tanda kami sudah siap untuk kabur dari tempat yang sangat menyeramkan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Embun pagi
Curiga sama Erlangga saya
2022-07-08
0
Ilmara
dua hari full
2022-06-28
0
Ilmara
seorang
2022-06-28
0